Risalah Rihlah Minangkabau (4) Syekh Burhanuddin Ulakan: Ulama Besar Tasawuf dari Sumatera Barat Kawan Sezaman Syekh Abdul Muhyi Pamijahan di Jawa Barat

Risalah Rihlah Minangkabau (4) Syekh Burhanuddin Ulakan Ulama Besar Tasawuf dari Sumatera Barat Kawan Sezaman Syekh Abdul Muhyi Pamijahan di Jawa Barat
Foto Dokumen Penulis

Membincang sejarah perkembangan Islam di Minangkabau tak lepas dari sosok Syekh Burhanuddin Ulakan (w. 1704), seorang ulama fakih dan sufi besar yang menjadi ikon penting tonggak persebaran agama Islam di wilayah ini.

Syekh Burhanuddin Ulakan hidup di akhir abad 17 M dan wafat di awal abad 18 M. Beliau masih terhitung sebagai murid langsung dari Syekh Abdul Rauf Singkel (w. 1693), mufti besar Kesultanan Aceh yang terkenal sebagai ulama besar tafsir, fikih dan tasawuf.

Dari Syekh Abdul Rauf Singkel jugalah Syekh Burhanuddin Ulakan mendapatkan kredensi sebagai khalifah dan mursyid Tarekat Syathariah.

Dalam kesilsilahan Tarekat Syathariah di Nusantara, Syekh Abdul Rauf Singkel adalah orang yang pertamakali membawa tarekat tersebut ke Nusantara. Beliau meriwayatkan tarekat tersebut dari Syekh Ahmad al-Qusyasyi (w. 1661) dan Syekh Ibrahim al-Kurani (w. 1690), dua orang ulama besar dunia Islam yang berkedudukan di Madinah.

Baca Juga: Teungku Syiah Kuala: Pemuka Ulama Aceh

Syekh Abdul Rauf Singkel memiliki beberapa orang murid yang di kemudian hari menjadi pilar utama persebaran agama Islam dan Tarekat Syathariah. Mereka antara lain Syekh Burhanuddin yang dimakamkan di Ulakan (Sumatera Barat), Syekh Abdul Muhyi yang dimakamkan di Pamijahan (Jawa Barat), Syekh Abdullah b. Abdul Malik dari Pulau Manis (Malaya), Syekh Mu’tashim b. Abdul Rahim dari Bagelen (Mataraman, Jawa Tengah) dan lain-lain.

Di antara karya intelektual Syekh Burhanuddin Ulakan adalah kitab “Tadzkirah al-Ghabiy“. Kitab tersebut merupakan syarah dan terjemah dari kitab “al-Hikam Ibn ‘Athaillah” yang sangat terkenal dalam bahasa Melayu-Minangkabau aksara Arab.

Ulasan mengenai kitab “Tadzkirah al-Ghabiy” karya Syekh Ulakan ini terdapat juga dalam buku saya “Mahakarya Islam Nusantara” (2017). Saya pada mulanya mendapatkan informasi mengenai kitab tersebut dari Buya Apria Putra Abiya Hilwa, ulama muda dan filolog dari Sumatera Barat.

Sore hari Rabu (18/11) kemarin, saya bersama KH. Ma’ruf Khozin dan Tuanku Shafwatul Bary dari Pesantren Ringan-Ringan Pariaman menziarahi makam Syekh Burhanuddin di Ulakan. Arsitektur bangunan makam tampak unik, memadukan corak Timur Tengah dan Minangkabau.

Saat menziarahi makam Syekh Burhanuddin Ulakan, saya seakan mendapatkan bentangan peta jaringan ulama Nusantara abad XVII dan XVIII sebagaimana yang digambarkan oleh Prof. Azyumardi Azra dalam karya monumentalnya. Syekh Burhanuddin Ulakan adalah kawan sezaman dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan.

Baca Juga: Tadzkîr al-Ghabî: Interpretasi Syekh Burhanuddin atas Syarh al-Hikam Karya Ibnu Athailah as-Sakandari

Keduanya adalah tokoh utama dalam persebaran Tarekat Syathariah di masing-masing wilayahnya, yaitu Sumatera Barat dan Jawa Barat.

Di antara keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan ada yang kemudian dimakamkan di Majalengka, kabupaten saya. Beliau adalah Syekh Faqih Ibrahim b. Abdul Muhyi. Makam beliau berada di Cipager, Banjaran, Majalengka.

Tomy Christomy dalam bukunya “The Sign of the Wali” (Canberra: ANU Press, hal. 103) mengisyaratkan jika Syekh Faqih Ibrahim Cipager ini pernah mengajar di lingkungan keraton Katasura. Salah satu murid dari Syekh Faqih Ibrahim Cipager di Kartasura ini adalah Syekh Abdurrahman Kartasura. Tampaknya, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan menamakan salah satu putranya dengan “Ibrahim” (Syekh Faqih Ibrahim Cipager) sebagai upaya “tabarrukan” dan “tafa’ulan” dengan “kakek guru”-nya yang berada di Madinah, yaitu Syekh Ibrahim al-Kurani.

Baca Juga: Kasyf al-Muntazhir li ma Yarahu al-Muhtadhir; Kitab Syekh Ibrahim al-Kurani tentang Tradisi Kematian Muslim Nusantara Abad ke-17 M yang Tak Terlacak di Timur Tengah

Syekh Faqih Ibrahim b. Abdul Muhyi memiliki beberapa putra, di antaranya adalah Kiai Nursalim yang dimakamkan di Rajagaluh (Majalengka) dan Kiai Nurshamad yang dimakamkan di Leuwimunding (Majalengka).

Wallahu A’lam
Ulakan, Rabiul Tsani 1442 Hijri
Alfaqir A. Ginanjar Sya’ban

Ahmad Ginanjar Sya'ban
Ahmad Ginanjar Sya'ban 24 Articles
Dosen Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*