Ruang Masa Lalu

Ruang Masa Lalu
Foto @lazycreekimages/ Dok. https://unsplash.com/photos/9oCQMfFPN2c

Masa Lalu Masa Lalu Masa Lalu Masa Lalu Masa Lalu Masa Lalu

Oleh: Yolanda Isa Maharati

Kata orang cinta pertama sulit untuk dilupakan. Seseorang yang pertama mengenalkan cinta ke kita tentu akan sangat melekat diingatan. Namun, terkadang cinta pertama juga menggoreskan luka pertama di hati. Cinta pertama akan terus menjebak kita di ruang masa lalu, rasa indah dan luka berbaur di dalamnya.

Hari ini merupakan hari pertamaku menjadi mahasiswa di universitas ternama di kotaku. Aku sangat bersemangat sekali, rasanya tidak sabar untuk bertemu teman-teman baru. Pagi-pagi sekali aku sudah menyiapkan segala perlengkapan untuk pengenalan kehidupan kampus untuk mahasiswa baru. Pukul setengah enam aku berangkat ke kampus dengan diantar oleh ayah. Sesampai di kampus, aku bergegas menuju aula agar tidak terlambat. Karena aku setengah berlari jadi, tanpa sengaja aku menabrak laki-laki di depanku hingga menyebabkan barang-barangku berjatuhan.

“Aw, sakit. Kamu tidak apa-apa?”, tanyaku.

“Tidak apa-apa kok, lain kali hati-hati ya”, kata laki-laki itu sambil membantuku berdiri.

“Terima kasih”, ujarku sambil berlalu dari hadapanya.

Entah mengapa, hatiku begitu berbunga-bunga setelah bertemu dengan laki-laki tadi. Oh Tuhan, apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Sesampai di ruangan, aku langsung berbaris rapi di barisan jurusanku, yaitu jurusan hukum. Tak disangka ternyata laki-laki yang aku tabrak sejurusan denganku. Apakah ini yang dinamakan takdir? Bertemu di dalam ruang dan waktu yang sama. Oh Tuhan,aku sangat bahagia.

Acara pengenalan kehidupan kampus berjalan dengan lancar dan meriah. Tak terasa waktu istirahatpun tiba. Aku memilih keluar dan menikmati makan siang di gazebo kecil sekitar aula. Akupun membuka bekal kemudian memakannya. Saking asyiknya, aku menikmati makananku tanpa sadar ada seseorang berdiri di depanku.

“ Permisi, boleh aku ikut duduk di sini?”, tanyanya.

“Oh, silakan. Duduklah!”, ujarku.

“Kenalin, namaku Bram”, ujarnya sambil mengulurkan tangannya.

“Eh, iya. Aku Lulu”, jawabku.

“Salam kenal ya, kita satu jurusan hehe”, katanya.

“Iya Bram. Aku lanjut makan dulu ya”, ucapku dan dijawab dengan anggukan dan senyum oleh Bram. Ya Tuhan, senyum Bram membuatku terpesona.

Tak lama jam istirahat berakhir dan kamipun masuk ke aula kembali. Hari berganti sore, acara pengenalan kehidupan kampus hari ini sudah selesai. Dan, besok adalah pengenalan kampus di fakultas masing-masing. Jadi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok dan aku sangat bahagia karena satu kelompok dengan Bram. Selesai pengarahan dari pihak BEM fakultas, aku langsung keluar dari aula untuk pulang ke rumah.

Setengah jam lebih aku menunggu ayah tetapi tidak ada tanda-tanda kedatangannya. Ponsel ayah tidak aktif ketika aku hubungi. Tiba-tiba Bram datang dan langsung duduk di sebelahku.

Baca Juga: Nova

“Nunggu siapa Lu? Kok belum pulang?”, tanya Bram.

“Itu, aku lagi nunggu ayah. Dari tadi dihubungi tetapi ayah tidak aktif”, jawabku.

“Mau bareng aku gak?”, tawarnya.

“Aduh, mau sih tapi takut nanti ayah datang pas aku sudah di jalan” jawabku. Tiba-tiba ponselku berdering, ternyata ayah menelpon dan memberitahukan bahwa tidak bisa menjemput. Ya Tuhan, apakah ini takdir ya?

“Bram, aku bareng kamu aja ya. Soalnya ayah gak bisa jemput”, kataku.

“Boleh kok, yuk ke parkiran”, ujar Bram.

Kamipun ke parkiran dan pulang. Di perjalanan, Bram menawariku untuk berangkat bersama-sama besok pagi.

“Lu, besok mau berangkat bareng gak ke kampus?”, tanyanya hati-hati.

“Ehm, Lulu tanya bunda dulu ya”, jawabku.

“Bisa kok, nanti kabarin aja. Oh iya boleh minta nomor ponselmu?”

“Boleh kok, sini ku ketik”

“Nih, ketik aja Lu”, ujar Bram sambil menyerahkan ponselnya.

“Nih Bram, sudah. Nanti chat aja”, jawabku sambil mengembalikan ponsel Bram.

“Siap, makasih ya”.

Tak terasa kami sudah sampai di rumahku.

“ Makasih ya Bram tumpangannya”.

“Iya, kembali kasih Lu. Kabarin nanti kalau diizinin bunda”.

“Iya Bram. Masuk dulu ya. Hati-hati di jalan”.

“Iya Lu”.

            Keesokan paginya, aku berangkat ke kampus bersama Bram. Malam tadi, aku sudah meminta izin bunda untuk berangkat bersama Bram dan ternyata diizinkan oleh bunda dan ayah. Aku dan Bram berangkat bersama ke kampus.

Awal perkuliahan, aku dan Bram selalu bersama. Kedekatan kamu terus berlanjut, Bram sering sekali ke rumah untuk belajar atau mengerjakan tugas kuliah. Hubungan kami menjadi sangat dekat. Bahkan ayah dan bunda juga menyukai Bram. Bram dengan segala pesonanya mampu menyedot perhatian aku dan keluargaku. Di bulan kelima pertemanan kami tiba-tiba Bram menyatakan cintanya.

“Lu, aku boleh ngomong serius?”, tanya Bram.

“Ngomong aja, gak papa kok”, ujarku.

“Aku suka kamu dari pertama kita bertemu.Dari hari pertama kamu nabrak aku Lulu mau gak terima cinta Bram?”, kata Bram.

“kamu becanda ya Bram. Gak lucu tau”, ujarku sambil menepuk bahu Bram

“Aku serius Lu. Kamu mau gak terima cinta aku?”.

“Bram, apa ini gak terlalu cepat?”, tanyaku.

“Gak Lu, aku benar-benar serius dan menurutku ini sudah waktunya”.

“Iya Bram, aku nerima cinta kamu. Sejak pertama kita ketemu, aku memang sudah menyukaimu”, jawabku malu-malu.

“Makasih banyak Lu”, ujar Bram sambil memelukku dengan eraat.

Hari itu, Bram memberikanku sebuket bunga Lili. Aku menerimanya dengan bahagia. Hari-hariku dilalui dengan bersama Bram, laki-laki yang menjadi cinta pertamaku. Setiap hari aku dan Bram selalu berangkat bersama. Teman-temanku di kampus sering menyebut kami adalah pasangan yang sangat cocok. Lucu tapi kenyataan.

Tak terasa waktu berjalan dengan begitu cepat, hubunganku dan Bram sudah 4 tahun. Hari ini tepat 4 tahun hubungan kami. Banyak sekali momen-momen baik suka maupun duka yang telah kami lalu. Rencanaku malam ini akan membuat kejutan kecil untuk Bram. Aku menyiapkan semuanya di cafe favorit aku dan Bram.

“Bram, malam ini kita ke cafe biasa yuk”, ujarku.

“Bisa kok Lu”, jawabnya.

“Oh iya ya, hari ini kamu sidang skripsi ya Bram. Ya ampun aku hampir lupa, nanti setelah pulang dari sidang ya kita ke cafe”, kataku.

“Iya Lu”.

“Semangat ya sayang”, ujarku memberi semangat.

“Makasih Lu”, jawab Bram.

Aku pun bersiap-siap untuk mempersiapkan kejutan sebelum nanti ke kampus menyusul Bram. Setelah lama bekutat dengan segala hiasan akhirnya kejutanku selesai. Aku segera menyusul Bram ke kampus. Sesampai di sana ternyata Bram sudah selesai sidang skripsi. Ketika aku ingin mendekati Bram, tiba-tiba ada perempuan lain datang dan memeluk Bram. Aku begitu kaget melihat hal tersebut.

“Bram!”, panggiku dengan setengah berteriak. Bram begitu terkejut melihatku.

“Lu,aku bisa jelasin semuanya”, katanya.

“Siapa dia Bram? Mengapa dia memelukmu dengan begitu erat bahkan sekarang dia mengenggam tanganmu dengan mesra”, tanyaku.

“Lu, maafin aku. Dia adalah perempuan yang di jodohkan oleh orangtuaku”, jawab Bram.

Aku begitu terkejut mendengar pengakuan Bram bahkan tanpaku sadari buket bunga yang ku bawa jatuh dan berserakan di lantai.

“Kamu tega Bram, kenapa baru ngomong sekarang?”

“Maafin aku Lu, aku takut ngomongnya ke kamu. Takut kamu sakit hati”.

“Lebih sakit kaya gini Bram, sakit banget Bram. Pantas saja kamu gak pernah kenalin aku ke orang tuamu, ternyata ini jawabannya Bram. Terima kasih telah mengenalkan cinta padaku dan mengukir luka yang dalam untuk pertama kalinya dalam hidupku”, ucapku sambil berlalu dari hadapannya.

Ya Tuhan, hatiku sakit sekali. Bram begitu kejam membohongiku selama ini. Sakit sekali rasanya dikhianati dengan cara yang seperti ini. Berusaha bangkit namun susah. Hari yang begitu penting untuk kami berdua ternyata menjadi hari yang menyakitkan untukku. Aku terpuruk. Setelah lulus kuliah S1 aku memutuskan untuk pergi ke luar negeri, berusaha menghapus kenangan indah bersama Bram dan menata hatiku kembali. Sedangkan Bram telat menikah dengan perempuan yang telah dijodohkan oleh orang tuanya.

2 tahun berlalu dan aku masih terpuruk dalam lingkaran cinta pertama yang gagal. Entah mengapa, melupakan Bram sangat susah. Setiap harinya bayang-bayang Bram selalu ada dalam setiap kegiatanku. Ya Tuhan, aku sunggu tidak paham dengan hati dan otakku. Alasan terbesarku saat ini melanjutkan S2 di luar negeri adalah untuk menghapus segala kenangan tentang Bram namun tetap saja gagal. Hari-hari yang kulalui terasa hampa bahkan rasanya aku ingin menghilang dari bumi ini.

Pagi ini, aku terlambat bangun. Ya tadi malam aku kembali teringat tentang Bram hingga aku tidur larut malam. Entahlah hati ini masih tak sanggup melupa. Akupun bergegas untuk mandi dan bersiap-siap agar tak terlambat. Selesai bersiap-siap, aku bergegas berangkat ke kampus dengan tergesa-gesa tanpa sadar aku menabrak seorang laki-laki.

“Aduh, sakit”, keluhku.

“Kamu gak papa?”, tanyanya.

“Hah, kamu bisa bahasa Indonesia”, tanyaku balik.

“Iya bisa, aku orang Indonesia juga tapi sudah lama tinggal di sini”, jawabnya.

“Eh iya, maaf ya. Aku pergi dulu soalnya buru-buru”, kataku.

“Iya, gak papa kok. Lain kali hati-hati ya”, ucapnya.

Di kelas, aku kembali teringat dengan kejadian tadi. Pikiranku kembali lagi teringat pada pertemuanku dengan Bram. Ya Tuhan, mengapa aku kembali teringat Bram. Aku berusaha mengalihkan pikiranku untuk fokus pada dosen. Akhirnya jam perkuliahan selesai, aku memilih untuk mengerjakan tugas sebentar di perpustaaan sebelum pulang ke apartemen. Tiba-tiba laki-laki yang tadi kutabrak muncul dihadapanku.

“Siapa namamu?”, tanyanya tanpa basa-basi.

“Lulu”.

“Kenalin, aku Josua. Boleh duduk?”.

“Silakan”, jawabku.

“Lu, aku suka kamu sejak pertama lihat kamu tadi”.

“Hah!”. Aku begitu kaget dengan kalimat dari Josua tadi.

“Iya Lu, aku suka kamu”.

“Jangan gila ya, kita baru pertama kali bertemu”, jawabku.

“Iya aku tahu, tetapi apa salahnya aku menyukaimu pada pandangan pertama”, ujarnya.

“Udah ya Jos, lupain aku. Aku gak bisa suka kamu. Bye”, kataku sambil pergi dari perpustakaan.

Semenjaak hari itu, Josua selalu mengikutiku. Entah untuk kesekian kalinya aku menolak Josua. Memang Josua tampan dan cerdas tetapi tetap saja hatiku belum bisa melupakan Bram, cinta pertamaku. Namun, entah mengapa Josua tidak menyerah. Dekat semangat pantang menyerah dia selalu mendekatiku, memberi perhatian seperti kebiasaan Bram dulu, bahkan membantuku saat kesusahan.

Satu tahun telah berlalu.

Hari ini adalah hari ulang tahunku, entah mengapa pagi ini aku bangun Bram tidak ada dipikiranku. Biasanya setiap ulang tahunku, Bram selalu ada diingatanku. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, apa karena Josua yang sering ada di sekitarku sehingga pelan-pelan Bram menghilang dari pikiranku. Tumben juga Josua tidak muncul di depan apartemenku pagi ini.

Hari ini aku begitu sibuk di kampus hingga pulang agak malam. Tiba-tiba ponselku berdering, Josua menghubungiku dan mengajakku ke taman kota dan kuiyakan saja. Sesampai di taman aku langsung menuju ke ayunan, tempat favoritku. Josua datang dan memintaku untuk menutup mata yang kusetujui dengan anggukan kepala.

“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun bunga liliku”, suara Josua mengalun merdu di telingaku. Aku pun membuka mata dan sangat terkejut melihat kue kecil dengan lilin diatasnya serta sebuket bunga lili vcantik.

“Ya Tuhan, makasih banyak Jos”, ucapku sambil memeluknya.

“Iya, sama-sama cantik. Tiup lilinnya dulu dong”.

“Hehehe, iya deh”. Aku pun membuat membuat harapan kemudian meniup lilinnya.

“Lu, aku mau ngomong serius nih”.

“Ngomong aja Jos, biasanya langsung aja kok”.

“Ini adalah hari lahir kamu, hari bahagia untukmu. Aku mau hapusin dia dari ingatanmu. Kamu  mau terima cintaku Lu? Aku serius dengan kamu dan aku janji gak bakal nyakitin kamu. Mau terimaa gak Lu?”, kata Josua panjang lebar.

Baca Juga: Cinta Abadi

“Makasih ya Jos, kamu sabar banget selama ini. meskipun aku tolak terus tetapi kamu pantang menyerah dan ngebuktiin keseriusan kamu. Iya aku terima kamu”, ucapku sambil berkaca-kaca. Sebetulnya aku telah memikirkan jauh-jauh hari tentang Josua yang tidak pantang menyerah untuk mencuri hatiku. Hingga aku memtuskan untuk membuka lembaran baru dan membuka hati kembali untuk laki-laki yang saat ini berdiri di hadapanku.

“Serius Lu?”.

“Serius Jos. Kamu gak usah janji ya tetapi buktiin”.

“Iya Lu, aku bakal buktiin keseriusan kamu” Hari ini, aku belajar membuka hatiku. Aku sadar bahwa masa laluku memang sangat menyakitkan tetapi hal ini juga bukan penghalang untukku bisa bangkit. Josua mengajarkanku banyak hal. Membuktikan keseriusan dengan waktu yang lama memang susah namun, Josua bisa membuktikannya dan berhasil membuatku percaya cinta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*