Rukun Azhar Menurut Dr. Jamal Faruq Daqqaq

Rukun Azhar Menurut Dr. Jamal Faruq Daqqaq
Keterangan Foto: Dr. Jamal Farruq Daqqag di goa Ashabul Kahfi, Yordania. Foto/Dok. Penulis

Rukun Azhar

Catatan Redaksi: Seri tulisan seputar Universitas al-Azhar dan para Azahariy-nya dimaksudkan untuk memeriahkan acara Halaqah Online Anak Siak #3. Halaqah ini bertema “Menggelisahkan Peran Anak Siak Al-Azhar Mesir di Masyarakat” pada Sabtu, 29 Agustus 2020, jam 21:00 WIB di kanal youtube Kaji Surau TV.

Oleh: Syihab Syaibani (Beben)

————–

“Al-Azhar Punya Tiga Rukun”

Saban-saban telinga menyimak dengan baik lagi penuh penasaran. Para pelajar dari berbagai negara  memandang Dr. Jamal Faruq Daqqaq, dekan fakultas Dakwah  Islamiyah itu dengan  rasa takdim. Di atas mihrab, ayat al-Qur’an, surah Ali Imran ayat 39 tertulis indah dengan khat Naskhi. 

“Rukun Iman berapa?  Enam. Rukun Islam berapa? Lima.” Beliau mengajukan  pertanyaan dan dijawab dengan sendirinya.  “Rukun Azhar tiga!” Gelak tawa  memenuhi masjid  Buuts  Islamiyah. Pesan itu  disampaikan dengan nada  guyon.  Meski demikian, konsentrasi tetap tertuju padanya.  

“Rukun yang  pertama, menisbatkan  dan membanggakan,  mazhab Ahlu Sunnah  wa al-Jamaah, yaitu: Asyariah, Maturidiyah,  dan yang bersepakat  dengannya. Barang  siapa yang tidak berseberangan  pendapat dengan  ini,  maka  ia  adalah  termasuk  bagian  kita.  Jadi, yang pertama adalah berpegang teguh kepada mazhab Ahlu Sunnah wa  al-Jamaah.”

“Rukun yang kedua, menisbatkan kepada  salah satu empat  mazhab fikih yang telah diakui. Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali. Dikecualikan  sebagian  mazhab  Hambali kontemporer,  karena mereka adalah  Musyabbihah  (menyerupakan  Allah  dengan  makhluk),  Mujassimah  (menganggap Allah memiliki anggota  badan), dan sungguh  Imam Ibnu Jauzi telah  berlepas diri dari  mereka dalam kitabnya,  ‘Daf’u al-Tasybih fi al-Kufri al-Tanzih.’

“Rukun Azhar yang ketiga adalah  menisbatkan diri  kepada manhaj  Tazkiyah (penyucian  diri), atau yang sering  disebut sebagai  “Madrasah  Sufiyah”. 

Sebagaimana yang  dikatakan oleh pengarang  kitab  Jauharah,  “Pemimpin  para  sufi  adalah  Syekh  Abu  al-Qasim  Junaid  al-Baghdadi.  Digelari ‘Sayyidah Thaifah’. Imam  Malik  dan  para  imam-imam  yang  lain  seperti, Abu  Hanifah,  Imam  Syafi’i,  Auza’i,  Sufyan  Tsauri,  Daud  dan  lain-lain.  Namun, yang dijaga hanya  oleh  Allah  hanyalah  empat  mazhab.  Ibnu  Rajab  Hambali  menulis  sebuah  kitab  “Al-Radd ala  Man  Ittaba’a  Ghairu Arba’ah. Dalam kitab  tersebut dia berkata: 

“Mazhab-mazhab  yang tidak dijaga,  dilestarikan oleh  pemeluk mazhab  tersebut, boleh  jadi  dan berpotensi  dimasuki sesuatu  yang bukan berasal  dari mazhab itu  sendiri. Mazhab  yang  empat tersebar di  penjuru Barat dan  Timur. Dan keempat  mazhab tersebut  menjadi  mazhab  ‘Sawad  al-A’dham’ sebagaimana  yang  disabdakan  oleh  Rasulullah.  “Alakaikum bi  Sawad  al-A’dham  (Ikutilah golongan  Ulama  yang  Agung).

Jadi, rukun  Azhar  yang pertama ialah berpegang kepada  Akidah Ahlu Sunnah  wa  al-Jamaah. Kedua,  berpegang kepada  salah satu mazhab  yang  empat, dan  yang terakhir, ketiga,  berpegang  teguh  kepada  Thariqah  Sufi,  penyucian  diri.  Inilah  sebuah  jalan “Risalah Islamiyah”

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh Allah telah  memberi karunia  kepada orang-orang  yang beriman ketika  Allah mengutus di antara mereka  seorang Rasul dari  golongan mereka  sendiri, yang  membacakan ayat-ayat  Allah,  membersihkan (jiwa)  mereka, dan  mengajarkan  kepada  mereka  al-Kitab  dan  al-Hikmah.”

Pada  lafadz   وَيُزَكِّيهِمْ, beliau  mengulang dua kali.  Sebagai penegasan akan rukun yang ketiga. Beliau kemudian melanjutkan“Tiga ini  adalah  asas  pokok dalam  rukun  Azhar. Barang siapa  yang telah  menunaikan satu  ataupun  dua  dari  rukun itu, insyallah  akan menyempurnakan  sisa  rukun yang  tersisa.

Adapun  siapa  yang  tidak  ada  dalam  diri  satu  rukun  tersebut,  masuk  ke  Al-Azhar,  lulus  dan mengambil ijazah  darinya,  memiliki  jabatan  dekan  fakultas,  menjadi  guru  besar,  atau  siapapun yang menjadi alumni Azhar, tidak ada satupun tiga rukun tersebut, maka orang itu bukan seorang Azhary, sekalipun memakai seribu Imamah!” Sebagian  tertawa, sayup-sayup tersenyum.  “Sekalipun orang  tersebut memiliki  seratus  jabatan. 

Inilah  Azhary  yang  sejati, yang  terus ditekankan  oleh  Syekh  al-Jalil,  Syaikh  Azhar dan Ahmad  Muhammad  Thayyib  al-Khalwati.  Betapa banyak  pemikiran,  madrasah,  muncul  dalam  Islam  seperti  Muktazilah,  dan  lain-lain,  yang tersebar  di  muka  bumi.  Akan  tetapi  tidak  Allah  kekalkan  di  bumi  kecuali  Al-Azhar  Syarif.

Al-Azhar  Syarif  telah  disebutkan  dalam  al-Qur’an. Tidak  disebutkan  lafadznya,  namun  disebutkan secara makna. Saya pernah membicarakan ini. Firman Allah;

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاء وَأَمَّا مَا يَنفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ

Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap berada di bumi.

Baca Juga: 1080 Tahun Al-Azhar dan Hubungan Ilmiahnya dengan Nusantara

Demi Allah, kalau saja Al-Azhar tidak melahirkan kebaikan, kemanfaatan, Wasathîyah, Ulamâ, Auliyâ, maka ia akan seperti madrasah-madrasah yang lain, tidak terjaga dan hanya diketahui dalam kitab. Dan tidak akan bertahan sampai seribu tahun, bahkan mengalahkan umur Nabi Nuh as.” Petuah terhenti sejenak oleh gelak tawa.

“Sayyidina Nuh as. berumur 950 tahun, sedang Al-Azhar berumur 1077 tahun! Al-Azhar bertahan dalam kurun waktu yang lama. Apakah al-Qur’an berbohong?! Apakah Al-Azhar memberi manfaat atau kemudharatan?! Apakah Akidahnya sesat atau menyimpang?! Sebagaimana yang mereka katakan (para pembenci).

 كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا

“Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Dan Azhar juga bernisbat kepada ibu kita, pemimpin kaum perempuan di dunia, Sayyidah Fathimah al-Zahra. Apa sebab penamaan Al-Azhar? Nisbat kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra. Beliau memiliki kedudukkan yang mulia nan agung di hadapan-Nya. Ini merupakan kemuliaan bagi Mesir.  Di sini merupakan tempat syuhadâ, bersejarah, dan peradaban.”

Di akhir, beliau menutup dengan doa, terkhusus kepada Syekh Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, segala urusan Al-Azhar dipermudah, juga Syekh Azhar, Dr. Ahmad Thayyib yang telah mengkhidmahkan dirinya untuk kepentingan muslimin, khususnya Wāfidîn (pelajar asing), sampai-sampai tutur beliau di akhir ceramahnya “Kalau saja saya menjadi seperti Wāfidîn, (karena seringkali mendapat perhatian penuh dari Syekh Azhar). Kami tertawa kembali. Sebagaimana biasa seorang santri, kami ngalap barakah dari tangannya yang lembut lagi bercahaya.

Baca Juga: Syekh Muhammad Sayyid, Hambalinya al-Azhar

Di usianya yang sepuh, beliau, Dr. Jamal Faruq Daqqaq tak henti-hentinya memberi perhatian kepada para santrinya. Sesekali serius. Sesekali membuat kita mengangguk-angguk tersadar. Sesekali penuh guyon.

Semoga beliau dipanjangkan dan disehatkan oleh-Nya. Ya Rabb. Masjid Azhar, 30 Mei 2017.

Syihab Syaibani (Beben)
Syihab Syaibani (Beben) 2 Articles
Mahasiswa al Azhar, Jurusan Dirasat Islamiyah. Alumni Ponpes Sukorejo, Situbondo, Jatim

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*