Said Jamaluddin al-Afghany, Kritik atas Muslim yang Lalai

Ilustrasi/Dok. Istimewa

Said Jamaluddin al-Afghany (SJA) dilahirkan di Afganistan pada saat kolonialisasi Inggris. Said merupakan deretan ulama kontemporer kebangkitan Islam. Ia pernah berkata bahwa Islam harus bersatu untuk menyusun kekuatan, bangkit dari keterpurukan dan mesti melawan hegemoni Barat atas negara-negara Muslim di dunia.  Islam harus bersatu dan mengesampingkan perbedaannya, baik fiqhiyyah ataupun yang bersifat politis.

SJA banyak melakukan perjalanan melalang-buana ke hampir seluruh Negara Islam di dunia. Ia meyimpulkan bahwa masalah utama umat Islam adalah masalah persatuan. Kecenderungan umat Islam yang tercerai-berai karena permasalahan sepele dan taklid yang membabi buta terhadap paham-paham/firqohfirqoh Islam justru menjerumuskan pada kebodohan dan perpecahan. Membangun suatu bangsa dari keterpurukan penjajahan dapat dilakukan dengan cara membangun pendidikan dan memberantas kebodohan.

Baca Juga: Dialog dan Upaya Menemukan Corak Pemikiran Politik Arab

Pengaruh penjajahan telah masuk ke dalam sumsum budaya masyarakat Islam, baik kepada raja-rajanya ataupun para ulamanya. Raja-raja Islam telah disogok dengan kemewahan, kemegahan, serta kenikmatan-kenikmatan duniawai, sehingga tunduk dalam ketiak para penjajah, begitu pula para ulama Islam. Banyak ulama hanya melestarikan taqlid yang membuat tumpul akal pikiranya, tidak ada keinginan untuk menciptakan suatu pemikiran baru yang cocok dengan gerak dan kemajuan zaman.

Daya pikir dan pengetahuan umat Islam mengalami kemunduran yang drastis sejak al-Ghazali mempelajari filsafat dan menemukan kejanggalan di dalamnya dan berpaling kepada tasawuf. Hal ini berdampak besar pada pemikiran umat Islam yang cenderung menutup diri kepada hal-hal yang bersifat filsafat. Umat Islam lebih diajarkan untuk terbiasa bersabar. Padahal sabar ketika dijajah merupakan suatu hal haram yang dilakukan oleh seorang muslim, karena Islam tidak mengajarkan hal yang demikian. Islam menjunjung tinggi keadilan dan membenci segala bentuk penindasan.

Kepercayaan seorang muslim terhadap takdir juga sering disalahartikan, akibatnya mereka cendrung pasrah atas segala sesuatu tanpa melakukan upaya sebelumnya untuk merubah (ikhtiar). Takdir yang membimbing muslim kepada kemalasan dan kepasrahan sejatinya bukanlah ajaran Islam.

Baca Juga: Diskusi Mazhab Pemikiran antara Hanafi dan al-Jabiri

Ketika di Mesir, Said Jamaluddin al-Afghany seringkali memberikan hasutan untuk kaum muda Mesir agar bangkit melawan penjajah. Sabab kerjanya itu, Ia seringkali dicap kafir. Ia pun dianggap sebagai ancaman bagi para pengusa waktu itu yang ditunggangi kepentingan penjajah dibelakangnya. Said juga pernah bergabung dengan perkumpulan pergerakan cendikiawan yang berpikiran bebas dan progresif. Namun tidak lama, Said memutuskan untuk keluar dari perkumpulan itu karena kekecewaanya karena perkumpulan itu tidak bergerak ke ranah politik. Said memandang itu merupakan satu kesalahan besar Menurutnya, hanya dengan melalui politiklah semua keadaan dapat dirubah secara perlahan dan terstruktur. Dia memandang suatu pergerakan ketika tidak mau melibatkan dirinya ke ranah politik, gerakan tersebut hanyalah omong kosong belaka.

Setelah Mesir, SJA selanjutnya melakukan perjalanan menuju ke Inggris untuk meneneliti kelemahan lawan politiknya. Tetapi Said tidak berlama-lama di Inggris, ia benci pada kelicikan dan keserakahan Inggris yang menjajah negaranya, Afganistan. Selanjutnya Said beranjak ke Paris dan di sana ia mendirikan organisasi yang bernama Al-Urwatul Wustqa. Dengan organisasinya ini, ia secara massif melakukan kritikan pada Barat dan mengajak agar umat Islam senantiasa melakukan perlawanan dan persatuan.

Buku ini memberikan paparan pada kita soal semangat yang diperjuangkan semangat SJA, berikut program dan agenda perjuangannya, diantaranya:

  1. Berkhidmat kepada umat Islam, dengan menjelaskan apa yang mesti mereka lakukan.
  2. Menjelaskan hasil-hasil penyelidikannya tentang sebab-sebab penyakit dalam pola pikir umat Islam yang menyebabkan mereka lemah, terjajah.
  3. Membuka selubung dari pikiran penguasa-penguasa yang hidup dalam kemewahan hingga tidak tahu akan bahaya yang mengancam umat mereka.
  4. Membangkitkan cita dalam jiwa, membangkitkan semangat berani menempuh jalan perjuangan, betapapun sulitnya.
  5. Berusaha menangkis segala serangan dan tuduhan yang ditimpakan pada umat Islam. Serangan dan tuduhan yang diberikan oleh para penjajah.
  6. Memberikan petunjuk dan penerangan pada kaum Muslim, khususnya tentang taktik politik.
  7. Program terakhir yaitu majalah. Media ini bertujuan untuk memperkuat tali kesatuan di antara bangsa-bangsa pemeluk Islam.

Baca Juga: Pesantren dan Modernisasi

SJA adalah pembaharu bagi otak kaum muslim. Dia membangunkan kita pada nasib umat Islam yang terjajah dan mengkritik raja dan penguasa yang berlaku lalim kepada rakyatnya.[]

Nama Buku        : Said Jamaluddin al-Afghany
Penulis                : Prof. Dr. Hamka
Tebal Buku         : 140 Halaman
Penerbit             : Bulan Bintang
Tahun                : 1981
Cetakan             : Ke-II

Share :
Moehammad Irfan Hilmi
Moehammad Irfan Hilmi 2 Articles
Lahir di Ciamis 24 Oktober 1994, saat ini mahasiswa Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*