Sajak-sajak Raudal Tanjung Banua

Sajak-sajak Raudal Tanjung Banua
Ilustrasi @korpa Dok. https://unsplash.com/photos/Ytq34ThoowI

Sajak Raudal Tanjung Banua Sajak Raudal Tanjung Banua Sajak Raudal Tanjung Banua

Gurindam Pelayaran

Barangsiapa mengenal samudera
Ibarat ia mengepal dunia

Barangsiapa tegak di buritan
Siap sedialah ia dihentak topan

Barangsiapa hendak mengukur dalamnya laut
Ke celah karang ke batu-batu dirinya mestilah ikut

Barangsiapa mengukur dahsyat seteru
Berkaca di laut tenang, tafakur kalbu

Barangsiapa dari jenis pecah-belah
Hati-hati naik kapal segala baja

Barang siapa tertinggal di geladak kapal dunia
Mohon hubungi pengurus amal jariyah

Barang siapa terbungkus dalam ikatan kain putih
Turunkan ia dengan peti sekoci, pertanda tiba di pelabuhan Illahi

/Yogya-Pekanbaru, 2013-1014

Bukit di Balik Bukit

Di balik bukit ada bukit. Turuni lembah
lurah yang dalam. Pincuran batu
di tubir-tubir jalan. Sungai-sungai susu
menunggu jatuh jiwa pejalan
Melayang, dari tampuk bayangan bulan hutan.

Antara derai dan gemuruh
tersimpan gairah lembut dan keras hati
petualang. Antara sangsai kini dan derita dulu
Menunggu dia yang menyambut
dan ia yang berpaling.

Maka bukit-bukit curam, bukit-bukit landai
akan terus kudaki, lurah yang dalam
aku turuni. Aku mencari satu bukit
paling hijau, menyimpan sakit derita lampau.

Kukatakan pada hatiku:
Mendaki lagi, Buyung, menurun lagi
ke balik bukit, lurah berbatu. Naik-naik ke puncak
waktu. Tinggi-tinggi dan jauh…

Barangkali nun di situ, di balik rimba kelam kelabu,
kutemukan satu bukit berjubah kabut
menyembunyikan jejak kijang
dan menjangan-menjangan luka diburu
aku pun tersungkur, menjatuhkan badan
jiwaku melayang dibasuh cahaya bulan hutan
mulutku mengucap yang lama gagu,
”Guru, guru, kenapa kaulepas aku?!”

Namun jika dia tak ketemu,
Pulanglah aku, di mana bahkan akan kudapati sepasang bukit
tak kalah sakit memendam derita ladang. Lembahnya perih
menahan batu kutuk yang tak terucapkan
sebab jiwaku yang terbuka pada setiap salam
masih saja gentar berseru,”Ibu, ibu, kenapa engkau kutinggal dulu?”

Antara bukit bahagia dan lembah derita
terbentang jalan dan pincuran batu
Antara guru yang diburu dan ibu yang menunggu
terbentang jalan kesetiaan yang tak kutahu
akhir batasnya.

/Padang-Yogyakarta, 2013-2014

Pulau di Balik Pulau

— kalianget-poeteran

1.
Setelah laut-Mu tak habis gelombang*
Kami kira akan sampailah kami
di tempat asing yang sebentar biasa
debur ombak, menara patah
ketapang kekasih karang
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
kami lempar pandang ke seberang
menampak pulau-pulau lain
yang rasanya lebih hijau
buat dijelang.

Kami pun berangkat, angkat jangkar
lajulah pincalang
ke pulau yang kami kira lebih hijau
rimbun bakau, kelapa dan karang
rumah yang hangat, menunggu
rasa takjub yang cepat padam
jadi abu.

Ah, pulau mana lagi? Sama saja
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
menanti tak habis-habis gelombang
pasang demi pasang
kembali
ada yang hilang.

2.
Ke mana pun kami berlayar kami dihadang
segala yang lampau atau setengah silam
pulau-pulau kekal di lautan
menyimpan jejak nasib pelayaran
yang ditahtakan di karang-karang.

Jejak yang terpantul kerlip mercu suar
di jauhan. Kadang terbaca di air jernih
waktu pasang. Di malam larut
ia terkaca di langit
di wajah bulan bundar berkarang.

Bagaimana akan kami sentuh semua yang lalu
dan setengah silam? Mercu suar,
menara patah, jernih pasang, bulan
Kami tak tahu. Tapi kami tahu
bahwa di depan ada laut lain
minta dijelang
sebelum angin dan badai tak dikenal
memadamkan satu demi satu
lampu-lampu damar di perahu
satu demi satu
tiang-tiang kapal
tunduk
gemuruh.

/Talango-Yogya, 2013-2014

 * Laut-Mu tak habis gelombang,

diambil dari judul buku puisi D. Zawawi Imron

Baca Juga: Tiga Prosa Liris Raudal

Baca Juga: Kiai Hansen dan Rockstar

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 15 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*