Sastra Minangkabau di Mata Anak Minang

Sastra Minangkabau di Mata Anak Minang
Foto croping dari cover buku Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau/Edwar Djamaris

Sastra Minangkabau

Oleh: Nurfahmi

Sastra adalah seni dalam menyampaikan kata-kata. Dengan kata lain, sastra merupakan sebuah seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya (alat penyampaian). Sastra Minang sendiri merupakan karya seni yang membicarakan tentang masyarakat Minangkabau, budaya Minangkabau, dan (terkadang) menggunakan bahasa Minangkabau sebagai mediumnya.

Sastra Minangkabau secara garis besar dapat dibagi dua macam. Pertama, karya sastra puisi. Dalam masyarakat Minangkabau, puisi lebih dikenal dalam bentuk pantun yang berisi petatah-petitih. Sebuah pepatah yang telah diberi sampiran disebut pantun pepatah, sedangkan petitih yang telah diberi sampiran menjadi pantun petitih.

Baca Juga: Sastra dalam Masyarakat Minangkabau dan Sastra di Tangan Ulamanya

Berikut adalah contoh pepatah-petitih:

Duduak marauk ranjau, tagak maninjau jarak. (Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak). Artinya, hendaklah senantiasa bekerja yang bermanfaat, jangan menyia-nyiakan waktu.

Karya sastra lain yang berbentuk puisi adalah seloka, talibun dan gurindam. Seloka adalah pantun yang terdiri dari empat baris yang terdiri dari beberapa untai. Talibun merupakan pantun yang terdiri dari enam sampai dua belas baris. Gurindam pada umumnya berisikan saripati kata yang terdiri dari dua sampai empat baris serta tidak memiliki sampiran. Masih banyak karya sastra puisi lain, seperti mamang yang merupakan kalimat yang mengandung arti pegangan hidup, sebagai anjuran, suruhan, dan larangan. Berikut adalah salah satu contoh mamangan yang santer kita dengar:

 “Anak di pangku kamanakan di bimbiang”  (Anak di pangku kemenakan di bimbing) .Maksudnya, seorang laki-laki di samping melakukan kewajiban kepada anaknya, dia juga di wajibkan membimbing kemenakan.

Ada juga pribahasa, pituah, kias, mantra syair dan lain-lain. Kedua, karya sastra prosa. Prosa sendiri merupakan karya sastra yang diungkapkan secara bebas. Prosa tidak terkait jumlah kata, baris, dan irama. Prosa dalam Minangkabau yang paling utama adalah Tambo yang berisi uraian sejarah alam, masyarakat, dan adat Minangkabau. Selanjutnya adalah Kaba yang merupakan karya sastra yang berbentuk cerita yang disampaikan secara lisan. Terakhir adalah Pidato yang dibagi menjadi pidato adat dan pidato pasambahan.

Sastra Minangkabau banyak mengandung ungkapan yang plastis dan penuh dengan kiasan, sindiran, perumpamaan atau ibarat, pepatah, petitih, mamangan, dan sebagainya. Hal ini menjadikan tingginya nilai sastra Minang itu sendiri. Sastra Minang memang memiliki kekhasannya sendiri, namun khasnya sastra Minang tersebut tidak mampu menarik anak Minang untuk mempelajarinya. Meskipun ada yang mengatakan bahwa orang Minang memiliki jiwa sastra yang tinggi.

Benarkah sastra Minangkabau memiliki nilai sastra yang tinggi? Menurut pribadi saya sendiri, memang. Lalu, apakah kita sebagai anak Minang bangga dengan sastra Minang itu sendiri? Jika dulu, mungkin jawaban yang tepatnya adalah tidak, bahkan cenderung malu. Tapi, kini, di perguruan yang berada di luar daerah Minangkabau sendiri, bisa dikatakan bangga dengan sastra Minang yang ternyata sangat memiliki nilai yang sangat tinggi. Lalu, apakah mengetahui secara pasti mengenai sastra Minang sendiri? Dengan jujur, jawaban adalah tidak. Bahkan, mendengar “Mamang” sebagai bentuk karya sastra Minang, saya sedikit kaget.

Universitas Andalas telah membuka jurusan sastra Minangkabau. Tahun ajaran 2015, mahasiswa yang mengambil jurusan sastra Minangkabau sekitar 60 orang, dan itu pun menurut seorang kawan telah ada yang keluar sebanyak dua orang. Kenapa? Menurutnya, pelajaran sastra Minang itu sulit. Susahnya ungkapan-ungkapan dalam kaba, puisi, dan lain-lain menyebabkan kebingungan tersendiri. Selain itu, pertanyaan yang selalu menghantui mereka, mau jadi apa besok jika mengambil sastra minangkabau? Bahkan, hampir 80% dari mahasiswa terpaksa mengambil Sastra Minang, karena tidak lulus dari jurusan yang diinginkan.

Berdasarkan hal tersebutlah, saya berasumsi bahwa anak Minang, khususnya saya sendiri tidak mengetahui, bahkan enggan mempelajari sastra daerah sendiri. Sangat miris bukan? Jangankan mengetahui maksud dari pepatah-petitih Minang, pepatah-petitih itu sendiri tidak diketahui. Lantas, kenapa anak Minang sendiri tidak mengetahui sastra Minang?

Pertanyaan ini patut ditanyakan kepada diri masing-masing terutama kepada yang mengungkapkan masalah ini, saya. Kurangnya pengetahuan generasi muda mengenai sastra Minangkabau sendiri umumnya disebabkan karena kurang berfungsinya peran mamak dalam mentransformasikan pengetahuan Minang, bahkan mamak itu sendiri tidak mendalami secara pasti sastra Minang.

Selain itu, ketidaktepatan kurikulum yang diberikan di bangku pendidikan membuat generasi tidak mengetahui Minangkabau secara mendalam. Bagaimana tidak? Sebagaimana yang sudah-sudah, pelajaran Budaya Alam Minangkabau atau yang lebih dikenal dengan istilah BAM hanya dipelajari di bangku Sekolah Dasar, dan tidak berlanjut di tingkat pendidikan selanjutnya. Bagi pelajar yang mengenyam pendidikan di sekolah negeri, mungkin juga hanya sedikit mempelajarinya. Sedangkan, di Pesantren, tak ada pelajaran mengenai BAM. Padahal, pesantren dikenal sebagai lanjutan dari surau-surau pada zaman dahulu yang pastinya sangat berkaitan dengan kesusasteraan Minangkabau sendiri.

Baca Juga: Sastra dalam Konteks Masyarakat Minangkabau: Sekilas Pandang

Menurut Dr. Edwar Djamaris dalam bukunya Pengantar Sastra Rakyat Minangkabau. “Tulisan yang membicarakan sastra Minang itu sedikit, apalagi tulisan yang membicarakan dan memperkenalkan sastra rakyat Minangkabau secara lengkap, umum, dan menyeluruh. Selain itu juga, tidak di ajarkannya sastra Minangkabau di sekolah adalah karena tidak tersedianya buku yang membicarakan sastra rakyat Minangkabau itu. Pengetahuan guru yang memadai tentang sastra rakyat Minangkabau itu gengan demikian juga kurang sekali.”

Kesulitan memahami sastra Minangkabau juga menjadi alasan bagi anak Minang enggan mempelajarinya. Sebab, sastra Minang dipenuhi oleh kiasan sindiran, perumpamaan atau ibarat, pepatah, petitih, mamangan, dan sebagainya. Sedangkan, sastra lainnya lebih mudah dipahami, seperti puisi cinta, novel pop, dan lain sebagainya yang tidak menggunakan bahasa Minang.

Hal ini menjadi kegelisahan sendiri bagi saya. Telah terjadi degradasi kesusteraan Minangkabau di tengah generasi Minang yang cenderung suka dengan ‘sastra pop’. Lantas, kita harus bagaimana? Haruskah, sastra Minang lebih dikuasai oleh orang barat? Sama seperti ilmu pengetahuan lain yang selalu berpatokan pada barat, tak mengindahkan asal-muasal ilmu pengetahuan itu sendiri. Berdasarkan sebuah penelitian yang tercatat dalam katalog van Ronkel (1921) ada naskah sastra Minangkabau sendiri di Universitas Leiden sebanyak 60 judul dan 120 naskah. Sangat berbeda jauh di Perpustakaan Nasional, Jakarta naskah sastra Minang  yang tercatat dalam katalog van Ronkel sebanyak 19 judul bahkan beberapa naskah telah lapuk dan hilang.

Menghadapi kenyataan seperti itu, sebagai generasi Minang, kita harus mempelajari sastra tersebut. Mempelajarinya tidak mesti di sekolah maupun perguruan tinggi. Namun, sebagaimana pepatah Minang mengatakan, Alam Takambang Jadi Guru.

*Bahan diskusi Surau Tuo, 22 Maret 2016

Nur Fahmi
Nur Fahmi 2 Articles
Alumni MTI Pasia, saat ini kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*