Satu Muara Dua Sungai Perti dan NU Penjaga Aswaja di Indonesia

Satu Muara Dua Sungai Perti dan NU Penjaga Aswaja di Indonesia
Ilustrasi/dok.Istimewa

Program pemerintah Sumatera Barat kembali ke nagari dan kembali ke surau perlu kita apresiasi. Menjaga gerakkan tradisi dan tantangan hidup di abad XXI, mengharuskan generasi saat ini untuk kembali mengakar kepada jati diri, dan mempunyai filter. Gelombang weternisasi, globalisasi, liberalisasi dan wahabisasi yang semakin kentara membuat kita mesti menggali tradisi dan potensi diri, agar bisa membentengi generasi dari perubahan-perubahan yang mengikis ke-imanan dan ke-islaman itu. Bercermin kepada sejarah, menelusuri simpul-simpul yang bisa membawa kepada akar kesamaan, itulah yang mesti digalakkan pada saat ini sebagai bentuk respons terhadap arus ancaman milenium ke-III. Apalagi Minangkabau yang pernah menjadi basis Islam dan intelektual di masa lampau, yang masih tegap berdiri dengan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah, dan dengan kearifan lokal yang kental dengan nilai-nilai ke-islaman, semangat mengakar kepada jati diri sangat diperlukan.

Dalam lintasan sejarah Minangkabau dengan berbagai dinamika yang ada, Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) menjadi titik nadir yang melatarbelakangi pertalian adat dan syara’, dan hal itu masih tetap kokoh hingga saat ini. Nilai-nilai Aswaja mampu merekatkan dua unsur berbeda, yaitu adat yang kental, tak lekang dek paneh-tak lapuak dek hujan, dan agama Islam, sehingga dapat saling bahu membahu, ibaratkan aur dengan tebing. Keberhasilan ini setidaknya menjadi cerminan sejarah yang membuktikan bagaimana nilai-nilai Aswaja berperan aktif dalam merevitalisasi generasi Minangkabau. Keadaan itu masih berlangsung hingga Paderi mengharu biru. Paderi sebagai gerakan perlawanan terhadap kemaksiatan dan kolonialisme akhirnya berujung kepada pengakuan akan pentingnya rekonsiliasi antara adat dan agama.

Paderi ialah percikan nilai-nilai Aswaja, meski dibungkus dengan perlawanan yang radikal. Awal abad XX muncul satu sikap dari sementara kalangan yang mempertanyakan nilai-nilai Aswaja yang telah berurat berakar di masa lalu. Sikap itu dibarengi dengan menguatnya arus modernisasi ala kolonial. Hal ini menimbulkan reaksi yang besar dari ulama-ulama di berbagai belahan negeri, sehingga mereka mendirikan organisasi-organisasi sosial keagamaan sebagai bentuk reaksi modernisasi di samping untuk memajukan kehidupan keagamaan ke arah yang lebih baik. Di awal abad XX dikenal dua organisasi keagamaan dari kalangan ulama Aswaja, yaitu Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Perti dan NU. Kedua organisasi ini kemudian memainkan peran penting dalam bidang sosial keagamaan dan pendidikan. Selain itu Perti dan NU mempunyai andil besar dalam perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga: Pengembangan NU di Luar Jawa

Minangkabau sebelum Dekade Abad XX

Jauh sebelum dekade abad XX, Islam telah menjadi pilihan bagi segenap masyarakat Minangkabau. Pengembara-pengembara asing seperti Tome Pires menyebutkan bahwa pada abad ke-XVI raja Minangkabau telah menjadi penganut Islam yang taat. Tepat pada abad XVII lahir tokoh ulama sufi terkemuka dari Pesisir Sumatera, yaitu Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau dengan segala dedikasinya mampu membawa peradaban Islam melintasi bukit-bukit hingga pedalaman Minangkabau. Beliau melahirkan satu sistem pendidikan Islam, Surau, sebagai lokus penyebar keilmuan dan dakwah Islam. Dakwah yang santun dan bijaksana yang beliau jalankan menjadi faktor keberhasilannya. Tak menunggu lama, sejak beliau mendirikan Surau Ulakan, di berbagai daerah, rantau dan darek, berdiri surau-surau serupa. Dengan satu kearifan dan ideologi, yaitu Aswaja dan mazhab Syafi’i, surau-surau itu berkembang demikian pesat melintasi batas-batas daerah dan budaya. Maka Syekh Burhanuddin dapat dikatakan sebagai pelopor kebangkitan Islam abad ke-XVII.

Nilai-nilai Aswaja yang terdiri dari kearifan-kearifan fikih dan tasawuf merambah berbagai lini masyarakat. Mulai dari tradisi, adat dan sosial kemasyarakatan. Pepatah-petitih seperti duduak bacamin kitab, tagak marantang pitua, bakato jo hakikaik, maliek jo ma’ripaik, adalah bukti-bukti lisan tentang penetrasi Aswaja dalam budaya Minangkabau. Nilai-nilai yang telah lama berkembang tersebut kemudian terusik dengan datangnya arus modernisasi di awal abad XX. Modernisasi menghendaki pemusatan kepada materialistik sesuai dengan pemahaman barat dan menggeser paham-paham keagamaan yang telah matang. Mangguntiang nan lah bunta, manyubik nan lah rato. Sebagai oposisi terhadap arus modernisasi, dan apologetic dari paham Aswaja, lahirnya Perti dan NU.

Perti dan NU: Satu Mata Air Dua Muara antara Jombang dan Canduang

Perti ialah organisasi yang lahir di Canduang, Bukittinggi, 1928. Sejatinya organisasi ini ialah kelanjutan dari ‘Ittihad Ulama Sumatera’ (Persatuan Ulama Sumatera) yang telah berdiri sejak paruh pertama abad XX di pedalaman Minangkabau, dan dipimpin oleh ulama-ulama senior. Namun, organisasi kemudian redup seiring berpulangnya ulama-ulama tua tersebut. Pada 1928 tersebut, ulama-ulama dari berbagai daerah berkumpul di Canduang. Ulama-ulama itu notabene-nya ialah pimpinan-pimpinan surau. Sebagian besar mereka ialah hasil didikan Mekah dan Madinah sebelum ekspansi tentara Ibnu Saud dan paham Wahabi. Di antara yang hadir dalam pertemuan itu ialah Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Muhammad Jamil Jaho, Syekh Arifin Batuhampar Payakumbuh, Syekh Abdul Majid Koto Nan Gadang Payakumbuh, Syekh Abdul Wahid as-Shalihi Tabek Gadang, Syekh Jalaluddin Sicincin Payakumbuh, Syekh Muhammad Yunus Tuanku Sasak Pasaman, Tuanku Alwi Koto Nan Ampek Payakumbuh, Syekh Muhammad Sa’id Bonjol dan lain-lainnya. Umumnya ulama yang hadir itu pernah belajar dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (w. 1916) dan Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka (1957-1922).

Perti pada mulanya bertujuan untuk menghimpun madrasah-madrasah yang dikelola oleh ulama-ulama Aswaja dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Madrasah Tarbiyah Islamiyah, sebuah insitusi pendidikan Islam tradisional sebagai kelanjutan surau ini tersebar di berbagai wilayah di Sumatera, seperti Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu dan Tapanuli. Menurut statistik yang dikemukakan Buya Siraj pada Kongres Perti 1954 di Jakarta, terdapat lebih kurang 350 Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang tersebar bukan hanya di Sumatera Tengah. Sebuah jumlah fantastis untuk sebuah Madrasah di masa itu. Perlu ditegaskan bahwa madrasah-madrasah ini ialah pondok-pesantren khas. Meski tidak dinamai pondok pesantren, kehadirannya seperti pondok pesantren di Jawa. Bisa dibayangkan pada era orde lama terdapat lebih 300 pondok pesantren di bawah satu haluan, yaitu Perti. Selain berkiprah di bidang pendidikan, yaitu menyelenggarakan Madrasah teratur dan kurikulum yang disesuaikan dengan mata pelajaran di Masjidil Haram, Perti juga berkiprah sebagai benteng Aswaja Mazhab Syafi’i. Bahkan, menurut beberapa sumber, berdirinya Perti dimaksudkan untuk membentengi Aswaja di Minangkabau.

Organisasi kedua, Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi keulamaan yang berdiri di Jawa Timur 1926. Meski dua tahun lebih dahulu berdiri, seperti halnya Perti, NU berdiri salah satunya dilatarbelakangi oleh menguatnya arus modernisasi di Jawa. Pada tahun sebelumnya terjadi ekspansi tentara Ibnu Sa’ud ke Mekah berikut paham Wahabi. Setelah menguasai Mekah, mereka menyerang praktik ziarah ke makam Nabi dan ulama, menutup zawiyah-zawiyah sufi, mengkritik tradisi-tradisi keagamaan yang telah berkembang sebelumnya karena dianggap bid’ah dan syirik, bahkan mereka merusak makam-makam ulama dan tempat-tempat bersejarah. Untuk men-counter aktivitas wahabi yang telah menjadi buah bibir saat itu, maka ulama-ulama di Jawa mengirim Komite Hijaz untuk menyampaikan aspirasi ulama-ulama Jawa terhadap peristiwa yang terjadi di Mekah. Sebagai kelanjutan komite ini, maka didirikanlah NU, setelah sebelumnya mendapat restu dari ulama senior Kiai Kholil Bangkalan, dan disepakati dalam pertemuan ulama-ulama di Jawa Timur. Dalam perjalanannya, NU berhasil membendung arus modernisasi dan menguatkan posisi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional sesuai dengan perkembangan zaman. Saat ini, NU termasuk salah satu organisasi sosial keagamaan terbesar di Indonesia.

Dua organisasi ini, Perti dan NU mempunyai kaitan dan akar sejarah yang sama. Ia hadir sebagai benteng Aswaja, dari kalangan ulama-ulama yang teguh menjalankan prinsip-prinsip agama. Bila ditinjau lebih dalam, dua organisasi (Perti dan NU) sosial keagamaan ini lahir dari satu mata air yang sama; mata air yang mempunyai dua muara. Dua muara yang dimaksud ialah dua tokoh pendirinya, yaitu Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang dan Kiai Haji Hasyim Asy’ary. Sedangkan mata air yang sama itu ialah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Mereka sama-sama direkat oleh nilai-nilai Aswaja.

Baca Juga: Tarbiyah Islamiyah dan Sejarah Politiknya

Antara Syekh Sulaiman Arrasuli dan KH. Hasyim Asy’ary

Perti didirikan oleh ulama-ulama terkemuka Minangkabau. Tokoh utama dari pendiri tersebut ialah Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang. Sedangkan NU, sebagaimana halnya Perti digagas oleh ulama-ulama besar Jawa, pencetus utamanya ialah Kiai Hasyim ‘Asy’ary. Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli atau dikenal dengan Inyiak Canduang dan Angku Canduang Nan Mudo lahir di Canduang, Baso, 1871. Ayahnya seorang ulama lokal yang mempunyai surau dan mendidik murid-murid yang cukup ramai, yaitu Syekh Muhammad Rasul. Sebelum melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Haramain (Mekah-Madinah), ia telah belajar agama dengan ulama-ulama terkemuka Minangkabau, antara lain Syekh Ladang Laweh Banuhampu, Syekh Abdus Samad Biaro, Syekh Yahya al-Khalidi Magek dan Syekh Abdullah Halaban Payakumbuh. Gurunya yang terakhir ini, Syekh Abdullah, sangat berpengaruh baginya, terutama membuka wawasannya dalam ilmu fikih dan ushul fiqih. Setelah itu ia belajar di Mekah selama tiga tahun. Guru-gurunya di Mekah ialah Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Shaleh Ba Fadhal dan lain-lain. Di awal abad XX, ia pulang ke Minangkabau dan mulai mengajar di surau ayahnya, Canduang. Namun, beliau kemudian kembali menimba ilmu kepada Syekh Muhammad Arsyad Batuhampar (saudara dari ayah Bung Hatta) di Payakumbuh, untuk mendalami tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan Riyadhah Sufi. Pada tahun 1928 ia mengadakan pertemuan ulama-ulama Aswaja. Hasil pertemuan itu ialah berdirinya Perti sebagai basis pendidikan Islam dari golongan Aswaja di Minangkabau. Syekh Sulaiman wafat pada tahun 1970 dalam usia sepuh, 99 tahun. Ia kemudian dimakamkan di depan Madrasah yang ia bangun, Madrasah Tarbiyah Islamiyah Canduang.  

Kiai Hasyim Asy’ari, mata rantai jaringan ulama pesantren di Jawa pada abad XX. Ia lahir di lingkungan pesantren yang kental pada 1871. Sebagaimana Syekh Sulaiman Arrasuli, ia juga belajar di Mekah. Namun, sebelum itu ia telah belajar kepada kiai-kiai terkemuka di Jawa, salah satunya Kiai Kholil Bangkalan, tokoh besar ulama Madura. Pada 1892 ia berangkat ke Mekah. Di sana ia belajar agama kepada ulama-ulama terkemuka, antara lain Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kembali dari Mekah, Kiai Hasyim kemudian memapankan karier keulamaannya di Jobang dengan mendirikan Pesantren Tebu Ireng. Kiai Hasyim wafat pada 1947, setelah puluhan tahun berjuang di jalan agama; memimpin pesantren, NU dan pokok-pokok pikiran beliau menjadi perhatian dan dilanjutkan oleh PBNU, bahkan cucunya KH. Abdurrahman Wahid pernah memimpin NKRI ini sebagai presiden yang merupakan deklarator bersama para kiai lainnya dan PBNU mendirikan partai politik yang berhaluan Aswaja; “Partai Kebangkitan Bangsa”.[]

Share :
Tuanku A. Damanhuri
Tuanku A. Damanhuri 1 Article
Wartawan Singgalang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*