Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji, Muara Sanad Qiro’at Nusantara (Menelusuri Sanad dan Rekam Jejak Masyayikh Al-Qur’an di Indonesia)

Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji, Muara Sanad Qiro'at Nusantara (Menelusuri Sanad dan Rekam Jejak Masyayikh Al-Qur'an di Indonesia)
Poto Dok. Penulis dari Makowi.com

Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji (1285 H – 1368 H) dikenal sebagai Syaikhul Qurro’ (Guru Besar Pengajar Al-Qur’an) di Hijaz. Julukan disematkan karena selain dikenal ulama yang Alim wa Allamah, beliau adalah Syaikhul Masyayikh (Maha Guru Ulama Dunia) di masanya. Cukup banyak ulama yang bermulazamah kepada keturunan Rasulullah SAW ini. Murid-muridnya banyak pula berasal dari kalangan Jawi al-Makki, sebuah komunitas Muslim dari Asia Tenggara yang bermukim dan belajar di Hijaz saat itu.

Nama dan Gelar Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji

Beliau bernama lengkap, al-Muqri’ Sayyid Ahmad bin Hamid bin Abdur Rozaq bin Asyri bin Abdurrozaq bin Husain bin Asyri bin Ahmad bin Abdul Bari al-Husaini at-Tiji ar-Ridhi. Beliau adalah keturunan dari Sayyid Muhammad Abi Thaqah ar-Ridhi yang nasabnya bersambung sampai kepada Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah az-Zahra binti Nabi Muhammad SAW.

Laqob (julukannya) adalah Syaikhul Qurro bi Makkah al-Mukarramah atau Syaikhul Qurro’ Hijaz. Gelar tersebut disematkan karena beliau dikenal luas pemahaman ilmunya khususnya dalam Ulumul Qur’an wal Qiro’at. Hal inilah yang menjadi daya tarik para pelajar dari berbagai penjuru Negeri Arab seperti Makkah, Madinah, Syam, Yaman Mesir. Semasa hidupnya beliau akrab disapa dengan panggilan Syaikh at-Tiji.

Keluarga Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji

Leluhur Syaikh at-Tiji berasal dari Hijaz. Seiring berjalan waktu, mereka berhijrah ke Mesir dan memilih Ridah (Sekarang masuk Provinsi Alminya) sebagai tempat tinggal. Di sana mereka bermukim dalam waktu yang cukup lama. Sebagian dari mereka berpindah ke daerah Abu Tij yang sekarang masuk Provinsi Asyut, tempat Syaikh Jalaluddin as-Suyuti, Penulis al-Itqan fi Ulumil Qur’an dan Tafsir Jalalain (bersama gurunya Syaikh Jalaluddin al-Mahalli) berasal.

Di kota kecil inilah, Syaikh at-Tiji dilahirkan pada bulan Dzulhijjah Tahun 1285 H. Dari sinilah nama at-Tiji dikenal dan melekat di belakang nama besarnya kelak. Di desa yang dialiri Sungai Nil ini pula beliau dididik langsung kedua orang tuanya untuk menghafal, mempelajari tajwid dan ilmu Al-Qur’an.

Keluarga Sayyid Hamid at-Tiji merupakan keluarga besar. Beliau dikauniai sebelas anak. Selain Sayyid Ahmad, keturunan beliau lainnya adalah Sayyid Mahmud, Sayyid Abdurrozaq, Sayyid Mahmud, Sayyid Abdurrahman, Sayyid Musthofa, Sayyid Abdul Aziz, Sayyid Muhammad, Sayyid Hasan, Sayyid Husain dan seorang lagi perempuan.

Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji beserta cucunya/Dok. Penulis

Semasa hidupnya Syaikh at-Tiji pernah beberapa kali menikah. Dari istri-istrinya tersebut lahir delapan putra yakni Sayyid Abdul Qodir, Sayyid Abdullah, Sayyid Abdul Majid, Sayyid Nizar, Sayyid Muhammad, Sayyid Mahdi, Sayyid Thoha, Sayyid Adnan. Beliau juga dikaruniai tiga orang putri yaitu Sayyidah Khadijah, Sayyidah Majidah, Sayyidah Majidah. Seluruh putra-putri Syaikh at-Tiji dibimbing langsung oleh beliau dalam menghafal Al-Qur’an.

Beberapa diantaranya seperti Sayyid Abdul Qodir dan Sayyid Abdullah melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar. Kemudian mereka belajar sembari ke berbagai negara seperti Palestina, India, Indonesia, Kasmir. Sayyid Abdullah selanjutnya menetap di Kuwait dan bekerja di Kementerian Wakaf sampai ajal menjemputnya.

Perjalanan Intelektual Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji

Semasa hidupnya Syekh at-Tiji menghafalkan Al-Qur’an dan mempelajari berbagai ilmu ke berbagai masyayikh diantaranya: Sayyid Ahmad Zakwah at-Tiji (Hafalan Al-Qur’an), Sayyid Hamid at-Tiji ar-Ridi (Hafalan Al-Qur’an), Syaikh Sabiq al-Iskandari (w. 1312 H), kepadanya beliau mendapatkan ijazah Qiro’at Sab’ah, Syaikh Abdul Aziz bin Ali Kuhail. Darinya beliau belajar Qiro’at Asyaroh (Bacaan Sepuluh Imam) dari Thariq Syatibiyyah wa Durroh yang dikenal dengan Qiro’at Asyarah Sughra. Dua nama guru Syaikh At-Tiji terakhir tertuang dalam risalah sanad muridnya yakni KH. Dahlan Kholil, Jombang dan Kitab As-Salasil adz-Dzahabiyah karya Dr. Aiman Suwaid.

Dikutip dari laman makkawi.com, Rihlah Ilmiah Syaikh at-Tiji, dimulai dari negerinya, Mesir menuju Tanah Hijaz pada tahun 1316. Beliau bermukim di Madinah dan mempelajari Al-Qur’an serta Ilmu Qiro’atnya. Selain menuntut ilmu, beliau juga membantu ayahnya (Sayyid Hamid at-Tiji) berdagang. Pada tahun 1335 H, Syaikh at-Tiji melanjutkan perjalanan menuju negeri Syam dengan ditemani kedua saudaranya (Sayyid Mustofa dan Sayyid Ali). Di Syam beliau didapuk menjadi Imam sekaligus Khatib pada salah satu masjid disana dan juga mengajarkan Al-Qur’an dan Ilmu Qiro’at.

Selanjutnya Syaikh at-Tiji menuju negeri Mesir untuk kemudian belajar ke Syekh Ali Ad-Dobbagh. Kepada beliau, Syakh at-Tiji belajar Qiro’at Asyarah dari Thariq Thayyibatin Nasyr pada tahun 1344 H dan Qiro’at Arba’ Asyr (Bacaan 14 Imam Qiro’at) pada tahun berikutnya. Dari gurunya yang juga dikenal dengan Syaikhul Qurro’ ini beliau mendapat ijazah Qiro’at Asyarah Kubra. Tak lama setelah itu, guru mulianya tersebut berpulang ke Rahmatullah.

Pada tahun 1347 H Syaikh at-Tiji, berhijrah ke tanah leluhurnya, Makkah al-Mukarramah. Disana beliau belajar kepada pendiri Madrasah al-Falah yakni Syaikh Muhammad Ali Zainal Ali Ridha. Di Madrasah yang didirikan sejak 7 Desember 1905 ini dikenal banyak melahirkan ulama ternama. Syaikh at-Tiji mengajarkan Hafalan Al-Qur’an dan Ilmu Qiro’at hingga akhir hayatnya.

Dikisahkan bahwa Syaikh at-Tiji sempat pulang ke Mesir selama beberapa tahun (khususnya saat bulan Ramadan). Selanjutnya beliau kembali lagi ke Makkah dan bermukim disana sampai sekitar tahun 1360 H. Dalam beberapa ijazah, dikatakan bahwa beliau sempat juga kembali Madinah. Berkat perjuangan yang luar biasa dibarengi kedalaman ilmunya dalam ilmu Al-Qur’an dan Qiro’at, membuatnya dicintai oleh penduduk Makkah dan Madinah, majelis ilmunya didatangi para pelajar dari penjuru dunia dan ulama-ulama lainnya menaruh hormat kepada Syekh at-Tiji atas kealiman yang dibarengi ketawadluannya.

Baca Juga: Syekh Batuhampar yang Ahli al-Qur’an Kakek Proklamator RI Moh Hatta

Jaringan Sanad Qiro’at Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji

Setelah sekian melanglang buana dalam belajar dan mengajarkan Al-Qur’an, lahirlah generasi yang kelak melanjutkan perjuangannya dalam mensyiarkan kalam Illahi ini. Mereka berasal dari berbagai negara di penjuru Arab dan banyak pula yang berasal yang berasal dari Indonesia.

Diantaranya santri-santri asuhan Syaikh at-Tiji yang masyhur adalah Sayyid Abu Bakar Ahmad bin Husain al-Habsyi, Sayyid Abdul Fattah bin Abdurrahim, Syaikh Abdul Aziz Muhammad Uyun as-Sud, Syaikh Muhammad Husain Abid, Syaikh Muhammad Abdilah al-Kuhaili, Syaikh Siraj al-Qaruti, Syaikh Dahlan Kholil al-Jumbani, Syaikh Zain Abdullah al-Baweani (Tiga nama terakhir berasal dari Indonesia).

Diantara murid Syaikh at-Tiji yang menjadi guru dari para masyayikh dari Nusantara adalah Syaikh Alwi bin Abbas al-Maliki (Ayahanda Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki), Sayyid Muhammad Amin Kutbi al-Hanafi, Syaikh Abdullah Ibrahim Hamduh as-Sunari as-Sudani, dan Syaikh Ahmad Hijazi bin Abdullah al-Faqih (Penulis Kitab al-Qoul Sadid fi Ahkami Tajwid).

Nama terakhir adalah salah seorang murid Syaikh at-Tiji yang menjadi kelak menjadi salah seorang khalifahnya. Berdasarkan riset dari tim Sanad Qiro’at Nusantara, dari didikan Syaikh Ahmad Hijazi al-Faqih al-Muqri’ (1303 H – 1381 H) banyak melahirkan murid dari berbagai penjuru tanah air diantaranya: Syaikh Muhammad Zain Batubara, Syaikh Abdul Wahab Batubara, Syaikh Azrai Abdul Rauf Al-Mandili, Medan, Syaikh Mahmud Syihabuddin Mandailing Natal (keempatnya berasal dari Sumatera Utara), KH. Abdur Rasyid Shiddiq, Palembang Sumatera Selatan dan
KH. M. Junaid Sulaiman, Bone, Sulawesi Selatan.

Diriwayatkan Syaikh Ahmad Hijazi Al-Faqih juga pernah belajar pada ulama Tubagus KH. Makmun, Ulama Serang, Banten saat beliau bermukim di Makkah. Keterangan ini termaktub dalam biografi Tubagus KH. Ma’mun yang penulis temukan saat kunjungan ke Pondok Pesantren Syihabuddin Ma’mun, Caringin, Labuhan, Pandeglang, Banten beberapa bulan silam. Jadi Syaikh Hijazi adalah seorang yang berguru dan memiliki murid dari Indonesia.

Dalam risalah sanad Qiro’at yang kami temukan sebelumnya saat ke Serang, Banten, Tubagus KH. Ma’mun belajar kepada Syaikh Syarbini ad-Dimyati. Syekh Syarbini juga memiliki murid yang masyhur dari Nusantara yakni Syekh Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi, Penulis Ghunyatu ath-Thalabah bi Syarhi Nadzhmi ath-Thayyibah fi al-Qira’at al-‘Asyriyyah. Hal ini dibuktikan dari risalah sanadnya Kifayatul Mustafid Lima alal Asanid. KH. Muhammad Dimyati juga menuliskan sanad gurunya KH. Nahrowi Dalhar, murid Syaikh Mahfudz dalam risalah at-Tabsyir fi Sanadi at-Taisir.

KH. Munawwir juga tercatat pernah belajar kepada Syekh Syarbini, meski sanad yang diturunkan kepada muridnya, diambil dari gurunya Syekh Yusuf Husein Abu Hajar ad-Dimyathi. Uniknya Syekh Mahfudz sebelum wafat meminta putranya KH. Muhammad untuk belajar kepada KH. Munawwir yang bermukim di Makkah selama 21 tahun ini. KH. Muhammad akan ikut pulang ke tanah air dan belajar di Krapyak dan Tremas sebelum kemudian merintis Pondok Pesantren Bustanu Usyaqil Qur’an di Betengan, Demak.

Syaikh Abdullah Ibrahim Hamduh As-Sunari (1274 H -1350 H) juga tercatat pernah bertalaqqi kepada Syaikh at-Tiji. Beliau juga mempunyai murid yang masyhur di Indonesia seperti KH. Ahmad Badawi Kaliwungu yang dikatakan sempat belajar kepadanya saat Ulama dari Sudan ini mengajar di Madrasah Al-Falah, Makkah. Meski begitu hingga saat ini belum ditemukan naskah asli sanad Al-Qur’an yang dikeluarkan oleh KH. Ahmad Badawi yang kelak saat pulang ke tanah air mendirikan Pondok Pesantren Miftahul Falah, di Kaliwungu, Kendal. Dalam catatan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama beberapa santri Kyai Badawi seperti KH. Yusuf Junaidi, (Pendiri Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an, Ciomas, Bogor), KH. Abu Bakar Shofwan Cirebon merintis pesantren tahfidz di Jawa Bagian Barat.

Sebagaimana kami sebutkan diatas, bahwa murid langsung lainnya Syaikh At-Tiji dari Indonesia adalah KH. Dahlan Kholil (1319 H – 1377 H) Masyayikh Pondok Pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan, Jombang. Hal ini dibuktikan dengan syahadah dan sanad yang ditulis tangan oleh Kyai Dahlan pada tahun 1351 H. Atas rekomendasi dari KH. Hasyim Asy’ari-lah, Kyai Dahlan yang sempat belajar di Tebuireng bersama pamannya KH. Romli Tamim ini dapat belajar kepada Syaikh at-Tiji yang sempat mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng, Cukir, Jombang. Kepada Syaikh at-Tiji, KH. Dahlan Kholil berhasil meraih sanad Qiro’ah Sab’ah yang kemudian diajarkan ke muridnya sepulang dari Makkah tahun 1931 Masehi. KH. Mujahid Tumpang Malang adalah salah satu contoh santri Kyai Dahlan yang berhasil dalam mempelajari Qiro’ah Sab’ah.

Menurut keterangan KH. Chozin Dahlan (Putra KH. Dahlan Kholil) ketika kami temui beberapa bulan silam dikatakan bahwa salah satu putra Syaikh at-Tiji sempat lama bermukim di Jombang. Saat itu beliau belajar kepada KH. Ghozali, murid KH. Dahlan Kholil yang bermukim di sekitar Peterongan, Jombang. Bahkan saat berjumpa kembali dengan Kiai Chozin saat di Makkah, putra Syekh at-Tiji masih cukup fasih berbahasa Indonesia.

Dalam risalah sanad KH. Dahlan Kholil, tertulis bahwa beliau dapat mengaji kepada Syekh Ahmad Hamid at-Tiji lewat wasilah muridnya yang masyhur yakni Syekh Muhammad Amin Kutbi al-Hanafi (1327 H -1404 H) Digelari al-Kutbi karena leluhurnya adalah penjual kitab-kitab. Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani, Martapura, Kalimantan Selatan dalam risalah sanad Qiro’atnya juga menyebutkan Syekh Amin Kutbi sebagai gurunya di bidang ilmu Qiro’at.

Syaikh Zain Abdullah dari Pulau Bawean, Gresik juga menyebutkan peran Syaikh Amin Kutbi yang menjadi gurunya selain belajar langsung ke Syekh At-Tiji. Syaikh Zain al-Baweani juga dikenal sebagai al-Muqri’, karena beliau dikenal sebagai Ahli Qiro’at. Keterangan ini kami temukan dalam tarajim (biografi) yang kami dapatkan dari Ustadz Dzulkifli Hadi, Ph.D yang sempat bertemu langsung dengan Syaikh Mahmud al-Indunisy saat pulang dari studi doktoralnya di Sudan. Syaikh Mahmud al-Makki adalah putra KH. Sirojuddin Trenggalek Jawa Timur yang pernah bermukim di Makkah dan belajar langsung kepada Syaikh Zain Al-Baweani yang menjadi pengajar di Madrasah Darul Ulum, Makkah al-Mukarramah.

Baca Juga: Tiga Cara Membaca al-Qur’an Menurut Ulama Ahli Qiraat Muqri

Ahmad Ginanjar Sya’ban dalam catatannya menyebutkan menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad Siroj al-Qoruti (1895-1970) adalah murid Syaikh at-Tiji yang luar biasa. Dikatakan bahwa Syaikh Siroj masuk dalam laman Makkawi Qiblah ad-Dunya. Berkat keahlian dalam ilmu Qiro’at, ulama’ asli Garut, Jawa Barat ini mendapat lisensi untuk mengajar ilmu Qiro’at di Masjidil Haram dan kediamannya di distrik Qassasiyah. Beliau juga didaulat oleh Kerajaan Saudi Arabia untuk melantunkan ayat suci Al-Qur’an di Masjidil Haram setiap harinya.

Syaikh Muhammad Siroj al-Qoruti memiliki beberapa murid yang masyhur diantaranya KH. Muhammad Ashlah Banten, dan KH. Makmun Bakrie, Pendiri Pondok Pesantren Qiroatus Sab’ah, Kudang Limbangan, Garut. Salah satu murid sekaligus menantu KH. Ma’mun Bakrie adalah KHQ. Ahmad Syahid, Pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Bandung. Beliau dikenal sebagai Qori Internasional yang menyabet juara pertama Musabaqah Tilawatil Qur’an, Perdana pada tahun 1968 di Makassar.

Membaca cuplikan rekam jejak Syaikh at-Tiji dan jejaring sanadnya tergambar betapa luasnya jangkauan keilmuannya. Di Indonesia saja jaringannya meluas dari penjuru tanah air, sebagaimana yang dilakukan oleh santri Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng Jombang yang didirikan oleh KH. Yusuf Masyhar. Selain menghafal Al-Qur’an kepada KH. Chusen Jenu Tuban, beliau cucu menantu KH. Hasyim Asy’ari mengambil sanad Al-Qur’an kepada KH. Dahlan Kholil yang mata rantainya bersambung dengan Syaikh at-Tiji.

Santri-santri Madrasatul Qur’an banyak berkiprah di tengah masyarakat. Beberapa diantaranya berhasil mendirikan pesantren dari Bumi Nanggroe Aceh Darussalam (Dayah Insan Qur’ani, Aceh Besar), Sulawesi (Pondok Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Imam Ashim, Makassar), sampai Tanah Papua (Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Al-Qalam Manokwari, Papua Barat).

Berkat didikan, keikhlasan, serta doa tulus dari Syaikh at-Tiji yang wafat pada 1368 H pada usia 83 tahun ini telah lahir ribuan Ahlul Qur’an. Dari murid lahir murid yang melahirkan murid lainnya yang terus akan berlanjut sampai hari akhir kelak, sungguh sebuah pelajaran berharga keberkahan ilmu yang luar biasa. Semoga meneladani sosok beliau dan ulama Ahlul Qur’an lainnya mampu menjadi motivasi untuk terus berusaha mensyiarkan Kalam Illahi sebagai yang amal jariyah akan kita tuai di dunia hatta akhirat kelak. [] Amin

Semoga Bermanfaat Kebumen, 14 Syawal 1441 H

Muhammad Abid Muaffan
Muhammad Abid Muaffan 2 Articles
Santri Backpacker Nusantara

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*