Sedang Berdiang Nasi Masak: Pendidikan Karakter Menurut Inyiak Canduang

Sedang Berdiang Nasi Masak Pendidikan Karakter Menurut Inyiak Canduang
Lukisan Syekh Sulaiman Arrasuli, Dok. Muhammad-Nazif Dt Rajo Kayo

Sedang Berdiang Nasi Masak: Pendidikan Karakter Menurut Inyiak Canduang

Oleh: Inyiak Ridwan Muzir

Tulisan ini secara tersirat akan menyoal apakah kita sudah lebih maju dari kondisi 1 abad yang lalu dalam soal pendidikan. Soal ini akan kita pandang-pandangi lewat pendidikan karakter.

Istilah pendidikan karakter ramai diucapkan beberapa tahun belakangan. Makin riuh disebut-sebut di berbagai forum sejak keluarnya peraturan-peraturan resmi negara tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Dokumen-dokumen yang diterbitkan pihak yang berwenang mengurus pendidikan menyebutkan kalau obrolan pendidikan karakter ini sebenarnya sudah digalakkan setidaknya sejak tahun 2010. Sekitar 7 tahun kemudian keluarlah Peraturan Presiden untuk hal ini.  Setahun kemudian keluar pula Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang PPK pada satuan pendidikan formal. Peraturan menteri ini diiringi dengan berbagai petunjuk pelaksanaan, petunjuk teknis, panduan dan modul yang dibuat oleh Direktorat Jenderal terkait di naungan Kemendikbud.

Sebelum lanjut, terlebih dahulu kita perlu menyampaikan semacam alas untuk pembicaraan di sini. Alas ini dimaksudkan supaya kita tidak pusing sendiri dengan perbedaan pandangan apakah pendidikan karakter itu sama dengan pendidikan moral (akhlak) atau lebih umum dan lebih tinggi. Kita tidak perlu memperberat beban hidup dengan mencoba membahas perdebatan itu. Sebab apapun istilahnya, manusia mendidik atau dididik itu tujuannya hanya satu: agar tidak jadi orang jahat, buruk dan salah menurut timbangan yang mendidik. Kalau tidak itu tujuannya, lantas untuk apa orang tua dengan sabar mengarahkan anak balitanya agar menerima dengan tangan kanan? Guru menghabiskan air liur mengajari murid remaja untuk bergaul dengan siapa saja? Atau tokoh masyarakat menyinyiri para pemuda mencari rezeki yang halal? Pendek kata: untuk apa negara dan warganya berhabis-habis menyelenggarakan pendidikan kalau bukan untuk melahirkan orang baik!

Dalam aturan resmi yang dikeluarkan negara (Peraturan Presiden RI nomor 87 tahun 2017 dan Peraturan Mendikbud nomor 20 tahun 2018) dikatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter adalah “gerakan pendidikan” yang bertujuan untuk “memperkuat karakter peserta didik”. Karakter yang akan diperkuat itu adalah segala yang baik-baik, pokoknya. Kalau dirinci, jumlah karakter baik yang akan diperkuat itu mungkin akan lebih dari segerobak tolak.

Apa yang mengikat semua karakter baik yang akan diperkuat itu? Di Peraturan Presiden tadi tertulis bahwa tujuan penguatan ini adalah “membangun dan membekali Peserta Didik […] guna menghadapi dinamika perubahan di masa depan.” Kata kunci di sini adalah “menghadapi dinamika perubahan di masa depan.” Segala macam karakter baik pada diri peserta didik diperkuat untuk menghadapi perubahan di masa depan. Kalau dipahami begini saja, tidak ada istimewanya gerakan ini. Sejak dunia terkembang, yang namanya pendidikan itu gunanya pasti mempersiapkan murid untuk mampu hidup di keadaan yang tidak lagi sama dengan waktu dia dididik. Kalau keadaan di masa depan sama saja dengan sekarang, untuk apa bersekolah menghabiskan umur dan sol sepatu?

Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif” (Bag #1)

Yang perlu diperhatikan adalah perubahan yang dimaksud dalam Peraturan Presiden, dan Peraturan Mentri yang menerjemahkannya ke dalam kebijakan. Makna dari perubahan yang dipakai di situ dapat dilihat dalam dokumen panduan pelaksanaan dua regulasi ini. Pada intinya perubahan diartikan sebagai persaingan dengan bangsa lain di masa depan. Kalau karakter anak didik saat ini tidak dibentuk supaya siap tempur berlaga dengan bangsa lain, mereka kelak jadi kambing congek saja. Jadi anak buah bangsa lain yang lebih pintar, cerdik, dan tentu saja lebih kaya. Maka supaya anak didik bangsa Indonesia ini nanti bisa pula sama pintar, sama cerdik dan sama kaya, maka perlulah diperkuat karakter-karakter yang bisa membuat mereka tidak kalah. Kalau pun tidak jadi pemenang, minimal draw-lah. Bisa duduk sama rendah, tegak sama tinggi, entah dengan bangsa berambut pirang, berkulit hitam, bermata sipit atau berjenggot panjang.

Ringkasnya, tujuan pendidikan karakter dan segala macam usaha untuk memperkuatnya adalah mempersiapkan peserta didik untuk bisa bersaing di gelanggang ramai.  Kalau pun ke aturan-aturan dan dokumen pendukungnya ada dimasukkan bau religiusitas, bumbu ketakwaan, resep kesalehan dan yang senada dengannya, itu tak lain demi tujuan tadi juga (persaingan). Artinya peserta didik diajari agar berakhlak mulia, gemar berbuat baik, rajin, taat dan tetek bengek lainnya bukan demi menghamba pada Pencipta dengan niat ikhlas beribadah, namun supaya mereka nanti tidak keok. Itu saja. 

Jalan yang ditempuh untuk tiba ke tujuan tadi adalah jalan yang sudah biasa ditempuh orang juga, yakni keteladanan. Dalam Pasal 5 Perpres No. 87 Tahun 2017 disebutkan bahwa prinsip PPK adalah keteladanan. Peraturan menteri yang menerjemahkannya pun menyebut keteladanan sebagai prinsip (Pasal 3) dan pendekatan (Pasal 6). Kenyataan ini tidak istimewa. Sebab, apalagi cara kerja pendidikan dan pengajaran paling dasar kalau bukan contoh-mencontoh, teladan-meneladani.

Uraian di atas bisa dipadatkan dalam sebuah pernyataan berikut. Di awal abad 21, Bangsa Indonesia memperkuat pendidikan karakter menggunakan prinsip keteladanan demi bisa bersaing di masa depan.

Sekarang kita mundur kira-kira seabad. Dalam kitab Nasihat Siti Budiman yang selesai ditulis tahun 1939, Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) juga menyoal masalah bagaimana membuat anak jadi baik. Di buku ini dikisahkan kalau proses itu sudah bermula sejak si ibu dan ayah masih gadis dan bujang. Beliau gambarkan bagaimana keelokan budi dan kedalaman pengetahuan si calon ibu dan ayah. Ketika si anak yang akan dididik lahir dan mulai tumbuh kembang, si ibu pun mulai mengajari dan mendidiknya supaya jadi baik. Supaya berkarakter.

Apa tujuan si Ibu yang mendidik anaknya? Inyiak Canduang mengatakan begini:

كؤ دهولو كيت ماتى. اوءپ تڠݢل دالم كمڤوڠ. سديكت بلوم بڤڠاج. اف ساج بلوم نن داڤت. كؤ علم نن باپق نڠكو. اد سكولهپ ماسڠ٢ . اندق كورڠ ݢورو دسانن[….] تتافى دودق دالم كمفوڠ. اتو دودق بنݢرى. تيدق اد سيكولهپ. هاپ نن باپق تيرو تيروان. چاليئله كانق٢ كينى. دبير ساج سليلوپ. ادڠ كهندقپ نن ديتورة. نن تأ دماكن الور ڤاتوت. له ببانق كأمڤو كاكى. بتريه كؤجڠ داهن. علامت دنيا كبناس. دڠرله ففاته منڠ كبو. ماس كيتئ ترنجو٢ له ݢادڠ تباوو٢. سمفي توا تروبه تيدق. دڠركن سبواه لاهى. طبيعة ڤنتڠ تروبه. كتوجو ڤنتڠ بچاري. له اد سوري تلادنپ.

Kok dulu kito mati. Awaknyo tingga dalam kampuang. Sedikit belum bapangaja. Apo sajo balum nan dapat. Kok ilmu nan banyak nangko. Ado sikolahnyo masing2. Indak kurang guru di sinan [] Tatapi duduk dalam kampung. Atau duduk banagari. Tidak ado sikolahnyo. Hanyo nan banyak tiru-tiruan. Caliaklah kanak2 kini. Dibiar sajo salilonyo. Adang kandaknyo nan diturut. Nan tak dimakan alur patut. Lah ba banak ka ampu kaki. Batareh ka ujung dahan. Alamat dunia ka binaso. Dangalah papatah Minangkabau. Maso ketek taranjo2. Lah gadang tabawo2. Sampai tuo tarubah tidak. Dangakan sabuah lai. Tabiat pantang tarubah. Katuju pantang bacarai. Lah ado suri taladannyo.

(Jika kita duluan mati. Dia akan tinggal dalam kampung. Sedikit pun belum punya pengajaran. Tidak tahu apa-apa. Kalau ilmu yang banyak jenis ini. Ada sekolahnya masing-masing. Tidak kurang guru yang akan mengajarkannya…Tetapi duduk dalam kampung. Atau duduk dalam nagari. Tidak ada sekolahnya. Yang ada hanya tiru-tiruan. Lihatlah anak-anak kini. Dibiarkan saja seleranya. Kadang kehendaknya yang dituruti. Yang tidak sesuai alur dan patut. Otak ditaruh di dengkul. Alamat dunia akan binasa. Dengarlah pepatah Minangkabau. Masa kecil dimanja, ketika besar terbawa-bawa. Saat Tua tidak terubah. Dengarkan satu lagi. Tabiat tak bisa diubah. Kesesuaian tidak akan terpisahkan. Semua ada suri tauladannya).

Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif” (Bag #2)

Bagi Inyiak Canduang, anak dididik sedemikian rupa supaya bisa hidup di dalam kampung dan nagari. Di sini yang kata yang dipakai Inyiak Canduang adalah “duduk”. Ini bisa ditafsirkan bahwa kondisi duduk menandakan posisi yang tepat dan pas. Dengan posisi itu seseorang di tengah masyarakat bisa dikenali dengan baik saat jadi sasaran rundingan atau saat jadi pangkal rundingan. Dengan kata lain, posisi tepat dan pas yang tersirat dalam kata “duduk” ini menjadi tanda seseorang dianggap ada.  Ini berarti bahwa menurut Inyiak Canduang tujuan karakter seseorang dibentuk dan dipersiapkan adalah supaya dia dapat “duduk” di tengah masyarakat, supaya dia dianggap ada. Anak dididik jadi baik supaya kelak tidak jadi mentimun bungkuk dalam masyarakat. Jangan sampai dia “tidak ada” di mata orang banyak.

Kalau bagi Inyiak Canduang pendidikan karakter adalah demi anak didik tidak jadi mentimun bungkuk, maka gerakan PPK yang dicanangkan Presiden menarik lebih jauh prinsip ini. Supaya dianggap ada maka harus ada semangat bersaing, melawan, dan kalau perlu menang.  Jika prinsip gerakan PPK ini ditarik lebih jauh lagi, kita akan ketemu dengan pertanyaan bagaimana jika seorang anak di masa depan ditakdirkan nasib selalu jadi orang kalah dalam bersaing akibat berbagai sebab? Apa akal dia? Bagaimana cara dia agar bisa tetap “duduk” di dalam kampung? Apa yang harus dia lakukan supaya tetap dipandang ada meskipun jadi pihak yang kalah? Pertanyaan ini pasti akan dihadapi karena mustahil pada akal jika dalam sebuah persaingan semua pihak jadi pemenang. Tidak ada itu.

Inyiak Canduang memang tidak menuliskan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Apalagi peraturan dan dokumen resmi negara, lebih tidak ada lagi. Yang dinyatakan Inyiak Canduang, seperti tertulis di kutipan di atas, hanyalah bahwa segala ilmu ada sekolah tempat mempelajarinya dan ada guru yang akan mengajarkannya. Namun cara duduk di tengah masyarakat tak ada sekolahnya. Yang ada hanya tiru-tiruan, ikut tren.

Maka untuk membekali anak dengan pelajaran supaya dia bisa duduk di kampung dan nagari, yang diperlukan adalah teladan. Karena dengan teladanlah tabiat akan kokok tak berubah, hal yang diimpikan (cita-cita ideal) tak berganti.

Kalau diamat-amati, nampaknya seratus tahun waktu berjalan, tak berubah pandangan orang tentang pentingnya teladan dalam pendidikan. Inyiak Canduang di awal abad 20 menyebut teladan penting untuk mendidik karakter, di awal abad 21 Presiden juga berpendapat sama untuk mempersiapkan “tempat duduk” peserta didik di perubahan masa depan.

Namun demikian, walau di luar kelihatan tidak berubah, namun kedua cara pandang ini ibarat sirih dan kerakap. Walau rupa sama, namun hanya satu yang patut terletak di cerana. Apa sebab? Bagi Inyiak Canduang, apa yang diteladankan adalah sebagai tujuan, bukan alat. Bagi negara, apa yang diteladankan adalah sebagai alat, bukan tujuan.

Disiplin tidak terlambat datang ke sekolah, misalnya. Bagi Inyiak Canduang, ketika kedisiplinan ini dikerjakan seorang guru, itu karena si guru memang harus disiplin. Dia terbirit-birit berangkat ke sekolah bukan karena meniatkan perilakunya dicontoh muridnya sehingga kelak si murid bisa pekerja yang disiplin dalam persaingan. Akan tetapi karena si guru meyakini bahwa dia memang harus disiplin. Begitu juga dengan kesopanan dan kejujuran. Guru berbuat sopan dan jujur pertama-tama karena sebagai manusia dia memang harus sopan dan jujur. Dia sopan dan jujur bukan karena dia adalah guru yang akan digugu dan ditiru.

Akibat dari perbedaan ini tidak sederhana di tingkat praktik. Dalam pendidikan karakter diperintahkan negara, contoh yang diteladankan pendidik adalah alat untuk mempersiapkan anak didik supaya punya karakter yang bisa membuatnya bersaing di masa depan.  Ketika pendidik dihadapkan pada beberapa pilihan contoh yang sama-sama baik, dia harus memilih mana yang sesuai dengan tujuan, yakni persaingan di masa depan itu tadi. Kalau tidak sesuai, pendidik harus tidak mencontohkannya. Kalau berkeras mencontohkannya, berarti dia melanggar perintah negara.

Kalau menurut perhitungan pendidik membaca selawat atau zikir tak ada sangkut-pautnya dengan karakter anak didik untuk berlomba menggalas dengan orang China di masa depan, maka untuk apa pula selawat atau zikir itu dia contohkan. Sebaliknya, jika pendidik memahami sedekah adalah investasi yang akan melahirkan laba, dia akan membuat program sedekah mingguan bagi murid-muridnya. Tujuannya adalah agar mereka terbiasa mengorbankan modal demi mendapatkan ganjaran. Melatih anak didik sejak dini jadi investor, supaya di masa depan bisa investasi di mana-mana.

Pendapat Inyiak Canduang tidak begitu. Bagi beliau, perbuatan baik yang akan dicontohkan pada anak itu tidak pandang bulu, asal baik dan sah menurut adat dan syarak. Tidak pandang bulu karena kewajiban berbuat baik bukan karena perbuatan itu sebagai contoh, melainkan karena itu perbuatan baik. Perbuatan itu dilakukan bukan karena ingin mencontohkannya, melainkan karena disuruh melakukannya.  Dinyatakan dengan cara lain, hal ini akan berbunyi demikian: dalam pandangan Inyiak Canduang, fokus utama keteladanan adalah orang yang berbuat, bukan si anak didik yang sedang diberi teladan. Beliau mengistilahkan ini dengan pepatah sambil berdiang nasi masak. Sambil membayar utang, yakni hutang sebagai manusia yang diwajibkan berbuat baik, anak didik sekaligus dapat pengajaran. Bagaimana Inyiak Canduang mengungkapkan hal ini, dapat dilihat dalam petikan berikut:

كلاكوان سيتى بديمان. كلو دهمفر انق كندوڠ. تأ ممباو لأين٢. هاپ ممباچ ذكرالله. ادڠ صلاوة اتس نبى. ادڠ قرآن دلاݢوكن. اف كراج دان بواتن. كلو دهمفر انق چاكو. دفيله نن بإيك٢. انتوك فنديديك مقصودپ. بأ ففاته منڠ كبو. راݢو بديڠ ناسي ماسق. سدڠ مپورؤ ݢاليه لالو. اف توجوان كات ننتون. فعل فراڠى نن بإيك٢. فرلو جوا دفربوات. سدڠ سيتى ممباير اوتڠ انقله دافت فول ترديديك.

Kalakuan Siti Budiman. Kalau di hampir anak kandung. Tak mambawa lain2. Hanya mambaco Zikrullah. Adang Salawat atas Nabi. Adang Quran dilagukann. Apo Karajo dan buatan. Kalau di hampir anak cako. Dipilah nan baik2. Untuk Pendidik maksudnyo. Bak papatah Minangkabau. Rago badiang nasi masak. Sadang manyuruak galeh lalu. Apo tujuan kato nantun. Fi’il parangai nan baik-baik. Paralu juo diperbuat. Sadang Siti mambayar hutang. Anaklah dapat pula terdidik.

Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang: “Pendekar” Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah

(Kelakuan Siti Budiman. Kalau di dekat anak kandung. Tak melakukan hal lain selain membaca zikir, selawat atas nabi. Kadang melagukan al-Quran. Apapun pekerjaan dan perbuatan, jika di dekat anaknya, dipilih yang baik-baik. Untuk pendidikan tujuannya. Bagai pepatah Minangkabau. Ketika berdiang nasi masak. Sedang menyuruk galas lalu. Maksud pepatah ini adalah perbuatan yang baik wajib diperbuat. Ketika Siti Budiman membayar hutang kewajibannya berbuat baik, anaknya pun secara tak langsung jadi terdidik)

Kalau fokusnya dibalik, maka yang terjadi adalah seperti sekarang. Dari kepala negara sampai kepala desa; dari pusat sampai ke tepi, dari ibukota sampai ke desa, orang sibuk mengucapkan pendidikan karakter. Tapi di kenyataan, makin hari makin banyak orang yang tidak berkelakuan. Sia-sia lama memasak murid lewat pendidikan, nasi tak pernah mau matang. Hutang tetap tak terbayar. []

Inyiak Ridwan Muzir
Inyiak Ridwan Muzir 18 Articles
Anak siak Tarbiyah Islamiyah, anggota Surau Tuo Institute Yogyakarta

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*