Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah

Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah

Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah

Mohon maaf sebelumnya sedikit lancang berkomentar, karena saya bukan bagian dari organisasi PERTI dan juga bukan tamatan MTI, namun hanya sebatas pecinta sejarah Minangkabau.

Sedikit orat-oretan dari hasil diskusi yang sempat saya ikuti sabtu yang lalu. Mungkin ada beberapa poin yang sudah tampak dari tema yang diinginkan. Namun di sini, saya lebih kepada penilaian dan asumsi pribadi tentang sebab musabab berdirinya MTI dan PERTI yang sebelumnya sudah dijelaskan oleh sahabat karib saya Buya Apria Putra.

Menurut saya kenapa MTI berkembang dan PERTI secara ideologi membesar dan meluas, di antaranya sikap fleksibel dari ulama pendirinya, di sini dikatakan fleksibel, karena berdirinya MTI itu karena terinspirasi dari model pendidikan yang dibangun oleh kaum muda yakni Thawalib dengan gaya klasikal, dan memiliki perkembangan yang baik, dari segi murid-murid yang belajar. Sistem ini merupakan gaya sekolah Belanda yang diadopsi oleh H. Abdullah Ahmad, sehingga beberapa penelitian menyebutkan bahwa Abdullah Ahmad adalah Holanator.  Meskipun itu model Belanda, namun pada kenyataannya hal itu baik dengan kondisi zaman yang semakin berkembang apalagi dalam dunia pendidikan.

Oleh sebab itu agar pendidikan kaum tua juga maju, ideologinya bisa tersebar, maka diubahlah halaqah menjadi klasikal. Dari hal ini dapat dilihat bahwa cara pandang ulama tua sangat fleksibel dan tidak kaku atau monoton. Andaikan saja para ulama tidak mengambil langkah begini, dan tetap pada tradisi pendidikan tradisional yakni belajar dengan cara duduk bersila sembari mengelilingi guru atau yang dikenal dengan halaqah, mungkin eksistensi MTI akan berakhir sama dengan surau, yang saat ini bisa dianggap telah terpinggirkan.

Menurut Jeffrey Hadler dalam bukunya “Sengketa Tiada Putus” sistem klasikal lebih terorganisir, karena menentukan tingkatan murid dari segi usia, bukan pemahaman. Namun surau, tidak memiliki pemilahan seperti demikian, semua usia bisa belajar pada forum yang sama selama mereka ingin belajar.

Setiap organisasi pasti memiliki motto untuk keberlangsungannya pada setiap masa, jika Muhammadiyah memiliki motto “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari kehidupan di dalam Muhammadiyah”, maka ulama tua di Minangkabau juga memiliki sebuah motto, jikalau tidak salah ditulis oleh Buya Sirajudin Abas, mewakili ideologi ulama tua “silahkan kita mengikuti kemajuan zaman, namun dalam masalah agama zaman lah yang harus tunduk”.

Silahkan kita ikuti arus perkembangan yang berkembang selama itu baik dan tidak bertentangan dengan agama, untuk menyokong pendidikan dan penyebaran pemahaman agama agar menciptakan masyarakat yang agamis, dan agar agama tetap mengalir pada setiap arus zaman untuk memandu manusia pada setiap zaman.

Intinya memegang teguh agama dengan ideologi yang telah tertanam kokoh dengan cara yang terbaik pada masanya. Dimungkinkan dengan pemahaman ini pulalah Buya Sirajudin Abas menggiring PERTI kepada politik, agar bertahan dan eksis pada zaman yang mengaliri arus politik dengan deras, namun ideologi beragama tidak berubah.

Apalagi di masa sekarang yang sangat berbeda jauh dengan masa ulama tua, peraturan yang muncul, perubahan yang terjadi, sehingga mau tidak mau jika ingin tetap eksis, harus mengikuti aturan tersebut. Hal ini jika diperhatikan, seperti telah terbayang dan tertebak oleh ulama tua, lewat rumus ungkapan Buya Sirajudin Abas tadi, boleh kita mengikuti aturan pemerintah demi menjaga eksistensi pendidikan, namun harus tetap pada ideologi beragama. Buat zaman mengenal dan tunduk pada agama lewat pendidikan. Dirasa ini mungkin yang terpikir oleh ulama tua tatkala mengubah halaqah menjadi klasikal. Wallahu A’lam.

Landasan didirikannya MTI adalah agama dan ideologi beragama. Demi tersebarnya agama dan masyarakat yang agamis di Minangkabau yang berpaham Ahlusunnah dengan Iktikad Asy’ari dan Maturidi, bermazhab Imam Syafii, berpakaian Kaum Sufi dengan Tarekat. Dalam hal ini ulama tua tidak pernah berpikir, “jika kita bikin sekolah serupa, maka kita tidak menghargai sistem pendidikan guru-guru kita dahulu, kita menyerupai kaum muda yang menyerupai Belanda”, namun yang lebih mereka pikirkan adalah, bagaimana ideologi beragama yang mereka anut dapat bertahan, tersebar dan berkembang.

Dalam sejarah yang telah berjalan, pendidikan surau pada awal abad ke XX telah menjelma kedalam dua model; pertama, pendidikan yang mengubah sistem pendidikan dengan mempertahankan ideologi surau dan lebih berfokus kepada ilmu zahir, seperti hukum Islam, cara beragama, dan lain sebagainya, tarekat tetap diajarkan, namun tidak menjadi sebuah fokus pengajaran, buktinya tidak semua tamatan MTI penganut tarekat.

Kedua, pendidikan surau yang bertahan dengan sistem surau dan ideologi surau, namun lebih fokus kepada pendidikan spritualitas. Dalam dunia pendidikan di Indonesia model pertama yang masih eksis, model kedua juga tetap eksis tapi bukan sebagai lembaga pendidikan, namun sebagai organisasi tarekat.

Meskipun banyak silang pendapat, namun jika tetap pada satu tujuan, ideologi, maka itu adalah asas dari PERTI “kapalo samo-samo ditumbuhi rambuik, namun pandapek babeda-beda. Basilang kayu di tungku di sinan mako nasi ka masak”.

PERTI lahir dari kesatuan tujuan dan ideologi dari orang yang berbeda-beda. Selama memiliki ideologi yang sama dan tujuan yang sama, maka itu adalah PERTI.

Menurut saya, salah satu kemunduran PERTI dari panggung eksistensi adalah banyaknya tamatan MTI yang tidak memahami sejarah dan hakikat MTI itu sendiri, dari sini mungkin akan menimbulkan bibit-bibit kesalahpahaman, pertikaian, dan justifikasi-justifikasi yang berasal dari multitafsir kekosongan sejarah, oleh sebab itu mungkin harus merujuk kepada Muhammadiyah yang meletakan materi kemuhammadiyaahan pada dunia pendidikannya, agar peserta didik mengenal sejarah Muhammadiyah dan hakikat organisasinya. Jika dipikirkan itu sama saja dengan meniru Muhammadiyah, maka di situlah letak kesalahan berfikir dan pemikiran yang kaku yang pada dasarnya telah diterobos oleh ulama-ulama PERTI. Jika mereka berpikir seperti ini, maka kemungkinan besar MTI dan PERTI tidak akan pernah terukir dalam sejarah pendidikan Islam. Wallahu A’lam

Apabila ada kata dan tulisan yang salah mohon ditahqiq dan diberi maaf, sebab saya pribadi sebagai manusia adalah manusia yang lemah akal dan tempat terbitnya khilaf, jika bukan karena rahmat dan hidayah Tuhan, maka tak mampu saya menggerakkan jari dan berfikir dalam forum ini.[]

Wassalam


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah Sedikit Sumbang Saran bagi Tarbiyah Islamiyah

Share :
Chairullah Ahmad
Chairullah Ahmad 4 Articles
Filolog, Alumni Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Pengajar pada UIN Imam Bonjol Padang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*