Sejarah Idul Fitri

Sejarah Idul Fitri Sejarah Idul Fitri

Jauh sebelum ajaran Islam turun, masyarakat Jahiliyah Arab ternyata sudah memiliki dua hari raya; yakni Nairuz dan Mahrajan. Kaum Arab Jahiliyah menggelar kedua hari raya itu dengan menggelar pesta pora.

Selain menari-nari, baik tarian perang maupun ketangkasan, mereka juga bernyanyi dan menyantap hidangan lezat serta minuman memabukkan. Nairuz dan Mahrajan merupakan tradisi hari raya yang berasal dari zaman Persia Kuno

Setelah turunnya kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan pada 2 Hijriyah, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dan An-Nasa’i Rasulullah ﷺ bersabda: ‘’Sesungguhnya Allah mengganti kedua hari raya itu dengan hari raya yang lebih baik, yakni Idul Fitri dan Idul Adha”.

Baca Juga: Idul Fitri dan Pelajaran Berharga dari Pandemi Covid-19: Khutbah Idul Fitri 2020 (Bahan Bacaan)

Setiap kaum memang memiliki hari raya masing-masing. Al-Hafiz Ibnu Katsir Rahimahullah dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, mengutip sebuah hadis dari Abdullah bin Amar Rahimahullah:

’Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ’ ’Puasanya Nuh adalah satu tahun penuh, kecuali hari Idul Fitri dan Idul Adha’.’’ (HR Ibnu Majah).

Jika merujuk pada hadis di atas, maka umat Nabi Nuh as pun memiliki hari raya. Rasulullah ﷺ membenarkan bahwa setiap kaum memiliki hari raya. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, “pernah memarahi dua wanita Anshar memukul rebana sambil bernyanyi-nyanyi.‘

‘Pantaskah ada seruling setan di rumah, ya Rasulullah ?’’ cetus Abu Bakar Raziallahu’an ‘’Biarkanlah mereka wahai Abu Bakar! Karena tiap-tiap kaum mempunyai hari raya, dan hari ini adalah hari raya kita,’’ sabda Rasulullah ﷺ.

Hari Raya Idul Fitri untuk pertama kalinya dirayakan umat Islam, selepas Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadhan 2 Hijiriyah. Dalam pertempuran itu, umat Islam meraih kemenangan. Sebanyak 319 kaum Muslimin harus berhadapan dengan 1.000 tentara dari kaum kafir Quraisy.

Pada tahun itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat merayakan dua kemenangan, yakni keberhasilan mengalahkan kaum kafir dalam Perang Badar dan menaklukkan hawa nafsu setelah sebulan berpuasa.

Menurut sebuah riwayat, Nabi ﷺ dan para sahabat menunaikan Salat Id pertama dengan kondisi luka-luka yang masih belum pulih akibat Perang Badar. Rasulullah ﷺ pun dalam sebuah riwayat disebutkan, merayakan Hari Raya Idul Fitri pertama dalam kondisi letih.

Sampai-sampai Nabi ﷺ bersandar pada Bilal Raziallahu’an dan menyampaikan khutbahnya. Menurut Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah Pada Hari Raya Idul Fitri yang pertama, Rasulullah ﷺ pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan menunaikan Salat Id di atas lapang itu.

Sejak itulah, Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabat menunaikan Salat Id di lapangan terbuka. Sebelum datangnya Hari Raya Idul Fitri, umat Islam diwajibkan menunaikan zakat fitrah.

Baca Juga: Berhari Raya Sebelum Ramadan

Tepat pada 1 Syawal, kaum Muslim disunahkan melaksanakan Salat Id, baik di lapangan terbuka maupun di masjid, sebanyak dua rakaat dan kemudian dilanjutkan dengan khutbah.

*Rujukan: (Hafizh Ibnu Katsir رحمه الله)

Semoga bermanfaat

Sayid Machmoed BSA
About Sayid Machmoed BSA 17 Articles
Tinggal di Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan