Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Menurut Sanusi Latief (Bagian 1)

Sanusi Latief Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) (Bagian 1)

Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Pengantar Redaksi

Dalam rangka Milad Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang ke-93 pada 5 Mei 2021 ini, Redaksi tarbiyahislamiyah.id mendigitalisasi dan memuat ulang cuplikan disertasi berjudul Gerakan Kaum Tua di Minangkabau. Disertasi ini ditulis Dr. H. Sanusi Latief (1928-1996) untuk Program Doktor di IAIN Syarif Hidayatullah pada akhir 1980-an dengan promotor Prof. Dr. H. Deliar Noer dan Co-promotor Prof.Dr.Hj. Zakiah Darajat. Jabatan terakhir Dr. H. Sanusi Latief adalah dosen di IAIN Imam Bonjol Padang.

Redaksi memuat ulang Bab VI disertasi tersebut dari hlm. 248 sampai 273 secara bersambung. Bagian ini khusus membahas sejarah PERTI dari awal berdiri sampai kondisinya di tahun 1969. Naskah yang jadi rujukan Redaksi adalah fotokopian dari naskah asli disertasi tersebut di Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, naskah yang masih diketik dengan mesin ketik manual.

Redaksi perlu menyatakan dengan sebenar-benarnya di sini bahwa maksud dan tujuan pemuatan ulang karya ilmiah ini adalah demi pengembangan khasanah keilmuan semata. Redaksi menjamin tidak ada kepentingan komersial dalam bentuk apapun dalam upaya ini. Semoga ilmu dan pengetahuan yang terkandung dalam disertasi ini menjadi amal jariyah bagi Dr. H. Sanusi Latief dan bermanfaat bagi umat.  

BAB VI
ORGANISASI PERSATUAN TARBIYAH ISLAMIYYAH

Pada bahagian yang lalu telah dikemukakan pembahasan mengenai beberapa aspek tentang Kaum Tua. Pada bab keenam ini  sebagai awal dari bahagian katiga, akan dibahas berbagai hal tentang organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyyah (disingkat PERTI ). Organisasi ini merupakan organisasi terbesar yang pernah didirikan oleh Kaum Tua di Minangkabau dan hingga kini masih tetap berfungsi, walaupun dengan bentuk dan situasi yang berbeda.

Di samping mengemukakan latar belakang kelahiran organisasi tersebut, akan diungkapkan pula dasar, cita-cita, khitthah dan gerak Langkah perjuangannya, serta alat-alat yang digunakannya untuk mencapai cita-cita dan khitthah yang telah digariskannya dalam anggaran dasarnya.  

Organisasi ini semula lahir sebagai suatu organissasi sosial-keagamaan pada tahun 1928. Kemudian merubah dirinya menjadi partai politik pada tahun 1945. Dan akhirnya, sebagiannya mengembalikan statusnya kepada asal-semula pada tahun 1969 sedang sebagian lainnya tetap bergerak  dalam bidang politik. Setiap periode yang dilaluinya itu akan ditapaki, ditelusuri secermat mungkin. Gerak langka dalam bidang politik, amal-amal usaha sosial, adat dan thariqat serta perjuangannya dalam membela kesucian agama akan melengkapi pembahasan dalan bab keenam ini.

Baca Juga: Sejarah Ringkas Berdirinya PERTI: Penghimpun Ulama

A. Kelahiran PERTI dan Periode-periode yang Dilaluinya.

Dalam kalangan Kaum Tua di Minangkabau, kegiatan dalam bidang organisasi telah dimulai sejak tahun 1916 yaitu ketika berdirinya cabang-cabang Syarikat Islam setelah masuk ke sini pada tahun tersebut. Sebagaimana diketahui, organisasi Syarikat Islam lahir di Solo, Jawa Tengah, pada tahun 1912.

Beberapa tokoh Kaum Tua di Minangkabau telah duduk dalan badan-badan pengurus Syarikat Islam, misalnya pada tahun 1918 Syekh Sulaiman al-Rasuli Candung telah duduk sebagai ketua anak-cabang Syarikat Islam di Baso[1], sementara Syekh Khatib Ali sejak tahun 1916 duduk dalam pengurus cabang Syarikat Islam di Padang. Tetapi setelah Syeikh Khatib Ali merasa kedudukannya dalam Syarikat Islam di Padang telah terdesak oleh tokoh-tokoh Kaum Muda, seperti H. Abdullah Ahmad dan lain-lain, maka ia keluar dari pengurus itu, lalu mendirikan pengurus tandingan, dan mengeluarkan kartu anggota yang berwarna merah, untuk membedakan dari kepengurusan Syarikat Islam yang semula memakai kartu anggota putih.  Warna merah yang mereka gunakan pada kartu anggota tersebut hanya sekedar untuk membedakannya dari kartu anggota yang berwarna putih dan tidak ada hubungan sama sekali dengan lambang komunis.[2]

Selanjutnya, ketika guru-guru agama di Padang Panjang mengadakan pertemuan untuk mendirikan organisasi yang bernama “Perkumpulan Guru Guru Agama Hindia Belanda pada bulan April 1916, tokoh-tokoh Kaum Tua tidak bersedia ikut di dalamnya karena mereka ketahui bahwa organisasi tersebut berdiri atas prakarsa dari fokoh-tokoh Kaum Muda, seperti H. Abdullah Ahmad, H.A, Karim Amrullah, Syeikh Muhammad Jamil Jambek dan sehagainya. Pada bulan Juni tahun 1921 itu juga tokoh-tokoh Kaum Tua mendirikan organisasi sendiri dengan nama Ittihad Ulama Sumatera (Persatuan Para Ulama Sumatera), atas prakarsa dari Syeikh Abbas Ladang Laweh, Syeikh Sulaiman al-Rasuli Candung dan lain-lain. Organisasi ini bermaksud untuk menghimpun para ulama dan guru-guru agama di kalangan Kaun Tua serta nengarahkan aktivitas mereka, terutama dalam bidang dakwah dan pendidikan.

Organisasi “Ittihad Ulama Sumatera” telah memulai langkah ke arah modernisasi pendidikan agama, yaitu dengan mendirikan madrasah Arabiyah School yang telah dirintis oleh Syeikh Abbas Qadhi sejak tahun 1919. Akan tetapi madrasah ini barulah untuk tingkat Ibtidaiyah, belum ada tingkat lanjutannya. Salah seorang murid yang tamat dari sana adalah Sultha’in dari Bayur, Maninjau, ingin melanjutkan pelajarannya ke madrasah Sumatera Thawalib di Parabek, yang didengarnya sudah modern.

Oleh karena madrasah Sumatera Thawalib Parabek menganut paham Kaum Muda maka Syeikh Abbas Qadhi tidak mengizinkan Sultha’in belajar di sana, seperti yang telah disebutkan. Sultha’in disuruhnya mengantarkan suratnya kepada Syeikh Sulaiman al-Rasuli, mendesaknya agar segera mengambil langkah untuk merubah surau Candung yang dipimpinnya itu menjadi madrasah. Arus modernisasi pendidikan agama yang telah dimulai oleh Kaum Muda sejak tahun 1920 melaju amat deras. Jika Kaum Tua tidak segera mendirikan madrasah pengganti Surau-Surau maka para pelajar mereka akan mengalir ke madragah-madrasah yang didirikan Kaum Muda.[3]

Atas desakan tersebut, maka Syeikh Sulaiman al-Rasuli mulai merubah sistim pendidikan surau Candung yang didirikannya pada tahun 1327 H (1908) itu menjadi madrasah dengan sistem berkelas pada tahun 1926.

Sambil menyempurnakan kelengkapan madrasah Candung ini, Syeikh Sulaiman al-Rasuli mengajak ulama-ulama lain yang sepaham dengannya untuk merobah pula surau-surau mereka itu menjadi madrasah, seperti yang telah dimulainya. Untuk itu maka pada tanggai 5 Mei 1908 ia mengundang Syeikh Abdul Wahid Tabek Gadang, Syeikh Muhammad Jamil Jaho dan Syeikh Arsyad Batu Hampar mengadakan rapat di Surau Tangah Candung, yaitu surau yang dipakai ayahandanya, Angku Mudo Muhammad Rasul, sebagai tempatnya memberikan pelajaran agama. Dalam pertemuan ini, mereka sepakat untuk merobah surau-surau mereka menjadi  madrasah, sehingga pada saat itu sudah lahir empat buah madrasah Kaum Tua, yaitu madrasah Candung, Jaho, Padang Japang dan Batu Hampar.  

Baca Juga: Narasi Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Untuk mengembangkan madragah-madrasah ini, dibentuklah dalam pertemuan itu juga sebuah wadah sementara yang mereka namakan “Persatuan Madrasah Tarbiyah”.  Sebagai ketuanya ditunjuk Sultha’in yang ketika itu masih bergelar Datuk Rajo Sampono.

Bersambung: Sejarah Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Menurut Menurut Sanusi Latief (Bagian 2)


[1]. H. Baharuddin Rusli, Ayah Kita, sebuah brosur peringatan Ulang Tahun Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung ke 50 tahun 1978, hal. 20.

[2].  Syarikat Islam “karcis merah” ini diketuai oleh Haji Marah Muhammad berkantor di Belakang Tengsi, Padang bekerjasama dengan Syarikat Adut Alam Minangkabau (SAM) dari Datuk Sutan Mabaraja, Yang memakai “karcis putih” berkantor di Alang Laweh bersama majalah Al-Munir.

[3] Wawancara dengan Buya Sultha’in Datuk Rajo Dubalang, di Bayur, Maninjau, pada tanggal 15-9-1982.

Tarbiyah Islamiyah
About Tarbiyah Islamiyah 11 Articles
tarbiyahislamiyah.id (Ranah Pertalian Adat dan Syarak)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*