Sekolah Tarbiyah Islamiyah Kala Pandemi

Sekolah Tarbiyah Islamiyah Kala Fenomena Pandemi
Foto Santri Ma'had Ashhabul Yamin/ Dok. Ma'had Ashhabul Yamin

Tarbiyah Islamiyah Kala Pandemi Tarbiyah Islamiyah Kala Pandemi Tarbiyah Islamiyah Kala Pandemi

Sudah lama sekali COVID-19 berada di Indonesia. Masalah serius ini banyak menimbulkan masalah-masalah baru. Semenjak virus ini mewabah, banyak keluar peraturan-peraturan baru, imbauan-imbauan, kebijakan, dan hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Aturan-aturan itu lahir dalam berbagai instansi pemerintahan maupun swasta. Patut pula kita sadar bahwa kesehatan sangat erat kaitannya dengan segala aspek kehidupan, mulai dari adat, ekonomi, politik, bahkan pendidikan.

Semua perihal ini (aturan) adalah bentuk dari cara-cara mengatasi kekhawatiran. Khawatir terhadap diri dalam artian menjaga (hifdzun nafs). Nah, perihal aturan-aturan guna kebaikan diri dan itu sama dengan amar ma’ruf dan mesti diikuti.

Hingga akhir bulan September ini, COVID-19 telah meluap di hampir segala penjuru Indonesia. Untuk Sumatera Barat, sejak tanggal 26 Maret 2020 virus ini sudah mewabah yang dimulai dari Kota Padang. Waktu itu (Maret) bagi pendidikan di Indonesia merupakan perhitungan semester genap. Dalam semester ini murid-murid ditentukan lulus atau naik kelas ke jenjang selanjutnya. Hingga tak henti-hentinya sekarang (September) COVID-19 sudah masuk pada tahun ajaran baru 2020/2021 (semester ganjil). Berat hati saya katakan, COVID-19 juga menjadi virus bagi sistem pendidikan di Indonesia.

Salah satu lembaga pendidikan yang mendapati imbas serius adalah pondok pesantren. Pesantren di Sumatera Barat (Minangkabau) sangatlah banyak, terurut dari tradisional hingga modern. Ibanya, pesantren tradisional pada saat ini sangat mengalami penurunan performa akibat dilanda pandemi melebihi pesantren modern. Kenapa? Bagi orang-orang yang pondok tradisional banyak mengalami kendala secara eksternal dan internal. Diantaranya salah satu masalah internal seperti keadaan guru-guru sepuh (tuo) yang kurang paham dengan dunia digital. Sementara dalam pandemi adanya imbauan pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring.

Ada pula dalam masalah eksternal. Biaya tambahan untuk pembelajaran berbasis internet ini yang mahal. Bagian ini adalah masalah bagi orang-orang pondok pesantren tradisional yang kebanyakan standar ekonominya menengah ke bawah.

Belum pernah terbayangkan, anak siak dipulangkan dan belajar dari rumah dengan waktu yang tidak tentukan. Waktu yang lama ini bagi anak siak tidaklah wajar. Dalam satu sisi pemerintah tidak melihat keadaan pesantren yang demikian. Hingga, kian lama waktu berjalan, pondok pesantren mengambil kebijakan sendiri dengan cermat. Pondok pesantren sebagai sekolah swasta memilki kuasa sendiri atas kebijakannya.

Tapi, dalam keadaan pandemi ini banyak ditemukan ikhtilaf perihal kebijakan antar pesantren. Karena bukan sekolah negeri yang mana memiliki satu rantai kebijakan. Sama-sama dalam satu naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam masalah ini saya akan mengambil sampel kepada pondok pesantren Tarbiyah Islamiyah. Sebagai pesantren tradisional, baik itu dinamai dengan Pondok Pesantren (PP) atau Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Walau dalam satu haluan ideologi dan sistem pendidikan, kita tidak bisa menjamin adanya kesamaan satu kebijakan atau keputusan.

Masa Pandemi Covid-19, Guru Makan Gaji Buta?

Jika dihitung sekolah Tarbiyah banyak bertebaran di Sumatera Barat. Nah, setiap daerah itu sekarang memasuki zona kuning/merah COVID-19. Salah satu sekolah Tarbiyah yang berada di zona merah, MTI Candung. Kabupaten Agam sendiri adalah zona merah COVID-19, Candung merupakan bagian dari Agam. Proses Belajar Mengajar (PBM) sekarang dilanjutkan daring untuk kelas 2, 3, 4, 5, dan 6 sedangkan kelas 1 dan 7 melanjutkan PBM serba ketat protokol kesehatan. Bagaimana ketatnya? Santri-santri (anak siak) dilarang keluar dari zona sekolah (pondok dan asrama) serta harus memulai pola hidup sehat dan baik. Tantangan berat bagi sebuah pondok pesantren sebenarnya ada pada pola hidup sehat ini.

Pola hidup sehat biasanya cenderung untuk manusia individu, jarang untuk manusia dengan hidup secara komunal. Seperti asrama misalnya, keadaan hidup yang komunal berpotensi tinggi akan penyebaran COVID-19. Makanya, solusi yang ditawarkan oleh MTI Candung adalah mengurangi angka komunal dari masyarakat asrama. Biasanya asrama kuota asrama diisi sebanyak 200 santri, pada masa pandemi dengan situasi yang berubah. Sekarang ada sekitar 100 santri dari kelas 1 dan 7.

Di kabupaten yang sama, terdapat Pondok Pesantren Ashabul Yamin (PPAY). Jika dihitung bandingan santrinya dengan MTI Candung berbeda. MTI Candung sendiri memiliki 1200-an santri sedangkan PPAY memilki 800-an. Hampir seluruh santri di PPAY belajar tatap muka. Keputusan yang diambil oleh sekolah mengambil pertimbangan yang hati-hati. Sehingga, santri yang semua sekolah seperti biasa ini dilakukan dengan cara bergantian (shift/rolling). Hal ini dilakukan dengan pertimbangan supaya tidak ada penumpukan dalam satu tempat. Kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 belajar pada pagi hari hingga siang, sedangkan kelas 6 dan 7 di sore hari hingga malam. Untuk kedatangan santri dilakukan pula dengan rolling, dalam kurun waktu 1 minggu misalnya cuman menunggu kedatangan santri kelas 1 saja begitu seterusnya.

PPAY bisa melakukan PBM seperti biasa juga ditopang dengan protokol kesehatan yang ketat pula serupa dengan MTI Candung. Nah, untungnya lagi keadaan geografis PPAY juga jauh dari keramaian kota dan berada di daerah ketinggan Gunung Marapi. Jarak antara PPAY dan Kota Bukitinggi adalah 11 Km dengan keadaan perjalanan mendaki.

Selanjutnya juga berada di Agam bagian barat MTI Bayur. Sekolah ini memiliki santri 300-an dengan kelas dibagi dari 1 sampai 6. Selama pandemi santri-santri bergantian belajar ke sekolah dengan format pembelajaran 50% daring dan 50% tatap muka. Pembagiannya yaitu kelas 1 dan 4 sebagai kelompok pertama yang belajar tatap muka di awal semester. Kelas 2,3, 5, dan 6 belajar tatap muka di akhir semester (keputusan ini bisa diubah dengan melihat keadaan) tapi belum direalisasikan.

Berikutnya PPMTI Batang Kabung Kota Padang. Sekolah Tarbiyah satu ini memiliki santri kurang lebih 800an dan berada di ibukota Sumatera Barat. Serta, sudah menjadi zona merah semenjak awal-awal pandemi ini. Tetapi, Batang Kabung sendiri tidak banyak berubah dalam sistem pembelajarannya. Karena, sekolah ini memilki gedung belajar yang jarang-jarang. Masing-masing gedung berjarak kurang lebih 100 meter dan tidak rapat. Bisa dibilang ada empat daerah dalam denah PPMTI Batang Kabung. Pertama, gedung belajar Tsanawiyah. Kedua, gedung asrama putri dan beberapa lokal. Ketiga, gedung aliyah. Keempat, gedung asrama putra dan pimpinan. Ditambah, biasanya pembelajaran kitab di Batang Kabung baik itu sebelum pandemi memang belajar terpisah dengan gedung, karena belajar langsung ke rumah guru-guru. Untuk menjadi antisipasi mencegah pembelajaran juga diberlakukan protokol kesehatan. Ditambah pula jam pembelajaran cuman setengah hari.

Baca Juga: Pendidikan Daring Semakin Nyaring Melengking

Banyak lagi sekolah-sekolah Tarbiyah yang lainnya juga terdampak akan pandemi ini. Akibatnya juga banyak kebijkkan yang lahir, ada pula yang mengikuti imbauan pemerintah pusat dan ada pula mengambil keputusan secara mandiri dengan hati-hati dan waspada. Dilihat pula Sumatera Barat dari keluaran data Satgas Pusat COVID-19  per 10 September 2020 menetapkan 4 Kabupaten/kota sebagai zona merah (Padang/Bukittinggi/Padang Panjang (3 kota) dan Agam (1 kabupaten).

Selain dari 4 daerah ini, sekolah Tarbiyah masih banyak di kabupaten/kota yang lain. Di Kabupaten Tanah Datar dan Solok misalnya ada beberapa sekolah Tarbiyah. Katakanlah MTI Jaho (100-an santri), MTI Pariangan (150-an santri), PPTI Malalo 300-an (santri), dan PP Darul Tauhid Salayo (100-an santri). Masing-masing sekolah ini berada di zona kuning COVID-19. Pada suatu suara saya asumsikan sekolah-sekolah ini mengadakan PBM secara daring untuk MTI Jaho dan PBM untuk 3 sekolah lainnya dilakukan secara bergantian antar kelas (rolling/shift).

Begitulah sekolah Tarbiyah Islamiyah kala fenomena pandemi. Dalam merespons COVID-19, boleh jadi masing-masing pondok pesantren atau madrasah Tarbiyah Islamiyah terbagi menjadi beberapa macam-macam sikap. Ada yang berisikap ketat dengan melihat keadaan sosiologis seperti MTI Candung, ada yang tenang/santai tapi cermat seperti PPMTI Batang Kabung, dan ada yang mengambil sikap di tengah-tengah dengan mengikuti arus kejadian yang kadang-kadang berubah.

Wallahu ‘alam

Ilham Arrasulian
Ilham Arrasulian 12 Articles
Mhd Ilham Armi adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua. Berkuliah di UIN Imam Bonjol Padang, tamatan Ponpes MTI Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Belajar membaca dan menulis untuk menjadi sebaik-baik anak yang baik bagi orang tua.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*