Seminggu Meninggalnya Isa Hasanda (1941-2020): Pelukis Yang Merana dan Kesepian

Seminggu Meninggalnya Isa Hasanda (1941-2020) Pelukis Yang Merana dan Kesepian
Foto/Dok.http://tarungdoc.blogspot.com/2011/10/isa-hasanda.html

Seminggu lalu Isa Hasanda meninggal dunia. Tak ada yang menuliskannya dalam berita. Tak ada kemenyan atau pun karangan bunga. Hanya ada satu dua status ucapan belangsungkawa di media sosial, itu pun dengan informasi yang terbatas. Salah seorang temannya semasa remaja, Misbach Tamrin, bahkan mengaku tak tahu di mana dan bagaimana setepatnya Isa Hasanda meninggal, serta di mana dimakamkan.

Mungkin Anda bertanya, memang Isa Hasanda itu siapa? Isa Hasanda adalah pelukis, alumni ASRI Yogyakarya. Ia merupakan salah seorang pendiri Sanggar Bumi Tarung (SBT) tahun 1961, salah satu sanggar yang didirikan para pelukis muda usia 20an dan menyatakan dengan tegas berafiliasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA). Kawan-kawan satu sanggarnya di antaranya Amrus Natalsya, Misbach Tamrin, Kuslan Budiman, dan Joko Pekik.

Setelah geger politik tahun 1965, hampir seluruh anggota SBT ditangkap dan ditahan, sebagiannya bahkan dibunuh. Isa Hasanda sendiri, bersama lima kawan anggota SBT lainnya: Adrianus Gumelar, Johanes Gultom, Sudiono, Suroso dan Victor Manurung turut ditangkap dan diasingkan ke Pulau Buru. Ia dibawa ke Pulau Buru sejak awal tahun 1973 hingga dibebaskan tahun 1977. Sebelumnya, sejak penangkapan awalnya di Jakarta tahun 1967, ia ditahan di penjara Tangerang, hingga pemindahannya ke Pulau Buru. Tentu saja, tanpa pembelaan, tanpa pengadilan. Begitu saja ditangkap, ditahan, disiksa, disuruh bekerja, seperti kucing kurap.

Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), yang berisi catatan-catatan dari Pulau Buru, penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, setidaknya menyebut dua kali nama Isa Hasanda. Pertama, ketika Pram dan beberapa akademisi dan seniman pada 13 November 1973 diminta untuk datang ke Unit III Wanayasa untuk bertemu Panglima Daerah Militer Pattimura Brigjen Wing Wirjawan.

Pertemuan itu dimaksudkan untuk mengkonter inisiatif Jenderal Soemitro yang datang sebelumnya bersama rombongan sejumlah jenderal, jurnalis dan tim psikologi universitas. Dalam pertemuan itu, Pram dan kawan-kawannya diminta untuk tidak bicara macam-macam dan seusai pertemuan itu, mereka disuruh untuk mengirimkan surat ucapan terima kasih kepada Presiden Soeharto. Di antara yang datang, catat Pram ada “…Isa Hasanda, pelukis, juga baru kukenal dan ia datang dengan ditandu.”

Kedua, Pram menyebut nama Isa Hasanda dalam pertemuan sehari kemudian, 14 November 1973, ketika ia bersama 14 orang dikumpulkan di Wanapura Unit I, dan ditempatkan di belakang Barak XIII. Mereka dibagi tiga kelompok: Kelompok pelukis, termasuk Isa Hasanda, kelompok pengukir, dan penulis, yakni Pram dan seorang rekannya, Prof. Dr. Suprapto SH. Mereka rencananya akan mendapatkan kesempatan berlatih kerja di bidang keahlian masing-maing.

Sebagai pelukis muda, Isa Hasanda cukup cemerlang. Tahun 1962, ia termasuk 20 pelukis indonesia terbaik pilihan BMKN (Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional). Kemudian berturut-turut tahun 1962 dan 1963, ia mendapat Hadiah Asri untuk Seni Lukis Terbaik. Sebelumnya, tahun 1961, ia termasuk salah satu pelukis muda yang diundang berpameran di Jefferson Library, bersama Sabri Jamal, Misbach Tamrin, dan Ngajabarna Sembiring.

Setelah reformasi, SBT hidup lagi dan sempat menggelar dua pameran bersama. Masing-masing tahun 2008 di Galeri Nasional Jakarta dan kemudian di Galeri Nasional untuk kedua kalinya pada tahun 2011. Kedua pameran ini mereka sebut sebagai Pameran II dan III SBT, sedangkan yang pertama mereka gelar pada tahun 1962 di Balai Budaya, Jakarta.

Sebelumnya, pada tahun 2003, para anggota SBT ini juga terlibat dalam pameran Jejak Langkah: Pameran Seni Rupa Era 1960an di kediaman Joko Pekik, Yogyakarta, pameran yang mempertemukan perupa yang berada di jalur kiri dan kanan dalam pertikaian politik tahun 1960an. Dalam semua pameran itu, Isa Hasanda selalu ikut serta dan bahkan ia sempat datang. Tetapi sejak 2011, ia tak pernah lagi muncul karena kesehatannya yang makin memburuk.

Pada tahun 2015 saya menulis biografi Misbach Tamrin, salah seorang tokoh penting SBT. Biografi itu disiapkan untuk mengiringi pameran tunggalnya di Galeri Nasional. Selain wawancara panjang dengan Misbach sendiri, studi literatur, maka saya juga perlu melakukan wawancara ke para anggota SBT yang masih hidup seperti Joko Pekik, Amrus Natalsya, Suhardjijo Pudjanadi, Andrianus Gumelar, Kuslan Budiman, dan Isa Hasanda. Namun tiga nama terakhir tidak sempat saya wawancarai karena keterbatasan waktu, akses dan juga dana. Andrianus Gumelar waktu itu sedang sakit di Jakarta, Kuslan Budiman tinggal di Belanda dan tak pernah menjawab email saya, sedangkan Isa Hasanda tinggal di Bali, namun sampai deadline penulisan, saya tak mendapatkan kontaknya. Padahal Isa Hasanda (dan Kuslan Budiman) seperti dikatakan Amrus Natalsya, pimpinan SBT dan anggota paling senior, merupakan tiga pemikir SBT. Seorang yang lainnya adalah Misbach Tamrin (Hairus Salim HS & Hajriansyah, Berlayar di Tengah Badai: Misbach Tamrin dalam Gemuruh Politik, Gading, 2015).

Setahun setelah itu, tahun 2016, saya ada pekerjaan di Bali. Kesempatan itu saya manfaatkan untuk mencari dan melacak keberadaan Isa Hasanda. Entah dari mana, saya lupa, saya bisa beroleh nomor teleponnya. Saya mengontak dan memperkenalkan diri. Pak Isa menjawab dengan hangat. Setelah beberapa kali berbalas sms, kami janji untuk menemuinya. Ia memberikan alamat lengkap: Sekar Jepun, Gatot Subroto Timur, Kesiman, Denpasar. Dia juga kasih ancer-ancer dan bilang akan memandu perjalanan saya via hp yang jauhnya sekitar 23 km dari tempat saya menginap.

Ia berjanji akan menunggu saya di mulut gang, lengkap dengan informasi pakaian hem warna merah muda dan mengendarai motor Honda supra warna hitam-hijau. Ia berpesan, kalau bingung jangan ragu untuk bertanya, karena tempatnya agak di luar kota dan rumit, pesannya. Dengan motor sewaan, pada 6 Januari, selepas senja, saya meluncur ke kediamannya.

Pak Isa waktu itu tidak tahu kalau era sekarang sudah ada peta digital, sehingga tanpa perlu dipandu pun saya bisa sampai ke rumahnya. Ia jadi bingung karena mengira saya tersesat. Dan ketika saya memberitahu bahwa saya sudah sampai di rumahnya, dia segera kembali dan heran bagaimana saya bisa dengan mudah sampai di rumahnya tanpa bertanya sekalipun. Berarti kamu pernah tinggal di Bali ya, kok bisa tahu tempat ini? tanyanya. Tidak, jawab saya. Hebat sekali, katanya terkagum.

Saya datang mungkin pkl setengah 8 malam. Tempat Pak Isa adalah sebuah rumah beton warna putih yang cukup besar dan halaman yang cukup luas. Di terasnya, ada beberapa lukisan dan kanvas, serta cat berserakan, yang kemudian saya ketahui tempat Pak Isa beraktivitas sehari-hari dengan melukis. Pak Isa sangat senang sekali saya temui. Ia mengatakan sudah membaca biografi Misbach Tamrin, temannya dan anggota kelompoknya di SBT, yang saya tulis. Menurutnya, secara umum informasi yang saya kemukakan dalam buku itu benar, kecuali beberapa detil, yang dalam perbincangan malam itu, beberapanya ia klarifikasi dan luruskan.

Sayang sekali, perbincangan kami tidak bisa lama. Hanya kurang lebih satu jam-an. Karena kemudian, seorang ibu mengingatkan bahwa Pak Isa harus segera istirahat. Saya baru tahu kemudian, Pak Isa ternyata tinggal di sebuah Panti Jompo yang dikelola oleh sebuah Yayasan Kristen.

Berikut ini adalah catatan singkat dari pertemuan tersebut, yang saya tulis dengan menggunakan kata orang pertama aku, yang semoga dengan catatan singkat ini bisa mengenangkan seorang Isa Hasanda:

***

Saya ditangkap di Jakarta, mungkin tahun 1967, setelah berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian saya ditahan di penjara Tangerang hingga tahun 1973, lalu dipindahkan ke Buru hingga tahun 1977. Saya dilepaskan dari Buru setahun sebelum pembebasan resmi dan besar-besaran mulai tahun 1978, akibat tekanan internasional, karena dianggap sakit-sakitan. Saya mengidap TBC. Seharusnya saya sudah mati, karena teman-teman yang menderita TBC pada mati semua. Tapi saya beruntung karena Komandan Syamsi MS yang saya kenal baik memberi saya obat TBC. Sebenarnya itu tindakan terlarang, tapi mungkin karena saya kenal baik beliau.

Jadi waktu saya dikumpulkan untuk bertemu Pangdam itu dan berjumpa dengan Pram di sana, seperti yang tadi Anda singgung, saya waktu itu sedang sakit. Tapi saya tetap dipaksa untuk datang, meski dengan ditandu, karena nama saya masuk daftar untuk dipanggil. Teman-teman saya yang menandu jadi jengkel juga ke saya karena harus menandu saya jauh sekali. Tapi saya bisa apa.

Seharusnya ada obat gratis untuk kami, termasuk obat TBC, tapi entah mengapa kenyataannya tidak sampai. Saya ingat, waktu itu, Herlina si Pending Emas, menjual pending emas yang dihadiahkan kepadanya dan membelikan tiket 2 bioskop di Tangerang. Hasil dan keuntungan penjualan karcis bioskop itu ia belikan obat TBC untuk dibagi-bagikan ke masyarakat. Nah terpicu tindakan Herlina, pemerintah pun menggratiskan obat TBC untuk masyarakat. Tapi entah mengapa tidak sampai kepada kami. Banyak teman saya yang mati karena TBC, tak terobati dan tertangani. Ingat ini saya sedih sekali.

Saya lahir di Bima, tepatnya di Pinatoi, Raba, wilayah yang sekarang menjadi sarang teroris. Mungkin tahun 1941. Kami keturunan perantau Bugis. Ayah saya seorang penganjur Muhammadiyah. Sejak umur 14 tahun saya pindah ke Karangasem, Bali, mengikuti kakak ipar saya yang seorang tentara. Karena ia sering berdinas ke luar Bali, di antaranya terlibat dalam penumpasan pemberontakan DI/TII, maka saya dipanggil untuk menemani ke Karangasem untuk menemani kakak perempuan saya. Jadi sejak itu saya bersekolah di Karangasem hingga usai SMU.

Minat saya melukis tumbuh di Bali itu. Setelah tamat sekolah menengah, saya pergi ke Yogya untuk melanjutkan kuliah di ASRI. Awalnya ambil jurusan guru gambar, tapi kemudian pindah ke jurusan seni rupa. Di situlah saya kenal Amrus, Misbach, SBT, dll. Sebagian kisah saya sudah Anda ceritakan dalam buku itu.

Sekeluar dari Buru, saya sempat runtang-runtung di Jakarta, tidak punya kerjaan dan sakit-sakitan, serta menjadi pariah sebagai Tapol. Saya kemudian ditampung oleh Proyek Sosial Kardinal (1977) yang dipimpin oleh Rm. Suto Panitro. Saya juga dapat bantuan dari Amnesty Internasional. Saya masih ingat nama orang yang membantu saya itu, yaitu Ruth Rumeyer. Ia sudah sering membantu saya sejak di Pulau Buru.

Waktu itu juga ada nama Carmel Budiarjo, perempuan Inggris, yang turut ditahan tapi kemudian segera dilepas karena tekanan pemerintah Inggris. Dialah yang mendorong Amnesty untuk mengurusi nasib para tahanan PKI di Indonesia. Saya sering dapat bantuan dari mereka, baik rokok, makanan maupun uang. Bantuan itu tidak boleh langsung, harus lewat lembaga. Nah saya dapat bantuan lewat dan dari Proyek Sosial Kardinal itu. Tapi saya tidak terlalu suka dengan romonya itu, karena tidak open minded orangnya.

Seperti generasi tahun 60an umumnya, saya agnostik, atau bahkan cenderung tidak percaya pada Tuhan. Neil Amstrong ke bulan dan pulangnya dia bilang tidak menemukan apapun di sana, termasuk Tuhan. Jadi begitulah saya. Saya pernah dan sering mendebat bapak saya dulu soal agama dan Tuhan ini, dan bapak sering tidak bisa menjawab.

Tapi segalanya berubah ketika saya dipenjara. Saya kehilangan segalanya. Saya menjadi pribadi yang compang camping secara lahiriah maupun batiniah, karena di penjara saya dihina dan disiksa sedemikian rupa, sampai rasanya tak merasa diri sebagai manusia lagi. Harkat sebagai manusia diinjak-injak sedemikian rupa. Apa saja tidak boleh, membaca tidak boleh. Memiliki pensil pun tidak boleh.

Pernah misalnya suatu kali saya disuruh komandan untuk melukis wajah seorang perempuan. Saya disuruh meniru wajah dan tubuh gadis cantik dari sebuah majalah yang diberikannya. Nah tentu saja, sebelum melukis, majalah itu saya bolak-balik dan saya baca isinya. Tiba-tiba penjaga menendang bagian belakang saya. Saya kaget dan tersungkur, mulut saya berdarah. Siapa yang suruh kamu baca, tanyanya. Lalu, saya lalu ditempeleng. Saya tidak tahu apa-apa lagi. Bumi rasanya berputar dan saya rasanya lemas sekali. Tapi saya dipaksa untuk berdiri, jika tidak dan lambat sedikit, saya ditendang dan ditempeleng.

Saya kemudian disuruh untuk menemui komandan. Matilah saya, karena siapapun yang disiksa komandan ini biasanya akan semaput. Nah ketika dipanggil itu, saya jawab kalau majalah itu kan dari dia dan sebagai seorang terpelajar wajar saja kan saya membaca. Komandan itu tahu kalau dia sendiri yang kasih majalah itu, jadi saya tidak jadi dihajar. Meski demikian, saya tetap ditempeleng. Anda bayangkan, hal-hal seperti itu seringkali terjadi. Kami itu tidak lebih seekor hewan.

Karya lukisan perupa SBT Isa Hasanda “Kenduri Nusantara”

Dalam suasana hancur itulah saya membaca Al-Kitab dan juga Quran. Al-Kitab Perjanjian Lama menarik perhatian saya karena di dalamnya diungkapkan bagaimana para nabi melakukan kesalahan-kesalahan. Ibrahim misalnya berbohong kalau Siti Sarah bukan istrinya ketika berada di Mesir. Karena kebohongannya itu, banyak lelaki yang ingin meminangnya. David berzinah. Solomon memiliki banyak istri. Karena kesalahan-kesalahan yang dilakukan para Nabi itu, akhirnya Tuhan turun langsung ke bumi. Itu menarik buat saya.

Akhirnya dalam keadaan terpuruk dan hancur, saya sering berdoa kepada Tuhan, kalau Kau Tuhan memang ada, datanglah. Selamatkan hambaMu ini. Kuatkan hambamu ini. Beri kekuatan hambaMu ini. Nanti kalau saya bebas saya akan ikut kamu Kristus.

Demikianlah, sejak di Buru, saya sebenarnya sudah tertarik pada Kristen. Tapi waktu itu tidak boleh ada yang pindah agama. Ya kami kan tidak memiliki hak asasi. Selepasnya dari Buru saya kemudian masuk Katolik hingga sekarang ini. Dari situ saya dapat nama depan atau nama baptis: Fulgentius.

Saya sebenarnya masih memiliki keluarga besar di Bima. Tetapi sejak saya ditahan di Pulau Buru, dan lebih-lebih ketika saya masuk Kristen, saya tidak terkontak lagi dengan mereka. Pernah mencoba menemui mereka, tapi rupanya mereka tidak suka saya. Keluarga besar sangat marah dan menganggap saya tidak ada.

Setelah beberapa lama di Jakarta, ikut bergabung di Ancol, bikin lukisan segala macam, saya kemudian kembali ke Bali. Saya menikah dengan perempuan asal Wonokromo, Surabaya. Kami memiliki dua anak, laki-laki keduanya, yang pertama sekarang 23 tahun dan yang kedua di SMA Kelas 2: Alexander Xxxxx dan George Xxxx (nama sengaja saya samarkan: HS). Tapi karena saya sakit-sakitan, tua dan tak produktif lagi, istri saya pergi meninggalkan. Anak saya juga luntang luntung, entah kemana. Sedih sekali rasanya.

Ketika Misbach pameran bulan November lalu, saya sebenarnya berharap lukisannya bisa laku dan beroleh uang besar. Saya ingin bantuannya, karena anak saya yang pertama ingin menikah. Ia menikah dengan orang Bali asal NTB. Barangkali itu yang bisa saya berikan pada anak sebelum meninggal. Sayang sekali, lukisan Misbach tak (banyak) laku ya?

Saya sebenarnya akrab dengan Misbach. Sayalah yang runtang-runtung dengannya ke mana saja. Kalau dengan Mulawestin Purba itu, baru belakangan. Saya tidak tahu kenapa Misbach menonjolkan perkawanannya dengan Muwestin Purba itu di buku Anda, bukan dengan saya. Mungkin karena dengan saya, itu sudah pasti ya, jadi tidak perlu dijelaskan lagi. Kami berempat, Amrus, saya, Misbach dan Sembiringlah yang mendirikan SBT. Djokopekik sebenarnya bukan pendiri meski dia memang anggota. Tapi belakangan kami masukkan namanya juga sebagai pendiri, karena dia banyak hokinya dan penting juga di masa belakangan ini, meski dulunya hanya pupuk bawang.

Kalau Amrus itu kompleks orangnya. Dia sebenarnya otoriter. Banyak pertentangan terjadi antara kami dan dia. Suatu kali dia bahkan pernah mbalelo, pergi ke Sumatera meninggalkan organisasi. Waktu itu kepemimpinannya diambil Sutopo. Jadi dia sempat pergi tanpa tanggungjawab. Tapi itu masa lalu. Dan begitulah dinamika organisasi.

Misbach orangnya pintar. Yang penting diingat, dia sekolah yang resmi, tepatnya di Akademi Ilmu Sosial Ali Archam. Kalau kami kan tahu marxisme itu dari membaca atau ngobrol-ngobrol, kalau dia dari sekolah partai secara resmi itu. Karena itulah, dia sesudah itu dikirim ke Kalimantan Selatan untuk mempimpin Lekra. Kami waktu itu banyak yang tidak tahu kalau dia sekolah partai, karena memang rekruitmen itu rahasia.

Sekarang ini saya tinggal di sebuah panti jompo milik sebuah yayasan kristen. Hari-hari saya, saya isi dengan melukis. Lukisan saya, saya kirimkan ke seorang kolektor di Jakarta. Ya lumayanlah, saya dapat sedikit duit. Dulu waktu boom lukisan, penghasilannya juga lebih besar. Selain itu, hari-hari saya juga saya isi dengan membaca, terutama bacaan-bacaan spiritual dan psikologi, seperti The Miracle of Endhorpin, karya Shigeo Haruyama.

***

Dua malam kemudian, 8 Januari 2016, saya masih datang menemuinya lagi. Waktu itu saya hanya bisa menemuinya malam, sebab siang harus menyelesaikan pekerjaan. Tapi tak banyak cerita yang saya peroleh, karena waktu terbatas dan waktu Pak Isa sedang sakit. Penjaga Panti mengingatkan untuk istirahat dan tidak memikirkan yang berat-berat. Padahal Pak Isa sangat suka dan bersemangat sekali menceritakan masa silamnya. Saya menangkap kesan dia sangat sumringah dan bahagia ketika bercerita. Mungkin bercerita itu seperti semacam healing bagi pribadi sepuh dengan kehidupan yang begitu menyayat ini.

Setelah saya balik ke Yogya, Isa Hasanda sempat beberapa kali berkirim sms kepada saya. Ia menceritakan pandangan-pandangan, kekecewaan-kekecewaan dan harapan-harapannya. Ia berharap sudi mampir lagi ke tempatnya jika saya ke Bali. Sayang sekali saya tak sempat memenuhi harapannya.

Kepada seorang teman di Bali, seorang sastrawan, saya pernah memintanya untuk mengunjungi Pak Isa Hasanda dan mengajaknya ngobrol, dan kalau perlu merekamnya. Saya kasih dia nomor kontak pak Isa, dan buku yang saya tulis sebagai bahan pengantar. Mungkin karena sibuk atau tak tertarik, entahlah, dia tak memenuhi permintaan saya ini.

Dalam beberapa lukisan Misbach yang menampilkan para anggota SBT, Isa Hasanda selalu digambarkan menggunakan syal. Itu adalah gambaran, hampir sepanjang usianya, Isa berjuang melawan penyakit asmanya yang menahun.

Isa Hasanda dan riwayat hidupnya yang demikian menyayat adalah noda hitam dalam sejarah bangsa ini. Ia adalah warga bangsa korban 1965 yang terbuang dan tersingkir. Ia tidak seberuntung satu dua temannya, apakah Pramoedya Ananta Toer ataukah itu Joko Pekik, yang setelah reformasi, namanya menjulang dan kaya raya. Orang seperti Isa Hasanda ada ratusan hingga ribuan orang. Dilupakan dan terlupakan.

Sabtu, 18 Juli 2020 minggu lalu, beredar kabar, ia telah menghembuskan nafas terakhir. Sekali lagi tak banyak yang tahu kapan, di mana dan bagaimana ia meninggal, serta di mana ia dimakamkan. Di akhir hidupnya, Isa Hasanda benar-benar sepi sendirian.

Selamat jalan bung, Rest in Peace!
Oleh: Hairus Salim HS

Baca Juga:

Baca Juga:
Adab dan Humaniora dari Surau

Baca Juga: Tarbiyah Islamiyah Sarang Seniman, Menerjemahkan Zakar dengan “Cinonot”

Share :
Hairus Salim
Hairus Salim 3 Articles
Esais, Bekerja di Yayasan LKiS dan Gading Publishing, Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*