Sepotong Kenangan tentang MTI Sabilul Jannah

Sepotong Kenangan tentang MTI Sabilul Jannah
MTI Sabilul Jannah/Dok. Penulis

Sepotong Kenangan tentang MTI Sabilul Jannah

Waktu itu sedang hangat pembicaraan tentang sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah yang telah mati. Kami, generasi muda Tarbiyah, disuguhi cerita oleh para senior bahwa di pertengahan abad ke-20, sekolah Tarbiyah mencapai angka lebih dari 300, tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Namun, sekarang hanya tersisa 100-an. Pembicaraan ini terjadi di penghujung tahun 2012 di Padang.

Apakah sekolah-sekolah Tarbiyah akan terus berkurang? Bisa iya, bisa tidak. Tapi, setidaknya setelah itu datang kabar menggembirakan dan memantik semangat. Sebuah sekolah Tarbiyah yang baru didirikan pada 2003 di satu kampung kecil di Pesisir Selatan sana, tengah menggeliat. Namanya MTI Sabilul Jannah, berada di Nagari Timbulun, Surantiah. 

Kami yang saat itu baru saja diangkat jadi pengurus Ikatan Pemuda Tarbiyah Islamiyah (IPTI/ Pemuda Tarbiyah) Sumatera Barat, diundang oleh pengasuh MTI Sabilul Jannah agar berpartisipasi dalam sebuah pelatihan untuk para santri. Tanpa pikir panjang, tanpa banyak hek-hok, kami terima undangannya. Bahkan, sesungguhnya ini bukan undangan. Ini panggilan dari guru, dari sekolah. Tak beradab jika tak kami patuhi.

Masa itu, hari-hari memang penuh gelora. Apapun atas nama Tarbiyah, kami selalu siap grak, sesiap tentara dapat perintah dari komandan. Untuk Tarbiyah, kami selalu bersemangat, se-bersemangat Ketua Tarbiyah berpidato di podium disaksikan gubernur.

Baca Juga: Perti

Persiapan ke Timbulun-Surantiah

“Kita pakai mobil Tarbiyah, agar hemat ongkos. Mobil sudah di-acc, tinggal jemput besok pagi”, kata Ketua Pemuda Tarbiyah, Andri Caniago, sehari sebelum keberangkatan. Namun, apalah daya kami prajurit yang selalu siap grak ini: mobil Tarbiyah yang sudah di-acc itu, belum bisa dijemput pagi seperti dijanjikan. Si penanggungjawab mobil minta diundur sampai siang. Lalu, dari siang, dijanjikan lagi sampai sore. Saat gerimis tanggung sore itu, kami datangi saja si penanggungjawab mobil, lalu katanya: mobil belum bisa digunakan. Mobil Kijang Super biru tua berpelat merah tapi mati pajak itu, urung kami pakai.

Sempat muncul rasa pesimis tak jadi berangkat. Perjalanan ke Timbulun butuh waktu empat sampai lima jam. Langit sudah gelap, saat itu musim penghujan, dan kami belum pernah menempuh jalan ke sana, kami tak kenal medannya. Pakai sepeda motor terlalu berisiko. Ada mobil yang bisa dirental, tapi mau dibayar pakai apa? Apalagi bulan depan sudah harus bayar uang kuliah semester genap. Kalau si penanggungjawab mobil Tarbiyah berjelas-jelas dari pagi, tentulah kami pacu saja sepeda motor dari Padang ke Timbulun itu.

Beruntunglah, Ketua Pemuda Tarbiyah yang akrab kami panggil “kanda” itu, tak mati akal. “Kita naik travel. Tak usah kalian pikir ongkos”, katanya mantap. Teman-teman yang sebelumnya patah semangat, sebagiannya langsung merespon dengan senyum sumringah penuh optimisme, tapi saya hanya mampu tersenyum masam, karena dalam hati masih menyumpah-nyumpah.

Kami berlima pun berangkatlah malam itu naik travel. Di Timbulun sudah ada beberapa kawan menunggu. Besok akan ada lagi beberapa kawan menyusul. Syukurlah, semuanya generasi muda penuh gairah. Karena yang sudah senior, jangankan orangnya, mobilnya pun enggan ikut. Hehe…

Sampai di Timbulun

Kami sampai di MTI Timbulun. Perjalanan yang normalnya empat sampai lima jam dari Padang, mampu dipangkas oleh si sopir travel jadi empat jam kurang. Betul-betul kisok dan ligat dia. Di MTI Tumbulun kami disambung hangat, sehangat mentari pagi, padahal sedang tengah malam jelang dini hari. Kami disambut oleh Ustaz Heri Surikno dan sejumlah guru muda tamatan berbagai sekolah Tarbiyah (MTI) di Sumatera Barat. Juga ada alumni MTI Sabulil Jannah sendiri.

Kami disuguhi minuman panas dan snack, dan tentu saja cerita plus tawa penambah keakraban. Tak lama, lanjut makan malam. Kami lahap sekali, tanpa ampun. Maklumlah, saat mobil berhenti di rumah makan tadi, kami hanya maota lamak di depan rumah makan sambil berdiri berkacak pinggang, berlagak orang kekenyangan, padahal perut terus berderik-derik, hampir bercarut pungkang. Malam itu, di MTI Timbulan benar-benar jadi makan malam terenak di dunia.

Baca Juga: Profil PPMTI Sabilul Jannah

Kisah Berdirinya MTI Sabilul Jannah

Di ruangan pengelola berlangsung diskusi demi diskusi. Ustaz Heri berbagi banyak kisah tentang MTI Sabilul Jannah; tentang santri-santrinya, anak pesisir pantai yang polos dan bersahaja; tentang pengalaman beliau mengajari santri lagu “Sinar Tarbiyah” yang reff-nya sangat menyayat hati itu; tentang kursus malam kitab kuning yang beliau kelola, dan seterusnya. Di kesempatan itu pula, pendiri MTI Sabulul Jannah, Buya Dalisman, kerap bergabung dan berbagi kisah. Beliau merupakan alumni MTI Pasia, Agam. Berikut beliau kisahkan:

Ide untuk mendirikan sebuah pesantren dilontarkan oleh Buya Dalisman ke sejumlah masyarakat Timbulan pada Mei 2003. Mereka menyambut baik. Menindaklanjuti ini, tiga hari setelahnya, digelarlah musyawarah yang melibatkan lebih banyak orang. Dalam pertemuan itu, sekitar 30 persen hadirin mendukung penuh, sementara sisanya bersikap dingin karena kurang yakin pesantren itu akan betul-betul terwujud di kampung mereka.

Kata berjawab, gayung pun bersambut. Niat baik bertemu orang baik. Seorang warga (bernama Yusuf) berujar, kalau pesantren ini betul-betul bisa terwujud tahun ini, ia akan mewakafkan sepetak tanahnya. Dalam tempo kurang dari sebulan setelah musyawarah itu, sebanyak 23 orang tua sudah menyatakan kesediaan untuk mendaftarkan anaknya ke pesantren yang baru akan didirikan itu.

Apa akal? Gedung belum ada, peralatan belajar juga belum, dana operasional apalagi. Tapi alasan itu tak cukup kuat untuk membendung tekad Buya Dalisman. Dalam tradisi ulama-ulama Tarbiyah sejak dulu, pantang seorang alim menolak kedatangan orang-orang yang hendak belajar agama. Buya Dalisman tumbuh dalam tradisi itu.

Pada 09 Juni 2003, pesantren pun dinyatakan berdiri, namanya “Pesantren Madrasah  Tarbiyah Islamiyah Sabilul Jannah”. Pendaftar sudah diterima sebagai santri. Dua minggu setelahnya, persisnya 23 Juni 2003, kegiatan belajar-mengajar pun dimulai. Gedungnya? Ada bangunan kayu bekas MDA yang tak terpakai lagi, yang beberapa helai dindingnya telah copot, yang pintunya selalu terbuka, sehingga sering disinggahi ayam atau kambing warga yang sering dilepas. Buya Dalisman meminjam bangunan itu.

Walau siangnya sudah jadi tempat belajar kitab kuning, tapi pada malam hari, dunia perhewanan tetap bergeliat seperti biasa di gedung kayu reot itu. Bangunan itu masih jadi tempat beristirahat—dan barangkali juga tempat kawin—yang nyaman bagi kambing-kambing warga yang kerap dilepas. Syukurlah, di tahun kedua, ada donator lagi, maka pembangunan gedung permanen dimulai. Semoga jadi amal jariah bagi seluruh donatur, pendiri, dan pengelola sekolah ini.

Buya Dalisman menegaskan, setidaknya ada dua faktor yang “memaksanya”mendirikan sekolah ini. Pertama, minimnya sekolah agama di daerah Pesisir Selatan, terutama sekolah agama berhaluan tradisional. Sejumlah orang tua yang punya kemampuan finansial bisa mengirim anaknya ke daerah lain, seperti ke Kabupaten Agam, Padang Panjang, dan sebagainya. Namun, bagi orang tua yang kemampuan keuangannya terbatas, tentu harus berpuas diri dengan masuk sekolah umum. Bagi Buya Dalisman tanpa muluk-muluk, MTI Sabilul Jannah setidaknya bisa jadi jawaban bagi orang tua macam yang terakhir ini. Karena itu pulalah, seluruh santri di sekolah ini dibebaskan uang SPP.

Kedua, sejak beberapa tahun terakhir, sebagian masyarakat di perkampungan Pesisir Selatan merasa terganggu oleh penceramah-penceramah yang kerap menyalahkan amaliah mereka, seperti ziarah kubur, lafaz “ushalli” niat salat, salawat pakai “sayidina”, subuh pakai qunut, dan seterusnya. Masyarakat yang datang ke pengajian dengen niat hendak belajar agama, tapi justru beroleh “efek kejut” di tempat pengajian. Fenomena ini terus berlangsung tanpa mendapat counter memadai dari kalangan tradisional. Ulama kalangan tradisional memang dirasa mulai berkurang beberapa waktu belakangan, terutama setelah tiga sekolah tua Tarbiyah di Pesisir Selatan ini mati.

Kami pernah menyebut Buya Dalisman sebagai seorang yang nekat. Nekat dalam bakti untuk pendidikan, demi melanjutkan tradisi keilmuan pada ulama terdahulu, demi nama yang dilekatkan ke MTI itu, “Sabilul Jannah” (jalan ke surga).

Dari tahun ke tahun, MTI Sabilul Jannah terus meningkatkan diri. Fisik dan kualitas terus dikembangkan. Di akhir tahun 2012 saat kami ke sana, MTI Sabilul Jannah sudah punya dua petak bangunan permanen yang masing-masingnya memiliki beberapa lokal. Namun, bangunan kayu legend tadi masih berhasil kami dapati. Para santri sudah hafal betul mana kayu lantainya yang bisa diinjak dan mana yang harus dihindari karena sudah lapuk.

Di tahun berikutnya saat kami datang menyaksikan perayaan pemberian ijazah, Buya Dalis bercerita, “sekarang gedung permanen sudah berbentuk leter L. Kami akan bikin jadi leter U seperti di Canduang, supaya berkahh kaji Canduang terus mengalir ke sini”. Buya Dalisman yang alumni MTI Pasia itu, sering men-tawasul-kan sekolah ini sampai ke Inyiak Canduang, karena memang gurunya di MTI Pasia itu murid Inyiak Canduang juga.

Tawasul itu juga terlihat dalam lafaz pemberian ijazah bagi santri tamat kelas 6. Saya tak hafal persis, tapi kira-kira: “Aku ijazahkan kepadamu ilmu yang telah aku ajarkan sebagaimana aku diijazahkan oleh guruku yang telah diijazahkan oleh gurunya, dari Syekh Sulaiman Arrasuli”.

Kualitas juga terus ditingkatkan. Ustaz Heri Surikno bersama guru-guru muda lainnya mengadakan kursus malam untuk menggenjot kemampuan kitab kuning santri. Muhadharah dan pelatihan-pelatihan terus dilakukan. Syukur alhamdulillah, sejumlah prestasi berhasil diukur santri, di antaranya dalam lomba baca kitab kuning dan lomba pidato. Dalam event Musabaqah Fahmi Kutubit Turas (Mufakat) atau lomba baca kitab kuning tingkat Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2012, delapan orang santri MTI Sabilul Jannah berhasil meraih juara, lalu diutus ke tingkat provinsi. Di tingkat provinsi, ada yang berhasil meraih juara 2. Begitu juga dalam lomba pidato, salah satu santri MTI Sabilul Jannah berhasil meraih juara di tingkat provinsi.

Sekolah ini pernah ditawari untuk diubah statusnya jadi MTs atau MA negeri. Tapi, “sekolah ini tempat mengaji, tempat belajar kitab kuning”, kata Buya menanggapi tawaran itu.

Baca Juga: Filosofi Ijazah

Perjalanan Rohani

Perjalanan ke MTI Sabilul Jannah Timbulun ternyata bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan rohani, perjalanan menuntut ilmu, terutama ilmu kehidupan. Momen berharga itu telah membuka pandangan kami—setidaknya itu yang saya rasakan—tentang kondisi sebenarnya sekolah Tarbiyah di daerah-daerah yang minim sorotan. Saat itu, bahkan masih relevan hingga kini.

Saking shock dan harunya dengan kisah perjuangan para guru di MTI Sabilul Jannah kala itu, Kanda Andri Caniago sampai kehilangan seluruh bahan sambutannya di hari penutupan pelatihan. Awalnya ia mengucapkan salam dengan suara menggelegar, dilanjutkan puji-pujian dan salawat-salam dengan mantap, tapi setelah itu, tak tentu lagi apa yang hendak disebutnya. Akhirnya disudahi saja dengan air mata, lalu dilerai dengan assalamu’alaikum penutup. Itulah pertama kali kami melihatnya meneteskan air mata saat memegang mikropon atau toa. Biasanya, kalau sudah memegang alat pengeras suara, pilihannya hanya dua: orasi atau menyanyi. Jika sedang orasi, tangan kanannya memegang toa, dua jari di tangan kiri menjepit rokok surya. Jika menyanyi, lagu favoritnya “Mudiak Arau”. Haha..

Kerap kali, sekolah-sekolah Tarbiyah yang dikisahkan di podium, koran, dan buku-buku hanya berisi sisi-sisi manisnya, tapi meluputkan sisi pahitnya. Bahwa santri sekolah A meraih juara lomba pidato, bahwa ustaz di sekolah B meraih nominasi guru berprestasi nasional, dan sebagainya. Bahkan, tak jarang juga cerita yang bertebaran hanya seputar kisah heroik masa lampau, seperti keramatnya buya di sekolah A, alim-alimnya murid di sekolah B, cantik-cantiknya santriwati di sekolah C, dan seterunsya. Mengisahkan kehebatan demi kehebatan masa lampau tapi memicingkan mata terhadap kondisi hari ini, itu tak ubahnya seperti menggosok-gosok barang antik. Semakin digosok, semakin mahal harganya. Padahal, tak ada yang terlalu mahal di sana, kecuali gosoknya itu.

Dalam kondisi seperti ini, apa yang bisa diharapkan sekolah-sekolah Tarbiyah terhadap organisasi Tarbiyah? Kalaupun ada kesamaan, itu hanya dalam hal nama dan logo, tapi tidak dalam perjuangan. Problem ini tak hanya di Timbulun, tapi juga sejumlah sekolah yang sempat kami datangi setelah dari Timbulun. Toh masalah yang dihadapi sekolah, kendala belajar santri, minimnya fasilitas, kendala dana operasional, dan sebagainya, tetap saja harus diatasi sendiri oleh setiap sekolah, tanpa peran organisasi.

Masalahnya kemudian, organisasi yang tak senasib sepenanggungan dengan sekolah-sekolah itu, justru berkoar-koar di atas podium atau di koran-koran bahwa ia membawahi sekian ratus sekolah Tarbiyah, tersebar di delapan penjuru mata angin. Itulah aset organisasi, katanya. Kenapa sekolah-sekolah itu hanya disebut-sebut di pidato sambutan atau di Koran-koran, tapi sekadar dikunjungi pun tidak.

Saya yang sebelum berangkat harus menyumpah-nyumpah dalam hati, pulangnya juga harus menyumpah-nyumpah lagi.[]

Nuzul Iskandar
Alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung. Pernah aktif sebagai peneliti di Smeru Research Institute. Sekarang Dosen Hukum Islam di IAIN Kerinci Jambi