Sihir Batu Bata

Sihir Batu Bata
Ilustrasi/Dok. Fine Art America

Sihir Batu Bata

Ia berdiri di atas setumpuk batu bata, sebagai penambah tinggi badannya. Tangannya berpegang ke salah satu tiang kedai bagian belakang. Ia dekatkan matanya ke salah satu celah dinding papan, mengintip, apakah pria gendut berkumis tebal itu berani menyakiti ibunya lagi?

Gerahamnya menggigil. Di balik dinding papan, meski sedikit samar, ia bisa melihat, pria gendut itu mencolek dagu ibunya.

Tumpukan batu bata penopang tubuhnya yang memang tidak begitu tinggi bergetar. Susunan batu itu goyah. Tapi matanya terus melototi celah dinding papan. Ia seolah melihat, dari mulut dan mata sopir itu kabut kotor dan busuk seperti asap knalpot truk yang selalu dikendarainya berterbangan dan masuk menembus mata ibunya.

Ia alihkan pandangan ke ujung jari-jari kakinya yang tertikam ke sisi atas batu bata. Ia lakukan gerakan menekan-memutar, berkali-kali, sehingga batu bata itu menyerpih dan debu-debu terangkat akibat tindasan tenaga di seluruh jari kakinya. Ia bayangkan tengah menindas-nindas mata pria gendut itu.

“Andaikata bapak tahu, ia pasti marah!” gumamnya sambil mengusap-usap kedua lengannya dengan sikap menyilang. Ia merasa sedikit tenang. Ia resapi usapannya sendiri. Ia bayangkan, suatu saat nanti, setelah besar, ia akan menggunakan lengannya itu untuk melindungi ibunya. Namun, rasa tenang itu hanya sebentar. Ia masih sering terbayang ulah sopir truk gendut berkumis tebal itu yang lancang mencolek-colek dagu ibunya.

Ia coba pula mengandaikan sesuatu yang menurutnya akan sangat membantu. Di saat pria gendut itu sedang mencolek dagu, mengusap lengan atau punggung ibunya, ia bayangkan bapaknya tiba-tiba berdiri di pintu, bercarut sambil melayangkan kepalan tinju ke jidat pria gendut berkumis itu. Terjadi perkelahian adu jantan yang akhirnya dimenangkan bapaknya. Pria gendut itu terkapar sebagai pecundang dan menyeret langkahnya pergi dan tidak pernah kembali lagi mengganggu ibunya.

Tapi, setelah sekuat daya ingat ia coba membayangkan wajah bapaknya, rahang kecilnya malah tersendat. Air liurnya terasa pahit. Sekuat kemampuannya pula, ia berusaha mencegah airmatanya meleleh, sebab andai-andai tentang seorang bapak itu hanya ada dalam angan-angannya saja.

Sudah lima tahun ia tidak pernah melihat wajah bapaknya. Ia ingat persis, malam itu, setelah empasan pintu dan dentang lemparan, terdengar ibunya menangis. Waktu itu ia masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ia berlari ke dekapan ibunya. Ia juga tahu, kejadian serupa itu sering dilihatnya. Bapak acapkali marah, entah karena apa. Melempar piring, melempar sepatu, lalu memerangi ibu dengan kata-kata kasar. Kejadian itu, selalu berakhir dengan tangis ibunya.

Ia pun kemudian sampai pada kesimpulan, kalau ibu dan bapaknya sudah tidak rukun lagi; tidak hidup bersama lagi. Mereka bahkan sudah menyelesaikan perceraian rumah-tangga mereka di Pengadilan Agama.

Sejak saat itulah, ia sudah merasakan suasana yang berbeda antara ia dan ibunya. Ibunya kini sering mendiaminya. Ketika ia tidak naik ke kelas empat, ibunya sama sekali tidak menyesali. Begitu juga ketika ia tidak naik ke kelas empat untuk kali kedua. Padahal ketika di kelas dua ia pernah turun rengking, dari juara satu ke juara empat, ibunya pernah menggerutu.

“Untuk ukuran kita, sekolah itu mahal, Dedi. Jadi tidak ada alasan untuk jadi anak bodoh. Tidak ada alasan untuk jadi pecundang! Tiru Novita, kakakmu. Makanan yang kamu makan sama dengan dia. Penderitaan, perasaan yang tertekan karena miskin juga ditanggung kakakmu. Tapi, prestasinya tetap bagus!”

Ia ingin membela diri. Ia ingin membantah ibunya. Ingin ia katakan: kalau sejak ibu diceraikan bapak, ia tidak lagi bisa menikmati pelajaran di sekolah. Tapi, ia takut, itu akan membuat ibunya sedih dan menangis lagi. Sementara, melihat ibunya menangis adalah usuran paling berat untuk jantungnya. Ia selalu merasakan ada yang menggelegak di dalam dadanya setiap kali melihat ibunya menangis.

Baca Juga: Gantungan Baju Buya

Terakhir, ia melihat ibunya menangis, setahun lalu, ketika gempa mengguncang kotanya. Kedai nasi goreng sekaligus rumah mereka ambruk. Setelah mencoba membangun kembali rumah dan kedai itu dengan bantuan para relawan, ia memang tidak lagi melihat ibunya menangis.

Ia sudah mulai bisa tenang. Ia pun sudah ingin kembali belajar dengan nikmat. Tapi setiap malam, saat-saat mengulang pelajaran, ia tidak tega pula melihat ibunya sendiri melayani pembeli. Walaupun tidak dibenarkan ibunya, ia sering bersikeras membantu ibunya mencuci piring dan gelas. Apalagi, bila adiknya Siska yang belum lengkap enam tahun berlaku manja, menangis dan meminta ditemani tidur oleh ibunya. Makanya, ia selalu berinisiatif membantu ibunya di dapur.

“Tidak usah bantu Ibu. Sudah malam. Pergi sana, belajar! Besok kamu harus bangun pagi. Tanggung jawabmu menggembalakan itik ke sungai, buatkan pagarnya lalu pergi sekolah. Urusan kedai biar ibu yang tanggung!” ibunya sering berkata begitu. Tapi, sudah tidak dihiraukannya.

Apa yang dicemaskan ibunya memang sering berlaku. Di sekolah ia telah dicap anak nakal oleh guru kelasnya. Sudah empat kali ia tidak naik kelas. Kelas tiga sekali, kelas empat dua kali, dan kelas lima sekali. Sekarang, ia semestinya sudah tamat es-de bahkan sudah sudah duduk di kelas dua es-em-pe.

Barangkali karena beban tidak naik kelas, ia tiba-tiba menjadi anak nakal. Sering mengusili teman-temannya. Ia mendadak jadi anak yang sensitif. Sulit menerima nasihat. Ia pernah  kena hukum di depan kelas karena ulahnya memakai kaus kaki. Ia paksa salah seorang temannya menanggalkan kaus kaki. Kaus kaki itu ia potong dua, menjadi empat potong. Dua potong untuknya, dua potong lagi untuk temannya yang punya kaus kaki itu. Lalu mereka pakai di bagian atas sepatu saja, tidak sampai ke telapak kaki. Ulahnya ini diketahui guru kelasnya. Ia dihukum atas dua kesalahan, pertama tidak punya kaus kaki, kedua karena telah merusak kaus kaki temannya.

Pada kesempatan lain, ia juga pernah dihukum, gara-gara tidak memasukkan baju. Sebagaimana kebiasaannya, sebelum berangkat sekolah ia terlebih dahulu menggelandang itik-itiknya ke sungai atau ke tengah sawah yang sudah dipanen. Setelah memagari itik-itik itu, barulah ia pergi ke sekolah. Malang baginya pagi itu, ia tergelincir dan terjatuh di atas kotoran itik. Padahal ia telah memakai seragam sekolah. Celananya kotor, jadi ia tidak memasukkan baju. Ia pun dihukum karena tidak mematuhi peraturan sekolah.

Ia juga pernah mengamuk di ruangan kepala sekolah. Saat itu, ibunya dipanggil akibat ulahnya menakali teman sampai menangis. Kepala sekolah menanyakan kepada ibunya, kenapa bapaknya tidak datang. Ibunya menjawab, kalau ia sudah bercerai dengan suaminya. Dengan enteng kepala sekolah yang sudah kesal padanya berkata: “Pantas saja, ia keras kepala, anak tak berbapak rupanya!” ia tendang kursi. Ia lempar segala benda yang terjangkau tangannya dan lari pulang dari sekolah sambil mengutuk-ngutuk kepala sekolah. Seminggu ia tidak pernah mau pergi sekolah.

Untung saja ibunya tidak menangis mendengar kata-kata kasar kepala sekolah itu. Kalau saja ibunya menangis, ia sudah nekat ingin mencederai kepala sekolah itu dengan batu. Sebuah batu dekat pot bunga di depan kantor kepala sekolah itu sudah ditandainya.

Belakangan ini, setelah melihat ibunya kembali tenang, ia sebenarnya sudah ingin pula sekolah dengan rajin. Tetapi, apabila truk fuso milik pria gendut berkumis tebal itu berhenti di depan kedainya, ia kembali tidak tenang. Ia telah menandai sopir truk pengangkut barang itu. Perangainya sudah kelewatan.  Acapkali ia intip, pria itu mencolek dagu ibunya.

Sampai pada suatu malam, sopir truk itu datang lagi. Ia sudah menyediakan beberapa buah batu bata dan batu sungai sebesar tinju orang dewasa di belakang dapur kedai nasi goreng ibunya. Kalau sopir gendut itu masih mencolek-colek ibunya, ia akan gunakan batu-batu itu untuk membocorkan batok kelapa si sopir gendut yang menurutnya sangat kurang ajar itu.

Benar saja, apa yang ditakutkan terjadi. Si sopir tidak hanya mencolek dagu ibunya. Tindakan si sopir kini semakin membuatnya naik pitam.

“Buatkan mie goreng sama kopi susu, Manis!” ucap sopir itu sambil menarik tepi baju bagian dada ibunya. Ibunya berusaha bersikap sopan dengan tetap tersenyum dan berlalu ke belakang membuatkan pesanan. Tiba-tiba si sopir juga ikut ke belakang dan bertanya pada ibunya di mana kamar kecil.

Seperti biasa, ia menyaksikan itu dari atas tumpukan batu bata, di balik dinding papan dapur yang tempo hari dibangun relawan gempa untuk ibunya.

Baca Juga: Suara Toa di Bukit Bukit

Matanya bergerak liar, mengamati si sopir berkumis tebal dan sesekali melirik tajam ke arah tumpukan batu yang sudah dikumpulkannya sejak sore. Setelah keluar dari kamar kecil, si sopir mendekati ibunya yang sedang memasak mie goreng.

Si sopir itu langsung memeluk ibunya dari belakang.

Ibunya terdesak.

Sebuah batu bata sudah di tangannya. Ia turun dari tumpukan batu bata. Kemudian, melangkah pelan ke arah pintu. Ia bidik kepala pria gendut itu, tapi urung. Ia cemas akan mengenai ibunya. Ia kesal dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan gigi yang tertaut rapat dan mata berair, ia berlari ke arah pantai yang tidak jauh dari rumahnya. Langkahnya berpacu dengan angin kencang dan hujan yang menggusur debu dan daun-daun mati. Ia berhenti di ujung ombak yang membuih dan hilang ke dalam pasir.

Setelah tagisnya reda dan giginya tidak lagi bergetaran, ia baru sadar kalau ia masih menggenggam batu bata di tangan kiri dan batu sungai di tangan kanan. Ia pecahkan batu bata itu dengan membenturkannya pada batu sungai. Serpihannya yang kecil-kecil ia lemparkan ke tengah laut. Seakan ingin melemparkan rasa sakit dalam jantungnya. Mata merahnya menatap tajam ke depan. Giginya tetap tertaut ketat. Otot-otot pipinya membengkak. Ia sedang menguatkan hatinya untuk melakukan sebuah rencana. Ia sadar, menunggu bapaknya pulang, adalah hal yang sulit terjadi. Bapaknya mungkin tidak akan pernah pulang lagi.

Rencananya, begini: ia akan kembali memergoki pria gendut berkumis tebal itu tengah menakali ibunya. Setelah menyuruh ibunya menghindar, ia tidak akan ragu-ragu lagi melempar tengkorak si gendut dengan batu. Setelah si pria gendut sempoyongan, ia menyelesaikannya dengan beberapa lemparan batu lagi. Ia akan mencekik leher si gendut setelah tumbang ke tanah. Ia seret ke sungai. Kepala pria gendut dibenam-benamkan ke air. Sampai ia tidak lagi punya napas yang sering berdengus melihat ibunya itu. Sampai tangan si gendut tidak lagi punya tenaga untuk mencolek-colek ibunya. Setelah itu, biarkan bangkainya hanyut ke muara, di sambut gelombang dan bergabung dengan bangkai-bangkai lain yang terkumpul di pantai.

“Harus tepat di jidatnya!” ia bergumam dalam marah yang memuncak. Ia kembali ke kedai tempat ibunya berjualan nasi goreng itu. Ia mengendap dari belakang.

Tapi, ia sangat terkejut. Kedai itu telah kosong. Ia mengendap ke dekat rumah hunian sementara yang dibuatkan relawan bencana untuk keluarganya. Ia kedipkan matanya berkali-kali. Ia tidak ingin langsung percaya apa yang sedang ia saksikan. Ibunya sedang terlihat menerima begitu saja perlakuan si gendut itu. Mata ibunya terpejam dan badannya menggeliat-geliat seperti orang bangun tidur.

Matanya terasa panas. Ia berlari ke dalam rumah. Batu bata di tangannya melayang ke dinding, mengenai foto keluarga. Gambar dirinya, bapak, ibu, kakak, dan adiknya yang masih bayi digendong bapaknya jatuh ke lantai. Ia ambil sebuah batu bata lagi. Ia berdiri dengan sikap tubuh siap melayangkan lemparan.

“Dedi! Kenapa kamu, Nak?!” ibunya datang dengan pakaian yang sebagian terbuka.

Ia tidak bisa berkata apa-apa. Matanya terus berair. Batu bata di tangan makin erat di genggamannya dan siap melayang. Kalau sebelumnya ia yang kesal melihat airmata tercurah dari mata ibunya, kali itu airmata justru buncah dari matanya.

Ibunya berusaha memeluknya, tapi ia tepis.

“Bapak pasti marah!” ucapnya. Batu bata itu makin erat di genggaman tangan kanannya.

Tangis pun pecah di mata ibunya. Tapi, ia sudah tidak peduli. Ia kayuh larinya menembus kegelapan sekalipun tubuhnya seakan mau roboh seperti rumah digoncang gempa. Belum tahu, kemana ia kini akan pergi. Setidaknya, untuk malam itu, ia tidak ingin lagi tinggal di rumah. Ia ingin menjauh dari pemandangan yang sangat menyakiti perasaannya. Batu bata tetap erat dalam genggamannya. Seketika, di sela isaknya yang serak, melintas pikiran membenturkan batu bata yang tempo hari dibeli dengan uang pemberian relawan bencana gempa itu ke kepalanya. []

Padang, 2010-2011

*Cerpen ini pernah tebit di Jawa Pos, 27 Maret 2011


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Sihir Batu Bata Sihir Batu Bata Sihir Batu Bata Sihir Batu Bata Sihir Batu Bata

Zelfeni Wimra
Zelfeni Wimra 9 Articles
Lahir di Sungai Naniang, Luak Limopuluah Koto Minangkabau, Sumatra Barat, 05 Oktober 1979. Alumni MTI Pasia, Tahun Tamat 1999. Menamatkan pendidikan di IAIN Imam Bonjol Padang (S1-2004 dan S2-2011). Bergiat di kelompok kajian Magistra Indonesia dan Mantagi Institute Padang. Buku kumpulan cerpennya: “Pengantin Subuh” (LPPH, 2009); Yang Menunggu dengan Payung (GPU, 2013); Abu [Kisah Pertarungan dan Peruntungan Para Jantan di Tanah Betina], (Perpustakaan Daerah Sumbar, 2016). Sekarang sedang menyelesaikan Studi Doktoral di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*