Situs Ziarah Ulama-ulama Tarekat di Malalo

Situs Ziarah Ulama-ulama Tarekat di Malalo
Foto Penulis di situs ziarah makam Uwai Limapuluah Malalo/Dok. Penulis

ulama Tarekat di Malalo

Malalo, daerah perbukitan yang terbujur di sepanjang pesisir barat danau Singkarak, Sumatera Barat merupakan satu dari sekian banyak daerah di Minangkabau yang beruntung karena selalu dipenuhi Ulama. Sejak dahulu kala, Malalo tidak pernah alpa dari keberadaan ulama nan alim lagi masyhur.

Oleh karena itu, Malalo jadi sangat penting untuk dijadikan destinasi ziarah, karena banyaknya maqam ulama yang harus diziarahi dan diambil berkahnya di sana. Sebut saja, misalnya, Syekh Tuangku Limopuluah, atau yang lebih akrab disapa masyarakat lokal sebagai Uwai Limopuluah; Syekh Zakaria Labai Sati, Syekh Abdul Ghani, dan lain-lain –untuk menyebutkan beberapa-.

Beberapa waktu lalu, dapatlah saya dengan rombongan Pondok Pesantren Nurul Yaqin berziarah ke Malalo, hal ini merupakan rutinitas tahunan yang kami laksanakan setiap Kamis pertama setelah hari Asyura. Jika tahun genap kami berziarah ke Malalo, maka di tahun ganjilnya kami akan berziarah ke Limopuluah Kota. Begitu wirid yang ditinggalkan Syekh H. Ali Imran Hasan, pendiri Pondok Pesantren Nurul Yaqin sejak dahulu.

Baca Juga: Syekh Abdul Ghani Kampari Ulama Tarekat Sumatera dan Gurunya Syekh Muda Waly

Di Limopuluah Kota, kami menepati tiga titik utama, yaitu Maqam Syekh Syahidan Sarbaini di Mungo; Syekh Ibrahim Harun di Tiakar; dan Syekh Ibrahim Cukua Sabalah di Taram (atau, yang akrab disapa Syekh Taram). Sedangkan di Malalo sendiri, kami juga menepati tiga titik utama, Tampaik (maqam) Uwai Limopuluah di Duo Koto; Maqam Syekh Abdul Ghani di Sumagek; dan Maqam Syekh Zakaria Labai Sati di dekat Pesantren besar yang beliau dirikan, Pondok Pesantren Tarbiyah Islamiyah Malalo, Padang Laweh.

Untuk tujuan yang disebutkan pertama adalah maqam seorang ‘alim ‘allamah di bidang tarekat Syattariyah. Beliau, Uwai Limopuluah diceritakan sebagai seorang yang sangat alim dalam menjabarkan konsep Martabat Tujuh dan Pengajian Tubuh yang merupakan konsep-konsep inti dalam ajaran ordo-sufi tarekat Syattariyah. Kepiawaian beliau menjelaskannya, sanggup menjawab pandangan-pandangan sinis para ulama semasanya yang cenderung menganggap konsep-konsep tersebut sangat mirip dengan konsep tasawuf Wujudiyah, dan bahkan eksesifnya rentan ke”zindiq”an.

Uwai Limopuluah, hidup dalam rentang tahun 1730-1930 M, artinya, beliau meninggal dalam usia 200 tahun. Masa-masa tersebut adalah masa di mana perkembangan Islam di Ranah Minang sedang menempuh dinamika yang cukup hebat. Perdebatan dan diskusi hangat antara suatu ajaran tasawuf dengan ajaran tasawuf lainnya menjadi hal biasa, dan sudah makanan tiap harinya para Ulama tarekat. Tidak hanya itu, pada masa-masa itu juga, Islam di Minang juga menghadapi situasi-siatusi pelik musabab para pembaharu.

Dalam artikel Buya Apria Putra tentang Uwai Limopuluah, dijelaskan bahwa Uwai pada suatu kali harus menghadapi banyak ulama-ulama alim di Luhak Limopuluah Kota untuk menjelaskan konsep-konsep inti ajaran tarekat Syattariyah yang dipegangnya. Hal ini tak lain karena pada dasarnya ulama-ulama di Limopuluah Kota, secara genetis terafiliasi pada ajaran-ajaran pembaharu, atau kepada selain tarekat Syattariyah.

Di Maqam Uwai, selain Uwai, juga bermaqam beberapa ulama lainnya yang secara silsilah masih bertali-temali dengan Uwai, seperti Uwai Imam Gapuak, yang bernama Haji Abdoel Latif Tuangku Imam Gapuak (1840-1960); Uwai Masjid, yang bernama Ma’shoem Pakiah Soetan (meninggal dalam usia 293 Tahun), dll.

Adapun tujuan kedua adalah maqam Syekh Abdul Ghani di Sumagek, Kenagarian Padang Laweh. Tidak banyak informasi tentang ulama hebat satu ini. bahkan tahun lahir dan tahun meninggalnya pun juga tidak diketahui. Namun, menurut sejarah yang diwariskan secara oral, beliau adalah salah satu dari guru Uwai Limopuluah tempat Uwai meminta “ambuih kapalo” (sebuah proses pemberkatan di mana seorang guru meniup kepala muridnya sembari membacakan doa-doa). Artinya, beliau hidup lebih dahulu dari Uwai Limopuluah yang baru lahir tahun 1730.

Semasa hidupnya, Syekh Abdul Ghani adalah ulama yang masyhur dengan kealimannya menyelesaikan kusut dan memperjernih keruh ihwal kajian-kajian tasawuf dan/atau tarekat. Banyak orang yang datang bertanya kepada beliau tentang kaji-kaji tasawuf rumit. Semua yang dihadapkan kepada beliau selalu selesai dengan jawaban-jawaban yang tepat dan memuaskan, dengan syarat, setiap kali membawa pertanyaan rumit kepada beliau, harus dibarengi menyembelih hewan ternak di Surau beliau di pinggir Danau Singkarak. Kadar besar-kecil hewan ternak ditentukan oleh kadar kesulitan pertanyaan yang diajukan.

Cerita dari Syekh Ali Imran Hasan, yang diceritakan Khalifah beliau, Syekh Zulhamdi Tuangku Kerajaan nan Saliah, semasa Syekh Ali Imran belajar di Malalo kepada Syekh Zakaria Labai Sati al-Anshari, beliau memiliki paham tarekat yang berbeda dengan gurunya. Syekh Ali Imran sendiri memegang tarekat Syattariah sebagai pilihan utamanya, sedangkan Syekh Zakaria Labai Sati, Naqsyabandiyah. Namun, ketika beliau berhadir di Sumagek, tempat Syekh Abdul Ghani hidup dan menghidupkan agama, beliau merasakan atmosfer tarekat Syattariyah yang cukup kental. Alhasil, dengan data-data di atas dapat disimpulkan bahwa Syekh Abdul Ghani adalah seorang alim dalam tarekat Syattariyah juga.

Baca Juga: Situs Ziarah Ulama-ulama Perti

Jika dua tujuan di atas sama-sama bertarekat utama dengan tarekat Syattariyah, maka tujuan ketiga adalah maqam seorang ulama masyhur yang bertarekat utama dengan Naqsyabandiyah. Yakni Syekh Zakaria Labai Sati al-Anshari (1908-1973). Informasi tentang beliau luber sudah. Sebagai seorang mutabahhir dan mutafannin, kemasyhuran beliau sudah tak perlu diceritakan lagi di sini. Silsilah beliau ke atas (guru-guru) dan ke bawah (murid-murid), adalah rantai emas.

Bersamaan dengan menziarahi beliau, kami juga menghadiahkan bacaan Yasin dan Tahlil kepada tiga ulama lain di sekitar itu yang tak mungkin dikunjungi satu persatu alasan waktu dan kondusifitas rombongan. Mereka adalah Buya H. Thaharuddin Angku Andah (1941-2011), yang bermaqam tak jauh dari komplek PPTI Malalo. Selanjutnya adalah Buya H. Muhammad Karimuddin Jamal (1943-2017), atau yang lebih akrab disapa Angku Karim yang bermaqam di depan Surau suluk beliau di nagari Tanjung Barulak, Kec. Batipuh, tak jauh dari Malalo. Angku Andah dan Angku Karim adalah salah dua penerus estafet Buya Labai Sati di Malalo. Keduanya sama-sama memegang tarekat Naqsyabandiyah sebagai pegangan utamanya. Dalam pengembaraannya, beliau berdua juga sempat menyauk ilmu di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan.

Yang terakhir adalah seorang ulama yang bermaqam di atas tebing di pinggir jalan raya Padang Panjang-Solok. Tepatnya di dekat Pasar Pitalah, Kec. Batipuh. Konon kabarnya, beliau yang bermaqam di sana adalah salah satu dari empat orang yang ditemui Syekh Burhanuddin ketika dalam perjalanan menuju Aceh untuk berguru kepada Syekh Abdur Rauf Singkel. Namanya tak begitu dikenal. Keberadaan maqamnya yang di atas sebuah tebing juga menjadikannya tak terlalu terjamah oleh para peziarah. Sehingga, alasan keselamatan para rombongan, kami memilih untuk menghadiahi bacaan Yasin dan Tahlil dari maqam Syekh Zakaria Labai Sati saja.[]

ulama Tarekat di Malalo Situs Ziarah ulama Tarekat di Malalo

Ringan-ringan, 8 September 2020.

Shafwatul Bary
Shafwatul Bary 5 Articles
Alumni PP Nurul Yaqin Ringan-ringan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*