Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif” (Bag #2)

Pendidikan yang Ideal adalah Pendidikan yang Melahirkan Suluh Penerang bagi Sesama

Pada intinya “Kisah si Muhammad Arif” berisi nasihat-nasihat tentang bagaimana pembentukan subjek ideal di tengah masyarakat Minangkabau. Ini terlihat di bagian-bagian awal, penulis menyatakan lewat mulut Siti Budiman, nasihat-nasihat yang harus diikuti oleh anaknya, Muhammad Arif, ketika akan hidup “di kampung” dan atau “di dalam nagari.” Nasihat-nasihat ini diberikan oleh ibu. Ini menunjukkan bahwa penulis sangat menyadari karakter sosial masyarakat Minangkabau yang menganut sistem matrilineal di mana posisi perempuan/ibu sangat penting dalam pembentukan karakter seorang subjek. Sosok laki-laki dalam pembentukan karakter seorang subjek tidak diwakili oleh ayah, melainkan oleh “Mamak” (saudara laki-laki ibu), yang dalam kisah ini disuarakan oleh tokoh Dt. Rajo Adil. Ayah nyaris tidak berperan sama sekali di dalam proses pembentukan subjektivitas orang Minangkabau secara tradisional. Dalam Kisah si Muhammad Arif, penulis bahkan memilih mematikan sosok ayah Muhammad Arif (Muhammad Arifin) dan ibunya, Siti Budiman, memilih tidak menikah lagi.

Baca Juga: Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang dalam Buku Kisah si Muhammad Arif Bag-1

Proses pembentukan subjek ideal dalam kisah ini diawali dengan pendidikan informal (keluarga) dan formal (sekolah). Karena itu tulisan ini akan fokus pada pandangan Syekh Sulaiman Arrasuli. tentang pendidikan, terutama pendidikan agama.

Pandangan penulis tentang pendidikan dapat dilihat dari dialog antara Pakiah Leba Alam (ayah Siti Budiman) dengan Siti Budiman ketika si ayah meminta pendapat Siti Budiman tentang kemungkinan dia akan dinikahkan mengingat kondisi mereka yang berkekurangan. Siti Budiman mengatakan bahwa kondisi kehidupan yang miskin tidak membuat dia cemas. Yang membuat dia merasa berkekurangan adalah kurang pengetahuan dan ilmu agama. Si ayah menghargai pendapat Siti Budiman ini dengan memintanya untuk berpikir. Penulis mengatakan.

bakato Tuangku Leba Alam, anak den Siti Budiman, kok baitu kato anak, lah sanang hati mandangakan, cubolah anak pikia-pikia, pandang hampia ditukikkan, pandangan jauh dilayangkan, kato pepatah Minangkabau, kok lamak di nan ka mamakan, elok dinan ia mamakai”,

(Berkata Tuangku Leba Alam, anakku Siti Budiman, jika demikian kata engkau, senanglah hati mendengarnya, cobalah engkau pikir, pandangan hampir (jarak dekat) kepala ditekurkan, pandangan jauh kepala ditegakkan. Kata pepatah Minangkabau, enak akan dirasa yang akan memakan, bagus akan dirasa yang akan memakai).

Penulis di sini mengalirkan kisah dengan “plot twist” tidak seperti roman picisan, di mana keinginan si anak tidak selaras dengan keinginan ayah yang akan menikahkannya. Dari ketidakselarasan ini konflik dibangun untuk menggugah minat pembaca, terutama pembaca yang tergabung dalam gerbong isu gender mainstreaming. Plot yang bertentangan ala roman picisan langsung diberi jalan keluar dengan syarat yang diberikan oleh Siti Budiman tentang suami jika dia memang akan dinikahkan, yakni yang bisa menambahi kekurangan ilmu dan amalannya. Si ayah pun memahami keinginan ini dan mencarikan jodoh yang sesuai dengan kriteria itu. Jodoh itu bertemu, yakni Muhammad Arifin, seorang alim berilmu dan hanya sebagai petani.

Hubungan kedua suami istri ini diceritakan sangat bahagia di tengah keterbatasan ekonomi, namun dinaungi keberlimpahan barokah dan ilmu-pengetahuan. Ketika suaminya meninggal dan meninggalkan sepasang anak yang masih kecil-kecil, datanglah iparnya memintanya nikah lagi demi keberlangsungan masa depan anak-anaknya. Siti Budiman menjawab bahwa dia tidak bisa mengganti suaminya dengan pantun romantis.

Kok elok bana panggali #
Indak sarupo jo tambilang
Tambilang elok ulunyo #
Kok elok bana panggang
Indak sarupo jo nan hilang #
Nan hilang elok lakunyo
Tidak serupa dengan tembilang
Tembilang bagus hulunya
Kalau pun bagus benar pengganti
Tidak serupa dengan yang hilang
Yang hilang bagus lakunya [perangainya])

Dalam mendidik sepasang anaknya, Siti Budiman dibantu oleh kakaknya, Dt. Rajo Adil. Bantuan ini bukan kebetulan, tapi memang demikianlah peran seharusnya dari seorang saudara laki-laki (mamak) dalam satu keluarga Minangkabau terhadap anak-anak saudarinya. Pendidikan yang jadi pedulian mereka berdua adalah pendidikan yang memampukan sepasang anak ini (Muhammad Arif dan Siti Arifah) untuk bisa “jadi urang” (jadi orang) di dalam kampung. Dalam bahasa Minang, istilah “jadi urang” berarti subjek yang diakui keberadaannya secara positif, bukan subjek yang diakui keberadaannya namun karena dampak-dampak negatif yang lahir baik dari perangai-perbuatan-perkataan, maupun dari keberadaannya secara fisik entah itu ketidakberdayaan ekonomi maupun fisik-kesehatan. Bagaimana jadi subjek yang ideal di tengah masyarakat, menurut tokoh-tokoh kisah ini, tidak ada sekolah tempat mempelajarinya. Satusatunya jalan adalah melalui pendidikan di dalam keluarga. Siti Budiman mengatakan:

kok ilmu nan banyak nangko, ada sekolahnya masing-masing, indak kurang guru di sinan, Muhammad Arif buliah belajar Siti Arifah buliah juo, tetapi duduk dalam kampung, atau duduk banagari, tidak ada sekolahnya, hanya nan banyak tiru-tiruan, caliaklah kanak-kanak kini, di biar sajo salilonyo, kadang kandaknyo nan diturut, nan tak dimakan alur patut, lah babanak ka ampu kaki,

(Kalau ilmu yang banyak ini, ada sekolahnya masing-masing, tidak kurang guru di sana. Muhammad Arif boleh belajar, Siti Arifah boleh juga. Tetapi duduk di dalam kampung, atau duduk dalam nagari, tidak ada sekolahnya. Hanya banyak tiru-tiruan, lihatlah anak-anak sekarang, dibiarkan saja seleranya, kadang keinginannya yang dituruti, tidak masuk alur dengan patut, berotak ke ampu kaki).

Pandangan tentang pembangunan karakter positif bagi anak dalam rangka mempersiapkannya jadi anggota masyarakat bukannya menghalangi anak-anak memasuki pendidikan formal. Syekh Sulaiman Arrasuli berpendapat bahwa sekolah dasar adalah hal yang perlu untuk mendapat bekal-bekal/keterampilan-keterampilan teknis dan dasar, seperti membaca, menulis dan berhitung.

Salah satu yang menarik dari “Kisah Muhammad Arif” adalah pandangan penulis lewat suara Siti Budiman tentang pendidikan moral-etika (karakter) tidak bisa disampaikan terlalu dini, artinya pra sekolah dasar. Hal ini terungkap ketika Dt. Rajo Adil sebagai mamak dari Muhammad Arif akan mengajarinya “hal-hal berat” tentang berbagai virtue (keutamaan) sebagai manusia Minangkabau, baik sebagai makhluk individual, maupun sosial, baik hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Allah. Namun Siti Budiman meminta hal ini ditunda dulu karena anaknya masih terlalu muda untuk mengerti itu semua.

tapi maso kini nangko, kok ditunjuak di ajai, paham balum akal pun balum, tindak kalakek tu rasonyo,sabagai ujan jatuah ka kasiak,bak kampia di sinasi, masuak amuah raso tak dapek,kalau lah masuak nyo ka sikola, alah bapahamagak saketek,alah Baraka agak samiang,alah paham di kato-kato, sinan ditunjuak diajai, insyaAllah kok pai malakek, baitu pandapek hati den.

(tapi di saat ini, kalau ditunjuk diajari, paham belum, akal pun belum. Tidak akan berbekas rasanya. Bagai hujan jatuh ke pasir, bagai kampia [tas anyaman bambu] diisi nasi, masuk bisa, rasa tak dapat. Kalau telah masuk sekolah, sudah punya paham agak sedikit, sudah berakal agak sedikit, sudah paham dengan kata-kata, baru ditunjuk diajari, insyaallah bisa melekat, begitu pendapatku).

Dalam petikan di atas, kata “raso” dalam “masuak amuah, raso tak dapek” lebih berarti “pemahaman”. Artinya, kalau terlalu dini, apa yang diajarkan memang bisa dihafal atau diingat oleh anak-anak, namun pemahaman belum bisa dia dapatkan. Pemahaman ini baru bisa diperoleh seorang anak kalau dia sudah “Paham di kato-kato” (Paham dengan kata-kata). Secara sederhana hal ini berarti seorang anak sudah bisa menafsirkan berdasarkan pemahamannya tentang apa-apa yang dikatakan/diajarkan kepadanya.

Di atas sudah disinggung bahwa yang jadi kepedulian penulis lewat tokoh-tokoh terkait perjalanan hidup seorang anak adalah peran idealnya sebagai warga masyarakat (sebagai anak nagari). Selain syarat-syarat normatif yang sudah disinggung-singgung sejak awal kisah seperti penguasaan terhadap pengetahuan dasar, sopan-santun, dan ilmu agama untuk diamalkan, syarat inti yang disampaikan dalam kisah ini adalah konsistensi dan komitmen pada pilihan. Konsistensi dan komitmen ini disampaikan dengan istilah “hidup yang tidak tanggung.” Pengertian hidup yang tidak tanggung ini terlihat dalam petikan berikut:

anak kanduang sibiran tulang, tatap-tatap pandirian, kokoh katagak an, sifat rambang jan dipakai, celako mudo tu mah anak, sifat rambang anak kanduang, itu taragak itu katuju, bak pimpiang tumbuah dilereng, kama angin nan kareh, ka kiyun abah pucuaknyo, tidak mamandang alua patuk.

(Anak kandung belahan tulang, tetap-tetap pendirian, kok tempat berdiri, sifat peragu jangan dipakai, celaka muda itu namanya, sifat peragu itu wahai anak kandungku, itu ingin itu mau, bagai ilalang tumbuh di lereng, ke mana angin kencang, ke sana mengarah pucuknya, tidak mengukur alur dan patut)

Sejalan dengan nasihat tentang konsisten dan komitmen ini, ketika anaknya akan melanjutkan pendidikan setelah tamat sekolah dasar, Siti Budiman menasihatinya pula tentang 4 pilihan karier atau peran (“jabatan”) yang tersedia bagi seseorang dalam perjalanan hidup dewasanya. Keempat peran itu adalah: ulama, saudagar, amtenaar (pegawai/birokrat), dan penghulu (pemimpin). Selengkapnya terdapat dalam kutipan:

Tentang buyuang anak kanduang, pilihlah empat perkara ka jabatan untuk anak mana yang katuju, boleh dipakai, asal cukuik rukun syaratnya, pertama, menjadi orang ‘alim suluh bendang di nagari, cermin terus dalam suku, tempat bertanya oleh yang banyak. Kedua, menjadi saudagar atau orang kaya dalam nagari, tempat bertenggang bagi yang miskin (bangsaik), pauleh orang keputusan. Ketiga, menjadi ambatetar, jadi ujung jadi jaksa, jadi demang sebagainya, pagar besi di nagari, kerja menjaga keamanan. Keempat, menjadi penghulu kayu gadang di tangah koto, tampek balinduang dek rakyat, kok bajalan batungkek budi, kok duduak pinggang naraco.

(Tentang dirimu wahai buyung anak kandung, pilihlah empat perkara untuk jabatan untuk anak, mana yang disuka boleh dipakai, asal cukup rukun syaratnya, pertama, menjadi orang alim suluh bendang di nagari, cermin terus dalam suku, tempat bertanya orang banyak. Kedua, menjadi saudagar atau orang kaya dalam nagari, tempat bertenggang bagi yang miskin, penyambung orang yang kekurangan. Ketiga menjadi ambtenar, jadi ujung jadi jaksa, jadi demang sebagainya, pagar besi di nagari, kerja menjaga keamanan. Keempat, menjadi penghulu, kayu besar di tengah kota, tempat berlindung bagi rakyat, yang berjalan bertongkat budi, yang duduk berpinggang neraca).

Dari keempat jabatan atau peran yang diutarakan di atas, Muhammad Arif mengatakan dia memilih yang pertama dan yang terakhir, yakni ulama dan atau penghulu. Secara tidak langsung, Syekh Sulaiman Arrasuli mengidealkan dua peran ini meminjam suara tokoh Muhammad Arif. Pilihan jatuh pada dua peran ini karena menurut pandangan Beliau keduanya bisa terdapat pada diri satu orang. Seorang ulama bisa sekaligus jadi penghulu dan begitu sebaliknya, asalkan proses menuju kedua peran ini tepat rukun syaratnya. Peran yang diidealkan beliau ini menjelaskan mengapa di dalam anak judul buku ini terdapat ungkapan “menurut garisan adat dan syarak”. Adat dan syarak bagi masyarakat Minangkabau adalah dua hal yang tidak terpisahkan, ibarat aur (sejenis bambu) dengan tebing. Dalam bentuknya yang lebih teoretis, pandangan beliau ini dituangkan dalam buku lain berjudul Pertalian Adat dan Syarak yang Terpakai di Alam Minangkabau Luhak Nan Tigo.

Baca Juga: Membaca MMuhammad Arif Menyalami Inyiak Canduang Bag-i

Peran ulama yang ideal itu adalah sosok yang menjadi suluh bendang dalam nagari, artinya obor yang menerangi dan sosok yang menjadi cermin terus, artinya sosok yang mampu memberikan prediksi dan penjelasan. Cermin terus adalah cermin yang dalam kisah-kisah legenda dipakai untuk melihat kejadian-kejadian di masa lalu atau masa depan.

Sementara peran penghulu pendek kata adalah peran pemimpin yang ideal, yakni kayu besar di tengah kota tempat berlindung bagi orang banyak. Artinya, pemimpin adalah tempat rakyatnya bernaung dan berlindung. Kala memimpin, saat berjalan dia berpedoman (bertongkat) akal budi, ketika dia duduk memakai neraca (pertimbangan matang).

Muhammad Arif kemudian diajari pula apa yang harus dia lakukan ketika sudah masuk sekolah agama yang akan berlangsung setidaknya 7 tahun. Yang ditekankan dalam proses pendidikan agama di sekolah agama adalah tertib apa yang dipelajari dan konistensi-komitmen pada proses. Hal ini dapat diistilahkan dengan disiplin diri dalam belajar agama di sekolah agama. Hal yang harus dijauhi adalah sifat peragu, tidak yakin pada pilihan. Sebentar ingin belajar A, sebentar kemudian ingin belajar B. Hasil dari proses belajar yang tidak tertib ini adalah sosok yang tahu sedikit tentang banyak hal. Cara belajar seperti ini tidak akan melahirkan sosok penerang bagi orang lain. Dia tidak bisa jadi “suluh” bagi yang lain.

Syekh Sulaiman Arrasuli dalam “Kisah si Muhammad Arif” memberikan deskripsi yang pedas dan sarkas (cemooh) untuk orang-orang yang mengaku memiliki pengetahuan dan ilmu agama, namun pada dasarnya hanya setengah-setengah. Dengan kata lain, sosok yang tahu sedikit tentang banyak hal adalah sosok sebagian pemuka agama kontemporer yang segala tahu dan mengaku bisa merespons segala soal dan masalah. Beliau mengatakan sosok ini banyak ilmu yang dituntutnya, yakni ilmu umum, namun tak satu pun yang dikuasai secara mendalam, sementara ilmu agama juga tidak sampai. Dia berkoar-koar di warung-warung dan di tempat keramaian,  namun ketika dibawa ke penyelesaian masalah, dia mundur bahkan melakukan tindakan  memalukan. “Ketika terjadi kematian dalam kampuang, dia dipanggil untuk salat jenazah, dia malah rukuk,” tulis Syekh Sulaiman Arrasuli menggambarkan secara sarkastik.

Dalam proses menuntut ilmu agama, salah satu norma yang disampaikan Syekh Sulaiman Arrasuli melalui suara Siti Budiman adalah penghormatan terhadap guru. Pesan ini ditempatkan dalam konteks saat buku ini ditulis (awal abad 20) di mana Kaum Muda mengkritisi pengetahuan dan praktek keagamaan Kaum Tua yang salah satu tokohnya adalah Syekh Sulaiman Arrasuli. Di bagian ini beliau menyayangkan, bahkan memandang keliru sikap para murid yang dengan gegabah menyanggah pendapat gurunya dengan tuduhan bid’ah. Penghormatan terhadap guru ini diuraikan beliau demikian,

Sabagai lagi pitaruah den, ka guru handak baradab, atau ka urang tuo membari salam jolong batamu, jabat tangannyo basafahah, lalu dicium tu sakali, apo suruhannyo handak dituruik barang tagahnyo dihantikan asal jangan malawan syarak, sarahkan untuang bulek-bulek, sangkolah diri diri dibelainyo, buliahnyo jual, nyo gadaikan, atau nyo suruah apo karajo. […]

kadang-kadang den caliakkan bak ayam harago sakepeng, bak kambiang harago tangah duo, bukan main kilatiak jari, dikecek langan lah bak langan, dikecek batih lah bak batih, bukik disangko padang data, fatwa guru banyak nan salah, kaji guru bid’ah sajo, tapi kalau diselidiki, di indang ditampi tareh, dipiliah atah ciek-ciek, iyo jo kaji guru.

(Satu lagi nasihatku, kepada guru hendaknya beradab, atau ke orang tua, hendaknya memberi salam ketika bertemu, jabat tangannya dengan safahah, lalu dicium sekali. Apa yang disuruhnya hendak dilakukan, apa yang dilarangnya dihentikan, asal jangan  melawan syarak. Serahkan nasib bulat-bulat, anggaplah diri di tangannya, boleh dia jual, boleh dia gadaikan, atau dia suruh apa pun […]

kadang-kadang kuperhatikan, bagai ayam harga sekepeng, bagai kambing harga satu setengah, bukan main gerak jemari, diraba pangkal lengan, sudah terasa lengan, diraba betis sudah terasa betis, bukit dikira padang datar, fatwa guru banyak yang dianggap salah, kaji guru disangka bid’ah, tapi kalau diselidiki, diindang ditepis habis, dipilih satu-satu, ternyata yang benar adalah kaji guru).

Di bagian lain buku ini, Syekh Sulaiman Arrasuli kemudian merinci beberapa kategori ulama. Kategori-kategori ini disampaikan juga dengan metafora (ibarat). Jenis-jenis ulama tersebut adalah:

  1. Ulama matahari Kategori ini diartikan sebagai ulama yang jadi suluh penerang di negeri, peneroka dan penjelas bagi masyarakatnya. Di masa hidup tempat bertanya, ketika mati pihak yang mengawal (menalqinkan). “suluah bendang di nagari, cermin taruih dalam suku, kok hiduik bakih batanyo, kok mati tampek bakawal, itu ulama sabananyo.”
  2. Ulama sumbu lampu, yaitu ulama yang banyak berfatwa, tapi untuk orang lain, dia tidak mengamalkannya. Orang lain dapat faidah dari ilmunya, sementara dirinya habis terbakar ibarat sumbu lampu minyak. “ulama banyak bafatwa, tapi untuak urang sajo, sakali tidak diamalkan, urang banyak dapek faedah, badan sendiri nan di bakar, sabab tidak ada mengamalkan.”
  3. Ulama pamacah (pemecah), yaitu ulama yang mengeluarkan pendapat-pendapat kontroversial, sehingga menciptakan perpecahan di tengah masyarakat. “Arati ulama nan pamacah, nan banyak di maso kini, fatwanyo banyak nan ganjia, kajinyo banyak nan baru, pamacah curang sakampuang, pancarai anak jo bapak, pamutuih silaturrahmi, panghasuang malawan guru, danga nagari lah kusuik, sabab marampas karajo urang, naik mambari jadi khatib, tidak siapo nan manyuruah, sadang wak nyo balum khatibnyo, sampai manyusah pamarintah. (Arti ulama yang pemecah, yang banyak di masa kini, fatwanya banyak yang ganjil, kajinya banyak yang baru, pemecah orang sekampung, pencerai anak dengan bapak, pemutus silaturahim, penghasut melawan guru. Negeri jadi kusut, sebab dia merampas kerjaan orang, naik mimbar jadi khatib, tapi tidak ada yang menyuruh, padahal dia belum khatib, akhirnya menyusahkan pemerintah.)
  4. Ulama banyak lancah (suka jalan-jalan), Yaitu ulama yang suka jalan-jalan tapi tidak dengan tujuan yang jelas. Ulama yang “lasa badukuang tu namonyo, dari lutuik nak ka bahu, dari bahu ka kapalo” (gelisah ketika dipangku, dari lutut ingin ke bahu, dari bahu ingin ke kepala.”)
  5. Ulama bagai kancah (panci besar), yaitu ulama yang membisu seribu bahasa tidak menyuruh berbuat baik, tidak melarang perbuatan jahat, hanya diam tidak berpendapat. Ulama ini ketika rapat musyawarah hanya diam ternganga bagai mulut panci besar (kancah).
  6. Ulama ruok sabun (busa sabun), yaitu ulama yang bisa bertablig berbusa-busa walau hanya pemahaman yang dangkal dan sepotong-sepotong. Di kategori ini, Syekh Sulaiman Arrasuli memberi deskripsi agak panjang dan lagi-lagi bernada sarkas. “Arati ulama ruok sabun, ulama nan kurang kaji, tapi maruok inyo pandai, kalau tabligh di muko umum, dihafal ayat sapotong dilancar hadits sabuah, lalu diruok dihotakan, ditambah jo kecek banyak, sampai ka langik ka awan biru, lalu ka makah ka bano roma, mangeser pulo ka tanah cino, harilah sampai tangah malam, si pandanga lah banyak lalok, sabuah tidak nan dapek, hanyo dek kannyang ruok sajo, bak makan jo gulai amba, dagiang sapotong dalam pingan, rempahnyo hampia sakatidiang. (Arti ulama ruok sabun [busa sabun] adalah ulama yang kurang kaji, tapi ngomong berbusa-busa dia bisa. Kalau tablig di muka umum, dihafal ayat sepotong, dilancar hadis sebuah, lalu dibusakan dicelotehkan, ditambah dengan cerita banyak, sampai ke langit awan biru, lalu ke Mekah ke Benua Roma, menggeser pula ke tanah China, harilah sampai tengah malam, si pendengar banyak yang tidur, satu pun tidak ada yang paham, hanya kenyang dengan busa saja. ibarat makan gulai hambar, daging sepotong dalam pinggan, rempahnya hampir sebakul).
  7. Ulama nan pangauik (peraup untung), yaitu ulama yang mengeluarkan kaji atau fatwa yang menguntungkan dirinya saja, ulama yang menjual agama dengan dunia. “Bak ilmu urang mengauik, mahelo iyo, menolak tidak” (Bagai ilmu orang meraup, merangkul iya, menolak tidak).

Hikmah-hikmah

Dalam buku “Kisah si Muhammad Arif” ini setidaknya ada beberapa hal yang dapat dijadikan catatan reflektif untuk kondisi pendidikan sekarang, terutama pendidikan agama.

  1. Latar belakang kisah disampaikan dengan setting sosial-budaya masyarakat Minangkabau. Ini berarti Syekh Sulaiman Arrasuli berusaha mengontekstualkan pengetahuan dan ilmunya tentang pendidikan dari masa kanak-kanak sampai dewasa  dengan situasi riil masyarakat tempat Beliau berada. Kemasan kisah yang disampaikan dalam format sastra populer masa itu adalah bentuk konkret dari upaya kontekstualisasi ini. Pandangan-pandangan tentang pendidikan dan pembentukan karakter di dalam 10 buku ini adalah cerminan dari pandangan Beliau tentang kondisi sosiologi pendidikan di masa beliau hidup. Namun karena dikemas dalam bentuk yang populer dan bahasa penuh ibarat (metaforis) yang memang cepat ditangkap oleh masyarakat Minangkabau masa itu, kesederhanaan buku ini menjadi sangat efektif. Khalayak pembaca bisa paham tanpa merasa dinyinyiri, apalagi merasa dibentak diancam-ancam dari atas mimbar.
  2. Apa yang saat ini digaungkan oleh para pemangku kepentingan dunia pendidikan di Indonesia dengan Pendidikan Karakter sudah ditempatkan Syekh Sulaiman Arrasuli di jantung pandangannya tentang pendidikan. Bagaimana pun juga, konsep Pendidikan Karakter yang digalakkan sekarang memosisikan anak didik sebagai individu. Oleh karena itu karakternya harus dibentuk sedemikian rupa agar dia selamat dan berhasil pertama-tama sebagai individu, baru setelah itu sebagai bagian dari masyarakat. Sebaliknya konsep pendidikan dalam “Kisah Si Muhammad Arif” fokus pada peran subjek di tengah masyarakat. Pendidikan karakter individu adalah dalam rangka pemenuhan peran tersebut, bukan demi nasib subjek secara individual an sich. Karakter seperti disiplin, kreativitas,  inovatif, aktif, dan sebagainya yang ada dalam Pendidikan Karakter saat ini semuanya bertumpu pada bagaimana memastikan nasib anak didik agar selamat sebagai individu. Namun Syekh Sulaiman Arrasuli melalui suara Siti Budiman menggelisahkan “tempat duduk” (posisi, peran, kiprah) Muhammad Arif di kampung, di dalam nagari. Di titik ini kita akan menyadari bahwa kira-kira seratus tahun yang lalu, Syekh Sulaiman Arrasuli masih menangkap adanya nilai-nilai komunalisme di tengah masyarakatnya dan berharap hal itu bisa dipertahankan. Harapan ini relatif sudah babak belur akibat perkembangan kehidupan modern dan perubahan sosial ekonomi- budaya seratus tahun kemudian. Hal lain yang membedakan pandangan Syekh Sulaiman Arrasuli tentang pendidikan karakter dengan konsep yang digalakkan oleh Kemendikbud saat ini adalah tanggung jawab pendidikan karakter tidak bisa dijalankan di sekolah, yang hanya bisa membentuk karakter itu adalah keluarga!
  3. Dalam konteks pendidikan Islam, buku “Kisah si Muhammad Arif” sudah mengantisipasi banyak hal tentang apa yang saat ini jadi masalah dalam wacana keberagamaan umat, yakni kiai instan, ustad selebriti, ulama karbitan. Resep yang ditawarkan Syekh Sulaiman Arrasuli untuk hal ini ada tiga: Pertama, tertib (dalam arti bahasa Arabnya), yakni mendahulukan yang dahulu/penting/pokok, dan mengakhirkan yang kemudian/artifisial/cabang. Tertib dalam mempelajari ilmu agama beserta segenap perangkat pendukungnya. Kedua adalah komitmen dan konsistensi agar jangan penguasaan keilmuan setengah-setengah. Godaan terhadap komitmen dan konsistensi ini makin terasa bagi para santri pesantren di Minangkabau (Urang siak) saat memasuki perguruan tinggi di Indonesia, selain ke Timur Tengah. Di perguruan tinggi, konsistensi dan komitmen ini diganggu oleh rayuan untuk menguasai ilmu-ilmu modern yang diistilahkan Syekh Sulaiman Arrasuli dengan “Fak Umum”. Akibat dari ketidakkonsistenan dan tidak komit ini adalah pembelajar ilmu agama yang tidak jelas, setengah matang, jadi ulama benaran tidak, jadi ilmuwan saintis gagal. Yang seekor terbang, yang seekor lagi lepas. Ketiga adalah penghormatan terhadap guru, dan oleh karena itu pada tradisi. Syekh Sulaiman Arrasuli sangat menyayangkan sikap para pembelajar yang bercepat-cepat membantah guru, menganggapnya kolot, ketinggalan, bid’ah dan lain-lain dengan bekal pengetahuan dan ilmu yang baru dia dapat dari pelajaran yang hanya sejumput.
  4. Tujuan pendidikan agama yang ideal adalah melahirkan ulama matahari, yang jadi suluh penerang bagi masyarakatnya. Ulama matahari adalah salah satu dari 7 kategori ulama. Dari ketujuh kategori, 6 di antaranya adalah ulama abal-abal. Di konteks kekinian, justru yang merebak dan banyak tampil ke permukaan adalah salah satu dari 6 kategori ini, terutama ulama ruok sabun (ulama busa sabun). Penyebab hal ini terjadi, jika dilihat dari paparan buku “Kisah si Muhammad Arif” adalah karena tidak belajar dengan tertib, konsisten dan komitmen dan tidak menghormati guru dan tradisi.

Baca Juga: Membaca Muhammad Arif Menyalami Inyiak Canduang Bag II Habis

Buku “Kisah si Muhammad Arif” dan beberapa karya Syekh Sulaiman Arrasuli yang lain yang ditulis dalam bahasa Arab-Melayu adalah juga sekaligus karya sastra Minangkabau. Dengan makin dominannya penggunaan bahasa Indonesia, dan belakangan bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar pendidikan, maka generasi yang lebih belakangan makin tidak memiliki perangkat bahasa untuk merasakan dan menghayati pesan-pesan dan makna-makna dalam karya-karya beliau ini dan karya-karya ulama lain yang sejenis. Satu contoh sederhana adalah pemakaian ibarat dan kiasan sebagai sarana edukatif (didaktis, sindiran, bahkan cemooh sarkastik). Sistem pendidikan kekinian yang mengharuskan peserta didik menggunakan bahasa yang tanpa tedeng aling-aling supaya dianggap ilmiah –tidak boleh nyastra—justru membuat mereka kedap terhadap ajaran-ajaran yang dikemas dengan ibarat dan kiasan. Kehalusan rasa digerus oleh keinginan mencapai tingkat keilmiahan yang clear and distinct ala positivisme.

***berlanjut: Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang dalam Buku Kisah si Muhammad Arif Bag-3

Share :
Inyiak Ridwan Muzir
Inyiak Ridwan Muzir 13 Articles
Alumni Pasca Sarjana USD Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*