Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif” (Bag #3) Habis

Pedoman Hidup di Alam Minangkabau: Nasihat Siti Budiman Menurut Garisan Adat dan Syarak

Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif”

Apendiks (Disarikan dari Bab II Skripsi Hilman Febrinanda di UIN Sunankalijaga tentang konsep Virtue [kebajikan] dalam pemikiran Syeikh Sulaiman Arrasulis). Riwayat Hidup Dan Karya Syekh Sulaiman Arrasuli

Syekh Sulaiman Arrasuli adalah ulama yang berasal dari Sumatera Barat. Ia lahir pada petang Ahad malam Senin, 10 Desember 1871 M bertepatan bulan Muharram 1297 H di Surau Pakan Kamis, Nagari Canduang Koto Laweh, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat.[1] Ayahnya bernama Angku Mudo Muhammad Rasul, seorang ulama yang disegani di kampungnya dan mengajar di Surau Tangah Canduang. Ibunya bernama Siti Buliah, seorang perempuan yang taat beragama dan bersuku Caniago. Karena sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau bersifat matrilineal, maka Sulaiman bersuku Caniago. Kakeknya (ayah dari ayahnya) juga seorang ulama yang berpengaruh di kampungnya, yaitu Tuanku Nan Pahit. Sulaiman Arrasuli lahir dari keluarga yang taat beragama dan dekat dengan dunia pendidikan Islam.[2] Orang tuanya sangat ingin anaknya menjadi Ulama.[3] Ia pun disekolahkan ke Payakumbuh untuk belajar Qur’an dan ilmu agama lainnya. Di antara gurunya adalah;

  1. Syekh Muhammad Arsyad (1899–1924 M), anak dari Syekh Abdurrahman al- Khalidi, di Batu Hampar, Payakumbuh Kabupaten 50 Kota.
  2. Seorang keluarga Tuanku Laras Canduang bergelar Intan Nagari, yang juga sedang belajar di perguruan yang sama pada tahun 1307 H. Kepadanya ia belajar menulis dan membaca huruf latin.
  3. Syekh Abdussamad Tuanku Samiak Ilmiyah, suraunya di Biaro IV Angkat Agam, tidak jauh dari Canduang, sejak bulan Syafar tahun 1309 H. Di sini ia belajar Nahwu Sharaf. Guru tuo-nya di sini adalah Tuanku Kadi Salo.
  4. Syekh Mohammad Ali Tuanku Kolok—kakek pihak ibu dari Mahmud Yunus—seorang ulama yang ahli di bidang fikih dan ilmu fara‘idh di Tanjung Sungayang Kab. Tanah Datar. Ia belajar ke sini tahun 1310 H karena Tuanku Samiak naik haji, dan hanya setahun karena Tuanku Kolok meninggal dunia.
  5. Syekh Abdussalam, di Lokok Banuhampu, dekat Canduang, tapi tidak lama.
  6. Syekh Muhammad Salim al-Khalidi di Sungai Dareh Situjuh Payakumbuh. Namun tak lama, Syekh Abdussamad Tuanku Samiak kembali dari Mekah, maka Syekh Sulaiman kembali ke Biaro melanjutkan pelajarannya.
  7. Syekh Abdullah di Halaban, sejak bulan Zulkaidah 1315 H/1890 M hingga 1896 M, atas permintaan ayah dan gurunya Tuanku Samiak. Syekh Abdullah ini pernah belajar di Mekah dan mendalami ilmu-ilmu tafaqquh fi al-din, seperti Fikih, Tafsir, Tasawuf, dan sebagainya.[4]

Selanjutnya Syekh Sulaiman Arrasuli berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam ke lima dan menambah ilmu pengetahuan. Di Mekah, Syekh Sulaiman belajar kepada ulama-ulama kenamaan, yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mukhtar ‘Atharid as-Shufi, Sayyid Ahmad Syatha  al-Makki, Syekh Usman as-Sarawaki dan Syekh Muhammad Sa’id Ba Bashil Mufti Syafi’i. Adapun keilmuan yang ia pelajari di Mekah mencakup ilmu ‘Arabiyah (ilmu alat), Fiqih, Tafsir, Hadist, Tasawuf dan lainnya. Keilmuannya kemudian dilengkapi dengan tasawuf setelah kembalinya ke Minangkabau, yaitu dengan mengamalkan tarekat Naqsyabandiyah yang diterimanya dari al-Marhum Syekh Arsyad Batuhampar Payakumbuh.[5]

Pada tahun 1907 ia pulang ke tanah kelahirannya, dan kemudian melakukan langkah perjuangan. Mula-mula ia melanjutkan Halaqah di kampung halamannya. Halaqah ini berkembang pesat dengan didatangi oleh murid-murid yang ramai dari berbagai penjuru negeri. Pada tahun 1928, Halaqah ini kemudian ia ubah menjadi Madrasah dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Perobahan ini diikuti oleh halaqah-halaqah surau lainnya di Minangkabau. Selanjutnya ia memfasilitasi pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Candung pada tahun 1930. Pertemuan ini menelorkan kesepakatan untuk mendirikan PTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), cikal bakal Perti. Organisasi ini mencapai puncak kejayaannya hingga dasawarsa ke 7 abad XX. [6]

Syekh Sulaiman Arrasuli termasuk dari kalangan ulama kaum tua, atau sebagian menyebut kelompok ini sebagai kelompok tradisional. Kelompok ini memiliki paham keagamaan yang berpegang teguh pada i‘tiqad Ahl al-Sunnah Kwa al-Jama‘ah yang mengacu pada ajaran-ajaran Imam Abu Hasan al-Asy‘ari, pendiri golongan Asy‘ariyah dan Imam Abu Mansur al-Maturidiyah; secara syariat dan ibadah berpegang teguh pada mazhab Imam Syafi‘i. Meskipun tidak semuanya menganut dan mengamalkan ajaran tarekat, namun pada prinsipnya mereka mengakui kebenaran tarekat yang dipandang mu‘tabarah, dan oleh karena itu mereka merasa terpanggil untuk mempertahankannya.[7]

Syekh Sulaiman Arrasuli meninggal pada hari Sabtu, tanggal 28 Rabi‘ul Akhir 1390 H/1 Agustus 1970, Syekh Sulaiman Arrasuli wafat dalam usia 99 tahun. Tidak kurang dari enam ribu pelayat yang mengantarkan jenazahnya ke pemakaman  di halaman madrasah induk yang asli dari Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang.

Layaknya seorang tokoh dan pemikir, pahamnya tidak hanya dikenal dari cerita ke cerita. Syekh Sulaiman Arrasuli telah menulis beberapa karya selama hidupnya, yaitu:[8]

  1. Pedoman Hidup di Alam Minangkabau (Nasihat Siti Boediman) Menoeroet Garisan Adat dan Sjara’.
  2. Jawahir al-Kalamiyah fi al-i’tiqad ahl al-Sunnah.
  3. Risalah al-Qaul al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an.
  4. Enam Risalah (Isra’ Mi’raj, Nabi SAW, Cerita Mu’adz r.a. dan wafatnya Nabi SAW, serta al-Qaul al-Kasyf fi al-Rad ‘Ala min I’tiradh ‘Ala Akabir al-Mu’allaf, Ibthal Hazhzhi Ahl al-‘Ashibah fi Tahrim Qira’at al-Qur’an bi al-‘Ajmiyah dan Izalat al-Dhalal fi Tahrim al-Idza’ wa al-Su’al).
  5. Tabligh al-Amanat.
  6. Pertalian Adat dan Syarak yang Terpakai di Alam Minangkabau Lareh nan Duo Luhak nan Tigo.
  7. Tsamarat al-Ihsan fi Waladat Sayyid al-Insan.
  8. Al-Aqwalu al-Mardhiyah,
  9. Kitab Pedoman Puasa.
  10. Asal Pangkat Penghulu dan Pendiriannya.
  11. Dawa‘ al-Qulub.
  12. Aqwalu Washithah fi Zikri wa al-Rabithah.
  13. Aqwal al-Aliyah fi Thariqah al-Naqsyabandiyah.
  14. Al-Qaul al-Bayan fi Fadhilah al-Lailah al-Sya‘ban.
  15. Pedoman Islam Tiang Keimanan.
  16. Tanbih al-Ghafilin fi Wafat Sayyid al-Mursalin.
  17. Pedoman Penghulu Menyatakan Keringkasan Adat dan Undang-undang yang terpakai di Alam Minangkabau, dan
  18. Sabil al-Salamah fi Wardi Sayyid al-Ummah.

Beberapa artikel di antaranya berjudul, Keadaan Minangkabau Dahulu danSekarang. Nasihat Maulana Sjeich Soeleiman Ar Rasoeli. Mari Bersatu denganAdat dan Syarak.


[1] Nagari tersebut terletak + 8 km sebelah timur kota Bukittinggi, di kaki gunung Merapi.

[2] Muhammad Rusli Kapau, Khulasah Tarikh al-Maulana al-Syekh Sulaiman Al-Rasuli, ditulis dalam rangka peringatan 30 tahun mengajar Syekh Sulaiman Arrasuli, tepatnya pada tanggal 1 September 1938. Tulisan ini dilampirkan pada buku Pertalian Adat dan Syarak karya Syekh Sulaiman Arrasuli, bahkan buku ini juga dialih tuliskan oleh Hamdan Izmy dari Arab Melayu menjadi Latin, (Jakarta: Ciputat Pres, 2003), hlm. 48. Lihat juga Adeng F. Hanafi (ed.), Perjuangan PERTI dan Pribadi K.H. Rusli Abdul Wahid, (Jakarta: DPP PERTI, 1992), hlm. 153.

[3] Ketika itu sudah ada Volkschool hanya disedikan untuk anak para pembesar. Diceritakan oleh Anak, Bahruddin Rusli, ketika usia Syekh Sulaiman Arrasuli pantas masuk Sekolah Volkshool, orang tuanya tidak berkenan memasukkan, sebab terbayang-banyak diotaknya bahwa sekolah itu hanya mendidiknya untuk jadi pegawai pemerintah. Sedangkan ia menginginkan anaknya menjadi Kiyai seperti dirinya. Maka dikirimlah anaknya itu belahar ke Batu Hampar. Lihat Bahrudin Rusli, Ayah Kita, (t.p.1978), hlm. 5.

[4] Demikian adalah ulama-ulama terkenal di Sumatera Barat ketika itu dan disegani karena kedalaman ilmunya. Lihat Muhammad Qosim, Gagasan Syekh Sulaiman Arrasuli Tentang Pendidikan Islam Dan Penerapannya Pada Madrasah Tarbiyah Islamiyah Di Sumatera Barat, (Disertasi), IAIN Imam Bonjol Padang, 2013, hlm. 98-99.

[5] https://tarbiyahislamiyah.id/sulaiman-ar-rasuli-ulama-pujangga-nan-ahli-adat/

[6] Terkait peran Syekh Sulaiman Arrasuli dan ulama Sumatera Barat lainnya dalam sejarah pembentukan organisasi ini lihat Nelmawarni, Persatuan Tarbiyah Islamiyah: Dari Organisasi Sosial Keagamaan ke Partai Politik, (Padang: IAIN Press, 2013).

[7] Ibid., hlm. 127-128.

[8] Karya-karya ini ditulis dengan beragam tema dan persoalan, khususnya persoalan agama dan adat. Demikian menunjukkan luasnya pemahaman Syekh Sulaiman Arrasuli. Sebagian buku ditulis dengan bahasa Jawi dan arab-melayu. Namun tidak semua karya ditemukan. Beberapa karya sudah dinyatakan hilang. Lihat Muhammad Rusli Kapau, Khulasah Tarikh al-Maulana al-Syekh Sulaiman Al-Rasuli, dalam Syekh Sulaiman al-Rasuli, Pertalian Adat dan Syarak yang Terpakai di Alam Minangkabau Lareh Nan Duo Luhan Nan Tigo, (Bukittinggi, t.p., 1927), hlm. 78.


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Sosiologi Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) dalam Buku “Kisah si Muhammad Arif” (Bag #3) Habis

Inyiak Ridwan Muzir
Inyiak Ridwan Muzir 18 Articles
Anak siak Tarbiyah Islamiyah, anggota Surau Tuo Institute Yogyakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*