Suara yang Hilang dari Persatuan Tarbiyah

Suara yang Hilang dari Persatuan Tarbiyah

Suara Persatuan Tarbiyah Suara Persatuan Tarbiyah Suara Persatuan Tarbiyah

Sebelumnya Baca: Persatuan Tarbiyah; Krisis Ulama dan Keyakinan

Indikator keenam, kata Michael S. Northcott untuk mengukur bahwa suatu paham keagamaan/organisasi sedang mengalami kemunduran adalah mundurnya otoritas tradisional keagamaan/organisasi yang didukung oleh nilai moral. Dalam kasus Persatuan Tarbiyah, otoritas tradisional itu antara lain para ulama, buya, madrasah dan surau.

Kondisi para ulama, buya, madrasah dan surau, hari ini sangat menyedihkan. Banyak para ulama, buya yang terseok-seok mempertahankan akidah dan keyakinan Persatuan Tarbiyah. Tak sedikit pula, para ulama dan buya itu, yang tertatih-tatih mengelola madrasah dan surau untuk melahirkan para penerusnya.

Situasi semacam ini sangat dilematis. Di satu sisi ingin mempertahankan identitas dan keyakinan, di sisi lain, dunia terus bergerak maju dengan segala perangkatnya.

Kenapa otoritas tradisional ditinggalkan oleh jamaah? Dan kenapa madrasah dan surau tidak menjadi pilihan umat untuk belajar agama? Penyebabnya antara lain;

Pertama, gamang dengan perkembangan dunia yang cepat. Kegamangan ini tidak lain sebagai akibat dari keyakinan yang terlalu kaku.

Dalam hal berdakwah misalnya, prinsip yang dipakai adalah ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Sikap dakwah yang diwarisi dan dipertahankan adalah menunggu jamaah yang ingin mengaji/belajar agama. Jadi, kalau tidak didatangi, tak ada upaya untuk meluruskan pemahaman masyarakat.

Sementara dunia saat ini, segala sesuatu harus jemput bola. Itulah sebabnya, dakwah semisal jamaah tablig lebih berhasil karena mereka aktif mengajak jamaah. Tidak hanya menunggu.

Demikian pula halnya dengan masalah ijtihad keagamaan yang terkait dengan masalah baru. Sekali lagi, prinsip yang dipakai adalah menunggu. Kita tidak melihat ada upaya dari pemuka Persatuan Tarbiyah untuk memberi penjelasan tentang hal-hal yang bersifat baru. Misalnya tentang jual beli pulsa, jual beli online, BPJS dll.

Kedua, lambat mengambil keputusan. Bila pepatah Minang menyebut pentingnya “maminteh sabalum hanyut”, dan “membilai sabalum rubuah”. Otoritas tradisional Persatuan Tarbiyah, melakukan sebaliknya. Memintas yang telah hanyut. dan membilai yang telah rubuh.

Tak ada antisipasi terhadap kemungkinan yang akan terjadi. Misalnya, dulu banyak madrasah yang menolak untuk membuat gerbang/plang sekolah, dengan alasan, sekolah tak ‘dijual’. Tak perlu promosi. Kalau ada mereka akan belajar agama, ia akan datang sendiri.

Setelah didesak oleh Kemenag, maka demi akreditasi, pada akhirnya plang ditambatkan juga.

Hal yang sama juga terjadi, ketika 2007/2008 saya mengusulkan ke beberapa buya yang mengajar lintas madrasah, supaya dibuatkan buku tentang masalah yang sering menjadi perdebatan. Tetapi dalilnya lebih kaya dari buku yang dibuat oleh Buya Sirajuddin Abbas. Waktu itu saya, baru kelas 7.  Usulan itu tidak ditanggapi serius, tapi kemudian, tiga tahun belakangan, beliau-beliau itu mengeluhkan pentingnya membekali alumni madrasah dengan dalil. hehe. Telat.

Pun dengan kajian, yang pada 2013 pernah diusulkan pula supaya kajian buya di setiap madrasah buya direkam lalu disebarkan di media sosial. Waktu itu, usulan ini dianggap sebagai hal aneh.

Sekali lagi, telat. Hari ini, mulai lagi mengeluh dan bingung melihat banyaknya kajian yang menyalahkan keyakinan jamaah Persatuan Tarbiyah.

Lambat mengambil keputusan, ini tidak hanya terjadi pada otoritas tradisional, seperti madrasah, tapi juga otoritas modern, seperti pengurus besar. Apa buktinya, satu tahun islah, kita belum punya website/media online. hehe. Semoga cepat menyusul. Website/media yang sudah ada, dan dibangun oleh intelektual Persatuan Tarbiyah justru layu sebelum berkembang. Entah apa pula masalahnya. Saya tidak tahu pasti. Semoga tidak mati muda. hehe. (red. waktu tulisan ini dibuat, website yang bernama tarbijahislamijah.com – kemudian berganti nama jadi tarbiyahislamiyah.id, sedang vakum).

Semoga ini menjadi perhatian kita semua. Kita berharap adanya kajian online ulama Persatuan Tarbiyah yang terstruktur dan konsisten selain yang telah dilakukan oleh Buya Mustafa Umar, Buya Abdul Somad. Buya Alfitri dengan tulisan, Buya Ashfi, Ustad Yunal dan lainnya, perlu diperbanyak. Kajian Buya Zamzami, sudah pernah sekali siar, tapi kini terhenti. Kita belum tahu penyebabnya. Semoga Buya Zamzami sehat dan tim kembali menyiarkan kajian beliau.

Baca Juga: Mayoritas Adalah Jamaah Persatuan Tarbiyah, Tunggu Dulu!

Intinya, jangan sampai Buya Mustafa Umar, Abdul Somad, Alfitri dll itu, kita biarkan berjuang sendiri. Kita tunggu pula orang-orang yang bermurah hari untuk membangun website Persatuan Tarbiyah, membantu promosi madrasah, membuat percetakan kitab murah dan lain-lain sebagainya.

Bukan saatnya lagi memikirkan diri sendiri, kelompok sendiri, saatnya memikirkan Persatuan Tarbiyah dan umat. Para buya, madrasah dan surau, perlu diberi pengertian dalam menghadapi perkembangan zaman.[] Semoga!!

Wallahu a’lam,
Ciputat, 18/10/2017

Muhammad Yusuf el-Badri
Muhammad Yusuf el-Badri 16 Articles
Alumni MTI Pasia, IV Angkek, Kab Agam dan Alumni Bahasa dan Sastra Arab IAIN Imam Bonjol Padang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*