Surat Cinta untuk Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Surat Cinta untuk Persatuan Tarbiyah Islamiyah===
Ilustrasi/Dok.Istimewa

Surat Cinta untuk Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Hari ini, 5 Mei 2020 menandakan telah genap umur 92 tahunmu. Hari ini pula, telah saya lihat puluhan hingga ratusan, atau mungkin bahkan jutaan dinding media sosial dipenuhi oleh nama dan lambang kebesaranmu.

Jutaan ketikan jari dan ucapan selamat atas hari kelahiranmu itu telah melupakan kejamnya virus korona yang sedang menyebar di negeri ini. Ya, saya memahami hal itu, terjadi karena besarnya cinta mereka padamu tanpa perlu terpecah dan terbagi.

Jujur, saya telah mencintaimu dengan sepenuhnya. Seandainya engkau bertanya perihal ketulusan cinta dan pembuktiannya tentu menuliskannya tak semudah yang engkau kira. Tapi paling tidak, di setiap selesai salat, saya kirimkan zikir dan al-fatihah untuk seluruh tokoh pendiri dan ulamamu dengan harap berkah. Semoga.

Surat Terbuka Kongres- PB- IPTI dan-PB Persatuantarbiyah Islamiyah

Saya memang belum bisa berbuat apa-apa dalam melanjutkan “perjoeangan” mu. Tapi apakah saya tidak berhak berbangga atas nama kebesaranmu? Ya tentu saja “kebesaran” di zaman itu.

Masih terekam kuat di kepala dan hati sanubari saya, saat saya dan kawan-kawan seperjuangan berada dalam masa kebuntuan dan keputusasaan. Lalu tiba-tiba, engkau datang dalam mimpi saya membawa puluhan “ulama” mu yang terlihat berjalan berombongan dengan satu bendera kebesaran di genggaman tangan.

Mereka berjalan gagah berwibawa dengan mengenakan jas dan jubah kebesaran serta serban dan sarung tanpa ketinggalan. Dalam mimpi saya yang masih dalam keadaan suci dengan wudhu’ itu, saya melihat dan meyakini dengan seyakin-yakinnya (haqqul yaqin) bahwa Syekh Sulaiman Arrasuli (Inyiak Canduang) lah yang menjadi ketua rombongan.  Mereka berjalan di hadapan saya sambil sedikit melirik saya kecuali Syekh Sulaiman yang terus berjalan tanpa menggelengkan kepala dan badan.

Ketahuilah, bukan cerita tentang “saya yang bertemu dengan ulama PERTI” dalam mimpi itu yang ingin saya utarakan. Akan tetapi semacan pesan yang mereka bawa untuk disampaikan. Entah untuk siapa dan harus bagaimana selanjutnya. Saya juga bingung sebingung-bingungnya.

Saya bersyukur, tak lama setelah mimpi tentangmu dan ulama mu itu berakhir, berdirilah sebuah wadah organisasi kaum muda di level mahasiswa yang bernama Ikatan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah (IMTI). Saya tak tahu apakah ini semacam salah satu pesan dalam mimpi itu ataukah bukan? Entahlah, yang terpenting bagi saya ada berbagai cara untuk merealisasikan makna dari “Teroeskan Perjoeangan” itu.

Dan saya juga bersyukur setelah sekian lama akhirnya makna dari mimpi itu terjawab melalui jawaban dari seorang guru. Guru yang saya percayai keilmuan dan ke “ma’rifat” an serta kesufiannya. Alhamdulillah sesuai dengan yang saya harapkan. Mudah-mudahan, insyaallah.

Oh ya, kembali kepada “surat cinta saya” tadi.

Duhai, Persatuan Tarbiyah Islamiyah!

5 Mei 1928 para ulama atau buya-buya dari berbagai penjuru berkumpul di suatu tempat guna membicarakan pertahanan dan penyebaran kaji “Ahlussunnah wal Jamaah” di bumi Minangkabau.

Mereka bersatu dalam ikatan persaudaraan yang begitu kuat tanpa memandang asal muasal dan golongan sebagai upaya penyelesaian konflik keagamaan di tengah masyarakat yang kian merisau dan dan upaya memberi respons terhadap kolonialisme.

Mereka rela mengorbankan pikiran dan tenaga asal agama dan adat budayanya terus lestari. Silau-menyilau, sapa-menyapa, kunjung-mengunjungi antar madrasah (baca: pesantren) dan keluarga adalah bagian dari tradisi yang terus membumi.


Ratusan madrasah dan kitab-kitab karya tokoh dan ulamanya telah menghiasi kekayaan pendidikan, dakwah dan sosial di masa dulu hingga sekarang ini. Apatah lagi berberapa tokoh telah terlibat dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Lalu, hari ini, di ulang tahunmu yang ke 92 tahun, masih pantaskah engkau menangis dan meratapi konflik masa lalu yang telah mengobrak-abrik kisah-kasih yang sudah engkau bangun puluhan tahun lamanya? Haruskah engkau terus diam dan bersikap apatis terhadap mereka yang berkhianat kepada janji puluhan tahun lamanya?

Semua jawaban saya serahkan kepadamu seutuhnya. Pun, masing-masing kita punya zaman dan tantangan yang berbeda-beda. Tugas kita hanyalah berusaha dengan penuh keyakinan dan ketulusan, tentunya dengan tetap menghargai proses perjuangan. Bagaimana hasil akhirnya? Wallahu a’lam biar Yang Maha Kuasa menentukan.

Baca Juga: Anima Spirit dan Politik Khittah

Ah, lagi-lagi tulisan saya berantakan dan bahasa cinta saya belum romantis seperti yang engkau harapkan.

Terkahir, salam cinta saya untukmu, duhai Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Kembalilah ke madrasah-madrasahmu, ke “khittah” perjuanganmu. Semoga panjang umur, sehat selalu serta berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Aamiin.

Karena tulisan ini dimulai dengan menghadiahkan pahala kepada seluruh ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah, maka sebaiknya juga diakhiri dengan hal yang sama. ‘Ala Haazihin Niyyah wa ‘ala kulli niyyatin shaalihah, Lahum Al-Faaaatihah….[]


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima sumbangan tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Surat Cinta untuk Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Share :
Muhammad Hidayatullah
Muhammad Hidayatullah 1 Article
Anak Siak Persatuan Tarbiyah Islamiyah

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*