Surau Datuak Kapuak

Surau Datuak Kapuak
Surau Datuak Kapuak/Dok. Penulis

Surau Datuak Kapuak

Adalah hal yang menyenangkan bagi saya tinggal di kampung, jauh dari keramaian, ialah melihat hal-hal unik, berkunjung ke daerah yang menyimpan sejarah, dan bergaul dengan orang-orang yang sederhana namun kuat beribadah. Itu semua sebagai pelacuik hati, supaya himmah terhadap agama dan menuntut ilmu mengakar tunggang, tidak dilunturkan oleh perubahan masa.

Setahun yang lalu, saya ditemani oleh seorang pak tua datang menziarahi makam Datuak Kapuak, jauh di pedalaman. Saya mendengar cerita dari orang-orang sekitar bahwa Datuak Kapuak ini ialah tokoh ulama terkemuka di daerah itu. Ia segani, bahkan namanya pun masih kerap diperbincangkan meski ia sudah wafat lebih seratus tahun yang lalu.

Apa yang diperbincangkan? Banyak hal. Tapi yang menjadi buah bibir adalah kisah-kisah khariq lil ‘adah sang datuk. Pada pintu makam terdapat inskripsi yang menginformasikan tahun wafatnya sang datuk, yaitu 1906. Di sana saya berdiam sejenak, sekadar membaca al-Fatihah dan al-Ikhlas.

Baca Juga: Surau Subarang

Baca Juga: Surau Batu Bulan, Syekh Isma’il al-Khalidi dan Naskah Kuno

Hal yang cukup unik ialah Surau Datuak Kapuak tersebut. Surau tersebut masih asli, kecuali bagian atap yang telah dipugar. Surau yang berdiri di Goduang Simpang Kapuak ini semua bangunan ialah kayu. Tidak ada paku, yang ada ialah pasak kayu, namun bangunannya masih kokoh meski sudah sangat tua. Bagian yang mencengangkan dari  bagunan ini ialah surau dibuat dari satu pohon saja, bukan dari beberapa pohon. Satu pohon itu dipotong sedemikian rupa menjadi beberapa helai papan dan tonggak. Bisa dibayangkan betapa besar pokok kayu yang menjadi surau ini.

Mengenang-ngenang ini, saya berpikir, bagaimanakah teknologi orang dulu; bagaimana pula keteguhan hati mengikis pokok kayu buat menjadi surau tempat mereka siang dan malam melantunkan zikir kepada Allah. Hati hanya bisa bergumam.

Padang Mangateh, 31 Oktober 2017

Apria Putra
Apria Putra 89 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*