Surau Gadang Padangjopang

Surau Gadang Padangjopang
Surau Gadang Padangjopang Foto Dok. Penulis

MAsjid latar kami berfoto ialah Masjid Raya Padangjopang, yang menurut sejarahnya, dulu merupakan Surau Gadang Padangjopang yang pernah menjadi pusat keilmuan Islam abad 19 di Minangkabau. Ulama terkemuka yang mengajar di Surau Gadang ialah Syekh Abdullah Padangjopang, atau yang dikenal dengan “Baliau Surau Gadang” atau “Baliau Puncak Pakuang”.

Banyak murid-murid beliau yang ‘alim, diantaranya anak beliau sendiri yaitu Syekh Mustafa Abdullah dan Syekh Abbas Abdullah (tokoh Thawalib di masanya), serta Syekh Jalaluddin “Angku Karuang” Sicincin Payakumbuh (tokoh PERTI).

Meski zaman bertukar, musim berganti, eksistensi Surau Gadang kemudian digantikan oleh Thawalib Padangjopang yang didirikan oleh Syekh Abbas Abdullah, yang kemudian berganti nama menjadi Darul Funun el-Abbasiyah. Di samping itu juga berdiri Nahdhatun Nisa’iyah, sekolah agama khusus perempuan, yang sekarang berupa panti asuhan.

***

Daerah Padangjopang, sejak dahulu menjadi sentral pendidikan Islam. Beberapa madrasah/ pesantren yang patut kita sebut (1) Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobekgodang, (2) Darul Ittihad, (3) Darul Funun el-Abbasiyah, dan (4) Nahdatun Nisa’iyah. Sampai sekarang Padangjopang masih menjadi konsentrasi pendidikan Islam di daerah Mudiak, dan diantaranya yang tetap eksis ialah lembaga-lembaga pendidikan Islam bersejarah tersebut.

Baca Juga: Air Wajah Ahli Naqsyabandi di Pedalaman Minangkabau

Baca Juga: PERGURUAN THAWALIB PADANGJANG

***

Sebelum pandemi, dua kali seminggu saya membacakan Matan Bina wal Asas dan Kaelani di Mesjid ini, kepada beberapa santri. Sejak pandemi, belum dimulai lagi. Beberapa hari ini saya diminta memberikan pelatihan kiat-kiat menulis. Dan tadi ada sesi foto bersama peserta pelatihan. Berfotolah kami di lokasi bersejarah ini. Minus laki-laki.

Oy, saya perlu juga sampaikan, bahwa saya tidak mempunyai pemahaman “mutasyaddid” kepada perempuan. Saya tidak sungkan bila diajak berfoto, atau bersalaman. Menyenangkan hati orang sekeliling, lebih saya utamakan, dari pada kesan kaku dan atau istilah “mutasyaddid”. Saya lihat guru-guru saya, ialah sosok yang menyenangkan bagi siapa pun, saya ingin pula meniru. Dan hal ini pemahaman saya, personal, dan sangat subjektif tentunya.[]

Pd. Jopang/ 3 April 2021

Apria Putra
About Apria Putra 128 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*