Surau, Lapau, dan Rantau

Surau, Lapau, dan Rantau
Ilustrasi/Dok. Muhammad Alzaki Tristi https://nationalgeographic.grid.id/read/131776447/rumah-rumah-gadang-nan-meradang?page=all

Sejarah masa lampau sering diulang-ulang oleh generasi tua kepada generasi muda untuk memberi semangat pada penerusnya. Generasi tua mengingatkan generasi muda bahwa Minangkabau pernah menghasilkan generasi emas yang ditandai dengan munculnya Tan Malaka, Agus Salim, Muhammad Hatta, Sutan Syahrir dan sederet tokoh lainnya.

Romantika ini tidak hanya sekedar mengulang kejayaan tokoh masa lalu itu tapi juga mencoba mengenalkan kembali faktor-faktor penunjang kehebatan mereka. Lalu muncullah keinginan untuk kembali ke Nagari dan kembali ke Surau. Sebagai bentuk keyakinan bahwa kehebatan tokoh masa lalu itu disebabkan oleh aktivitas di surau sebagai tempat belajar ilmu agama, adanya Lapau sebagai tempat berinteraksi secara sosial serta peran rantau yang membesarkan tokoh-tokoh tersebut

Tulisan ini ingin membahas apakah benar sebegitu tingginya peran Surau dan Lapau dalam menjadikan tokoh Minangkabau masa lalu itu?

Baca Juga: “Ameh Alah Manjadi Loyang”: Potret Pendidikan di Ranah Minang Sebuah Identifikasi

Surau dan Lapau

Kita tidak akan membahas kurikulum Surau serta topik Lapau dalam tulisan ini karena selain memang tidak ada kurikulum Surau yang tersisa saat ini juga karena kita ingin lebih melihat secara obyektif latar belakang tokoh-tokoh yang disebut diatas.

Sejauh mana tokoh terkenal masa lalu itu mendalami pendidikan surau dan bersosialisasi di lapau? Tan Malaka berasal dari keluarga berada di Pandam Gadang Sumatera Barat. Keluarga mereka memiliki surau tak jauh dari rumah gadang kaumnya. Tentu surau mempengaruhi hidupnya namun umur 11 tahun Tan disekolahkan keluarganya ke Sekolah Raja (kweekschool) di Bukittinggi. Sekitar umur 16 tahun selepas belajar di sekolah raja Tan melanjutkan sekolah ke Rijkskweekschool di Belanda. Sejak itu Tan telah meninggalkan tanah airnya dan berkelana di berbagai belahan dunia. Praktis, kehidupan surau Tan –kalau kita perkirakan akil baligh itu umur 7 tahun—maka Tan hanya belajar di surau selama 4 tahun. Tentu masa sesingkat itu tidak banyak yang bisa dipelajari di sana.

Sutan Syahrir lahir di Padang Panjang dan hanya setahun berada di Minangkabau. Ayahnya yang seorang Jaksa membawa keluarga mereka pindah ke Jambi selama 4 tahun lalu pindah lagi ke Medan. Praktis Sutan Syahrir boleh dikatakan tidak mengalami sama sekali budaya surau dan lapau di tanah kelahirannya.

Agus Salim juga merupakan generasi emas yang beruntung mendapatkan kesempatan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Dalam sejarah hidupnya kita juga tidak mendapatkan cerita apakah beliau sempat menikmati budaya surau dan lapau atau tidak. Namun dari latar belakang pendidikan beliau sama dengan tokoh lainnya lebih banyak pendidikan belanda yang menentukan jalan hidupnya.

Yang mungkin lebih panjang masa belajarnya di ranah adalah Mohammad Hatta. Hatta terlahir di keluarga Siak dimana kakeknya adalah Syaikh Abdurahman yang memiliki Surau tempat belajar agama di Batu Hampar Kabupaten 50 Kota. Sebagai anak ulama terpandang tentu saja dari kecil Hatta telah diajarkan berbagai ilmu Agama. Namun, sama dengan tokoh lainnya, Hatta telah mengenyam pendidikan Belanda sejak umur 11 tahun di Europese Lagere School (ELS), lanjut ke MULO dan Prins Hendrik Handels di Jakarta pada tahun 1919 lalu pada 1921 Hatta melanjutkan sekolah di negeri Belanda.

Sejarah hidup empat tokoh besar ini sudah cukup untuk menggambarkan kepada kita latar belakang kehidupan dan pendidikan mereka. Kalau boleh disimpulkan mereka semua berasal dari keluarga berada dan terhormat sehingga dapat menikmati pendidikan modern berupa sekolah yang didirikan Belanda sebagai bagian dari politik etis itu. Selain Hatta, kita tidak menemukan referensi yang valid mengenai peran surau apalagi lapau dalam membentuk dasar karakter dan keilmuan mereka. Meskipun pahit, kita terpaksa mengakui sistem pendidikan Belanda telah berhasil menjadikan mereka benar-benar orang Minangkabau yang berbeda.

Baca Juga: Teater Mungkinkah Bergaya Lapau

Kembali ke Surau kembali ke Lapau

Dengan menyimak kisah hidup diatas setidaknya kita bisa menelaah seberapa besar kebutuhan Minangkabau untuk mewujudkan wacana kembali ke surau dan kembali ke lapau. Penulis dengan berani mengatakan kembali ke surau hanya sebagai pengalih atas kalahnya kita berkompetisi di tingkat nasional.

Kembali ke Surau saat ini sudah tidak relevan lagi karena sistem pendidikan telah jauh berubah. Ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian rupa sehingga kurikulum pendidikan pun membutuhkan pola pengajaran yang jauh lebih kompleks dan mengadopsi nilai-nilai kekinian.

Penulis tidak menafikan bila Surau menjadi wadah bagi tumbuhnya nilai-nilai agama dalam setiap tindak tanduk tokoh tersebut. Tan Malaka misalnya meskipun memiliki ideologi komunis namun ia tetap menyatakan bahwa di hadapan Tuhan ia adalah Islam. Tentu ini merupakan hasil pendidikan masa kecil dari keluarga yang islami. Namun pendidikan agama saat ini telah begitu mudah didapatkan di sekolah-sekolah umum. Pesantren dan boarding school yang bertebaran di Indonesia saat ini telah memiliki kurikulum yang jauh lebih lengkap bila dibanding surau konvensional di Minangkabau era dulu. Pesantren atau boarding school itu mengajarkan semua pengetahuan umum, Agama, Bahasa, teknologi dan beladiri yang jauh lebih variatif dibandingkan dengan gambaran pendidikan surau zaman dulu.

Demikian banyak lembaga pendidikan yang menawarkan pola pendidikan yang lebih lengkap daripada surau seperti gambaran masa lalu itu. Karena itu penulis menganggap jargon kembali ke surau tak lebih dari menangisi kegemilangan masa silam. Kalau mau kembali meningkatkan kualitas pendidikan agama dan pendidikan umum di Minangkabau tak ada pilihan lain harus mengikuti kebutuhan zaman yakni mendirikan perguruan dengan sistem dan kurikulum modern. Hal yang telah dicontohkan oleh Belanda dengan mendirikan sekolah raja (kweekschool), MULO ataupun Hoogere Burgerschool (HBS) yang menghasilkan intelektual pribumi yang gemilang.

Satu hal penting yang dilupakan oleh penganjur balik ke surau dan merupakan faktor paling dominan adalah sistem budaya Minangkabau yang saat ini telah banyak berubah. Keluarga Batih (inti) saat ini sudah tidak tinggal lagi di rumah gadang tapi sudah di rumah ayah. Dengan sendirinya tidak ada lagi motivasi untuk tidur di surau.

Peran lapau bagi penulis juga tidak signifikan dalam pembentukan kecerdasan intelektual orang Minangkabau. Di lapau jarang sekali kita menemukan adanya dialektika tentang ilmu pengetahuan maupun peradaban. Yang tersisa dari lapau sejak penulis lahir tahun 80an hingga kini hanyalah sarana bersosialisasi belaka. Entah kalau tahun-tahun sebelumnya namun penulis tidak menemukan referensi yang sahih tentang itu. Penulis lebih banyak menemukan cimeeh (ejekan/cemooh) di Lapau ketimbang berbagi ilmu pengetahuan dan informasi berguna. Tentang cimeeh ini sudah menjadi rahasia umum di rantau merupakan stereotype orang Minang dan penulis sendiri dengan sadar hati mengakui adalah seorang pencimeeh pula.

“Dunia itu datar,” tulis Thomas Friedman dalam bukunya The World is Flat, A Brief History of The Globalized World in The 21st Century. Ungkapan tersebut menggambarkan, bagaimana dunia saat ini sudah begitu terintegrasi. Dengan globalisasi beserta kemajuan telekomunikasi, dunia telah menjadi “satu lapangan permainan”. Dunia yang datar itu telah meniadakan sekat-sekat informasi dan komunikasi. Manusia di satu belahan dunia dapat bergabung dengan manusia belahan dunia lainnya untuk berdiskusi dan bertukar informasi melalui beragam media sosial. Dengan sendirinya peran Lapau yang dikatakan untuk bertukar informasi dan berdialektika sudah tergantikan dengan sukses oleh perkembangan zaman.

Baca Juga: Lapau Maota dan Adakah Teater di Sana

Rantau

Peran rantau jelaslah menjadi faktor paling penting bagi kemajuan intelektual tokoh Minang masa lampau. Ibarat bibit tanaman yang bagus bertemu dengan tanah yang bagus pula sehingga tumbuh menjadi tanaman yang subur dan bermanfaat bagi semesta.

Hamka dalam bukunya “Minangkabau Menghadapi Revolusi” terbit tahun 1963 mengatakan tokoh besar macam Tan Malaka, Syeikh Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, Hatta dan lain-lain mencapai kemajuan setelah mereka melepaskan ikatan dirinya daripada ikatan Luhak Nan Tiga, Laras Nan Dua. Dalam buku tersebut Hamka juga menyatakan DR Abdul Karim Amrullah—ayahnya–ketika dekat saat wafatnya mengatakan “ adatlah yang mengorbankan saya”. “Setelah terbuang di hari tuanya selama 3 tahun itulah dunia Indonesia tahu betul siapa dia”, kata Hamka. “sekarang sudah habis masanya duduk mengobrol di pelatar lapau. Sudah habis masanya bernyanyi berpidato mencurai paparkan sitambo lama “, tulis Hamka dalam buku itu.

Penulis mengamini seutuhnya apa yang dikatakan Hamka 53 tahun lalu tersebut. Orang Minangkabau masih sibuk mengulang sejarah masa lalu itu dan lebih ekstrim lagi seolah ingin kembali ke masa lalu dengan mengagungkan surau dan lapau. Sementara itu daerah lain semakin maju dengan pendidikan modern yang jauh lebih lengkap dibanding surau dan berdialektika secara akademis bebas dari cimeeh yang kerap kita temukan di lapau-lapau.

Harus diakui kualitas pendidikan di Jawa jauh meninggalkan kualitas pendidikan Sumatera Barat khususnya apakah itu bidang agama maupun pengetahuan lainnya. Bila pendidikan di ranah masih belum bisa bersaing dengan rantau maka anjuran merantau dari ninik moyang Minangkabau masih sangat relevan. Karena itu marilah merantau, hari sudah tinggi dan mari kita songsong masa depan dengan dada tegak tanpa perlu menakur lagi untuk kembali ke romantika masa lalu.[]

*Tulisan Ini pernah dimuat di halam FB penulis

Benni Inayatullah
Benni Inayatullah 1 Article
Benni Inayatullah, Peneliti Bidang Politik, The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*