Surau Subarang

Surau Subarang
Foto: Penulis bersama beliau, di tangga surau /Dok. Penulis

Mengunjungi guru ialah satu rutinitas “wajib” di hari raya. Kemarin, saya “digerakkan” untuk ke Surau Subarang – Taram, menemui guru, Shahibul Kasyf wal wijdan Syekh Haji Ongku Mudo Sawir. Nama surau beliau ialah Surau Subarang.

Kenapa Surau Subarang? Analisis saya, ada dua alasan. Satu, berada di seberang Batang Sinamar. Seberang dalam dialek Minang dibaca “subarang”. Dua, surau ini, bangunan asalnya, sudah berdiri sejak pertengahan abad 19. Didirikan oleh Syekh Abdul Jalil Ongku Padang. Beliau ialah seorang ulama sufi yang datang ke Taram, dari kampung asalnya Simpang Kapuak, Mudiak.

Syekh Abdul Jalil Ongku Padang mengamalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dibawah bimbingan Maulana Syaikh Abdul Wahid Asshalihi Tobek Godang (salah seorang pendiri PERTI). Beliau juga menerima Silek Kumango langsung dari Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango di Kumango, Batusangkar. Adalah nama Surau Syekh Kumango tersebut ialah Surau Subarang, karena terletak di seberang batang air kecil di Kumango. Dari sini nama Surau Subarang Taram dapat pula disusur penamaannya.

Baca Juga: Tarekat Syadziliyyah di Minangkabau

Kembali kepada guru tadi, Syaikh H. Ongku Mudo Sawir. Beliau sejak kecil telah dididik sedemikian rupa oleh datuknya, Syekh Duhan Datuak Mongguang, seorang wali ternama di Taram setelah deretan nama seperti Syekh Surau Durian, Syekh Muhammad Yusuf, dan ayahnya Syekh Ongku Padang. Dibawah irsyad datuknya tersebut beliau menjalani riyadhah Suluk Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah selama 240 hari.

Beberapa hari setelah suluk tahun 1970 datuk beliau wafat menjelang waktu Jum’at ketika bermunajat (mendengar kisah ini saya teringat dengan Sayyid Abdullah Afandi, Khalifah Syekh Khalid Naqsyabandi, di Jabal Abi Qubaisy). Sejak tahun 1970 itu-lah beliau, Syekh Ongku Mudo, menggantikan datuknya di surau. Kalau dihitung, sampai sekarang (2019), beliau telah mengajarkan Suluk Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah selama 48 tahun, sejak diberi amanah pada usianya yang ke-21 tahun; sebuah perjalanan yang cukup panjang. Selain itu beliau juga mendapat didikan dari Arif billah Syaikh Abdul Aziz Simpang Abu, Mungka, yang saat itu sudah berusia 170 tahun (satu abad tujuh puluh tahun, kawan!), dalam interval waktu 5 tahun. Pendidikan yang “keras” dari datuknya selama mujahadah, juga guru-gurunya yang lain, membuat beliau menjadi kokoh dalam pendirian, teguh istiqamah dalam prinsip, dan konsisten dalam amal. Suatu yang amat langka di kampung kami.

Pakaiannya sederhana. Memakai kopiah haji berwarna putih. Hampir selalu memakai sarung. Sering saya jumpai memakai baju kaos (seperti terlihat pada foto ilustrasi di tas). Beliau bercerita bahwa beliau banyak memakai baju pendek tangan, jarang memakai pakaian lengan panjang.

Kemarin saya bertemu beliau dalam suasana ‘Id. Secara berkala saya memang datang berkunjung kepada beliau. Ketika saya dulu mengajar di Pesantren Taram (yang masih saya lafalkan dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah Taram, sebagaimana dulu), hampir setiap minggu saya singgah ke surau. Seperti syekh-syekh lainnya di kampung, saya disambut dengan hangat, didudukkan sebagai anak. Inilah yang membuat pertalian saya di surau tidak pupus meski berganti-ganti rintangan dan godaan datang, yang tidak saya temukan di tempat-tempat lainnya.

Seperti biasa beliau menyambut dengan wajah berseri, sebagaimana tempo hari. Kopi dihidangkan, kotak juadah dibuka, rokok dibakar, beliau bertutur penuh berisi. Saya, seperti biasa, diam dengan seksama menyerap ungkapan-ungkapan sarat makna yang beliau tuturkan. Memang seperti itu adab mengajarkan. Azan Zhuhur berkumandang. Kami-pun salat Zuhur bersama dengan para salik yang masih berdiam di surau, mengisi hari dengan zikir, sampai puasa enam selesai (puasa Syawal). Setelah wirid zikir dilantunkan seusai salam. Para pesuluk melingkar untuk melaksanakan tawajuh. Tawajuh yang khitmat itu diakhiri dengan pembacaan Nazham Silsilah dalam bahasa Arab yang dikarang oleh Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka. Kemudian kami kembali bercerita di ruang tamu.

Baca Juga: Maulana-syekh Mudo Abdul Qadim Belubusulama Pemelihara Kucing

Setelah beberapa saat, beliau mengajak ke ruang belakang untuk makan. Saya tentu tidak menolak, sebab dalam agama diajarkan untuk tidak menolak pemberian guru, apalagi makan di rumah orang saleh itu adalah obat. Saya menyadari bahwa beliau sebenarnya sedang puasa Syawal, ketika menyatakan: ” Kalau tamu datang mesti juga makan bersertanya, begitu ajaran datuk dulu”. Artinya beliau sengaja berbuka untuk menghormati tetamu, dan mengamalkan ajaran datuknya dulu.

Saya pulang setelah meninggalkan buku kecil hasil transliterasi manuskrip tambo peninggalan datuknya. Sebelumnya beliau mendo’akan si-kecil dengan memegang kepalanya, lantas berucap suatu tentang kehidupan si-kecil, berupa prediksi-prediksi ala sufi tentang perjalanan hidupnya.

*******

Salah satu ungkapan beliau, dari banyak ungkapan yang diutarakannya kemarin, ialah, kira-kira transkripnya: “Yang berhasil itu (menjadi syekh mursyid), ialah mereka yang tidak karena ‘sayang’ guru, bukan pula karena lama khitmat, namun karena memang semata-mata pemberian dari Allah Ta’ala.”

*******
Aqulu: “Kalaulah bukan karena tuntutan hidup yang sudah berubah, niscaya saya akan habiskan hari-hari di surau.”[]

.

Apria Putra
Apria Putra 90 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*