scentivaid mycapturer thelightindonesia

Syair Penyembah Kuburan

Syair Penyembah Kuburan

            Akulah si Fulan bin Fulan bin Fulan
yang terus berjenjang naik sampai ke Fulan.
Ketahuilah bahwa aku sang penyembah kuburan
yang sebenar-benarnya penyembah kuburan.

Sungguh tak sedikit pun padaku suatu keraguan
dan segala yang berdarahdaging dengan kerancuan.
Tak akan ada penyembah kuburan selain aku
dan semua anak manusia yang sebuhul denganku.

Orang salik itu bukanlah kaum penyembah kuburan,
sebagaimana para santri, anak siak, serta yang lain.
Sungguh mereka adalah insan yang telah yakin
doa kepada Tuhan dapat melewati ruh pilihan.

Tolong kau panggil mereka dengan lain sebutan,
hanya orang sepertiku pantas diberi perumpamaan.
Sepanjang dunia tak bakal ada saingan terbaikku,
maka ketahuilah bagi kalian syair tentang diriku.

Hidup hanya perjalanan memperkencang laju roda,
mampir di antara harta, tahta, dan kelamin manusia.
Kusiasati semuanya tanpa perlu menangis dalam doa,
sebab surga ataupun neraka tak akan pernah ada.

Supaya jalan hidupku sesaat pun tidak berganti,
kecewa segores apa pun kutebalkan setiap hari.
Agar semangat hidupku sedikit pun takkan reda,
dendam sepercik apa pun kubiarkan membara.

Kuberi penghormatan tinggi kepada kaum beriman,
namun tak berarti mereka sirna dari gelak-tawaku.
Kutunjukkan niat baik kepada yang membutuhkanku,
akan tetapi kulakukan itu sebatas sampai salaman.

            Akulah si Fulan bin Fulan bin Fulan
yang terus bertangga turun sampai kepada Fulan.
Tidak perlu diragukan lagi kebenaran paling asli,
aku ciptakan yang kudus di dalam diriku sendiri.

Jantungku adalah kuburan paling murni. Di dalamnya
nama besarku berdegub keras sekali. Bila kau lihat
kemilau cahaya dari dalamnya, saat itu aku sedang
menaburkan kepingan emas di pangkal nisannya. 

Lidahku adalah kuburan paling asali. Di atasnya
kisah diriku menjulang tinggi sekali. Bila kau lihat
pancaran terang di sekelilingnya, saat itu aku sedang
menyerakkan butiran permata di setiap sudutnya.

Jangan cari aku di kilap cahaya dini hari; bakal kaudapati
hanya pantulan hati yang sedang dicuci di langit tertinggi.
Jangan cari aku dalam setetes embun pagi; bakal kautemui
hanya perahu para hamba yang riang berlayar ke tanah suci.

Tak perlu kau melala di samudra untuk menemukanku,
apalagi berdiri di puncak gunung seraya berseru namaku.
Aku si Fulan bin Fulan bersemayam dalam pukau dunia
tak lelah mengulurkan seutas tali ke dalam dirimu saudara.

Jogjakarta, 2022.

Baca Juga: Tiga Prosa Liris Raudal

Baca Juga: Dua Sajak Riki Dhamparan Putra