Syair-syair Minangkabau yang Membuat Jazabat

Syair-syair Minangkabau yang Membuat Jazabat
Foto oleh Hanifah

syair Minangkabau syair Minangkabau

“Dalam buluah ba buluah pulo,
dalam buluah rotan ba duri.
Dalam tubuah ba tubuah pulo,
dalam tubuah insan badiri.”

Suara serak-serak basah indah mengalun suasana hening siang itu. Tuan Syekh dengan khidmat melantunkan bait-bait nazham berbahasa Minang yang ia susun sendiri. Beliau sendiri berpakaian sederhana, tak menunjukkan diri selaku ulama, namun orang-orang mengenal beliau menghaturkan ta’zhim yang tak terkira. Beliau ialah salah seorang murid al-‘Allamah Syekh Mukhtar Angku Lakuang (wafat 1978) yang masyhur terbilang di Luhak Limopuluah. Selain itu ia juga menuntut ilmu, berbagai-bagai macam dan rupa, kepada berbilang alim cerdik cendekia. Sehingga akhirnya beliau menjadi salah satu mata air bagi orang yang hendak “mencari jalan”. Muridnya berbilang hingga sampai negeri seberang.

Salah satu ilmu yang beliau tuntut di masa muda ialah kesenian Minang bernapaskan islami, tepatnya yang diramu dengan tasawuf. Beberapa karangan dalam bentuk seni – tasawuf telah beliau susun dalam bahasa Minang dialek Mudiak.

Siang itu, beliau memperlihatkan kepiawaiannya dalam bidang yang satu ini; berdendang. Meski sudah berusia lanjut, suaranya masih lantang, begitu juga sorot matanya, tajam. Sesekali beliau berhenti berdendang, menjelaskan syarah dari syair yang ditulisnya itu. Kadang kala hati tersentak, bila sampai pada kalimat-kalimat yang menggetarkan jiwa, berupa rumus-rumus sufi berbahasa daerah. Kadangkala titik tangis. Kadangkala jiwa ingin meronta, karena kata-kata mengikat hati dan membawa sakar.

Demi mengingat itu saya teringat dengan beberapa syair ulama sufi yang lama-lama seperti Diwan Ibnu Farid, Tarjuman Asywaq Ibnu Arabi, dan Insan Kamil al-Jili. Entah mana yang cepat menarik hati sehingga jazab datang, di banding dengan syair Minang gubahan seorang tua ini. Semuanya sama-sama membawa rindu. Semuanya sama-sama membawa mata sebak.

Baca Juga: Sya’ir-Nazham: Tradisi Bersastra Ulama Minangkabau

Sedang saya, lelaki kurus memakai batik ini, tak pandai memukul rebana. Nada-nada tidak tepat, sumbang terdengar. Irama tabuhnya masih kacau. Tapi bersemangat tak terkira. Bila sampai pada kalimat-kalimat penuh rahasia, turut pula keras memukul. Sebab bunyi rebana itu mesti La Ilaha Illallah.

Bagi Tuan Syekh, saya perhatikan, musik itu bisa menjadi wasilah untuk menghampirkan diri kepada Ilahi. Sejalan dengan Ulama besar Syekh Abdul Ghani al-Nabalusi, ulama yang pernah menulis risalah musik yang mendobrak kekakuan para literar.

“Jalan taqarrub itu sebanyak bilangan napas.” Begitu Sayyiduna Ali berpetuah. []

23 Agustus 2017 

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*