Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek, Aie Balubuih

Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek, Aie Balubuih
Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek, Aie Balubuih/Foto. Dok. Penulis

Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek

ِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

Alhamdulillah jauh-jauh hari saya sudah menelusuri sedikit banyak tentang beliau, seorang alim asal Luhak Limo Puluah. Beliau bernama lengkap Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek. Seorang murid kesayangan dari Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim yang dijuluki sebagai “Ahli Pedium” dan ada juga yang menyebutnya “Ayam Aduan Atuak Inyiak “.

Kenapa beliau Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek  dikatakan sebagai ahli pedium? Pada masanya beliau adalah seorang ulama yang menguasai berbagai hal tidak hanya tasawuf, beliau juga ahli dalam fiqih, serta hadis. Jika ada orang yang membenci atau ingin membatalkan kajian surau (tarekat), beliaulah orang yang terdepan akan meladeni (membatah) orang tersebut.

Adapun istilah yang sering disematkan kepada beliau Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek yakni “Ayam Aduan Atuak Inyiak”. Yang dimaksud dengan “Atuak Inyiak”  dalam istiah “Ayam Aduan Inyiak” ialah Syekh Mudo Abdul Qadim.

Pada masanya, sering mengedepankan beliau Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek dalam berbagai hal urusan seperti; jika ada yang ingin membatlkan tarekat ataupun hal-hal yang bersangkutan dengan tasawuf, Syekh Mudo tak langsung turun. Syekh Mudo Abdul Qadim akan memanggil Syekh Abdul Munad Dt. Sinaro Nan Kosek tersebut untuk meladeni orang tersebut. Ataupun apabila ada pertanyaan yang sulit, pasti Syekh Abdul Munaab akan menjawabnya dengan senang hati.

Kemampuan ataupun kehandalan Syekh Abdul Munab Dt. Sinaro Nan Kosek juga pernah diakui oleh Syekh Mukhtar Angku Lakuang Koto Panjang pada suatu majelis. Beliau Syekh Abdul Munab juga merupakan sosok yang dekat dengan Syekh Sayuti Angku Dukun.

Baca Juga: Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim Belubus,Ulama Pemelihara Kucing

Beliau Syekh Abdul Munab selain berguru kepada Syekh Mudo Abdul Qadim, beliau juga berguru kepada seorang alim yang berada di daerah Limbukan yang tak disebutkan namanya. Untuk diketahui beliau Syekh Abdul Munab adalah merupakan lulusan MTI Tobek Godang.

Kekaromahan beliau juga banyak diceritakan oleh orang banyak. Sudah banyak telingan saya menerima cerita kekaromahan yang beliau miliki diantaranya, dengan pandangan dari jarak jauh telur dapat masak seketika beliau jadikan.

Dan pada suatu hari, yang bertepatan dengan hari Jum’at dengan kekhasyafan yang Maulana Syekh Mudo Abdul Qadim miliki, Syekh Mudo mengajak Syekh Abdul Munab untuk menemui salah seorang Wali Allah (mungkin apabila kaum sebelah membaca cerita ini kita akan dianggap mengarang, tapi tidak apalah, insyaallah sanad cerita ini sahih dan dapat dipertanggung jawabkan), setelah sampai pada suatu tempat di Pasar Payakumbuh, Syekh Mudo dan Syekh Abdul Munab menemui seorang penjual batu permata. Ketika Syekh Abdul Munab mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada seorang penjual batu permata tersebut, tanpa alasan yang jelas penjual batu permata tersebut menolak untuk bersalaman, tapi ketika Syekh Mudo Abdul Qadim yang mengulurkan tangan penjual batu akik tersebut menjawab salam dari tangan dari Syekh Mudo, dan pada saat itu Syekh Mudo bertanya kemana engkau tadi kenapa toko ditutup, dan penjual batu permata tadi pun menjawab, ” saya salat Jum’at ke Makkah “, sedikit demi sedikit Syekh Abdul Munaab telah paham siapa sosok penjual batu permata yang ia temui tersebut.

Syekh Abdul Munab meninggal di Makkah pada tahun 1971, namun namanya masih sering saya dengar.

Baca Juga: Buya Hamka; Ulama, Sufi dan Pujangga

***

Saya jadi teringat pesan dari Buya Hamka yang berbunyi:

“Dalam umur yang sekian pendeknya kita lalui di dunia, dia bisa kita panjangkan, dengan apa? Dengan sebutan, dengan amal, dengan bekas tangan, dengan iman dan amal shaleh, sesuai dengan apa yang disebut dalam pantun melayu;

Pulau pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik terkenang jua

Ada juga satu syair daripada Syauqi, penyair Arab Mesir yang terkenal

“Sebelum engkau mati, peliharalah sebutan dirimu, yang akan dikenang orang daripada dirimu. Karena kenangan atas ketika hidup yang dulu itu adalah umur yang kedua kali bagi manusia”

Banyak orang setelah dimasukkan ke dalam kubur, masuk sudah ditimbun kubur tadi, orangpun pulang ke rumah. Sebutan orang tadi keluar dari dalam kuburnya, tiap hari dia keluar, setahun, dua tahun, sepuluh tahun, seratus tahun. Malah Nabi kita Muhammad.SAW, umurnya cuma 64 tahun, tapi beliau sampai sekarang sudah seribu empat ratus tahun, masih seperti kemarin saja, hidup beliau itu menjadi sebutan siang malam. Nah, inilah maksudnya yang dikatakan orang yang sesudah mati dia hidup kembali, lebih panjang umurnya. Enam puluh empat tahun dibandingkan dengan seribu empat ratus tahun. Dan selama adzan masih kedengaran di puncak menara, entah ratusan ribu tahun lagi, itu nama akn tetap hidup, nah ini yang kita syukuri kepada Tuhan. “

Saya rasa pesan dari Buya Hamka tadi membuka mata kita bagaimana ulama-ulama kita terdahulu memberikan dedikasi yang amat luar biasa yang akhirnya sering diucapkan oleh khalayak ramai hingga saat ini, meskipun ulama tersebut telah tiada namun nama dan apa yang telah ditorehkannya masih saja harum terdengar bagi kita sampai saat sekarang ini.

𝐒𝐞𝐦𝐨𝐠𝐚 𝐤𝐞𝐛𝐞𝐫𝐤𝐚𝐡𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐩𝐮𝐭𝐢 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚 𝐀𝐦𝐢𝐢𝐧 𝐀𝐥𝐥𝐚𝐡𝐮𝐦𝐦𝐚 𝐀𝐦𝐢𝐢𝐧

About Habibur Rahman 22 Articles
Pecinta ulama dari Ranah Minang

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*