Syekh Abdussamad Al-Palimbani: Ulama Besar Tasawuf dan Pengarang Sirussalikin

Syekh Abdussamad Al-Palimbani Ulama Besar Tasawuf dan Pengarang Sirussalikin
Foto: Syekh Abdussamad Al-Palimbani/Dok. Penulis

Syekh Abdussamad Al-Palimbani adalah anak dari seorang ulama yang disebut-sebut berasal dari Timur Tengah, tepatnya di Yaman, nama ayah Syekh Abdussamad yaitu Syekh Abdul Jalil al Mahdani. Syekh Abdul Jalil kemudian hijrah dari Yaman ke Kedah Malaysia, dan dipercayakan sebagai Mufti di Kerajaan Kedah Malaysia.

Adapun dari jalur Ibunya, Syekh Abdussamad berasal dari keturunan Palembang. Ibunya bernama Radin Rianti merupakan wanita salihah yang berasal dari Palembang Sumatera Selatan. Sehingga diujung nama Syekh Abdussamad ditulis dengan “Al-Palimbani”, seorang ulama yang berasal dari Palembang.

Kehadiran Syekh Abdussamad al-Palimbani dalam peta keilmuan Islam di Nusantara memiliki arti yang sangat signifikan. Mengingat beliau adalah satu-satunya ulama yang sangat ahli dalam bidang tasawuf, terutama dengan dua karya monumentalnya Kitab Sirussalikin dan Hidayatussalikin.

Adapun Kitab Sirussalikin merupakan saduran dari Kitab Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin karya Imam Hujjatul Islam Al-Ghazali. Sebagaimana Mukhtasar Ihya’ Ulumuddin yang memiliki 40 Bab, bila dikerucutkan menjadi 4 Rubu’ terdiri dari Rubu’ Ibadah, Muamalah/’adah, Muhlikat dan Munjiyat. Sebagaimana irama penulisan Imam al Ghazali, Syekh Abdussamad al-Palimbani berhasil menyampaikan pesan-pesan dari karya besar Imam al Ghazali secara utuh.

Baca Juga: Tuan Guru Muhammad Zaini Abdul Ghani; Ulama Besar dan Murabbi Masyarakat Martapura Kalimantan

Selain itu, Syekh Abdussamad al-Palimbani juga menambahkan pandangan beliau di beberapa tempat pada karya terjemahan melayunya. Sehingga para pengkaji kitab tersebut merasakan bahwa Syekh Abdussamad al-Palimbani bukan hanya mampu menerjemahkan, namun beliau adalah ulama yang memiliki kedalaman dalam bidang syariat, tarekat hakikat dan makrifat. Sehingga Kitab Sirussalikin bisa ditempatkan sebagai kitab standar dalam bidang syariat dan hakikat.

Selain Kitab besar Sirussalikin, Syekh Abdussamad al Palimbani juga menyadur karya lainnya dari tulisan Imam al Ghazali yaitu Kitab Bidayah al Hidayah yang beliau beri judul dengan Kitab Hidayatussalikin. Kitab Bidayah atau Hidayatussalikin adalah kitab awal dalam kajian tasawuf sebelum memasuki jenjang Sirussalikin. Walaupun bila diperhatikan dua-dua kitab tersebut yaitu Sirussalikin dan Hidayatussalikin saling melengkapi.

Dengan dua karya tasawuf itu telah menempatkan Syekh Abdussamad al Palimbani sebagai ulama besar yang identik dengan kajian tasawuf. Bahkan sebagian ulama menyebu Syekh Abdussamad al Palimbani sebagai Al Ghazali Melayu.

Sedangkan teman seperguruannya yang sama-sama belajar di Makkah yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari lebih dikenal dalam kajian fikih, terutama dengan karya besarnya Kitab Sabilal Muhtadin. Kedua ulama besar di Nusantara ini adalah murid dari para ulama tersohor pada masanya. Kedua-duanya dapat dipastikan pernah lama belajar kepada Syekh Muhammad Sulaiman al-Kurdi. Seorang ulama fakih dalam Mazhab Syafi’i terutama dengan karyanya Hawasyi al Madaniyah dan Fawaid al Makkiyah. Selain kepada Syekh Sulaiman al-Kurdi, kedua ulama tersebut juga pernah belajar tasawuf dan tarekat kepada Syekh Abdul Karim Samman yang merupakan ulama pendiri Tarekat Sammaniyah dan Mursyid Kamil Mukammil dalam dunia tasawuf.

Selain Syekh Abdussamad al-Palimbani dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ada tiga ulama lainnya yang juga segenerasi dengan mereka ketika belajar di Makkah dan Madinah, mereka adalah Syekh Abdul Wahab Bugis, Syekh Abdurrahman Betawi dan Syekh Daud Fathani Thailand.

Baca Juga: Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Polemik Tarekat Naqsyabandiyah

Selain sebagai seorang ulama besar tasawuf, Syekh Abdussamad al-Palimbani juga seorang pejuang yang cinta tanah air. Beliau disebutkan ketika di Makkah selalu mengikuti keadaan yang sedang menimpa alam nusantara dengan berkirim surat kepada dua orang saudaranya seayah yaitu Syekh Wan Abdul Qadir dan Syekh Wan Abdullah Kedah. Ketika terjadi Perang di Wilayah Fathani, Syekh Abdussamad Palembang disebutkan ikut andil untuk mengusir penjajahan. Setelah kiprah yang besar dan luas, pada tahun 1789 dalam usia 84 tahun wafatlah ulama besar tasawuf Syekh Abdussamad al-Palimbani.[] Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary 49 Articles
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*