Syekh Ali bin Husein al-Maliki; Ulama Makkah dan Guru Khusus Syekh Muda Waly

Syekh Ali bin Husein al-Maliki; Ulama Makkah dan Guru Khusus Syekh Muda Waly

Syekh Ali bin Husein al-Maliki merupakan ulama Makkah yang pernah menjadi guru besar di Darul Ulum Makkah yang didirikan oleh Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa. Nama beliau dikenal di Aceh secara khusus karena salah satu murinya adalah Syekh Muda Waly yang pernah mempelajari Kitab Asybah wan Nazair kepada beliau bersama ulama lainnya dari Padang Syekh Muhammad Yasin Padang. Syekh Ali al-Maliki yang disebutkan ini berbeda dengan Syekh Alawy al-Maliki yang merupkan ayah dari Syekh Muhammad Alawy al-Maliki yang juga ulama terpandang Makkah. Syekh Alawy juga berguru kepada Syekh Ali bin Husein al-Maliki yang sedang dibahas. Syekh Ali al-Maliki lahir di tahun 1870 beliau keturunan Maroko namun telah lama menetap di Makkah, ayahnya Syekh Husen al-Maliki adalah mufti dalam Mazhab Maliki dan wafat ketika Syekh Ali al-Maliki masih kecil.

Semenjak kecil Syekh Ali bin Husein al-Maliki telah dididik oleh kakak-kakaknya yang juga para ulama dan mufti dalam Mazhab Maliki. Walaupun beliau berasal dari keluarga yang bermazhab Maliki, namun beliau juga menguasai Mazhab Syafi’i secara mendalam, karena di antara gurunya yang paling memberi pengaruh besar baginya adalah Syekh Sayyid Bakri bin Muhammad Syatta al-Dimyathi yang merupakan penulis hasyiah terkenal yaitu Kitab I’anatuhthalibin sebagai ulasan tuntas untuk Fathul Mu’in karya Syekh Zainuddin al-Malibari. Bagi pengkaji Mazhab Syafi’i, tentunya mengetahui dengan baik kedudukan dan posisi Kitab I’anatuhthalibin apalagi di Indonesia secara khusus, kitab ini dijadikan referensi penting dalam memutuskan berbagai persoalan hukum, bahkan kitab I’anah juga menjadi bahan kurikulum di pesantren-pesantren seluruh Indonesia termasuk di Aceh.

Baca Juga: Syekh Muda Waly: Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh KontemporerSyekh Ali bin Husein al-Maliki; Ulama Makkah dan Guru Khusus Syekh Muda Waly

Foto Syekh Muda Waly

Selain Syekh Ali bin Husein al-Maliki, murid dari Syekh Bakri Syatta adalah ulama besar Minang yaitu Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang pernah menjadi, Khatib, Imam, dan Mufti dalam Mazhab Syafi’i di Makkah. Syekh Ahmad Khatib merupakan Syekhul Masyayikh ulama Indonesia periodenya Hadhratussyaikh Hasyim Asy’ari, Syekh Jamil Jaho dan para ulama lainnya. Juga demikian halnya Syekh Ali al-Maliki yang kemudian juga menjadi salah satu Syekhul Masyayikh untuk ulama di Nusantara. Di antara para ulama yang pernah menjadi murid dari Syekh Ali bin Husen al-Maliki adalah: Sayyid Muhsin bin Ali al- Musawi Direktur Darul Ulum Makkah, Syekh Muhammad Yasin al-Padani, Teungku Syekh Muhammad Waly al-Khalidy, Kiai Haji Syarwani Abdan Martapura, Tuan Guru Kiai Haji Zainuddin Abdul Majid Pancor pendiri Nahdhatul Wathan, Kiai Haji Noer Ali Bekasi, dan banyak ulama lainya termasuk juga Kiai Haji Siradjuddin Abbas pernah belajar langsung kepada Syekh Ali al-Maliki.

Syekh Ali al-Maliki juga dikenal akrab dengan murid-muridnya yang berasal dari Nusantara. Beliau pernah dua kali ke Indonesia, di Banjarmasin, Bekasi dan daerah lainnya untuk mengunjungi murid-muridnya yang telah menjadi ulama besar di wilayah masing-masing. Maka tidak mengherankan kemudian bila Syekh Ali al-Maliki ditunjuk sebagai guru besar di Darul Ulum Mekkah yang didirikan oleh ulama Palembang yang bermukim di Mekkah dan menjadi ulama besar di Makkah yaitu Sayyid Muhsin bin Ali al-Musawa gurunya Syekh Yasin al-Padani Juga. Selain Darul Ulum, di Makkah adapula Madrasah Saulatiah yang didirikan oleh Syekh Rahmatullah Hindi, dan umumnya mereka para ulama India dan Pakistan yang kemudian hijrah dan menetap di Makkah.

Sebagai seorang guru besar yang menguasai berbagai cabang keilmuan Islam, beliau dikenal sangat menguasai ilmu nahwu sehingga para ulama menyebutnya dengan gelar Sibawaih Zamanihi artinya Imam Sibawaih pada masanya karena penguasaan Nahwu, dan Imam Sibawaih adalah Imam besar dalam ilmu nahwu. Sebelum menjadi guru besar di Darul Ulum Mekkah, beliau juga pernah menjadi Mufti dalam Mazhab Maliki setelah meninggal kakaknya yang juga mufti dalam Mazhab Maliki. Setelah pengabdian yang tulus dan kontribusi yang besar terhadap umat Islam, maka pada tahun 1947 wafatlah ulama besar ini.

Baca Juga: Syekh Muhammad Yasin Padang: Tokoh Kunci Sanad Keilmuan Islam Kontemporer

Kehadiran Syekh Ali al-Maliki memiliki arti penting bagi perkembangankeilmuan para ulama Aceh setelah Teungku Syekh Muda Waly, karena beliau telah memperoleh ijazah dalam berbagai ilmu dari Syekh Ali al-Maliki. Syekh Muda Waly dan Syekh Muhammad Yasin Padang sama-sama pernah berguru dan mengambil sanad dari Syekh Ali al-Maliki. Mereka berdua merupakan kebanggaan para ulama nusantara yang banyak mengkader para ulama sesudahnya. Bahkan secara khusus Syekh Yasin Padang kemudian menyusun kitab khusus yang menyebutkan berbagai kitab dan sanad yang berasal dari Syekh Ali al-Maliki dan kitab ini juga telah dicetak di berbagai tempat di penerbitan Timur Tengah.[]

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama