Syekh Haji Loedin Tolang: Mu’ammar dari Pedalaman Luhak Limapuluh

Syekh Haji Loedin Tolang Mu’ammar Dari Pedalaman Luhak Limapuluh
Foto dokumen Penulis

Syekh Haji Loedin Tolang

Lewat seorang sosok penting dan penuh hikmah di daerah tempat saya tinggal, siang tadi, saya dibawa berkelana jauh mengingat masa lalu, soal ulama, dan pegangan mereka. Sudah enam tahun saya tinggal di Mungka, hari ini baru terbuka betul soal bagaimana kekhasan ulama-ulama Mungka yang tersohor hingga melewati batas Minangkabau itu.

Saya diajak “menziarah” sosok ulama penting di Mungka, seorang mua’mmar (ulama berumur panjang) yaitu Syekh Haji Loedin Tolang. Menurut empunya riwayat, beliau wafat di tahun 1987, dalam usia lebih dari satu abad, tepatnya 125 tahun. Usia panjang ini bukanlah suatu yang asing di daerah ini. Saya pernah bertemu jama’ah tempat saya berkhutbah, seorang kakek-kakek, dan masih kuat berbelanja di “pecan” (pasar kecil), dan usianya lebih seabad. Alam menyehatkan. Jauh dari hiruk-pikuk. Udara yang asri. Serta perasaan hati yang selalu tenang, sebab berpegang pada “keheningan”.

Baca Juga: Surau Gadang Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi al-Naqsyabandi Batuhampar Payakumbuh

Syekh Haji Loedin Tolang, sosok ulama besar Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Suraunya terletak di Tolang, negeri paling ujung di wilayah Mungka. Menurut riwayat, beliau bersamaan ketika di Makkah dengan ulama-ulama besar awal abad 20. Sebutlah nama Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango (penyebar Thariqat Samman dan pencipta Silek Kumango yang terkenal itu) dan Syekh Muhammad Shaleh Padangkandih (ayah Maulana Syekh Abdul Wahid Assalihi Tobekgodang). Saya merasa beruntung sekali, saya melihat langsung kitab Sifat Dua Puluh tulisan tangan Syekh Kumango itu, yang berada dalam simpanan Syekh H. Loedin ini (tentunya foto naskah tersebut tidak saya posting).

Bila ada hal-hal menyangkut Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah, Syekh H. Loedin adalah tempat bertanya. Pengajarannya lembut. Menunjukkan betapa “jernih” dari Naqsyun dan Bandun itu.

Banyak hal yang akan diceritakan tentang sosok ini. Namun tak semua dapat diceritakan, dan tidak semua patut untuk dikhabarnya. Sebagian disimpan dalam hati paling dalam.

Dalam kesempatan “ziarah” itu, dapatlah saya memakai Sorban khas Yaman, milik Syekh Haji Loedin, yang dibelinya di Makkah dulu. Kopiah yang sama juga pernah menjadi tutup kepala khas ulama-ulama lain, seperti Inyiak Canduang, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, dan Syekh Machudum Solok.

Alhamdulillah ‘ala kulli ni’mah. “Mengunjungi guru yang masih hidup menambah ilmu, mengunjungi guru yang sudah wafat menambah pemahaman ma’rifat.”

Baca Juga: Pakiah Wahi: Tamat di Surau, Mengajar di Makkah

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota