Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi; Ulama Besar Mesir dan Ahli Tafsir Kontemporer

Syekh Muhammad Mutawalli Sya'rawi; Ulama Besar Mesir dan Ahli Tafsir Kontemporer`
Foto: Syekh Muhammad Mutawalli Sya'rawi/Dok. Penulis

Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi

Beliau adalah ahli tafsir kontemporer yang berasal dari Mesir. Nama lengkap beliau Syekh Muhammad Mutawali Sya’rawi yang lahir pada tahun 1911 di Desa Daqadus Mesir. Kehadiran Syekh Sya’rawi memiliki arti penting bagi masyarakat Mesir secara khusus, mengingat beliau merupakan ulama panutan dan kebanggaan mereka. Ayah Syekh Sya’rawi adalah seorang yang taat dan saleh, dan seorang petani yang tekun.

Melihat bakat dan kelebihan yang dimiliki oleh Syekh Sya’rawi, semenjak kecil ayahnya menaruh harapan yang lebih kepada beliau. Bila saudara Syekh Sya’rawi yang lain berfokus dalam bekerja, maka Syekh Sya’rawi difokuskan untuk belajar agar kelak menjadi seorang ulama dan ilmuan yang menerangi umat. Kadang-kadang Syekh Sya’rawi ingin berhenti belajar dan ingin bekerja seperti saudara-saudaranya yang lain. Namun ayahnya petani yang saleh itu terus menerus memotivasi Syekh Sya’rawi untuk komitmen dalam jalur keilmuan walaupun dengan kondisi pas-pasan ketika itu. Karier keilmuan Syekh Sya’rawi semakin bersinar setelah tahun lima puluhan, dimana pada 1950 beliau dikirim untuk mengajar ke Saudi Arabia. Di Saudi beliau mengajar di Fakultas Syariah selama lebih kurang sepuluh tahun.

Pada era lima puluhan banyak bertaburan bintang-bintang ulama Saudi seperti Syekh Hasan Muhammad al Masyath, Syekh Sayyid ‘Alawy ayahnya Syekh Muhammad Alawi, Syekh Sayyid Amin Kuthbi, Syekh Muhammad Yasin Padang, Syekh Ismail Zain dan banyak para pesohor yang lain bahkan Syekh Muhammad Shaleh Utsaimin dari Mazhab Hanbali ketika itu juga masih hidup. Selain Syekh Sya’rawi, ulama besar hadis Aleppo juga mengajar di Saudi Arabia yaitu Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, murid khusus Syekh Muhammad Zahid Kautsari.

Setelah beberapa tahun mengajar, pada tahun 1961 Syekh Sya’rawi kembali ke Mesir, beliau ditunjuk untuk menjadi wakil direktur Ma’had Thanta. Di Ma’had Thanta dahulunya dalam usia 11 tahun beliau menyelesaikan hafalan al-Qur’an. Setelah tahun 1961, karier keilmuan Syekh Sya’rawi terus menanjak bahkan beliau secara rutin dan tetap menyampaikan kuliah-kuliah tafsirnya di salah satu channel tv Mesir. Kajian Tafsir Syekh Sya’rawi sangat diminati oleh khalayak ramai.

Selain kemampuan Syekh Sya’rawi yang mendalam ketika memaparkan setiap ayat, bahasa-bahasa yang beliau gunakan juga menyentuh sanubari pendengar. Beliau adalah ulama yang tuntas menafsirkan al-Qur’an 30 juz dalam bentuk rekaman baik audio maupun visual, karya besar ini kemudian dibukukan dengan judul yang diberikan sebagai Tafsir Sya’rawi. Sedangkan Syekh Sya’rawi sering mengistilahkan tafsir yang beliau sampaikan dengan ‘Khawatir Imaniyah’ artinya ilham yang berasal dari hati seorang mukmin yang beriman.

Baca Juga: Sayyid Ahmad Hamid at-Tiji, Muara Sanad Qiro’at Nusantara (Menelusuri Sanad dan Rekam Jejak Masyayikh Al-Qur’an di Indonesia)

Walaupun berbagai jabatan besar pernah beliau duduki, bahkan beliau pernah ditunjuk sebagai Menteri Wakaf Mesir, namun demikian, beliau adalah ulama yang tawadhu’, rendah hati. Tidak ada yang berubah dengan kepribadian beliau. Sehingga karena sikap, kesederhanaan dan perilakunya, Syekh Sya’rawi dicintai oleh seluruh rakyat Mesir. Di hari wafat ulama besar ini, lebih kurang satu juta penduduk diperkirakan mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhir di tahun 1998.

Atas berbagai pencapaian dalam hidupnya, Syekh Sya’rawi teringat dengan usaha sang ayahnya yang terus menerus mengantarkannya belajar di Al Azhar Syarif, sehingga Syekh Sya’rawi sering berkata dengan kalimat yang mengharukan: “ARADNA BIANFUNIA SYARRAN FA ARADALLAHU BINA KHAIRA” maksudnya “Aku ingin keburukan untukku, namun Allah inginkan kebaikan untukku”.

Dikisahkan ketika Syekh Sya’rawi kecil, beliau termasuk anak yang pintar tapi tidak bersemangat dalam belajar. Pernah suatu ketika beliau tidak ingin mengikuti ujian masuk Al Azhar Syarif dengan alasan sakit, padahal beliau dalam keadaan sehat wal ‘afiyah tapi berpura-pura sakit. Namun ayahnya tetap ‘memaksa’ Syekh Sya’rawi hingga beliau lulus.

Di lain waktu ketika menjadi Santri dan Mahasiswa Al Azhar, beliau diperintahkan oleh ayahnya untuk tinggal ngekos di penginapan Al Azhar semacam Madinatul Buuts. Dengan berat hati Syekh Sya’rawi mengikuti perintah ayahnya. Suatu hari ayahnya berkunjung untuk melihat perkembangan anaknya Syekh Sya’rawi. Ketika ayahnya sampai di tempat Sya’rawi kecil, ayahnya bertanya mengenai buku-buku yang dipelajari di kuliah termasuk diktat perkuliahan. Syekh Sya’rawi dan ayahnya pergi ke toko kitab untuk membeli beberapa buku wajib perkuliahan. Namun anehnya, Syekh Sya’rawi menunjuk kitab-kitab yang mahal-mahal dan berjilid-jilid, dan kitab-kitab tersebut tidak termasuk diktat kuliahnya sama sekali dan bukan referensi untuk mahasiswa baru. Ayahnya membeli seluruh kitab yang ditunjuk Sya’rawi tanpa sedikitpun berkomentar, tentunya dengan harga yang mahal ketika itu.

Baca Juga: Prof. Dr. Nuruddin ‘Itr al-Hanafi al-Hasani Muhaddist Negeri Syam

Tujuan Syekh Sya’rawi hanya satu ialah agar ayahnya marah, jengkel dan menyuruh Syekh Sya’rawi pulang kampung dan menjadi petani seperti ayahnya. Singkatnya ketika akan berpisah dengan anaknya, di dermaga kapal, ayah Syekh Sya’rawi berkata “Wahai anakku Amin (panggilan Syekh Sya’rawi masa kecil), aku mengetahui bahwa semua kitab yang engkau minta untuk dibelikan di toko buku tadi tidak ada kaitannya sama sekali dengan referensi kuliahmu, tapi aku membelikan semuanya dengan harapan semoga Allah SWT memberi mu kemudahan dalam menimba ilmu dan membukakkan pintu ilmu pengetahuan untukmu”.

Perkataan yang mengejutkan Syekh Sya’rawi menyentakkan nuraninya, sehingga setelah kejadian itu senantiasa Syekh Sya’rawi kecil belajar dengan tekun hingga mengantarkannya menjadi salah seorang Imam Tafsir pada zamannya. Setiap kali mengingat kisah yang terjadi itu, Syekh Sya’rawi selalu berkata, “aku ingin keburukan untuk diriku, tapi Allah SWT menginginkan kebaikan untukku”.[]

Rahimahullah Rahmatan Wasi’atan.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary 39 Articles
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*