Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Syaikhul Masyaikh Ulama Minangkabau

Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka Syaikhul Masyaikh Ulama Minangkabau
Foto Penulis dan Bapak H. Halim Sa'adi bin Buya Hasan Basri Sa'adi bin Syekh Muhammad Jamil Sa'adi bin Syekh Muhammad Sa'ad al-Khalidi Mungka. /Dok. Penulis

Ini adalah gelar yang disematkan oleh alm. Buya Sirajuddin Abbas (w. 1980) dan alm. Syekh Yunus Yahya al-Khalidi Magek (w. 2001) kepada alm. al-‘Arif billah Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka (w. 1920) atau dimasyhurkan dengan “Baliau Surau Baru”. Setelah saya timbang, terdapat beberapa alasan mengapa beliau (Syekh Sa’ad Mungka) disebut sebagai Syaikhul Masyaikh (guru sekalian guru), diantaranya:

1. Beliau bersanad kepada ulama-ulama besar Minangkabau dan Mekkah akhir abad 19 dan awal abad 20. Di antara ulama-ulama yang menjadi guru beliau ialah Mufti Zawawi di Mekkah (Mufti Syafi’iyyah di Mekkah), Syekh Muhammad Jamil Tungkar, Syekh Muhammad Shalih Beliau Munggu Padang Kandih, Syekh Abu Bakar Tobiang Pulai. Beliau juga berteman dengan ulama-ulama kenamaan waktu itu, diantaranya ialah Syekh Ahmad Fathani (Pattani, Thailand) di Mekkah. Artinya beliau mempunyai isnad yang kuat dalam ilmu.

2. Beliau, Syekh Sa’ad, ialah guru dari ulama-ulama besar Minangkabau abad ke 20. Di Surau Baru Mungka, Syekh Sa’ad mengajar halaqah ulama (yang sudah terbilang ulama), dengan pelajaran Tuhfatul Muhtaj dan Ithaf Saadat Muttaqin. Di antara murid-murid, yang sudah menjadi ulama, dan duduk dalam halaqah tersebut ialah Syekh Yahya al-Khalidi Magek, Syekh Sulaiman Arrasuli Canduang, Syekh Machudum Solok, Syekh Jamil Jaho, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Abdul Wahid Tobek Godang, Syekh Arifin Batuhampar, dan lain-lain. Perlu diketahui, dalam sehari-hari, di suraunya, Syekh Sa’ad lebih banyak berbicara dalam bahasa Arab Mekkah, dibandingkan berbahasa Minang.

3. Beliau ialah tokoh besar Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan pembelanya di Sumatera. Beliau pernah membantah Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang menyalahkan rabithah dalam amal suluk. Beliau juga mempunyai khalifah yang juga sebagai ulama-ulama besar. Beliaupun menulis sebuah nazham tawasul berbahasa Arab, yang cukup indah dengan isyarat-isyarat sufistik yang dalam, yang sampai sekarang masih dilantunkan di surau-surau di Limapuluh Kota.

4. Beliau diakui kawan dan “lawan” (maksudnya lawan diskusi). Dalam pertemuan ulama di Bukittinggi, awal abad 20, Syekh Sa’ad diakui secara umum sebagai ‘alim ‘allamah. Syekh Abdullah Halaban, ulama tua dari Halaban, ahli ushul dan mantiq legendaris, mengakui kealiman Syekh Sa’ad setelah 3 hari 3 malam berdiskusi (artinya beristirahat pada waktu ibadah, makan, dan tidur sejenak) dalam sebuah masalah yang musykil. Syekh Sa’ad juga dipilih sebagai pimpinan Ittihad Ulama Sumatera di Maninjau.

Baca Juga: Polemik Tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau Awal Abad 20 (Sumbangan 2 Karya Syekh Abdul Karim Amrullah –Ayah Buya Hamka)

***

Apa yang saya tulis di atas merupakan sekelumit tentang Syekh Sa’ad Mungka, yang mulai saya kaji sejak tahun 2009. Adapun tokoh penting, referensi saya, tentang Syekh Sa’ad ialah Bapak H. Halim Sa’adi bin Buya Hasan Basri Sa’adi bin Syekh Muhammad Jamil Sa’adi bin Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka. Saat ini beliau berusia sekitar 70 tahun. Dan telah mengumpulkan bahan-bahan tentang Syekh Sa’ad, jauh sebelum saya dilahirkan ke dunia ini.

Bapak Halim Sa’adi ialah ibarat orang tua bagi saya. Pertama kali saya berjumpa beliau tahun 2009 di Mungka Tonga, sejak itu hubungan emosional/jiwa terjalin kuat. Bila hari baik bulan baik, saya selalu berkunjung ke kediaman beliau. Zhahirnya beliau banyak bertanya pada saya, secara batin saya banyak menyauk dari kedalaman jiwanya. Dan satu hal, beliau begitu tawadhu’, sampai beliau enggan bila menyebutkan alur nasab beliau kepada Syaikhul Masyaikh tsb. Disini saya meminta maaf menyebutkan ini, sebab mengingat ulama pendahulu apalagi dari keluarga sendiri, menjadi sebab turun rahmat Allah. Saya selalu bercerita tentang kakek buyut saya, seorang keramat bermakam di Bukit Kamang, dengan niat sebagai “pelecut” saya yang jahil, lalai, dan karam dalam dosa ini. Bila saya ingat kakek buyut saya, terbit malu, muncul motivasi untuk segera mensucikan jiwa yang kotor. Mungkin inilah hakikat rabitah itu.

Saya banyak bersyukur dapat bergaul dengan beliau, menyauk hikmah dan kebijaksanaan, yang tidak akan didapat di bangku perkuliahan manapun. Dan tentu saya berniat mengambil berkah; ketika beliau bercerita tentang ayah, kakek, dan buyutnya, seringan disertai dengan mata berkaca-kaca, saat itu pula payah saya menahan air mata.

Satu ketika beliau bercerita mimpi. Dalam mimpi itu Syekh Jamil Sa’adi berjalan, lengkap dengan sorban dan jubahnya, diiringi oleh masyarakat banyak dari belakang. Bapak Halim kemudian datang kehadapan beliau, meminta do’a, lalu Syekh Jamil menengadahkan tangan berdo’a. Ketika mendengar kisah itu, payah betul saya menahan haru dan rindu kepada Syekh Jamil.

Bapak Halim selalu mengakui diri “tidak berpunya”, ilmu dan amal. Tawadhu’. Saya katakan, “tidak berpunya itu, itulah yang berpunya hakikinya.”

Baca Juga: Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka Tuo, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dan Polemik Tarekat Naqsyabandiyah

Kami berbicara dari hati ke hati sore ini. Berbicara tentang mana jalan yang akan ditempuh bila “pulang”; dimana perpegangan akan dikokohkan. Banyak saya menyauk dari beliau. Azan Maghrib akan berkumandang, saya izin, dan beliau meminta saya berfoto berdua.

Alhamdulillah….

Mungka Tonga, 17 Februari 2021

Saya, Apria Putra “Angku Mudo Khalis”

Apria Putra
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota