Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawi (1845-1933)

Syekh Muhammad Saleh Al-Minangkabawi adalah seorang ulama terkemuka dari Sumatera Barat. Mengenai ulama yang berasal dari Minangkabau ini, masih terdapat beberapa hal yang masih simpang siur.

Terdapat dua nama mengenai orang tuanya, yaitu Abdullah dan Muhammad Thaiyib. Ayahnya yang bernama Abdullah digunakan pada tiga buah karyanya yang telah ditemukan. Nama Muhammad Thaiyib pula digunakan sewaktu Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawi menjadi Syekh al-Islam Perak Darul Redzuan. Syekh Muhammad Saleh dilahirkan di Kampung Tungkar, Luak Tanah Datar, Sumatera Barat.

Salah satu muridnya bernama Muhammad Saleh Mandahiling, penulis buku biografinya yang menyebut bahwa Syekh Muhammad Saleh lahir kira-kira pada tahun 1266 Hijriah. Terdapat keraguan pada tahun anggapan tersebut, karena beberapa fakta bertentangan dengan jalan sejarah yang ada hubungan dengannya. Syekh Muhammad Saleh meninggal dunia pada 17 Zulkaidah 1351 Hijriah /12 Maret 1933 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam buku muridnya itu diceritakan bahwa Syekh Muhammad Saleh bersahabat dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (lahir 1276 Hijriah/1855 M), Syekh Mukhtar Jawa/Bogor (lahir 1278 Hijriah) dan Syekh Nawawi Bantan (1230 Hijriah). Berdasarkan perbandingan tahun kelahiran ulama-ulama yang tersebut dengan kelahiran Syekh Muhammad Saleh (1266 Hijriah) itu, terdapat kesimpulan bahwa Syekh Muhammad Saleh bukan sahabat Syekh Nawawi Bantan tetapi beliau adalah muridnya. Kelahirannya yang diasumsikan tahun 1266 Hijriah itu masih perlu dikaji ulang, sekurang-kurangnya agak berdekatan dengan tahun kelahiran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (1276 Hijriah) dan Syekh Mukhtar Jawa/Bogor (1278 Hijriyah) itu.

Pendidikan Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi

Syekh Muhammad Saleh berangkat ke Mekah sejak berumur 6 tahun mendapat pendidikan dari orang tuanya, Syekh Muhammad Thaiyib (atau Syekh Abdullah), seorang Syekh haji di Mekah. Ia sempat belajar kepada ulama-ulama besar Mekah yang terkenal, yaitu:
• Saiyid Ahmad bin Zaini Dahlan
• Syekh Abu Bakar Syatha
• Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki
• Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani
• Saiyid Umar Ba Junaid
• Saiyid Muhammad Said Babshail, dan
• Saiyid Abdullah Zawawi.

Dalam buku biografinya tidak disebut seorangpun gurunya yang berasal dari dunia Melayu secara jelas, tetapi memperhatikan jalan ceritanya, Syekh Muhammad Saleh juga belajar kepada ulama-ulama dunia Melayu yang terkenal di Mekah pada zaman itu. Diceritakan dalam buku itu bahwa sewaktu Syekh Muhammad Saleh akan memperdalam ilmu falak bersama beberapa orang kawannya. Kawan-kawannya hanya belajar empat kali saja kerana guru tersebut terlalu keras. Nama guru falak yang diceritakan dalam buku itu tidak dinyatakan. Syekh Muhammad Saleh sempat menyelesaikan pelajarannya dari guru yang keras itu. Demi lebih memahami ilmu tersebut, Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawi belajar pula kepada seorang pemuda yang berusia 16 tahun, juga tidak disebut namanya. Daripada cerita di atas penulis berpendapat kemungkinan yang dimaksudkan guru falak yang terlalu keras itu ialah Syekh Ahmad al-Fathani. Sedangkan pemuda ahli falak yang berusia 16 tahun itu, ialah Syekh Muhammad Nur al-Fathani.

Pengembaraan dan Aktivitas Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi

Setelah belajar selama 17 tahun di Mekah, Syekh Muhammad Saleh pulang ke Minangkabau. Selama kira-kira empat tahun di Minangkabau, digunakan untuk mengembara ke segenap pelosok wilayah itu, dan pada waktu-waktu tertentu membantu gurunya, Syekh Muhammad Jamil mengajar. Pengembaraan di Minangkabau dimanfaatkannya pula berdakwah dan mengajar melalui pembacaan kitab, melalui kitab berbahasa Arab maupun bahasa Melayu. Sewaktu berada di Minangkabau selama empat tahun itu, Syekh Muhammad Saleh berkesempatan pula belajar ilmu persilatan dan beberapa jenis ilmu hikmah untuk pertahanan diri yang diperlukan pada zaman itu. Diceritakan bahwa dalam ilmu persilatan, beliau telah mencapai tingkat seorang pendekar. Dalam ilmu pengobatan, beliau berkemampuan pula mengobati berjenis-jenis penyakit.

Syekh Muhammad Saleh berangkat lagi ke Mekah karena beliau merasa ilmunya masih kurang dalam bidang-bidang tertentu, seperti ilmu falakiah, ilmu manthiq, ilmu tafsir dan lain-lain. Setelah beberapa tahun belajar dan mengajar di Mekah, sahabat dan muridnya, Engku Kudin, putra Raja Deli-Serdang mengajak Syekh Muhammad Saleh al-Minangkabawi menyebarkan Islam di kerajaan di Sumatera Timur itu. Selesai menunaikan haji tahun 1309 Hijriah /1892 Masehi, Syekh Muhammad Saleh bersama jamaah haji menaiki kapal dari Jeddah ke Pulau Pinang. Selanjutnya beliau mengembara di seluruh Semenanjung Tanah Melayu, mulai Pulau Pinang, Perak, Selangor, Pahang, Terengganu dan Johor.

Ke mana saja beliau pergi, beliau terus mendapat sambutan bukan hanya rakyat jelata tetapi juga para sultan setiap kerajaan tersebut. Dari pergaulan dengan sultan-sultan Melayu, Syekh Muhammad Saleh berkesimpulan bahwa Sultan Abdur Rahman Mu’azzam Syah, Sultan Riau-Lingga adalah sultan yang paling garang. Ia mementingkan keindahan pakaian dan perhiasan serta menyukai kelezatan makanan dan minuman. Sultan Abu Bakar, Sultan Johor, adalah sultan yang cerdik, mengasihi rakyat dan mengutamakan kepentingan kerajaannya. Sultan Zainal Abidin III, Sultan Terengganu, adalah sultan yang sangat dalam pengetahuan Islamnya dan sangat bertakwa kepada Allah.

Baca Juga: Bidayah al-Mubtadi wa Umdah al-Awladi Kajian Teologi Yurisprudensi Tasawuf Islam dalam Kitab Karangan Syekh Saleh Rawa 1254-h-1838 M

Hakim di Kerajaan Riau-Lingga

Sebelum Syekh Muhammad Saleh menjadi Syekh al-Islam Perak, beliau pernah memegang jabatan Hakim di kerajaan Riau-Lingga. Pelantikan beliau sebagai Hakim Riau-Lingga adalah atas kehendak Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi. Sebab Syekh Muhammad Saleh diminta oleh Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi menjadi Hakim Riau-Lingga adalah untuk menjaga kewibawaan putra baginda, Sultan Abdur Rahman Mu’azzam Syah, Sultan Riau-Lingga ketika itu. Yam Tuan Muda Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi dalam beberapa tahun merasa gelisah kerana beberapa perkara di mahkamah banyak yang tidak dapat diselesaikan. Ada yang tertunda sekurang-kurangnya tiga tahun. Syekh Muhammad Saleh dapat menyelesaikannya, beliau adalah seorang ulama yang bijaksana, amanah. Semuanya dapat beliau selesaikan.

Syekh Muhammad Saleh terpaksa berpindah dari Riau, Pulau Penyengat ke Pulau Lingga untuk menjalankan tugasnya sebagai Hakim. Sewaktu beliau memegang jabatan Hakim Riau-Lingga itulah salah seorang Kerabat Diraja Kerajaan Perak bernama Engku Raja Mahmud atau digelar dengan Imam Paduka Tuan Perak mengenalinya. Engku Raja Mahmud mengagumi kebijaksanaan Syekh Muhammad Saleh dalam menyelesaikan pelbagai isu, lagipula ulama yang berasal dari Minangkabau itu dapat menggabungkan pengetahuan yang bercorak duniawi dan ukhrawi. Dengan bermacam-macam cara Engku Raja Mahmud membujuk ulama itu supaya bekerja di negerinya di Perak Darul Redzuan.

Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi Menjadi Syekh al-Islam

Engku Raja Mahmud akhirnya berhasil mengajak Syekh Muhammad Saleh berpindah ke Perak setelah20 dua tahun beliau bertugas sebagai Hakim di Riau-Lingga. Manakala Engku Raja Mahmud kembali ke Perak, beliau dilantik menjadi Kadi Besar Kerajaan Perak. Syekh Muhammad Saleh mulai mengajar pelbagai kitab-kitab Islam terutama kitab-kitab Melayu/Jawi di Kuala Kangsar pada tahun 1318 Hijriyah /1900 Masehi. Sejak awal kedatangannya di Kuala Kangsar, beliau telah mendapat restu Sultan Idris, Sultan Perak Darul Redzuan ketika itu. Selain mengajar kitab untuk pengajian orang tua-tua, Syekh Muhammad Saleh juga berhasil mendirikan Madrasah Ihsaniyah yang menurut sistem pendidikan persekolahan di Teluk Anson. Cita-cita Sultan Perak untuk melantik seorang Syekh al-Islam bermula tahun 1922 Masehi, namun secara rasminya Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi memegang jabatan itu pada 6 Jumadil akhir 1343 Hijriah / 1 Januari 1925 Masehi.

Karya-Karya Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi

• Mawa’izhul Badi’ah, diselesaikan pada 24 Muharam 1335 Hijrah. Dicetak oleh Mathba’ah Al-Ahmadiah, 1344 Hijriah. Kandungannya merupakan nasihat dan akhlak yang diringkaskan dari Mawa’izhul Badi’ah karya Syekh Abdur Rauf bin Ali al-Fansuri.
• Kasyful Asrar, diselesaikan pada hari Selasa, 27 Safar 1344 Hijriah. Cetakan yang pertama hingga cetakan yang ke 29 oleh Maktabah wa Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura. Kandungannya membicarakan tentang tasawuf haqiqat atau tasawuf falsafi. Karya ini pernah ditahqiq oleh Syekh Haji Muhammad Wali al-Khalidi dengan judul Tanwirul Anwar fi Izhhari Khalal ma fi Kasyfil Asrar, diterbitkan oleh Al-Maktabatut Taufiqiyah, Jalan Perdagangan No. 4 Atas, Banda Aceh. Kasyful Asrar juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Menyingkap Rahasia Agama dan Tasawuf, diterbitkan oleh Yayasan Dakwah Islam, Surabaya.
• Jalan Kematian, diselesaikan 14 Jumadil akhir 1344 Hijriah. Dicetak pada bagian akhir Kasyfur Asrar oleh Maktabah wa Mathba’ah Al-Ahmadiah, Singapura.
• Nashihatul Mubtadi, tanpa tanggal. Cetakan yang pertama oleh Maktabah wa Mathba’ah Al-Ahmadiah, 1346 Hijriah/1927 Masehi. Kandungannya merupakan berbagai nasihat ke arah keteguhan pegangan dalam beragama Islam dan iman.

Murid-murid Syekh Muhammad Saleh al-Minankabawi

Murid beliau sangat banyak di seluruh Semenanjung, di antaranya termasuk Sultan Iskandar Syah, Sultan Perak. Yang pernah menulis riwayat hidup beliau ialah murid yang lama berhubungan dengannya, ia adalah Muhammad Saleh Mandahiling, Tapanuli. Buku tersebut diberi judul Izalatul Hairan fi Qshshah Syaikhil Islam Darir Ridhwan, judul dalam bahasa Melayu adalah Menghilangkan Kehairanan Pada Menyatakan Cerita Syeikhul Islam Perak Darul Redzuan. []

Share :
Ahmad Imram Abdul Karim
Ahmad Imram Abdul Karim 1 Article
Pemerhati Sejarah Islam di Nusantara

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*