Syekh Muhammad Sayyid, Hambalinya al-Azhar

Syekh Muhammad Sayyid, Hambalinya al-Azhar
Foto Syekh Muhammad Sayyid /Dok.Penulis

Syekh Muhammad Sayyid, Hambalinya al-Azhar

Catatan Redaksi: Seri tulisan seputar Universitas al-Azhar dan para Azahariy-nya dimaksudkan untuk memeriahkan acara Halaqah Online Anak Siak #3. Halaqah ini bertema “Menggelisahkan Peran Anak Siak Al-Azhar Mesir di Masyarakat” pada Sabtu, 29 Agustus 2020, jam 21:00 WIB di kanal youtube Kaji Surau TV.

Oleh: Khalil Rahman

Di antara masyayikh yang Allah izinkan saya untuk mengikuti majelis beliau adalah Syekh Muhammad Sayyid. Beliau adalah ulama Azhar yang bermazhab Hambali, secara akidah maupun fikih. Oleh karena itu beliau masyhur dikenal sebagai Syekh Muhammad Sayyid al-Hambali.

Ada beberapa sisi dari beliau yang ingin saya tampilkan pada tulisan ini. Beliau itu pakar dalam ilmu-ilmu ‘aqliyat. Seperti ilmu mantiq, ilmu kalam dan usul fikih, itu beliau kuasai dengan sangat baik. Hal ini tampak jelas tatkala beliau mengajar. Bagaimana beliau dengan mudah mempraktekkan kaidah-kaidah ilmu tadi di saat mensyarah suatu kitab.

Hal yang saya suka dari beliau adalah bagaimana beliau bisa menyederhanakan permasalahan sulit yang ada di kitab dengan ibarat dan penjelasan yang mudah dipahami. Masalah yang begitu rumit tetapi bisa dijelaskan secara sederhana. Itu salah satu kelebihan beliau yang saya rasakan. Ini menunjukkan bagaimana ilmu itu sudah menjadi malakah dalam diri beliau. Beliau pernah memberi nasihat bahwa dalam belajar itu kita mesti bersabar. Beliau berkata pada kami, kalian tidak akan merasakan hasil dari ilmu yang kalian tuntut itu sekarang. Tapi butuh waktu 20 tahun atau 30 tahun kalian belajar sampai ilmu itu menjadi malakah. Barulah ilmu itu akan terasa terang benderang di hadapan kalian dan kalian akan bisa menta’birkan ilmu itu dengan bahasa kalian sendiri.

Di antara ilmu‘aqliyat yang beliau ajarkan adalah ilmu mantiq. Beliau mensyarah Idhah Mubham karangan Syeikhul Azhar terdahulu Damanhuri al-Mazahibi. Juga beliau mensyarah Waraqat dengan syarah Mahalli. Dalam syarahnya ini beliau banyak berpedoman pada Hasyiah Nafahat karangan Ahmad Khatib Minangkabau. Beliau takjub sekali pada hasyiah tersebut dan banyak mengambil istifadah dari sana. Alhamdulillah saya berkesempatan mengikuti dars Waraqat tersebut. Kemudian di antara kitab yang pernah beliau syarah adalah Nihayatus Sul karangan Isnawi. Ini usul fikih tingkat atas, pembahasannya berat. Sudah lama beliau mensyarah kitab ini, sudah sampai 100 pertemuan atau lebih, tapi karena suatu alasan akhirnya tawaquf. Beberapa tahun setelah itu, beliau mulai lagi syarahnya dari awal, tapi sekarang juga tawaquf. Saya hanya sedikit mengikuti durus beliau di Nihayatus Sul. Akan tetapi ada kesan pasti yang saya rasakan, syarah beliau terhadap Nihayatus Sul merupakan salah satu syarah terbaik yang pernah ada.

Baca Juga: Bagaimana “Ijtihad” Ulama-ulama Al-Azhar dan Indonesia di Bidang Kurikulum Pelajaran Agama?

Mazhab beliau dalam fikih adalah Hambali. Saya rasa ini hal yang biasa. Karena di Azhar memang mengakui mazhab fikih yang empat. Tapi yang agak berbeda mungkin dari sisi akidah. Beliau akidahnya Hambali, bukan Asy’ari bukan pula Maturidi. Ini agak berbeda dengan haluan Azhar yang masyhur yang membawa mazhab Sunni Asy’ari dan Maturidi.

Memang ada perbedaan antara akidah Hambali dan Asy’ari. Tapi perbedaannya tidak banyak. Kalau kita melihat sejarah bagaimana perselisihan kedua mazhab ini, kita akan dapati ada masanya di mana perselisihan kedua mazhab ini begitu tajam, dan ada masanya juga di mana perselisihannya mereda. Kalau kita lihat perkembangan mazhab Hambali itu sendiri, kita akan dapati bagaimana di abad kesepuluh hijriah ke atas perselisihan kedua mazhab ini sudah sangat melunak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pembesar ulama Hambali yang secara tegas menyatakan bahwa Asy’ari itu adalah Ahlussunnah. Asy’ari merupakan salah satu dari tiga mazhab besar yang merepresentasikan Ahlussunnah. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Saffarini, Ibnu Syatthi, Abdul Baqi al-Hambali dan lainnya.

Ini juga yang saya rasakan langsung dari guru kami Syekh Muhammad Sayyid. Beliau sama sekali tidak pernah memperuncing khilaf (perbedaan) antara Hambali dan Asy’ari. Tidak pernah menyesatkan akidah Asy’ari. Tidak pernah menuduh Asy’ari sebagai Jahmiyah, atau semacamnya. “Asalkan kita sepakat dalam masalah tanzih, maka masalahnya ringan” kata beliau.

Dan ini yang unik, di samping mengajarkan akidah dan fikih Hambali, beliau juga mengajarkan akidah Asy’ari. Beliau mengajarkan kitab Kharidah. Yang mana Kharidah ini merupakan salah satu kitab dasar memahami mazhab Sunni Asy’ari yang ditulis oleh Imam Dardir, salah seorang ulama Azhar. Semua anak Azhar tau lah. Bersama beliaulah kami mengkhatamkan Kharidah di masjid penulisnya yaitu masjid Dardir. Bagi saya pribadi itu adalah pertama kalinya mengkhatamkan kitab Kharidah. Sebelumnya saya juga sudah ngaji dengan syekh yang lain, tetapi tidak khatam seluruhnya.

Baca Juga: Rantau Kaji Anaksiak: antara Surau dan Timur Tengah

Unik sekali sebetulnya bagaimana kami mengkhatamkan kitab yang bermazhab Asy’ari dengan syekh yang bermazhab Hambali. Seorang ulama bermazhab Hambali malah punya andil bagaimana akidah Asy’ari itu bisa tetap terpelihara dan tersebar. Hal ini saya rasa tidak akan terbayang oleh orang sampai saat ini masih berusaha menghidupkan lagi khilaf yang hampir mati antara Asy’ari dan Hambali.

Jadi kita ada teka-taki. Ada seorang Asy’ari yang ngajinya sama Hambali, dan ada Hambali yang ngajarnya mazhab Asy’ari.

Dan yang butuh dipahami di sini mazhab Hambali bukanlah mazhab yang diserukan oleh kawan-kawan Salafi* zaman sekarang. Mazhab yang dianut oleh Salafi banyak terpengaruh oleh pendapatnya Syekh Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim. Mereka berdua adalah ulama besar bermazhab Hambali. Akan tetapi mereka berdua bukanlah representasi dari mazhab Hambali. Ada pendapat mereka yang syadz, yang tidak hanya ditolak oleh jumhur ulama, tetapi juga ditolak oleh ulama mazhab Hambali sendiri. Untuk hal ini mungkin kita akan ceritakan di tulisan lain. Cuma intinya berbeda antara Salafi dan Hambali. Syekh Muhammad Sayyid itu Hambali, dan beliau banyak mengkritik pemahaman yang dibawa oleh Salafi. Mauqif beliau yang seperti itu banyak membuat beliau diserang oleh Salafi di sini.[]

Radhiyallah ‘an masyayikhina jami’an.

*Salafi juga disebut Wahabi, Taimi atau Nabitah

Khalil Rahman
Khalil Rahman 2 Articles
Alumni Parabek dan Mahasiswa Pascasarjana Al-Azhar Mesir

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*