Syekh Muhammad Zahid Kautsari; Ulama Besar Turki dan Muhaqqiq Handal Pada Masanya

Syekh Muhammad Zahid Kautsari; Ulama Besar Turki dan Muhaqqiq Handal Pada Masanya
Foto Syekh Muhammad Zahid Kautsari/Dok. Penulis

Syekh Muhammad Zahid Kautsari adalah ulama besar yang berasal dari Negara Turki dan pernah menjabat sebagai wakil Syeikhul Islam pada Kerajaan Turki Utsmani periode terakhir. Kehidupannya penuh dengan perjuangan dan pengorbanan. Lahir dari keluarga ulama dan tokoh masyarakat, ayahnya Syekh Muhammad Hasan Kautsari termasuk ulama dan tokoh masyarakat Turki. Namun setelah berkuasanya rezim Kemal banyak dari kalangan ulama Turki yang memilih hijrah ke wilayah lain seperti ke Mesir, di antaranya adalah Syekh Muhammad Zahid Kautsari yang sedang dibahas.

Hijrahnya Syekh Muhammad Zahid Kautsari ke Mesir memiliki arti penting dalam perkembangan keilmuan dunia Islam. Karena menurut Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, jarang ada ulama yang memiliki kepakaran dalam ilmu dan penguasaan khazanah keilmuan Islam seperti yang dimiliki Syekh Muhammad Zahid Kautsari, karena beliau dilahirkan untuk ilmu, dan berani dalam menyampaikan ilmunya. Masih menurut Syekh Abdul Fattah, bahwa setiap ulama yang pernah dijumpainya, Syekh Abdul Fattah yakin bisa mengikuti jejak mereka, kecuali perjalanan hidup Syekh Zahid Kautsari, maka Syekh Abdul Fattah tidak mampu menirunya, disebabkan begitu banyak keutamaan yang dimiliki oleh sosok ulama besar Syekh Muhammad Zahid Kautsari. Bahkan ulama terkenal Mesir Syekh Muhammad Abu Zahrah sang pengarang ulung, ketika memberi komentar terhadap karya Syekh Zahid Kautsari yaitu Kitab al-Maqalat Kautsari katanya “tidak ada seorang pun dari ulama yang wafat pada kurun terakhir sehingga kosong tempatnya kecuali Syekh Kautsari, karena ia menuntut ilmu hanya mengharap rida Allah, dan tidak memiliki orientasi apapun”. Bahkan Syekh Abu Zahrah tidak pernah merasa bangga dengan pujian keilmuan dari siapapun kecuali pujian dari Syekh Kautsari, karena menurut Syekh Abu Zahrah, Syeikh Kautsari merupakan sosok yang memiliki otoritas dalam ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Tokoh-tokoh Peletak Fondasi Corak Pemikiran Islam di Berbagai Belahan Dunia

Salah satu murid Syekh Kautsari, Syekh Ahmad Khairi menyebutkan bahwa wafatnya Syekh Muhammad Zahid Kautsari adalah hilangnya tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam pada generasi terakhir. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa Syekh Kautsari seperti pustaka yang berjalan dengan berbagai manuskrip dalam banyak cabang keilmuan. Lainnya halnya Professor Muhammad Rajab al Bayumi menyebutkan bahwa Syekh Kautsari sebagai Syekh besar yang sedikit orang memiliki kapasitas seperti Syekh Kautsari, bahkan Syekh al Bayumi menyebut Syekh Kautsari sebagai sang “Penjaga Turats Islam Masa Modern”.

Sebagai seorang ulama yang dianggap sebagai seorang ulama besar oleh para ulama Islam lainnya, Syekh Zahid Kautsari adalah seorang yang tawadhu, rendah hati, dermawan, serta zuhud terhadap dunia. Bahkan salah satu ulama ahli hadis dari Maroko yang sering berbeda pandangan dengan beliau menyatakan bahwa “kami kagum dengan keluasan ilmuannya dan sifat tawadhu’ yang ada pada dirinya”.

Sehingga ketika beliau telah mulai sakit-sakitan dalam usia senjanya, beliau lebih memilih menjual satu persatu kitab yang dimilikinya daripada menerima bantuan dari para muridnya. Karena menurut Syekh Zahid Kautsari seorang ulama harus memiliki kemandirian sehingga tidak bisa ditawar dengan apapun.

Walaupun Syekh Zahid Kautsari telah dikenal sebagai seorang ulama besar, bahkan rujukan para ulama masanya, tidak menghalangi beliau untuk tetap menjadi murid” dan terus belajar. Syekh Rajab al Bayumi pernah melihat Syekh Kautsari duduk membaca Kitab Muwatha’ karya Imam Malik dihadapan sahabat sekaligus gurunya yaitu Syekh Yusuf ad Dajwi seorang ulama besar Mesir yang ahli dalam Tafsir dan Hadits dan digelar dengan Failasuf al-Azhar.

Syekh Kautsari juga menerima sanad dari ulama negeri Syam yaitu Syekh Muhammad Ja’far al Kittani yang merupakan pakar hadis yang hidup sezaman dengan Muhaddits Syam Syekh Badruddin al Hasani. Namun demikian, ada tuduhan yang dialamatkan kepada Syekh Zahid Kautsari bahwa beliau adalah seorang yang taashub terhadap Imam Abu Hanifah. Padahal tuduhan tersebut telah dibantah oleh para ulama seperti Syekh Musthafa Siba’i dalam magnum oppusnya kitab Sunnah Wa Makanatuha.

Baca Juga: Abuya Jailani Kota Fajar; Ulama Karismatik Aceh dan Murid Abuya Muda Waly

Selain sebagai ulama yang produktif mentahqiq dan menulis, beliau juga memiliki murid yang mewarisi ilmunya, salah satunya yang sangat dikenal dalam kajian tahqiq kontemporer adalah Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, ulama dan muhaqqiq handal dari Aleppo Syiria. Setelah pengabdian yang panjang, wafatlah ulama hebat tersebut ditahun 1958.[] Rahimahullah Rahmatan ahmatan Wasi’atan.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama