Syekh Mukhtar Engku Lakuang (1913-1978)

Syekh Mukhtar Engku Lakuang (1913-1978)

Al-‘Alim al-‘Allamah al-Mutafannin al-Shufi Syekh Mukhtar Engku Lakuang Koto Panjang Lampasi – Payokumbuah, ikutan penulis dalam keilmuan, terkhusus dalam furu’ Syafi’iyyah. Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang istiqamah, terutama dalam fikih syafi’iyyah, tidak akan mau talfiq dalam masalah furu’iyah, begitu beliau menjaga adab dan amal.

Beliau ialah salah satu murid utama dari Maulana Syekh Abdul Wahid Asshalihi Tobek Godang (wafat 1950). Selain memperoleh ijazah bermacam-macam ilmu dari gurunya ini, beliau juga memperoleh ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dari Syekh Abdul Wahid al-Khalidi Ampang Godang (mamak dari Syekh Abdul Wahid Asshalihi Tobek Godang). Kabarnya, setelah memperoleh ijazah dari Tobek Godang, di hari melewakan ijazah itu, gurunya mengantar sang murid dengan iring-iringan bendi dari Tobek Godang ke Koto Panjang – Payakumbuh. Begitu perlakuan guru kepada murid.

Syekh Mukhtar Engku Lakuang mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang. Madrasah ini tersohor dan mencapai puncak kejayaannya di masa kepemimpinan syekh sendiri. Anaksiaknya bukan hanya dari Sumatera Barat, bahkan dari Bengkulu. Salah seorang kakek tua berujar, “murid-murid Engku Lakuang, hampir semuanya menjadi ulama besar.”

Baca Juga: Syekh Mukhtar Ongku Lokuang dan Sebuah Kisah Perdebatan

Selain mengajar berbagai-bagai kitab kuning, kecil maupun besar, selain mendirikan forum muzakarah yang dikenal dengan nama Istidlal (beliau pernah bermuzakarah dengan Syekh Rasyid Taher Baliau Parambahan yang mempertanyakan Tarekat Naqsyabandi), beliau juga mendirikan surau khusus untuk para salik yang hendak suluk Tarekat Naqsyabandiyah.

Setiap hari Rabu (seingat saya), beliau menggelar halakah Kitab Hikam di Surau Madrasah Tarbiyah Islamiyah Koto Panjang. Halakah ini dihadiri oleh buya-buya, bahkan syekh yang keramat (saya sebenarnya tidak ingin terlalu banyak menyebut kata keramat, takut dianggap irasional oleh orang-orang akademis), seperti Syekh Haji Muhammad Amin Taeh Bukik yang dikenal dengan Tuak Oji Amin. Para hari itu berbondong2 masyarakat ke Koto Panjang mendengar surahan Hikam. Ada yang berjalan kaki, ada yang bersepeda, datang dari tempat yang jauh.

———-

Pesan beliau: “Tetaplah istiqamah dalam Sunni Syafi’iyyah!” tetap istiqamah dalam Mazhab Syafi’i dan I’tikad Ahlussunnah wal Jama’ah (Asy’ariyah – Maturidiyah) meski apapun terjadi, sampai ajal menjeput (kalimat di luar tanda kutip dari saya. Kira-kira seperti itulah ekspresi Buya Imam Rinjani ketika menyampaikan pesan ini kepada saya).

Baca Juga: Syekh Ongku Tanjuang dan Syekh Ongku Tobek

———

Saya tidak pernah bertemu muka dengan beliau, namun saya menemui murid-murid utamanya. Salah satu muridnya, Syekh H. Nukman Basyir (salah seorang yang kembali berusaha menghidupkan wirid pengajian Syekh Mudo Abdul Qadim bersama dengan al-Mahum Syekh Nurullah Dt. Angso), mengijazahkan kepada saya semua riwayat ilmu yang ia terima dari Syekh Mukhtar Engku Lakuang. Peng-ijazahan ini terjadi lebih dari setahun yang lalu, bertempat di surau suluk Nur Muthmainnah Koto nan Ampek, disaksikan Syekh Kasril Koto nan Ampek (yang empunya surau). Rasa ijazah yang diberikan itu masih terasa sampai saat ini.[]

al-Fatihah

Saya yang bertutur: Apria Putra Tuanku Mudo Khalis

Share :
Apria Putra
Apria Putra 74 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*