Syekh Salim Sikabu Kabu

Syekh-Salim-Sikabu-Kabu-2
Dok. Penulis

Syekh Salim Sikabu Kabu

Sikabu Kabu, nagari yang dekat dengan kampung kelahiran saya. Masih satu kecamatan. Meskipun dekat, namun saya sangat jarang datang ke daerah ini. Kemungkinan selama di kampung, sebelum merantau, dulu, saya hanya hilir-mudik di rumah saja; memang kurang pejalan, kata orang. Baru ketika di rantau ini pulalah saya dapat berkunjung dengan intens ke Sikabu Kabu. Daerahnya sungguh permai, dikelilingi sawah dan bukit cemara; sebab terletak di pinggang Gunung Sago yang menyimpan beribu kisah itu.

Ada dua hal yang teringat bila disebut Sikabu Kabu. Pertama, sosok alm. Tuangku Mudo Isma’il Rahman bin Maulana Syekh Abdurrahman al-Khalidi Kumango, bermukim dan bersurau di daerah ini. Kedua, sosok Maulana Syekh Muhammad Salim Sikabu Kabu, ulama ternama dalam Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah.

Untuk sosok pertama, alm. Tuangku Mudo Isma’il Rahman, saya bergaul rapat dengan muridnya dalam Silek Kumango, yaitu Asnawir Dt. Kira bin Syekh Nurullah Dt. Angso (Tanjuangpati), dan pernah bertemu dengan anak Tuangku Mudo Isma’il sendiri yaitu Bapak Ismasril di Danguang Danguang. Saya juga membaca kitab-kitab karangan Tuangku Isma’il Rahman tersebut, terutama dalam Silek Kumango. Salah satu karyanya yang sangat menarik hati dan sangat meresap ialah Kitab Jalan Menemui Tuhan, masih manuskrip ditulis dengan Arab Melayu.

Baca Juga: Dari Ulama-ulama Supayang hingga Syekh Mudo Waly Al-Khalidi

Sedangkan sosok kedua, yaitu Syekh Muhammad Salim al-Khalidi Sikabu Kabu, masih misteri bagi saya, terutama dalam riwayat dan aktivitasnya. Sangat boleh jadi karena saya belum mendalami manaqib hidup beliau. Ketika saya menyusun buku Riwayat Hidup Ulama Limapuluh Kota pada tahun 2009, saya tetap memasukkan nama Syekh Muhammad Salim, berdasarkan informasi dari guru saya di Batulabi – Mungo, dan juga dari sebuah manuskrip. Tahun 2005 saya, dengan perantara seorang kawan, mendapatkan salinan manuskrip Syekh Sulaiman Zuhdi al-Khalidi (tokoh penting Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Jabal Abi Qubaisy – Makkah) yang ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Syekh Muhammad Salim Sikabu Kabu ini. Artinya Syekh Muhammad Salim pernah menuntut ilmu ke Makkah, dan beristifadah di Jabal Abi Qubaisy. Dalam satu tulisan saya menemukan informasi bahwa guru Syekh Muhammad Salim Sikabu Kabu adalah alm. Syekh Muhammad Thaha Limbukan yang dikenal dengan Ayah Limbukan (wafat sekitar 1912 M).

***

Hari Rabu kemarin dapatlah saya berkunjung ke Sikabu Kabu. Dapat pula saya berjumpa dengan sosok yang saya anggap sebagai “mamak”, yaitu Mak Yudilfan Habib Dt. Monti (atau yang dikenal dengan Engku Syntal), seorang pemangku adat dan budayawan. Sudah 5 tahun kami tidak berjumpa, sejak pertemuan di Padang pada tahun 2015. Diajaknya saya berbual di dalam rumah gadang, tentang berbagai hal. Perlu kawan-kawan tau, mamak saya tersebut ialah kawan diskusi yang hangat. Kenapa tidak, wawasannya yang luas, ide-idenya, serta gaya logikanya yang menarik.

Ketika itu saya ceritakan bahwa saya mengenal nama Syekh Salim Sikabu Kabu. Lantas beliau menjawab, “makam dan suraunya masih ada.” Tanpa pikir panjang beliau menuntun saya berziarah ke makam ulama tersebut. Lama saya termenung di makam, di samping menghadiahkan pahala al-Fatihah dan membaca do’a; terkenanglah saya dengan ulama-ulama silam, terkenang pula sosok yang berkubah di situ.
Qaddasallahu ruhahu wa nawwara dharihahu….

Padang Mangateh, 3 Juli 2020
Saya, Apria Putra “Ongku Mudo Khalis”

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*