Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi: Ulama Besar Minangkabau

Syekh Sulaiman Arrasuli, Tokoh Pendidikan Islam Bercorak Kultural

Syekh Sulaiman Arrasuli (1871-1970) atau yang dikenal dengan Angku Canduang nan Mudo atau Inyiak Canduang ini ialah salah seorang di antara ulama besar Minangkabau yang begitu terkemuka. Setelah wafatnya ulama-ulama, seperti Syekh Muhammad Sa’ad Mungka dan Syekh Khatib ‘Ali, maka beliaulah yang dituakan di kalangan kaum tua dan yang memimpinnya. Sangatlah besar perjuangan beliau, apakah dalam membentengi mazhab Syafi’i dan ahlus sunnah, dalam bidang pendidikan dan tak ketinggalan dalam medan perjuangan kemerdekaan. Dalam wadah ulama-ulama Tua, Perti, beliaulah yang menjadi sesepuhnya, di samping ulama-ulama besar lainnya. Dalam pendidikan, beliau telah membuat model baru lembaga pendidikan sebagai pelanjut surau, model ala Madrasah yang dinamai dengan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI), dan kemudian tersebar ratusan banyaknya di berbagai penjuru Minangkabau.

Foto bersama Ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah di waktu ulang Tahun pertama Madrasah Tarbiyah Islamiyah Candung, pada tahun 1929 (buku “Perjuangan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, oleh Syarqawi Machudum, Jakarta: Perpustakaan Tarbiyah Islamiyah, 2011)

Syekh Sulaiman dilahirkan di Candung pada tahun 1871 dari keluarga yang religius. Ayah beliau, Syekh Muhammad Rasul, seorang ulama terkemuka yang digelari dengan Angku Mudo Pakan Kamis. Di masa belianya, Syekh Sulaiman belajar al-Qur’an kepada Tuan Syekh Muhammad Arsyad Batu Hampar. Setelah menamatkan al-Qur’an, beliau kemudian belajar ilmu alat kepada Syekh Tuanku Sami’ Biaro. Beberapa lama di Biaro, beliau menuju Sungayang bersama guru tuo beliau Tuanku Qadhi Salo, ulama yang dituju di Sungayang ialah Tuan Syekh yang dimasyhurkan dengan Tuanku Kolok (nenek dari Prof. Mahmud Yunus), alim pikih terutama dalam ilmu Faraidh. Wafat Tuanku Kolok, Syekh Sulaiman melanjutkan pelajarannya kepada Tuan Syekh Abdussalam Banuhampu. Berselang berapa lama, beliau pindah ke Sungai Dareh Situjuah Payakumbuh. Tak berapa lama di Situjuah, Syekh Sulaiman dengan isyarat guru dan ayahanda beliau berangkat ke Halaban. Ulama yang dituju ialah seorang alim yang masyhur dalam tigo luak, yaitu Tuan Syekh Abdullah “Beliau Halaban” (w. 1926). Lama beliau di Halaban, yaitu 7 tahun. Di sini beliau mendapat kepercayaan Syekh Abdullah untuk menjadi “guru tuo”, sampai beliau diambil menantu oleh Tuan Syekh tersebut. Oleh karena ilmu yang telah mumpuni, beliau disuruh pulang oleh Tuan Syekh Abdullah untuk mengembangkan ilmu yang telah didapat di kampung halamannya, Candung. Setelah itu Syekh Sulaiman pulang, mengajar di kampung selama 6 bulan lamanya, kemudian berangkat ke Mekah untuk menunaikan rukun Islam ke lima dan menambah ilmu pengetahuan. Di Mekah, Syekh Sulaiman belajar kepada ulama-ulama kenamaan, yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Mukhtar ‘Atharid as-Shufi, Sayyid Ahmad Syatha al-Makki, Syekh Usman as-Sarawaki dan Syekh Muhammad Sa’id Ba Bashil Mufti Syafi’i. Adapun vak keilmuan yang beliau dipelajari di Mekah mencakup ilmu ‘arabiyah (ilmu alat), fikih, tafsir, hadis, tasawuf dan lainnya.

Baca Juga: Sosiologi-Pendidikan Syekh Sulaiman Arrasuli Inyiak Canduang dalam Buku Kisah si Muhammad Arif Bagian 2

Pada tahun 1907 beliau pulang ke tanah kelahirannya, dan kemudian melakukan langkah perjuangan. Mula-mula beliau melanjutkan Halaqah di kampung halamannya. Halaqah ini berkembang pesat dengan didatangi oleh murid-murid yang ramai dari berbagai penjuru negeri. Pada tahun 1928, Halaqah ini kemudian beliau ubah menjadi Madrasah dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah. Perubahan ini diikuti oleh halaqah-halaqah  surau lainnya di Minangkabau. Selanjutnya beliau memfasilitasi pertemuan ulama-ulama Minangkabau di Candung pada tahun 1930. Pertemuan ini menelurkan kesepakatan untuk mendirikan PTI (Persatuan Tarbiyah Islamiyah), cikal bakal PERTI. Organisasi ini mencapai puncak kejayaannya hingga dasawarsa ke 7 abad XX. Hampir seluruh ulama-ulama Tua Minangkabau menjadi penyokong wadah persatuan ini. setelah zaman kemerdekaan, PERTI ditingkatkan statusnya menjadi Partai Politik PERTI dan berpusat di Jakarta. Pada waktu itulah PERTI benar-benar dikenal luas dan keberadaannya menusantara.

Foto: Konferensi Alim Ulama di Singapura (1943): (duduk dari kiri) Syekh Sulaiman Arrasuli dan Syekh Ibrahim Musa Parabek; (berdiri dari kiri) Mahmud Yunus, AR Sutan Mansur dan H. Sirajuddin Abbas (buku Riwayat Hidup Prof. Dr. H. Mahmud Yunus, Jakarta: Hidakarya Agung, t. th)

Di samping sebagai seorang ulama besar, beliau juga dikenal selaku ahli adat. Kepakaran beliau memang diakui oleh masyarakat luas, hingga beliau diundang oleh penguasa gunung Sahilan untuk menyelesaikan sengketa adat. Beliau, Syekh Sulaiman, merupakan pribadi yang disegani kawan maupun lawan. Oleh karenanya, para pejabat pemerintahan dan pimpinan Belanda merasa perlu merapatkan diri kepada Beliau.

Adapun dalam paham keagamaan, sangat besar perjuangan beliau dalam mempertahankan mazhab Syafi’i, aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan tarekat Naqsyabandiyah. Mengenai poin terakhir, tarekat Naqsyabandiyah, semula beliau merupakan seorang yang anti pula, sebagai gurunya Syekh Ahmad Khatib. Namun setelah pertemuannya dengan Tuan Syekh Arsyadi Batu Hampar, dan bertukar pikiran berapa lama, kemudian beliau menyatakan khilaf dan bertaubat di hadapan Tuan Syekh Batu Hampar tersebut dengan berlinang air mata. Setelah itu beliau bersuluk dengan bimbingan Syekh tersebut pada tahun 1341 H. dan mendapat ijazah dalam istilah Naqsyabandiyah. Sepulang khalwat tersebut beliau keras mempertahankan tarekat Naqsyabandiyah, apakah dalam tablig-tablig, karangan-karangan maupun dalam debat terbuka, seperti muzakarah dengan Syekh Thaher Jalaluddin al-Falaki di Mesjid Jami’ Pasia. Dalam wadah PERTI, bersama ulama-ulama Minangkabau yang sehaluan, beliau berusaha kuat untuk membentengi paham lama itu dari rongrongan kaum muda tersebut.

Foto: cover salah satu karya tulis Syekh Sulaiman Arrasuli yang berjudul “al Qaulul Bayan fi Tafsiril Qur’an (terbit pada tahun 1929)

Bca Juga: Syekh Muhammad-saaD al-Khalidi-Mungka Tuo Syekh Ahmad Khatib al- Minangkabawi dan Polemik Tarekat Naqsyabandiyah

Begitulah keulamaan Syekh Sulaiman Arrasuli. Di samping meninggalkan murid-murid yang banyak, Syekh Sulaiman juga mewariskan karya-karya yang banyak kepada generasi selanjutnya. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memang seorang yang besar, selain masyhur dengan murid-murid yang ramai, beliau juga seorang yang sangat produktif menulis. Ada satu kekhasan dalam karya-karya beliau, di samping menulis dalam bahasa Arab dan bahasa Jawi-Minang, beliau gemar menulis dengan gaya sya’ir layaknya pujangga, sehingga jadilah karya-karya beliau di samping memiliki muatan keagamaan, juga merupakan bentuk sastra yang saat itu sangat laris. Sampai-sampai dalam surat-surat beliau, apakah kepada istri dan anak-anaknya ditulis dengan gaya bersyair ini. Salah satunya dapat ditampilkan di sini sebuah sya’ir beliau yang menerangkan keinginan untuk tinggal mengaji di Mekkah, namun mengingat ummi (ibu) beliau yang tidak mau berpisah dengan beliau, niat itu beliau urungkan:

Waktu mengarang fakir khabarkan
Di negeri Canduang tinggallah badan
Hati terbang ke subarang lautan
Ke negeri Mekah biladul Aman

Sungguh nak pindah di dalam hati
Tetapi ada seorang ummi
Ibuku kandung belahan hati
Di mana mungkin meninggalkan negeri

Ibuku sakit tidaklah sehat
Di mana mungkin dibawa hijrat
Jalanpun jauh tidaklah dekat
Barangkali sembahyang dijalan tidaklah dapat

Seputar kaum Muda, Syekh Sulaiman juga banyak menulis bait-bait sya’ir untuk menyatakan fasadnya paham mereka. Dengan nada sindiran, beliau menyerang sendi-sendi gugatan kaum muda tersebut. Dan tak ketinggalan menasihati kaum muslimin agar tidak tepercaya dengan paham yang seperti itu. Di antara ungkapan beliau ialah:

Sekarang ada orang yang ingkar
Sudah masyhur didengar khabar
Namanya tidak hamba mendengar
Entah siapa nama yang mu’tabar

Khabarnya sudah hamba dengarkan
Ushalli fardhuz zhuhr ianya ingkar
Ibarat ulama hambar nakalkan
Di belakang ini hamba tuliskan

Wahai sahabat taulan yang nyata
Orang yang muqallid namanya kita
Mengikut mujtahid yang punya kata
Jangan diikut paham yang dusta

Jangan dicari ke dalam al-Qur’an
Hadisnya nabipun demikian
Mujtahid mutlak punya bahagian
Nasi yang masak hendaklah makan

Kita nan tidak tahu bertanak
Api dan kayu tungkupun tidak
Hendaklah makan nasi yang masak
Orang yang cerdik janganlah gagak

Jikalau batanak tidak bakayu
Demikian lagi tidak bertungku
Lambek menahun nasinya tentu
Itu misalnya pikir olehmu

Karya-karya Syekh Sulaiman Arrasuli yang telah teridentifikasi sebanyak 22 judul. Besar kemungkinan masih banyak karya-karya Syekh Sulaiman yang belum tercatat.

*Tulisan ini pernah dimuat dalam buku penulis, “Bibliografi Ulama Minangkabau” (Padang: Komunitas Suluah, 2011)

Apria Putra
Apria Putra 93 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*