Syekh Yunus Yahya al-Khalidi Magek (1910-2001)

Syekh Yunus Yahya al-Khalidi Magek (1910-2001)
Ilustrasi/Dok. Penulis

Syekh Yunus Yahya al-Khalidi Magek ialah salah satu ulama besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah, pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah Magek. Sebagai salah seorang ulama yang dikarunia umur yang panjang, beliau ialah saksi mata dan sumber sejarah mengenai ulama-ulama tua dari Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Alm. Prof. Sanusi Latief, sebelum merampungkan disertasi tebalnya mengenai ulama-ulama tua (1988), perlu berkunjung ke Magek untuk menemui beliau (Syekh Yunus mengarang sebuah buku tahun 1978 yang menjadi sumber langka tentang ulama-ulama tua Minangkabau).

Beliau terlahir dari keluarga ulama. Ayahnya, Syekh Yahya al-Khalidi Magek ialah ulama sepuh tempat berguru tokoh-tokoh Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Di antara muridnya ialah Syekh Sulaiman Arrasuli Candung, Syekh Abbas Qadhi Ladang Laweh, Syekh Mahmud Abdullah Tarantang – Harau, dll. Sang ayah merupakan murid dari Maulana Syekh Abdurrahman Batuhampar, dan Syekh Muhammad Sa’ad al-Khalidi Mungka. Gelar al-Khalidi dibelakang namanya ialah petanda bahwa Ia merupakan Syekh Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Hari-hari sang ayah dihabiskan untuk mengajar ilmu agama di Surau Baru Magek. Mengajar suluk Thariqat Naqsyabandiyah dan mendaras kitab Ihya’ Ulumiddin merupakan rutinitasnya.

Baca Juga: Syekh Sulaiman Arrasuli al-Khalidi Canduang: “Pendekar” Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Sang anak, Syekh Yunus Yahya, yang kita bicarakan saat ini, belajar agama kepada beberapa ulama terkemuka Minangkabau, antara lain kepada Syekh Ibrahim Harun Tiakar, dan sempat menimba ilmu di Makkah. Di Makkah ia sempat belajar kepada Syekh Machudum Solok yang diangkat menjadi ulama besar di Masjidil Haram.

Sebagaimana ayahnya, Syekh Yunus Yahya juga merupakan Syekh Thariqat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Beliau melanjutkan kepemimpinan ayahnya di Surau Baru, sesudahnya ayahnya wafat di tahun 1940-an. Saya mendengar dari anaknya bahwa Syekh Yunus Yahya karam dalam zikir selama tiga hari tiga malam. Selama ini ia tidak makan tidak minum, lenyap dalam mengingat Allah.

Dalam organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Syekh Yunus termasuk tokoh penting. Beliau pernah menjadi utusan Persatuan Tarbiyah Islamiyah dalam rombongan Presiden Soekarno yang melawat ke beberapa negara. Selain itu, beliau juga bertindak sebagai sekretaris dalam Konferensi Thariqat Naqsyabandiyah di Bukittinggi 1954. Pada konferensi itu hadir ulama-ulama Thariqat Naqsyabandiyah ternama dari berbagai daerah Minangkabau, antara lain Syekh Abdul Ghani Batubersurat, Syekh Mudo Abdul Qadim belubus, Syekh Mohammad Sa’id Bonjol, dsb.

Di antara wasiat-wasiat beliau sebelum wafatnya: (1) hendaknya seseorang mencoba suluk, walau hanya satu kali seumur hidup; (2) perbanyaklah membaca al-Qur’an, karena al-Qur’an menolak pikun. Begitu yang disampaikan oleh anak syekh tersebut kepada saya.

Baca Juga: Pakiah Wahi: Tamat di Surau, Mengajar di Makkah

———–

Syekh Yunus Yahya wafat dan dimakamkan di samping makam ayahnya, Syekh Yahya al-Khalidi, di komplek Surau Baru Magek. Dalam beberapa waktu saya tetap rutin berziarah ke makam beliau.

Pertalian beliau dengan pribadi yang faqir ini, khususnya dalam Thariqat Naqsyabandiyah, yaitu sama-sama berhulu kepada Syekh Yahya al-Khalidi (ayahnya). Tiga tabaqat dari al-faqir, yaitu Syekh Mahmud Abdullah yang masyhur dengan gelar Baliau Tarontang – Harau (Payakumbuh) ialah murid langsung dari Syekh Yahya al-Khalidi. al-Fatihah

Apria Putra
Apria Putra 90 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*