scentivaid mycapturer thelightindonesia

Syekh Zainal Abidin Datuak H. Piliang

Syekh Zainal Abidin Datuak H. Piliang
Foto Syekh Zainal Abidin Datuak H. Piliang Foto Dok. Penulis

Dari sekian banyaknya literatur maupun Manaqib ulama Luhak Limo Puluah terdahulu, ada salah satu nama yang kurang begitu terdengar yakni Al-Allamah Syekh Zainal Abidin Datuak H. Piliang. Beliau merupakan guru besar Tarekat Naqsyabandiah wa Sammaniyah asal Luhak Limo Puluah, tepatnya di Jorong Parumpuang, Kecamatan Payakumbuh. Ia merupakan salah seorang ulama seangkatan dengan Syekh Beringin H.Ayyub.

Syekh Zainal Abidin ini merupakan murid dari Al-Arif Billah Maualana Syekh Mudo Abdul Qadim. Beliau meninggal pada tahun 1984. Menurut beberapa sumber yang saya dengar beliau menulis beberapa kitab, namun hingga saat ini saya belum menemukan kitab-kitab tersebut.

Di samping beliau jadi guru besar, Syekh Zainal Abidin dikenal dengan berberapa kekaromahan, diantaranya berpindah-pindah tempat dalam sekejap dan berjalan diatas air. Cerita tersebut adalah cerita yang sering kita dengar dari beberapa orang-orang tua di kampung dan itu semua tidak menjadi hal yang tabu bagi kita bersama. Tidak pula hal tersebut menjadi sebuah keheranan yang amat luar biasa apabila seorang sufi itu tetap teguh dijalan-Nya. Kekaromahan lainnya ialah diceritakan oleh Bapak Khairul Amri yang merupakan cucu dari Syekh Zainal Abidin, yang beliau rasakan dan beliau alami secara langsung. Bapak Khaiul Amri menuturkan, apabila beliau berziarah berkirim do’a ke makam dari Syekh Zainal Abidin kerap didapati setelah itu kondisi cuaca akan berubah menjadi hujan, dan beliau juga menambahkan bahwa pengalaman yang sama juga pernah terjadi pada Almarhum Syekh Angku Tobek Koto Panjang, ketika seusai Syekh Angku Tobek berziarah ke makam Syekh Zainal Abidin hal serupa juga terjadi pada saat itu.

Baca Juga: Syekh Muda Abdul Qadim Belubus

Perlu diketahui bahwasannya Syekh Zainal Abidin Datuak H. Piliang merupakan sahabat karib dari salah seorang ulama tak tanggung kekeramatannya yakni Syekh H.Amin Shahibul Karomah Taeh Bukik. Di masa beliau berdua masih hidup, mereka adalah dua sosok yang sering bersama, meskipun ulama berdua ini tak tanggung kekeramatannya dan dihormati banyak orang. Hal tersebut tidak berhenti begitu saja, Syekh Zainal Abidin dan Syekh H.Amin adalah teman seperjalanan. Terbukti, beliau berdua sering bersama-sama mengaji Kitab dengan Al-Allamah Syekh Mukhtar Angku Lakuang menuju Koto Panjang pada hari minggu. Apabila kedua sosok ini datang kepada Syekh Mukhtar Angku Lakuang, beliau selalu menghormatinya dengan sungguh luar biasa.

Namun di balik cerita perjalanan yang cukup hebat tersebut, ada cerita yang tak mengenakkan untuk didengar yang saya terima, bahwasannya surau tersebut tidak lagi disinggahi banyak orang. Setelah lama saya berjalan mencatat riwayat-riwayat ulama besar hal yang menjadi pokok permasalahan ialah selalu pada ketika saat apabila Guru Besar disalah satu surau meninggal, dan ditambah dengan problematika yang tak kunjung usai di internal halaqah surau, hal tersebut selalu menjadi faktor utama. Itulah yang menyebabkan sebuah surau (di)tinggal(kan) begitu saja. Kemudian surau itu lapuk dimakan rayap.

Sebab lainya ialah apabila surau tersebut berdiri di tanah kaum, okelah apabila kaum tersebut sejalan dan seiya sekata, apabila tidak? Akan hadir gejolak dan bukan tidak mungkin surau tersebut akan tinggal begitu saja. Itulah sedikit pengamatan saya. Pendapat saya ini berdasarkan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.

Baca Juga: Syekh Mukhtar Engku Lakuang (1913-1978)

Sejujurnya, saya sangat merindukan suara-suara gemuruh tahlil yang semulanya terdengar di surau-surau tersebut. Apakah kita akan membiarkan anak cucu dan kemenakan kita tak lagi mengenal yang namanya Surau, yang berlandaskan pada fokus pengkajian Tarekat, Sifat 20, Basilek? Dan setelah itu berangsur-angsur dihinggapi pemahan yang semua kita tak merestui pemahaman tersebut. Jangan sampai semua itu terjadi, kita semua sangat menghindari hal tersebut terjadi pada kampung kita.

Semoga kebekahannya meliputi kita semua, Amiin, Allahumma Amin.

Habibur Rahman
Pecinta ulama dari Ranah Minang