Tajdid #02 (Kitab-kitab Tajdid Keilmuan Islam di Abad 20-21)

Tajdid #02 (Kitab-kitab Tajdid Keilmuan Islam di Abad 20-21)

Tajdid Keilmuan Islam Tajdid Keilmuan Islam Tajdid Keilmuan Islam Tajdid Keilmuan Islam

Sebelumnya Baca: Tajdid #1, Tajdid Ilmu Keislaman antara Klaim dan Fakta

Oleh: Fauzan Inzaghi

Seperti janji di tulisan sebelumnya, bukan tulisan tentang rindu, tapi tentang tajdid ilmu. Di mana tajdid itu suatu yang gampang diomongin tapi sulit dipraktikan, tapi bukan berarti tidak ada yang melakukan tajdid dalam ilmu syar’i. Tapi karena butuh ilmu yang rasikh dan pemahaman terhadap waqi, syarat yang sulit butuh untuk memadukan agar tidak keluar dari dhawabit (standarisasi/aturan) tapi satu sisi juga harus bisa menyelesaikan masalah kontemporer, maka jarang orang yang bisa melakukannya. Biasanya kalau berpegang pada dhawabit sulit menyelesaikan masalah kontemporer. Kalau berusaha menyelesaikan kontemporer tapi sering keluar dari dhawabit dan akhirnya menciptakan masalah baru. Jadi, saat ada yang bisa melakukan keduanya itu sangat keren, dan dipastikan selanjutnya itu akan jadi tren dan diikuti oleh thalibul ilm.

Di sini saya berusaha menyebutkan beberapa bentuk tajdid keilmuan Islam, yang dilakukan oleh ulama tempat saya belajar, yaitu negeri Syam. Dalam 12 cabang ilmu keislaman, kamu bisa mengqiyaskannya.

1. Ilmu wahyain: al-Qur’an dan al-Hadist

-Untuk ilmu al-Qur’an, bacalah kitab tajwid alMushawar (ilustrasi tajwid) karya Syekh Aiman Suwaid, bagaimana beliau membuat metode baru dalam mengajarkan ilmu tajwid yang benar dan dekat dengan keadaan umat di zaman ini. Ilmu tajwid yang sebelumnya tampak “gitu-gitu” aja, dibuat begitu dekat kepada umat di zaman ini, tanpa harus keluar dari dhawabut ilmu tajwid. Seolah kita melihat Ibnu Jazary sedang menulis Matan Tajwid yang cocok untuk orang pada zamannya

– Untuk Ilmu Hadis, bacalah kitab Manhajun Naqd (Metode Kritik dalam Ilmu Hadis) karya Syekh Nurudin Itr. Metode baru dalam melihat ilmu hadis, tapi benar-benar tanpa keluar dari kaidah para ulama terdahulu, malah memperkuatnya, sebagaimana Ibnu Salah menulis Muqaddimah dengan metode yang belum pernah ada sebelumnya.

2. Ilmu alat: Mantiq dan Bahasa Arab

– Untuk Ilmu Mantiq, bacalah kitab Dhawabit al-Ma’rifah (Standarisasi Pengentahuan) karya Syekh Abdurrahman Habannakeh. Ilmu alat dalam berlogika dijadikan satu, mulai mantiq, adab bahs wal munadharah (etika berdebat), maqulat, umur ammah, dan metode penelitian ilmiah disatukan, diringkas sedemikian rupa, dan dimudahkan lalu dibuat contoh-contoh yang “beneran sesuai dengan kebutuhan di zaman ini. Dan lagi-lagi tanpa ada yang keluar dari dhawabit ulama terdahulu. Seolah kita melihat Qutub Tahtany hidup di zaman ini.

– Untuk ilmu bahasa Arab, bacalah kitab-kitab Syekh Ali Thantawi, terutama Qishas min at-Tarikh (cerita dari sejarah) dan Rijal min atTarikh (para pahlawan dari sejarah). Bahasa beliau yang dimudahkan untuk dipahami untuk zaman ini, tapi tidak mengurangi zauq adab araby (cita rasa etiket Arab) sama sekali, bahkan buku-buku beliau dikenal Sahl Mumtani yang mana mudah dipahami, lezat dinikmati tapi ketika mencoba menulis Mumtani dan sangat sulit ditiru. Gaya sastra yang sesuai zaman tapi juga tidak menghilangkan adab araby dengan mufradat dan gaya balaghahnya sama sekali. Mungkin hal yang sama dilakukan oleh Badiuzaman al-Hamazani dahulu ketika menulis maqamatnya, memecah tren kitab adab araby seperti Ibnu Muqaffa atau Jahiz. Saya tidak akan heran jika suatu saat gaya Sahl Mumtani ini akan diajarkan sebagaimana ilmu Maqamat diajarkan hari-hari ini

3. Ilmu Ashlain: Ushuludin/Aqidah dan Ushul Fiqh

– Untuk Ilmu Aqidah, bacalah buku Kubra Yaqiniyat alKauniyah, karya Syekh al-Buthy, kitab populer ini menulis akidah dengan isi yang sama, manhaj yang sama dengan para imam terdahulu, tapi menyelesaikan masalah-masalah akidah terbaru seperti matrialisme, pragmatisme, wahabisme, darwinisme, ahmadiyah, dll. Tapi sama sekali tidak keluar dari akidah para imam. Tentu saja semua orang yang membaca kitab ini mengingatkan bagaimana al-Ghazali menulis kitab al-Iqtishad pada zamannya, ukuran yang tidak jauh berbeda, gaya yang sama, dan menyelesaikan masalah yang memang dihadapi pada zamannya.

– Untuk Ilmu Ushul Fiqh: sayangnya saya belum melihat karya tajdid secara menyeluruh dalam ilmu ini, baik di Syam atau di luar Syam. Kalau bab tertentu mungkin ada, ini tentu jadi pekerjaan rumah (PR) bagi kita (tentu jika ada yang mau mengasih tahu silahkan tentu akan bermanfaat). Tapi ada satu kitab yang saat ini belum terlalu populer tapi bisa saya katakan salah satu bentuk tajdid ushul fiqh, yaitu Kitab Mafatih Tafsir Nushus (kunci untuk menafsirkan teks wahyu), Syekh Hasan Khiyami. Dalam buku ini beliau mengobati banyak masalah yang dihadapi ushul fiqh kontemporer seperti La Mazhabiyah (anti mazhab), Hermeneutika, Maqashid Syariah Liar, dll bahkan uniknya beliau juga menjelaskan pentingnya pembahasan yang ada dalam bab-bab Ushul fiqh untuk menyelesaikan masalah umat terutama manhaj berpikir yang bermasalah di zaman ini. Mungkin beberapa tahun ke depan saat kitab ini sudah tahan kritik kita bisa mengatakan inilah contoh kitab tajdid dalam ushul fiqh

4. Ilmu Amal: Fikih (amal lahir) dan Tasawuf (amal batin)

– Untuk ilmu fikih: mungkin salah satu kitab paling fenomenal dalam khidmad ilmu fikih itu adalah Madkhal Fiqh Am (Entri Fikih Umum) karya Syekh Mustafa Zarqa. Dalam kitab ini beliau mungkin tidak menulis fikih dari A-Z, tapi beliau menyatukan ilmu nazhariyah fiqhiyah (teori fikih), yang sebelumnya terpencar. Ini sangat membantu dalam taqnin fiqh islamy, dan membuat paradigma yang spesial dalam melihat fikih. Bukan hanya bagi seorang Muslim dan fuqaha tapi juga oleh non-muslim sehingga fiqh islamy dianggap salah satu sumber undang-undang yang sesuai dengan perkembangan zaman. Makanya, buku beliau ini juga dikenal sebagai “fiqh islamy dalam baju yang baru”. Ya, baju yang baru tapi isinya tetap fiqh islamy yang sama yang diajarkan para imam. Inilah bentuk tajdid haqiqy

– Untuk Ilmu Tasawuf: Sepertinya tidak perlu ragu meletakkan haqaiq anit tasawuf (fakta tentang tasawuf) karya Syekh Abdul Qadir Isa dalam posisi paling depan dalam tajdid. Pembahasan yang simpel cocok untuk kitab Madrasi Zaman. Setiap bab dalil pembahasannya selalu dari al-Qur’an, Hadis, Atsar, dan Syawahid dari perkataan para imam dan istidlalnya, membuatnya begitu ilmiah. Cara penyampaiannya sesuai dengan zaman dan mudah dicerna oleh umat di zaman ini. Selain wilayah teori juga memberi petunjuk praktis. Ditambah lagi penjelasan dan jawaban atas syubhat-syubhat yang populer di zaman ini baik dari mutasawifin sendiri atau yang tidak suka pada tasawuf. Tentu saja membuat kitab ini spesial.

5. Ilmu Wasf: Siyar (masa lalu) dan Fitan (masa depan)

– Untuk ilmu siyar, bacalah Fiqh Sirah karya Syekh al-Buthi, buku ini spesial karena muncul di zaman di mana di sekolahan gaya populer dalam mengajarkan sirah nabawiyah (sejarah nabi), hanya hafal peristiwa dan tahun kejadian saja, tapi Syekh al-Buthi dalam kitab ini mengingatkan bahwa beginilah seharusnya sirah dibaca, setiap peristiwa ada pelajaran yang diambil. Pelajaran yang bukan sekadar hikmah tapi juga hukum, dan bagaimana hukum diterapkan. Beliau mentahlil sirah nabawiyah seolah sirah bersatu dengan fikih, ushul fiqh dan tarikh tasyri sekaligus. Ajib memang Syekh al-Buthi ini. Melalui sirah beliau juga mengingatkan bagaimana kesalahan pemahaman terhadap hukum Islam yang banyak tersebar di zaman ini, seperti jihad, politik, hudud, dll. Beliau juga mengkonter beberapa pemikiran yang berkembang di zaman ini, yang dianggap keluar dari manhaj para imam yang berkaitan dengan sirah. Banyak juga beliau mengkonter kesalahan orientalis baik tuduhan ataupun metodologi mereka dalam berbicara sejarah. Beginilah tajdid sebuah ilmu.

– Untuk ilmu Fitan: saya belum menemukan karya ulama Syam zaman ini secara khusus yang membahas ilmu Fitan secara teori, walaupun secara praktis bejibun, masalahnya kita lagi bahas tajdid ilmu, dan sampai saat ini saya belum menemukan ulama Syam yang menulisnya dalam bentuk tajdid, (jika ada yang tahu mungkin bisa memberi informasi). Tapi diluar Syam tentu ada, buku Fiqh Tahawulat (Fikih Akhir Zaman) karya Habib Abu Bakar al-Masyhur sering disebut sebagai tajdid dalam ilmu fitan, karena taq’idnya, pembahasan detail mustalahatnya, pembacaannya pada permasalahan zaman ini dan mengikatnya dengan nushus abawiyah banyak dipuji di mana-mana

6. Adab Ilmu: Adab syekh/dakwah dan adab murid/tahammul

Jujur bacaan saya pada 2 ilmu ini terutama buku Muashir sangat kurang. Kebanyakan yang saya baca buku-buku turats (sebenarnya tidak banyak juga), karena beberapa buku yang pernah saya baca yang ditulis di zaman ini kebanyakan pengulangan. Nyaris tidak ada suatu yang baru dari yang ada di buku turats, kecuali dari segi bahasa yang dipermudah. Tapi itu lebih disebabkan karena bacaan saya yang terbatas sih, maka lebih tepatnya bukan tidak ada, tapi bacaan saya yang terbatas (jadi jika ada yang tahu bisa memberi info tentu sangat bermanfaat).

Tapi untuk ilmu dakwah di zaman ini saya banyak mendengar pujian pada Fiqh Dakwah, Syekh Abdurahman Habannakeh, hanya saja saya belum membacanya. Jadi tidak bisa menjelaskan lebih lanjut.

Baca Juga: Tajdid yang Membumi: Alasan Mengapa Syekh al-Buthi Penting bagi Anak Siak dan Santri

Sedangkan ilmu adab murid/adab tahammul ilmu, saya pernah membaca satu buku yang sangat bagus berkaitan dengan ilmu ini. Judulnya Thulabul Amal la Thullabu ‘Ilm (para penuntut pekerjaan bukan penuntut ilmu) karya Syekh Hasan al-Khiyami. Bagi saya buku ini bisa dikatakan kitab Ayyuhal Walad versi zaman ini. Seorang Thalib dan Dai yang membaca kitab ini insyaallah akan tertampar keras. Saya tidak tahu buku ini bisa dikatakan sebagai tajdid atau tidak, toh para ulama lah yang akan memberi penilaianya. Mungkin karena baru dan belum populer, dan juga sangat tipis untuk dikatakan sebagai tajdid, tapi beberapa ulama muda yang saya temui dan membaca buku ini mengatakan “buku seperti inilah yang dibutuhkan di zaman ini”. Kesimpulan dari buku-buku di atas? Semua buku di atas itu insyaallah nyaris tidak keluar dari Qawaid dan DhawabitTurats yang dijelaskan ulama terdahulu. Tapi di satu waktu mereka berhasil menulis ilmu para imam untuk memberi solusi pada permasalahan yang dihadapi umat manusia di zaman ini. Itulah bentuk tajdid yang sebenarnya. Ini yang membuat buku-buku di atas dijadikan referensi bahkan masuk menjadi kurikulum banyak dari madrasah lama di dunia, karena memang seolah turats yang ditulis dengan ruh zaman ini. Selain itu kitab-kitab ini juga semuanya populer. Penulis setelah mereka, sedikit banyak akan meniru manhaj mereka. Ya begitulah syaknu tajdid.[]

Fauzan Inzaghi
Fauzan Inzaghi 8 Articles
Mahasiswa Indonesia di Suriah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*