Taman Rasa, Serpihan Catatan Perjalanan Menelusuri Jejak Para Masyaikh di Ranah Minang (Bagian Pertama)

#ABAK

“Kalau bisa tolong usahakan untuk segera pulang. Abak kondisinya sudah agak payah, sudah dua hari ini tak ada respons ketika diajak berkomunikasi. Tak mau makan dan tak mau minum..” begitu kata kakak lewat sambungan telpon.

Darahku tersirap mendengar kabar itu. Abak (Ayah) memang sudah lama sakit-sakitan. Sudah beberapa bulan ini beliau hanya terbaring ditempat tidur. Usia Abak sudah mendekati 87 tahun, memang dalam 3 tahun ini kesehatan Abak jauh menurun, apalagi selepas musibah terjatuh dan mengakibatkan patah pada tulang pangkal paha, semangatnya tampak melorot. Tempo hari ketika aku menelepon dengan telepon tatap muka beliau sudah tak dapat mengingat, tak dapat mengenali kami atau sesiapapun yang mengajaknya berkomunikasi. Bila diajak mengobrol hanya menatap dengan pandangan kosong dan bicara melantur.

Kabar yang aku terima dari kakakku ini langsung kusampaikan kepada istri dan anak-anakku, mereka ikut bersedih. Aku berkata pada mereka bahwa harus segera pulang, menengok Abak, namun kali ini aku tak dapat mengajak mereka untuk ikutan mudik, situasi tak memungkinkan, mereka memaklumi.

Malam itu juga aku melaksanakan test PCR. PCR itu adalah singkatan dari polymerase chain reaction. PCR merupakan metode pemeriksaan virus SARS Co-2 dengan mendeteksi DNA virus. Test ini adalah sebuah test kelayakan alias bebas virus Covid untuk syarat berpergian jarak jauh. Memang begitu prokesnya apabila mengguna angkutan udara untuk berpergian antar pulau, harus ikut test dan dinyatakan Negatif sebagai salah satu syarat layak berpergian. Test PCR sebagai kelayakan berpergian antar pulau menjadi penting karena saat ini situadi akibat wabah Pandemi Covid -i9 belum kondusif. Alhamdulillah, hasil tes PCR menyatakan bahwa aku Negatif, tak ada virus Covid. Dengan demikian aku dinyatakan layak untuk dapat berpergian antar pulau. Besoknya aku langsung berangkat, terbang menuju Padang dengan menggunakan pesawat dari maskapai City Link. Bersamaku turut serta keponakanku, Jefri Chaniago.

Penerbangan ke Padang berjalan aman tanpa kendala. Berangkat dari Jogja jam 8 pagi, tiba di Padang jam 4 sore. Sebenarnya waktu tempuh rute Jogja Padang dengan menggunakan pesawat terbang tak sampai dua jam namun karena transit dulu di Jakarta dan berganti pesawat maka durasi perjalanan tampak lama. Dari kota Padang menuju kampungku Lintau berjarak sekitar 110 KM, 4 jam waktu menggunakan kendaraan roda empat. Diselingi makan siang yang kemalaman di Rumah Makan Lamun Ombak, akhirnya tepat jam 9 malam aku sudah sampai di Lintau, kedatanganku disambut gerimis hujan dan hawa dingin pegunungan yang mengigilkan tulang.

Setelah menaruh tas pakaian di kamar yang telah disiapkan untukku, aku langsung menuju ke kamar sebelah, kamar Abak. Ku lihat Abak terbaring diam dikasur. Kudekati beliau dan duduk disamping tempat tidurnya. Perasaanku campur aduk melihat kondisi beliau, Abak terlihat ringkih, terbaring tak berdaya diatas kasur dengan tubuh kurus, hanya tulang berbungkus jangat. Terakhir berjumpa dengan beliau, saat Abak tinggal masih bersamaku di Jogja empat tahun yang lalu, saat itu badannya masih tegap dan berisi, masih bisa diajak berkomunikasi. Ketika kusapa dan kupegang tangannya Abak tak merespons, hanya diam. Meneteslah airmata ini melihat kondisi Abakku terkini.

Esok hari, mungkin karena lelah akibat perjalanan jauh, aku terbangun kesiangan. Selepas menunaikan shalat subuh yang telat, aku menuju kamar Abak lagi. Abak masih tidur, namun ketika aku menyapa dan memegang tanganya, beliau terbangun dan menatapku. Aku tersenyum padanya dan mencoba mengajaknya berbicara tapi kembali tak ada respond. Beliau hanya menatapku dengan pandangan mata yang kosong.

“Sebelum kau tiba, sudah 2 hari Abak tak mau membuka mulutnya, terkatup saja, tak mau makan dan minuman.. “ lapor Uni (kakak perempuan) ku.

“Tapi, Alhamdulillah, hari ini Abak sudah mau minum..” lanjut Uniku sambil mengusap tetesan minuman yang menetes didagu Abak.

“Tadogak jo anak lanang bonsunyo kigho e abak mah (Kangen sama anak leleaki bungsunya beliau ini).. “ tambah uniku. Aku tersenyum menatap Abak yang sedang menghabiskan susu hangat yang dibuatkan Uniku untuknya.

Senang juga melihat perkembangan Abak setelah dua hari aku mendampingannya. Abak sudah mau minum kembali, namun belum mau makan, kalau disodorkan makanan beliau masih menolak. Sesekali, Abak menggumamkan kata namun kami tak paham apa yang ingin dibicarakannya, beliau bicara melantur, lalu selepas itu beliau akan diam kembali, tenggelam dalam dunia sunyinya dan tak peduli akan kehadiranku.

Tapi ada yang menarik, ketika di hari kedua menemani Abak, aku mengajaknya berbicara, tepatnya meminta ijin hendak pergi berziarah. Dan tiba-tiba abak menjawab bisa permintaanku itu.

“Poi lah ( Pergi lah)..” kata beliau lalu setelah itu beliau diam, aku terkejut mendapati Abakku bisa merespons. Lalu aku ajak ngobrol lagi, kulontarkan beberapa pertanyaan lagi, namun tak ada respons. Kalaupun menjawab, jawabannya sudah tidak nyambung, sudah ngelantur kemana-mana lagi.

BacavJuga: Pusat-pusat Keilmuan Islam di Pedalaman Minangkabau pada Abad 19 dan 20

AMAK

Selepas mandi pagi yang kesiangan aku meluncur ke makam Amak (ibu) ku. Galibnya pemakaman di Ranah Minang, apalagi di daerah pelosok, sangat jarang terdapat pemakamaman umum, biasanya orang-orang yang sudah meninggal dimakamkan di pemakaman sukunya atau di pemakaman keluarga.

Makam Amak terletak di pemakaman keluarga, yang terletak di samping rumah kami. Selain ibuku, di pemakaman itu ini dimakamkan juga kedua orang tua Amak, kakak-kakaknya dan beberapa saudara dan keponakanku yang telah mendahului menghadap sang Khalik.

Amak berpulang tujuh tahun yang lalu, namun rasanya baru kemarin saja aja bercakap-cakap dan berkeluh kesah padanya. Di samping nisan beliau, setelah menguluk salam dan memanjatkan doa, aku membiarkan segala kenanganku dengan Amak mengalir deras. Flashback, segala kenangan sejak masa kecil hingga dewasa seolah terpampang di depan mata, kasih sayang Amak terbayang-bayang. Tak sadar, satu dua tetes airmata mengalir. Tiba-tiba sebuah kerinduan nan kuat padanya menyesakan dadaku.

Setelah menuntaskan segala rasa sesak kerinduan pada Amak, aku berpindah ke makam-makam lain, ke makam Pak Tuo (kakek), Uwo (nenek), Onga(budhe), Uwan (kakak sepupu laki-laki),para keponakan dan terakhir uluk salam pada mamak(paman)ku, Anwar Mantari Gaga atau Mak Ntari

ANWAR MANTARI GAGA

Mak Ntari adalah kakak lelaki Amak yang nomer dua, kakak lelaki yang pertama adalah Mak Sa’adun. Makam mak Ntari beliau berjejer dengan makam Amakku, makam Uwo Sona, nenekku dan makam Pak Tuoku, Limbak Malintang Sati.

Dari pihak keluarga Amakku banyak penganut Islam Tradisional, salah satunya Amakku dan mak Mak Ntari, mereka adalah para pengikut ajaran tarekat Naqsabandiyah, terutama Mak Ntari, beliau salah satu Salik Tarekat yang populer di Ranah Minang ini. Mursyid beliau adalah Ongku Muhammad Noer Tobek Panjang.

Semasa aku kecil dan tinggal di Lintau, kalau Amak dan Mamakku pergi bersuluk ke Surau Batang Pompan, pernah juga mengajakku. Namun, karena saat itu aku masih kecil maka aku tak paham-paham benar apa ritual yang sedang mereka lakukan itu. Kenangan yang masih kuingat akan ritual di Surau Batang Pompan adalah pemandangan ekstase para jemaah ketika sedang melakukan ratik. Sayang, sekarang Surau Batang Pompan sudah tidak ada, tinggal landasan batu saja. Surau ini telah runtuh telah menjadi situs penuh semak belukar karena tidak ada lagi jamaah yang menghidupinya. Islam tradisional berganti menjadi Islam Modern, malah sekarang ada gejala maraknya Islam yang lebih Puritan. Pengamal dan ajaran Tarekat boleh dikatakan hampir punah di Lintau, hanya tinggal kisah-kisah saja. Kalau pun masih ada orang atau pengamal ajaran tarekat itu pun tak semononjol seperti zaman dahulu kala.

Selepas berziarah ke makam Amak dan Mak Ntari, aku singgah di rumak Mak Ntari yang sekarang ditempati salah satu anak beliau. Uni Ta begitu aku memanggil kakak sepupuku itu. Selain bersilaturahim aku juga ingin bertanya-tanya sedikit perihal “tinggalan” kaji Mamakku itu. Uni Ta memperlihatkan beberapa kitab milik Mamak, yang kerap dibaca beliau. Dan aku ingat, satu dua kitab itu pernah di perlihatkan padaku. Kitab itu adalah pemberian guru atau Mursyid beliau, Ongku Muhammad Noer Tobek Panjang. Selain kitab, ada juga selembar fotokopian manuskrip berbahasa Arab, ditulis tangan bukan cetakan. Menurut Uni Ta, lembaran itu adalah tulisan tangan dari Ongku Muhammad Noer Tobek Panjang, lebaran itu dibagikan beliau kepada beberapa muridnya sebelum beliau wafat. Salah satu yang mendapat lembaran itu adalah mamakku yang konon adalah salik atau murid kesayangan Ongku Muhammad Noer.

Baca Juga: Abu Qamaruddin Lailon Teunom; Ulama Karismatik, Ahli Tarekat dan Murid Syekh Muda Waly Generasi Pertama

Karena aku tak paham bahasa Arab, dan tak tahu arti tulisan tersebut maka aku meminta ijin kepada Uni Ta untuk memperlihatkan kitab dan lembaran tulisan itu kepada Buya Apria, seorang Alim dan ahli filologi, yang mengkhususkan diri mempelajari manuskrip-manuskrip tinggalan dari para penyebar Islam generasi awal di Ranah Minang. Kebetulan di hari Minggu aku telah membuat janji akan bertemu dengan Buya Apria Putra di kediaman beliau di Padang Mangateh, Payakumbuh.

(Bersambung: Taman Rasa, Serpihan Catatan Perjalanan Menelusuri Jejak Para Masyaikh di Ranah Minang (Bagian Kedua)

Jumaldi Alfi
Seniman Minang, Modernis berhati tradisionalis, tinggal di Jogja.