Tarekat Syadziliyyah di Minangkabau

Tarekat Syadziliyyah di Minangkabau
Ilustasi/Dok.https://www.bbc.com/indonesia/majalah-44345681

Minangkabau merupakan salah satu pusat pengamalan tarekat-tarekat shufiyyah di Indonesia. Tarekat Shufiyyah masuk seiring perkembangan agama Islam di daerah ini. Hingga saat ini, keadaan masih tetap sama; Minangkabau tetap sebagai daerah basis Islam yang mempunyai pengamal tarekat yang cukup padat.

Setidaknya terdapat beberapa tarekat mu’tabarah yang mempunyai pengaruh luas di kalangan Muslim Minangkabau dewasa ini. Mulai dari Syattariyah, Naqsyabandiyah Khalidiyah, Sammaniyah, hingga beberapa tarekat lainnya. Dari beberapa tarekat yang berpengaruh tersebut, Tarekat Syadziliyyah, hampir tidak pernah disebut, terutama oleh penulis-penulis sejarah keislaman di daerah ini.

Tarekat Syadziliyyah, tarekat mu’taibarah yang dinisbahkan kepada Imam Abul Hasan al-Syadzili, merupakan salah satu ordo sufi yang berkembang pesat di berbagai belahan dunia Islam hingga saat ini. Tarekat ini ditopang oleh ulama-ulama besar, seperti Imam Ibnu Atha’illah al-Sukandari, ulama al-Azhar al-Syarif, penulis al-Hikam yang masyhur tersebut. Termasuk juga di dalamnya Imam al-Jazuli penyusun Dala’il al-Khairat dan Imam al-Bushiri pengarang al-Burdah al-Madih. Karya-karya adi luhung yang ditulis oleh pengamal Tarekat Syadziliyyah ini, yaitu al-Hikam, Dala’il al-Khairat, dan al-Burdah al-Madih, menjadi bacaan dan wirid kaum muslimin di banyak tempat.

Baca Juga: Syair Tarekat dari Minangkabau Peristiwa Geger Cianjur 1885 dan Jaringan Intelektual Ulama Cianjur Minangkabau Timur Tengah Abad XIX

Tarekat Syadziliyyah menggunakan hizib dan aurad sebagai pengamalan dalam mendidik rohani salik-nya. Di antara hizib/ aurad tersebut, yang terkenal, ialah Hizib Bahar, Hizib Barr, dan Hizib Nashr. Hizib-hizib ini diamalkan dengan syarat ijazah amal dari seorang syekh yang mempunyai ijazah sanad.

Di Minangkabau, Tarekat Syadziliyyah, terlacak lewat aktivitas keilmuan Maulana Syekh Isma’il al-Khalidi Simabur al-Minangkabawi al-Makki atau yang dikenal dengan “Baliau Simabua” (Simabur-Batusangkar). Beliau lebih dikenal sebagai ulama besar Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, murid dari Sayyid Abdullah Afandi di Jabal Abi Qubaisy. Beliau pula yang menghubungkan sanad keilmuan anaksiak Minangkabau dengan Jabal Abi Qubaisy (Makkah) yang merupakan lokus Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah pada abad 19. Padahal beliau, di samping menulis nisbah al-Khalidi (Naqsyabandiyah Khalidiyah) di belakang namanya, juga mengiringi nisbah itu dengan al-Syadzili, yang membuktikan bahwa beliau juga pemangku (mursyid) Tarekat Syadziliyyah. Bahkan beliau pernah mensyarah dalam bahasa Melayu Kitab Mawahib Rabbil Falaq karya Ibnu Bintil Milaq, kitab yang berisi asas-asas Tarekat Syadziliyyah. Kitab syarah ini pernah dicetak di Makkah (Maktabah al-Miriyyah al-Ka’inah) di akhir abad 19 dan di Bukittinggi (Maktabah Islamiyyah) pada awal abad 20.

“Min Kibaril Ulama’il Jawi”, di antara ulama besar Nusantara, begitu Syekh Ahmad Khatib Minangkabau menyebut sosok Baliau Simabua ini, yang menunjukkan bagaimana posisinya di kalangan ulama terutama yang berasal dari Negeri Bawah Angin saat itu. Baliau Simabua dapat disebut sebagai Syaikhul Masyaikh yang mempunyai pengaruh besar di Minangkabau setelah Syaikhul Islam Syekh Burhanuddin Ulakan dan Syekh Tuanku Koto Tuo. Posisi ini merupakan hal yang dapat dipahami, karena “Baliau Simabua” mendidik ulama-ulama besar Minangkabau pada abad 19. Sebutlah nama-nama besar dan legendaris, seperti Maulana Syekh Abdurrahman Batuhampar, Syekh Abdul Halim Labuah Simabua, Syekh Muhammad Yatim Padang, Syekh Mustafa al-Khalidi “Baliau Sungai Pagu”, Syekh Muhammad Shaleh Silungkang, dan Syekh Muhammad Thahir “Baliau Barulak”.

Dalam manuskrip peninggalan “Baliau Batangkapeh” (Pesisir Selatan), disebutkan bahwa Syekh Isma’il al-Khalidi atau “Baliau Simabua” menerima tarekat Syadziliyyah dari Qutub Zaman Syekh Muhammad Shaleh bin Syekh Ibrahim al-Ra’is, Mufti Mazhab Syafi’i di Makkah. Selain izin mengamalkan, syekh tersebut juga memberikan ijazah irsyad sesuai kepatutan dan adab dalam ilmu tarekat.

Syekh Isma’il “Baliau Simabua”, yang mengajar hingga wafat di Makkah tersebut, mengkader ulama-ulama yang kemudian berperan penting dalam lapangan agama di abad 20. Di antara yang mempunyai sanad keilmuan dengan Syaekh Isma’il ialah ulama-ulama Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI). Di samping ilmu akidah, fikih, tata bahasa Arab, ulama-ulama tersebut juga tersambung dari segi ilmu dan amal tarekat. Salah satu ulama PERTI yang mempunyai ijazah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dan tarekat Syadziliyyah ialah Syekh Abdul Wahid al-Shalihi Tobekgodang, mu’assis Madrasah Tarbiyah Islamiyah Tobekgodang.

Pada perkembangan selanjutnya, nama tarekat Syadziliyyah tidak begitu dikenal di kalangan anaksiak (santri), sebab lebih familiar dengan hizibhizib yang merupakan wirid dari Tarekat Syadziliyyah tersebut. Doa Hizib yang kemudian pernah berkembang, dan saat ini menjadi yang hal cukup langka, ialah Hizib Barri dan Hizib Bahar. Kita perlu mengenal nama Ongku Jaharuddin Thaha (anak yang Mulia Syekh Muhammad Thaha “Baliau Limbukan”), saudara Nasharuddin Thaha (lulusan al-Azhar, pernah penjabat Ketua Mahkamah Syar’iyyah Sumatera Tengah), sebagai pemangku Hizib Bahar, dan Syekh Mahmud Abdullah Tarantang – Harau (Payakumbuh), sebagai pemangku Hizib Barri.

Baca Juga: Polemik Tarekat Naqsyabandiyah di Minangkabau Awal Abad 20 Sumbangan 2 Karya Syekh Abdul Karim Amrullah Ayah Buya Hamka

*********

Adapun saya, Apria Putra, yang dilaqabi oleh guru saya dengan “Ongku Mudo Khalis”, menerima ijazah Hizib Bahar (atau dalam bahasa daerah disebut Do’a Sunu Bahar) dengan syarat-syaratnya dari pada al-marhum Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini (lahir 1916, wafat 2008). Beliau menerima ijazah Hizib ini dari guru beliau Ongku Jaharuddin Thaha bin Syaikh Muhammad Thaha “Baliau Limbukan”, mu’assis Ma’had Dini Limbukan – Payakumbuh. Beliau menerima di masa Kolonial, sebelum era kemerdekaan. Guru saya tersebut bercerita bahwa ijazah hizib ini khas diberikan oleh Ongku Jaharuddin Thaha kepada beliau seorang saja. Beliau menghafal i dari pagi sampai sore, melalui lisan gurunya tersebut.

Foto: Saya menziarahi guru saya, alm. Tuanku Mudo Baliau Rasyid Zaini, kemarin.

Seperti biasa, pada hari baik bulan baik, saya mengunjungi guru saya tersebut di Tanjuang Onau, Indobaleh Barat, Nagari Mungo. Ini merupakan tradisi yang lazim bagi saya. Sekadar membaca al-Fatihah dan Surat al-Ikhlas, sudah membuat hati lega. Meskipun beliau sudah wafat, belasan tahun yang lalu. Yang guru tetaplah guru, tidak mengenal istilah “wafat”.

Alfatihah….

Padangmangateh, 24 April 2020

Apria Putra
Apria Putra 90 Articles
Alumni Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pengampu Studi Naskah Pendidikan/Filologi Islam, IAIN Bukittinggi dan Pengajar pada beberapa pesantren di Lima Puluh Kota

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*