Tekad Mamak H. Irwan Mengokohkan Persatuan Minangkabau di Kalimantan Barat

Tekad Mamak H. Irwan Mengokohkan Persatuan Minangkabau di Kalimantan Barat
Mamak H. Irwan, seorang pengokoh Persatuan Minangkabau di Kalimantan Barat

Mamak H Irwan Mamak H Irwan

Mamak dalam bahasa Minangkabau berbeda arti dengan bahasa Indonesia pada umumnya. Jika kata ‘mamak’ dimaksudkan untuk memanggil Ibu, maka ditradisi keluarga Padang, sebutan itu justru ditujukan kepada seorang Paman.

Diakui kerabat dekat (dunsanak), saya diharuskan mengganti kata paman, mengucapkan ‘mamak’, diantaranya terhadap beliau, Bapak H. Irwan.

Menarik di kala perjamuan yang mengikuti protokol kesehatan, Mamak Irwan berpesan kepada khususnya Dunsanak Urang Awak supaya bersabar menghadapi situasi saat ini, sebab perkumpulan persatuan Minang selama pandemi tidak seintens biasanya.

Namun bukan berarti silaturahmi terputus antar sesama saudara serantau. Penting untuk selalu berkirim kabar, saling mengenal dan mendukung satu sama lain. Ketika musim berat ini berlalu, rangkaian program keorganisasian dapat kembali bergulir sebagaimana yang telah berjalan selama ini.

Baca Juga: Kritik atas Teori Merantau Mochtar Naim, Taufik Abdullah, dan Usman Pelly

Sejauh pengalaman Mamak Irwan dalam menjalankan roda organisasi perkumpulan Minangkabau, beliau bercerita mengenai sukacita saat berkesempatan berkeliling sepertiga wilayah di Indonesia, menemui setiap sanak saudara, baik mereka orang asli Sumatera Barat yang berhijrah ke daerah lain, maupun anak keturunan, beliau melihat semangat mereka menjaga kekompakan, mempertahankan identitas nenek moyang begitu luar biasa.

“Alhamdulillah, saya sudah mengunjungi beberapa wilayah di Indonesia. Dari sekian banyak, yang cukup membuat saya salut adalah perhimpunan warga Minang di Bali dan Lampung. Sangat inspiratif”, kenang Mamak.

Semangat itulah yang kemudian menggiring tekad Mamak Irwan Chaniago untuk mengokohkan persatuan urang awak di Kalimantan Barat. Upaya konkriet tersebut dinyatakan dengan membentuk IKM (Ikatan Keluarga Minangkabau) yang bertujuan mengumpulkan setiap insan Padang (Minang) lintas marga di seluruh tanah Borneo Barat, meski disayangkan, sang inisiator menolak menahkodainya.

“Silahkan Dunsanak yang ingin menjadi Ketua di berbagai wadah perkumpulan Minangkabau, saya sendiri bersedia menyokong di balik layar, selaku Penasihat. Apapun kegiatan yang akan dilangsungkan nanti, saya siap memberikan sumbangsih nyata. Demikian juga saran Fadli Zon ke saya. Penuh harap warga Minang di tempat kita tetap eksis dan semakin solid”, jelas mamak.

Menyimak pernyataan Mamak, saya mengamati lewat diam. Saat mendapat kesempatan bersuara, saya menyampaikan pandangan terutama menyoal generasi muda Minang yang tidak terhubung layaknya orangtua mereka, termasuk generasi saya yang lahir di era ’90an. Tentunya ini menjadi realitas yang menuntut dicarikan solusinya bersama.

Baca Juga: Surau, Lapau, dan Rantau

Seperti diketahui, Mamak H. Irwan merupakan salah satu Tokoh Minang yang cukup berpengaruh secara nasional. Selain memiliki rumah makan Padang bernama Campago, beliau berhasil menamatkan gelar akademis tingkat S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Tanjungpura Pontianak. Pandangan-pandangannya sering dijadikan referensi bagi segelintir kerabat Sumbar dalam mengambil sikap, terutama dalam hal menjaga persatuan dan relasi warga Minang di perantauan.[]

Rony Ramadhan Putra
Staf Pengajar di Institut Agama Islam Sultan Safiuddin Sambas, Kalimatan Barat