Terbunuhnya Buya Katidiang

Terbunuhnya Buya Katidiang
Ilustrasi: https://unidessy.wordpress.com/2012/10/27/koplak-seni-lukis/

Terbunuhnya Buya Katidiang

Datangnya bulan suci Ramadhan di kampungku selalu digadang semarak. Ibarat menyambut kedatangan orang rantau yang sudah lama tidak pulang. Seperti kerinduan yang tak tertahankan dari keluarga yang menunggu kepulangan si anak hilang yang kini tersiar kabarnya. Tapi tetap saja nuansa bulan Ramadhan kali ini terasa sedikit berbeda dan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Apalagi bulan Ramadhan kali ini bersamaan waktunya dengan tekad daerahku mencanangkan sistem pemerintahan nagari, setelah beberapa lama menerapkan sistem pemerintahan desa yang kurang berkenan dengan suasana masyarakatku.

Spanduk berbagai ukuran bertuliskan baliak ka nagari dipajang pada beberapa tempat strategis di kampungku. Di kantor wali nagari. Di kantor jorong. Di pos ronda. Di kantor kerapatan adat nagari. Di kantor bundo kanduang. Bahkan yang dipancang di pandam meliuk-liuk dikisai semilir dari pepokok karet berdaun rimbun. Kebahagian ini serasa semakin lengkap dengan diresmikannya oleh bupati dua lembaga pendidikan jelang tahun ajaran baru, yaitu Madrasah Tsanawiyah yang berdampingan dengan masjid Tahmid sebagai masjid nagari, dan Madrasah Aliyah yang didirikan di atas bekas parak nagari yang amat hampir jaraknya dengan lapangan sepak bola Tanah Dabuih.

Ditemani sisa histeria baliak ka nagari yang bergelantungan di tanduk-tanduk rumah gadang yang kini banyak dibangun, penduduk kampungku menunggu bulan Ramadhan dengan amat khidmat dan penuh harap. Surau-surau suku yang dulu mati suri dihidupkan kembali. Mushala-mushala terpencil di bantaran sungai yang biasa dihuni jamaah suluk yang melaksanakan shalat lima waktu berjamaah selama empat puluh hari berturut-turut juga dapat perhatian khusus dari wali nagari yang baru dilantik. Masjid yang terdapat di setiap jorong telah sedari sebulan sebelumnya dirias rapi. Dilengkapi dengan beragam kegiatan selama bulan suci Ramadhan kali ini.

Sehari sebelum puasa kaum muda kampungku menumpahkan kegembiraannya dengan pergi balimau ke sejumlah tempat pemandian. Danau Maninjau di Bukittinggi, danau Singkarak di Batusangkar, Batang Tabik di Payakumbuh, danau Diateh dan danau Dibawah di Solok banyak dikunjungi orang. Lembah Anai di Padang Panjang sorga bagi mereka yang ingin menghirup udara segar dengan latar hijau hutan yang yang lebat. Para pengunjung bisa mandi sepuasnya ditimpa sejuknya air terjun yang berkilauan sepanjang waktu. Mereka yang ingin menikmati suasana pantai dan berhasrat bergelut dengan gulungan ombak tinggal memilih yang sesuai dengan selera. Apakah ke pantai Karolin di Pariaman, pantai Air Manis dekat Muaro Padang atau ke pantai Nirwana yang terletak di pinggir jalan menuju Kerinci dan Bengkulu. Sedangkan para orang tua pergi menziarahi dan membersihkan pandam leluhur.              

Tradisi mambantai yang terletak di timur pandam nagari digelar lagi. Pasar yang menyediakan daging segar ini digelar sehari penuh dan waktunya hari Kamis menjelang datangnya bulan Ramadhan. Karena itu dinamakan juga Pakan Kami. Dikelola oleh berbagai kelompok julo-julo di kampungku. Anggota julo-julo biasanya sesama kelompok tani atau berasal dari suku yang sama. Niat awal digelarnya pasar ini untuk memenuhi kebutuhan daging bagi anggotanya menjelang tibanya bulan Ramadhan. Sisanya dijual dan dimasukan dalam kas kelompok. Daging dari Pakan Kami sangat membantu kaum ibu di kampungku untuk menyediakan jamba untuk manjalang mertua dan mamak terdekat menjelang puasa. 

 Baca Juga: Empat Pendamping Anak Dara

****

Rupanya pemandangan yang membahagiakan hati itu hanya bertahan sebentar. Perobahan yang terkesan bersigegas dan dipaksakan tidaklah terlalu baik. Apalagi baliak ka nagari diartikan dengan mengganti nama, memperbanyak rumah bagonjong, menghidupkan tradisi lama yang belum tentu sesuai dengan masa sekarang, dan membagi-bagikan gelar adat kepada siapa saja yang berminat. Desa diganti nagari dan dusun diganti jorong. Sejak baliak ka nagari penduduk kampungku sibuk menyusun silsilah keturunan dan mendata tanah ulayat kaumnya.   

Masa peralihan yang tidak disikapi dengan bijak dan tidak disiasati dengan arif ini melahirkan kekacauan hebat yang amat memilukan di kampungku. Tragisnya lagi peristiwa tersebut meminta korban seorang yang sangat dihormati di kampungku. Namanya Haji Syahril Umam Datuk Palimo Kayo, dan biasa dipanggil Buya Palimo Kayo. Beliau imam tetap masjid Nurul Falah jorong Koto Tinggi, mantan ketua kerapatan adat nagari, dan sering diundang ke berbagai tempat untuk memberikan pengajian agama.        

Kematian Buya Palimo Kayo terbilang nekad dan sadis. Nekad karena pelakunya berani membunuh yang bukan sembarangan orang. Karena Buya Palimo Kayo figur yang dimuliakan secara adat dan agama. Didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting. Terbilang sadis karena terdapat berbagai luka tusuk di perut, dada dan leher korban nyaris putus. Hinanya lagi, celana dalam korban diletakan di kepalanya. Sedangkan peci haji digantung di telinganya. Tubuh korban diikat di tunggul pepokok pohon asam disamping kandang sapi yang berada di ujung jorong.

Seminggu kemudian, di saat kenangan manis bersama Buya Palimo Kayo bagi penduduk kampungku tinggal di merahnya tanah kuburan di pandam Kapalo Koto, sang pelaku dapat diringkus pihak berwajib. Siapa yang menyangka pelakunya keluarga terdekat beliau. Siapa pula yang menyangka bila otak di balik pembunuhan tersebut orang-orang terpandang di kampungku. Dan siapa yang mengira pembunuhan Buya Palimo Kayo merupakan pembunuhan terencana dan berantai.

Muka penduduk kampungku ditampar dengan getirnya kenyataan disebabkan pelaku pembunuhan merupakan keluarga terdekat beliau. Rizal Efendi namanya, kemenakan terdekat Buya Palimo Kayo. Sang kemenakan sampai hati melakukan perbuatan terkutuk tersebut karena permintaannya untuk menggadaikan sawah sebagai modal manggaleh di Duri Pekanbaru tidak kunjung direstui sang mamak.

Kekesalan kemenakan yang telah lama dipendam kepada sang mamak terbakar oleh hasutan pihak luar yang sengaja menangguk ikan di air keruh. Apalagi ia sangat pandai bermain api dan begitu lihainya mengaduk-ngaduk perasaan sang kemenakan hingga gelap mata. Bagaikan nyala bara api disiram minyak tanah. Bergelora. Seperti luka yang ditetesi air asam. Perih.

Siapa yang tidak kenal dengan Datuk Palindih yang mahir sekali berpetatah-petitih adat dan sering disewa untuk keperluan baralek. Datuk Palindih menaruh dendam disebabkan Buya Palimo Kayo terang-terangan mendukung wali nagari Edi Jumhur dalam pemilihan wali nagari empat bulan lalu. Akibatnya Datuk Palindih kalah telak. Padahal ia telah mengeluarkan banyak pitih untuk kampanye. Karena bagaimana pun juga, dimana-mana pilihan seorang ulama akan diikuti banyak orang. Begitu juga di kampungku.           

Pihak kedua yang sato sakaki terbunuhnya Buya Palimo Kayo adalah seorang ninik mamak terkemuka di kampungku. Namanya Ismail Tayeb Datuk Rajo Kuaso dari suku Chaniago yang pernah dikalahkan Buya Palimo Kayo dalam pemilihan ketua kerapatan adat nagari beberapa tahun yang lalu. Kebencian Datuk Rajo Kuaso semakin tak terbendung lagi akibat kekalahannya dalam persengketaan batas tanah ulayat. Pengadilan memenangkan pihak  Buya Palimo Kayo.

Pihak ketiga yang berperan penting dalam peristiwa terbunuhnya Buya Palimo Kayo adalah sahabat beliau sendiri sesama penyiar agama. Buya Malin Dubalang namanya. Padahal keduanya pernah sama-sama menuntut ilmu di Madrasah Tarbiyah Islamiyah Gurun Batusangkar dibawah asuhan almarhum Buya Ramli Bakar. Sepeninggal Buya Ramli mereka berdua pernah sama-sama mangaji duduak pada Buya Bustami Rauf di Malalo. Tidak hanya sampai di situ persahabatan dua buya ini terjalin. Lima tahun lalu mereka sama-sama berangkat ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima. Rencananya Nurhayati Dahlia, putri bungsu Buya Palimo Kayo yang sekolah di Diniyah Putri Padang Panjang, akan dijodohkan  dengan putra Buya Malin Dubalang, Ahmad Hafiz Syahril, yang kuliah di Kairo.

Perseteruan dua buya ini sesungguhnya dipicu oleh persoalan sepele. Ceritanya, beberapa waktu setelah resmi baliak ka nagari Buya Malin Dubalang berniat menggunakan bahasa Arab dalam khutbah Jumat dan juga khutbah hari raya kelak. Buya Malin Dubalang juga minta salah satu masjid untuk melaksanakan niatnya tersebut. Namun dalam rapat nagari niat tersebut ditentang mayoritas peserta rapat dengan alasan berpotensi memecah belah nagari. Dan Buya Palimo Kayo termasuk tokoh yang bersikukuh menolak keinginan Buya Malin Dubalang. Menurut beliau, khutbah berbahasa Indonesia saja para jamaah masih banyak yang mengantuk. Apalagi memakai bahasa Arab. Jangan-jangan khatibnya sendiri tidak paham apa yang dibacanya.

Baca Juga: Jatah

Perlawanan Buya Malin Dubalang dan kelompoknya semakin kentara dalam menetapkan awal puasa lalu. Kelompok Buya Malin Dubalang terlambat dua hari karena menunggu kabar terlihatnya bulan. Mereka baru berpuasa setelah ada kabar terlihatnya hilal dari Ulakan di pantai utara Pariaman. Suasana yang sudah memanas ini diperparah oleh ceramah Buya Palimo Kayo yang menyatakan bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya. Bulan Ramadhan tempat untuk memberi dan bukannya tempat untuk mengeruk keuntungan pribadi. Apalagi dengan jalan menjual ayat-ayat Tuhan dan memecah belah umat.

Masyarakat lansung mengait-ngaitkan ke mana arah pembicaraan Buya Palimo Kayo. Siapa lagi yang disindir kalau bukan Buya Malin Dubalang. Merasa dijatuhkan harga dirinya, kontan saja Buya Malin Dubalang dan kelompoknya naik pitam. Gemetaran menahan dongkol. Dalam suatu pengajian Buya Malin Dubalang menyatakan bulan Ramadhan bulan panennya buya-buya katidiang. Para jamaah pun menebak ceramah tersebut ditujukan pada badan diri Buya Palimo Kayo.

Dari Jurnal Kebudayaan Gurindam Surau Tuo

****

Itu pertama kalinya kampungku masuk media massa. Diulas panjang lebar dalam sebuah koran kriminal ibu kota. Dikumpas tuntas di salah satu televisi swasta. Tentang pembunuhan sadis seorang buya sehabis makan sahur. Bulan penuh berkah yang baru separuh perjalanan dan tengah menunggu malam lailatul qadar itu tertusuk justeru di tangan mereka yang mengaku membaktikan hidupnya di jalan yang suci. Berdarah-darah di tangan mereka yang sepanjang waktu mengkampanyekan mambangkik batang tarandam.   

Tampak langit murung saja di atas tanduk rumah gadang dan menitipkan luka pada kubah masjid lima jorong itu.

Sungguh-sungguh kusaksikan langit tiris mengguyur salingka nagari. []

                Lilind Institute, akhir Agustus 2006

Keterangan:

Baliak ka nagari: kembali menerapkan sistem pemerintahan nagari

Balimau: tradisi membersihkan diri sebelum berpuasa, atau  padusan di Jawa

Baralek: pesta pernikahan

Bundo kanduang: panggilan mulia untuk kaum ibu

Buya: panggilan hormat untuk ulama

Jamba: hidangan atau menu

Jorong: dusun

Julo-julo: arisan

Katidiang: kotak imfak yang terbuat dari bambu yang dianyam

Mambantai: tradisi menyembelih hewan ternak sebelum puasa

Mambangkik batang tarandam: mengangkat batang yang terendam

Manjalang: kaum ibu mengunjungi mertua dan ninik mamak dekat sebelum puasa

Mangaji duduak: belajar informal pada seorang buya

Nagari: desa

Pandam: lokasi pemakaman sesuai suku masing-masing

Pitih: uang

Salingka nagari: sekitar nagari

Sato sakaki: ikut serta

***Tulisan ini pernah dimuat dalam Jurnal Gurindam Surau Tuo, tahun 2007 dan dimuat di website ini untuk pendidikan.


Redaksi tarbiyahislamiyah.id menerima tulisan berupa esai, puisi dan cerpen. Naskah diketik rapi, mencantumkan biodata diri, dan dikirim ke email: redaksi.tarbiyahislamiyah@gmail.com

Terbunuhnya Buya Katidiang Terbunuhnya Buya Katidiang Terbunuhnya Buya Katidiang Terbunuhnya Buya Katidiang Terbunuhnya Buya Katidiang

Yusriandi Pagarah
Yusriandi Pagarah 9 Articles
Dosen IAIN Batu Sangkar dan Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*