Teungku Din Affany; Ulama Samatiga dan Murid Abu Syech Mud Blangpidie

Teungku Din Affany; Ulama Samatiga dan Murid Abu Syech Mud Blangpidie
Foto Teungku Din Affany/ Dok. Penulis

Teungku Din Affany lahir di Dama Tutong Sama Dua Aceh Selatan, yang kemudian pindah ke Samatiga Meulaboh. Semenjak kecil Teungku Din Affany merupakan seorang yang haus terhadap ilmu pengetahuan agama. Beliau termasuk anak yang tekun dan patuh kepada orangtuanya. Melihat kecondongannya dalam ilmu agama, maka Teungku Din Affany remaja diantarkan untuk belajar kepada salah satu ulama karismatik Aceh yang banyak mengorbit para ulama lainnya yaitu Teungku Syekh T. Mahmud Lhoknga yang dikenal dengan Abu Syech Mud Blangpidie. Kehadiran Abu Syech Mud di Blangpidie pada akhir tahun 1927 setelah penyerangan tangsie Belanda oleh Teungku Peukan dan para pengikutnya yang kemudian syahid.

Di Blangpidie sebelumnya telah ada Teungku yang diutus dari Kuta Raja tepatnya dari Lhoong yaitu Teungku Muhammad Yunus Lhoong dengan lembaga pendidikan Jami’atul Muslimin. Teungku Muhammad Yunus Lhoong merupakan utusan dari Kuta Raja dan salah satu pengurus ulama seluruh Aceh. Ditariknya beliau, berawal ketika Teungku di Lhoong tersebut tidak memandikan Teungku Peukan seperti jenazah pada umumnya, namun beliau langsung dikebumikan dengan pakaian ketika beliau wafat dalam perang dengan Belanda. Maksudnya Teungku di Lhong memihak kepada Teungku Peukan dan menganggap beliau syahid. Hal ini tentunya bertentangan dan berbahaya dalam keyakinan Belanda yang pada masa itu menghadapi penyerangan dari para teuku dan teungku seputaran Kuta Batee Blangpidie sehingga beberapa kali Ulee Balang Kuta Batee harus diganti.

Baca Juga: Abu Ishaq Al-Amiry Ulee Titi; Ulama Ahli Tasauf dan Pendiri Dayah Ulee Titi Aceh Besar

Selain Teungku Muhammad Yunus Lhoong yang diutus ke Kuta Batee, di daerah Labuhan Haji dikirim pula seorang ulama dari Siem Aceh Besar yang bernama Teungku Muhammad Ali Lampisang yang merupakan ulama lulusan Lampisang Aceh Besar dan Yan Keudah Malaysia. Abu Ali Lampisang merupakan saudara sepupu dari Abu Hasan Kruengkalee. Abu Lampisang membangun sebuah lembaga pendidikan yang dinamakan dengan Madrasah Khairiyah di Labuhan Haji pada tahun 1921. Dan di antara muridnya yang dikenal di Aceh adalah Abuya Syekh Muda Waly, Abu Bilal Yatim al-Khalidy dan Abu Adnan Bakongan. Setelah memimpin dayah tersebut, Abu Lampisang kemudian kembali lagi ke kampung halamannya di Siem Aceh Besar dan mengajar di dayah abang sepupunya Abu Hasan Kruengkalee dan di Dayah Meunasah Blang serta beberapa dayah lain sekitaran Siem.

Abu Syech Mud sendiri merupakan adik kelas dari Abu Lampisang ketika belajar di Dayah Kruengkalee, karena memang secara usia Abu Lampisang beberapa tahun lebih tua dari Abu Syech Mud Blangpidie. Namun demikian keduanya pernah belajar kepada Abu Hasan Kruengkalee dan keduanya merupakan ulama besar Aceh dan merupakan guru utama dari Syekh Muda Waly.

Teungku Din Affany termasuk diantara murid awal di Dayah Bustanul Huda yang dipimpin Abu Syech Mud walaupun masa kedatangan beliau ke Dayah tersebut sekitar tahun 1934 dapat dipastikan beliau tidak segenerasi dengan Syekh Muda Waly. Karena Teungku Syekh Muda Waly lebih duluan berangkat dari Dayah Abu Syech Mud sekitar tahun 1931 bersama dengan beberapa santri lainnya termasuk Abu Bilal Yatim Suak. Adapun Abuya Hamid Kamal yang merupakan menantu Abu Syech Mud mulai belajar di Bustanul Huda pada tahun 1938.

Setelah menempuh pendidikan selama tujuh tahun di Dayah Bustanul Huda Blangpide, dengan segenap kesungguhan dan kesabaran dalam belajar, telah mengantarkan beliau menjadi seorang alim yang mendalam ilmunya. Sebagaimana hal yang patut diketahui bahwa Abu Syech Mud gurunya Teungku Din Affany merupakan ulama yang dikenal istiqamah dan sangat sabar dalam mengajar para santrinya. Walaupun Abu Syech Mud adalah seorang ulama yang sangat pintar dan keturunan bangsawan, namun beliau sangat sabar dalam mengayomi seluruh para santrinya sehingga mereka umumnya menjadi ulama dan agamawan di daerahnya masing-masing.

Tidak terhitung banyaknya alumni Dayah Bustanul Huda pada periode Abu Syech Mud yang kemudian mendirikan Dayah di daerah masing-masing sebut saja selain Teungku Din Affany yang sedang dibahas adalah: Abuya Muda Waly dengan dayahnya Darussalam, Abuya Hamid Kamal dengan Dayah Raudhatul Ulum, Abu Bakongan dengan Dayah Ashabul Yamin, Abu Jailani Kota Fajar dengan Dayah Darussa’adah, Abu Bilal Yatim dengan Darul Ulum Suak, Abu Imam Syamsuddin dengan Dayah Babussalam Sangkalan, Abu Calang Lamno, Abu Ghafar Lhoknga, Abu Abdul Manaf Ujong Fatihah dan banyak para ulama lainnya.

Baca Juga: Abu Syekh Mud Blangpidie; Guru Syekh Muda Waly dan Pendiri Dayah Bustanul Huda

Setelah menempuh pendidikan di Dayah Bustanul Huda, beliau kemudian membangun sebuah Dayah di Samatiga Meulaboh dengan nama Dayah Darul Huda. Dimana dalam pendirian dayah tersebut melibatkan masyarakat yang antusias menyambut datangnya ilmu dari guru yang mulia Teungku Din Affany. Selain itu Teungku Din Affany yang juga sering disebut dengan Ustaz Din Samatiga termasuk dalam jajaran ulama kharismatik Aceh yang telah berkiprah untuk mengajarkan ilmu agama dan menanamkan nilai-nilai akidah kepada masyarakatnya, dan di tahun 1970 dalam usia 50 tahun wafatlah ulama teduh tersebut.

Nurkhalis Mukhtar El-Sakandary
Ketua STAI al Washliyah Banda Aceh; Pengampu Pengajian Rutin TAFITAS Aceh; dan Penulis Buku Membumikan Fatwa Ulama