Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Tgk. M. Irsyad Ie Leubeue (Teungku Chik Di Yan): Guru Para Ulama, Pendiri Kampong Acheh dan Dayah Yan, Kedah, Malaysia

Muhammad Yasin Jumadi

Syaikh Teungku Chik Haji Muhammad Irsyad al-Asyi atau yang dikenal sebagai Teungku Chik Di Yan atau Teungku Irsyad Ie Leubeue adalah ulama Aceh Darussalam yang lahir di Ie Leubeue (sebuah gampong di Kembang Tanjong, Pidie yang menyimpan banyak sejarah pejuang, ulama dan penguasa Aceh) pada tahun 1850-an dan hijrah ke Malaysia pada abad 19 setelah meninggalnya Teungku Muhammad Saman atau Teungku Chik Di Tiro dan Teungku Chik Abdul Wahab al-Fairusy al-Baghdady atau Teungku Chik Tanoh Abee dalam masa perang melawan Belanda. Di Semenanjung Malaya, Teungku Irsyad mendirikan Madrasah Irsyadiyah Addiniyah (Meunasah Al Irsyadi) atau Dayah Yan yang kemudian menghasilkan banyak ulama seperti Teungku Muhammad Hasan Krueng Kalee atau Abu Hasan Krueng Kalee dan Teungku Teuku Mahmud Blangpidie atau Abu Syekh Mud dan Kampung Aceh di Kota Yan, Kedah Darul Aman, Malaysia.

Sejak muda, Teungku Irsyad adalah seorang pelajar yang sangat cerdas dan rajin. Setelah menimba ilmu dengan ulama-ulama besar di Masjidil Haram beliau pulang ke kampungnya, Ie Leubeue dan membuka dayah untuk mengembangkan ilmu yang telah dipelajari kepada masyarakat di Aceh. Namun dikarenakan situasi Aceh yang saat itu sedang menghadapi perang dengan Belanda, menyebabkan dayahnya tidak dapat berjalan dengan baik. Saat perang Aceh berkecamuk, banyak ulama yang ikut berjuang melawan Belanda diantaranya seperti Teungku Chik Di Tiro, Teungku Chik Tanoh Abee, Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Dirundeng, Teungku Chik Oemar Diyan, Teungku Chik Krueng Kalee, Teungku Chik Ahmad Buengcala, Teungku Chik Pante Geulima dan lain-lain.

Saat itu banyak ulama yang menjadi sasaran penangkapan oleh Belanda. Beberapa dari ulama yang diincar oleh Belanda akhirnya memilih berhijrah ke Yan, Kedah, Malaya di antaranya Teungku Chik Muhammad Irsyad Diyan dan Teungku Chik Oemar Diyan yang kemudian membentuk generasi ulama sesudahnya seperti Teungku Haji Hasan Kruengkale, Teungku Haji Ahmad Hasballah Indrapuri, Teungku Muhammad Ali Lampisang, Teungku Syekh Mahmud Blangpidie,  Teungku Abdullah Lam U, Teungku Muhammad Saleh Lambhuk, Teungku Syekh Saman Siron dan ulama lainnya.

Rombongan Teungku Muhammad Irsyad Ie Leubeue adalah kelompok yang paling awal hijrah ke Yan dan menetap di kampung yang saat ini disebut Kampung Aceh (Kampong Acheh). Sesudah itu menyusul Teungku Haji Musa (Teungku Lam Suro), Teungku Syaikh Umar Bin Auf Lam U (Teungku Chik Oemar di Yan) dan Teungku Muhammad Saleh Lambhuk.

Penduduk Kampong Acheh mengenal Teungku Irsyad Ie Leubeue atau Teungku Chik Di Yan sebagai orang Aceh pertama yang menginisiasi terbentuknya Kampung Aceh di Yan, Kedah, Malaysia. Bersama ulama Aceh yang hijrah ke semenanjung Malaya lainnya seperti Syaikh Oemar bin Auf atau dikenal sebagai Teungku Chik Oemar Diyan atau Abu Chik Lam U, Teungku Haji Musa atau Teungku Lam Suro (Lam Surau), Teungku Abdul Jalil dari Lamno dan Teungku Muhammad Shaleh atau Teungku Chik Lambhuk saling bahu membahu membangun Kampung Aceh, Yan, Kedah. Hingga akhirnya, daerah ini sangat identik dengan ke-Aceh-an dan kemudian menjadi kampung baru di Yan, Kedah dengan nama Kampung Aceh.

Keberadaan Kampung Aceh ini memperkuat romantisme hubungan Aceh dan Malaya yang telah terjalin panjang. Dimulai saat Aceh pernah berjuang membebaskan semenanjung Malaya dari jajahan Portugis. Kesultanan Aceh yang pernah menguasai beberapa negeri di Malaysia. Bahkan permaisuri Sultan Iskandar Muda, raja Aceh yang paling tersohor merupakan orang Pahang, Malaysia bernama Putri Kamaliah atau yang orang Aceh kenal sebagai Putroe Phang. Selain itu suksesor Sultan Iskandar Muda yaitu Sultan Iskandar Tsani juga berasal dari Pahang. Adapun hubungan Aceh dan Kedah salah satunya bermula dari posisi bekas kekuasaan Kedah yaitu Pulau Pinang atau Penang. Pulau Pinang yang sering juga disebut sebagai Serambi Jeddah merupakan pintu masuk para pejuang, ulama dan pedagang dari Serambi Mekkah ke Malaysia. Wilayah yang menjadi pelabuhan utama masyarakat Aceh di Pulau Pinang berada di bagian selatan pulau yang kemudian dinamai Pantai Acheh, Lebuh Acheh atau Labuhan Aceh. Lebuh Aceh atau Acheh Street yang kemudian dijuluki sebagai Jeddah Kedua (Second Jeddah) Acheh Street telah didaftarkan dalam 5 Zona Kota Di George Town yang menjadi salah satu dari Kota Warisan Dunia UNESCO. Di pulau ini juga terdapat Masjid Aceh atau Masjid Lebuh Aceh Melayu yang dibangun oleh seorang saudagar Aceh bernama Tengku Sayed Hussein al-Aidid pada tahun 1808.

Sebelum kedatangan rombongan Teungku Irsyad di Kedah, salah seorang saudagar Aceh bernama Sayed Muhammad al Attas pada tahun 1880-an turut mengalang sejumlah bantuan dan mengirim senjata untuk pejuang Aceh. Rumah Sayed Alattas juga sering menjadi tempat peristirahatan bagi orang Aceh yang ingin menuju semenanjung Malaya. Keberadaan Kampong Acheh di Kedah yang didirkan Teungku Irsyad pada awal tahun 1900-an dan ditambah juga ada Gampong Keudah di Aceh atau tepatnya di Banda Aceh semakin mempertegas hubungan antara Aceh dan Malaya secara umum dan Aceh dan Kedah secara khusus. Kehadiran Kampung Aceh di Malaysia juga turut memasyhurkan nama Aceh di Negeri Jiran. Sehingga kemudian banyak tokoh Aceh di Kedah yang menjadi tokoh penting di Malaysia seperti Tan Sri Dato’ Amar Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau P. Ramlee dan Tan Sri Dato’ Sanusi Junid.

Setelah Kampung Aceh berdiri, Teungku Irsyad dan kawan-kawan membuka lahan kebun lada, pala, cengkeh dan karet. Hasil dari perkebunan ini dimanfaatkan untuk membeli senjata yang akan dikirimkan ke Aceh dibawah gerakan “Breuëh Saböh Reugam”. Tujuannya untuk membantu logistik perang pejuang Aceh melawan Belanda. Sebahagian lainnya digunakan untuk membangun meunasah (madrasah), rangkang (pondok pengajian anak-anak) dan untuk membantu masyarakat setempat.

Pada tahun 1902, Teungku Muhammad Irsyad mendirikan sebuah dayah atau pesantren di Yan dengan nama Madrasah Irsyadiyah Addiniyah atau Meunasah Al Irsyadi yang juga dikenal sebagai Dayah Yan. Dayah ini menjadi pusat pendidikan ilmu agama yang sangat terkenal saat itu. Banyak santri baik yang datang langsung dari Aceh, anak keturunan orang Aceh yang sudah menetap di semenanjung Malaya maupun dari daerah lain di Nusantara dan masyarakat setempat yang belajar ilmu agama di dayah ini. Dua guru Abuya Muda Waly yaitu Abu Hasan Krueng Kalee dan Abu Syekh Mud adalah alumni Dayah Yan.

Masyarakat setempat menggelari Teungku Irsyad sebagai Tengku Di Balee karena ketinggian ilmunya dan banyaknya murid dan santri dari seluruh Nusantara yang datang untuk menimba ilmu di Dayah Yan.  Setelah beberapa tahun menetap di Yan, Kedah, Malaysia, Teungku Irsyad dan keluarganya kembali ke kampung asalnya yaitu Ie Leubeue, Pidie, Aceh. Sepeninggal Teungku Irsyad, kepemimpinan Dayah Yan diteruskan oleh murid-murid Teungku Irsyad. Beliau mewakafkan semua harta miliknya untuk masyarakat Kampung Aceh di Yan, Kedah.

Penulis : Rozal Nawafil, S.Tr.IP (Infokom PC Tarbiyah-Perti Aceh Barat Daya)

Rozal Nawafil bin Nawawi
Penulis, Rozal Nawafil bin Nawawi Merupakan Bidang Informasi, Komunikasi dan Penerbitan PC Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Tarbiyah-PERTI) Aceh Barat Daya, Wakil Ketua Rohis IPDN Kampus Kalimantan Barat, Wakil Ketua PD OPI Aceh, Pencinta Ulama al-Waratsatul Anbiya