Tiga Prosa Liris Raudal

Tiga Prosa Liris Raudal
Ilustrasi/Dok.https://www.paveikslai.lt/en/

Tiga Prosa Liris Raudal

Tiga Prosa Liris Raudal

Pena Kesayanganku Hilang, Tapi Aku Harus Terus Menulis

TELAH hilang pena kesayanganku; bukan emas bukan suasa, bukan gading bukan mutiara. Tapi alangkah berharga ia: seranting bambu cina, sedawat tinta, tajam matanya minta diasah. Bak kata pujangga Riau-Lingga, bahwa segala urusan pedang itu bisa diselesaikan dengan perantara kalam; ada pun urusan kalam tak bisa diselesaikan dengan pedang.

            Tapi pena itu hilang sudah; akan hilang pulakah kebijaksanaan kalam? Aku berkata pada diriku,”Tidak, biar pun pena kesayanganku hilang atau patah, aku harus terus menulis, menjadi perantara aneka perkara.”

            Memang, masih terbayang pena kesayanganku yang hilang. Dulu, betapa setia ia menari di ujung jari, melahirkan kata-kata liar di kertas penuh coretan. Sesekali iseng mencoret meja kayu dengan ilusi, seperti tumpahan kopi di murung hari. Atau melukisi telapak tangan sendiri, mengikuti retak nasib yang kian kasip. Bahkan disaat nafsu lebih menggebu ketimbang ilham, ia lengkapi percintaan kami: nakal tanganku menggoreskannya di balik tirai Kekasih, menggambar bulan dan matahari, sekali waktu sebuah belati!

RASANYA baru saja ia menunaikan tugas terberatnya, yakni merenggutkan kata “Ibu” dari batu-batu rinduku, lalu menyusunnya menjadi tugu tempatku menyembah lalu melupa. Baru saja ia tanpa ragu menyebut nama seorang penguasa dungu, terantuk bangku besi di menara terkunci. Meski kata-kata verbal tentang penguasa itu cepat hilang, sebab aku tahu pasti penaku lebih bersetia dengan hal-ihwal sederhana: perempuan di sawah-ladang, orang-orang di lorong tambang, kota kecil yang kuyup hujan, dan tentu, ibu di antara dendang.

Sesekali penaku menulis soal-soal besar: kapal-kapal, gugusan pulau, lintasan sejarah, rempah-rempah yang direnggutkan dari tampuk bumi hijau. Tak ketinggalan atlas, peta-peta, bola dunia yang memang sumber ilham kesukaannya. Tapi sering pula ia menulis hal-hal sentimental semisal cinta yang lena, ciuman pertama atau perempuan yang menunggu dengan bunga ungu di beranda, meski tahu kata-kata semacam itu cepat hambusnya!

Kadang tanpa diduga, di antara lalu-lalang perkara, penaku tersintak, lalu berhamburanlah kata-kata gagah di antara tapak kuda, koak gagak negeri-negeri kembara. Aku tahu, penaku malu dan mual oleh yang verbal dan sentimental, karenanya ia meradang tapi lantas juga merasa sia-sia, sebab kata-kata garang sungguh tak mengubah apa-apa. Bila sudah begitu, ia akan tergeletak di meja atau terdiam di telapak tanganku yang lelah. Terdiam seperti tiram di laut dangkal, tak tahu apakah ia pendam mutiara atau bias rembulan!

TAPI ah, kini ia sudah pergi, jatuh entah di mana. Mungkin ia jatuh di jalan tak bernama, di sudut kota, di tempat yang jauh atau dekat saja. Mungkin seseorang telah memungutnya, atau menendangnya begitu saja. Apa pun, mungkin ia terlalu letih, tak kuat lagi bergayut di saku kumalku ini. Atau jangan-jangan ia sudah bosan hidup bersamaku, karena aku tak pernah sanggup meladeninya mencari kata-kata yang lebih kuat dan abadi.

Biarlah kuikhlaskan ia pergi, mungkin lebih baik, sebelum ia benar-benar pamit, akan lebih sakit nanti. Dengan hilang seperti ini, aku bisa terus membayangkannya seperti orang hilang, pejuang yang tak pulang atau aktivis yang diculik. Ini akan merangsang minatku pada banyak perkara manusia yang terlupa atau dilupakan penguasa.

Di sudut meja masih tersisa setengah botol tinta, tempatnya biasa minum seolah di pinggir telaga. Aku pun mengenangnya sambil melayarkan kertas-kertasku yang penuh coretan berlayar ke seberang. Mana tahu kertas-kertasku nanti bertemu penaku yang hilang itu. Dan ketika angin berubah arah, seperti perahu putar haluan, kertas-kertasku berhembus kembali padaku dengan tambahan segurat coretan,”Bahkan kalau aku tak ada, kata-kata harus terus lahir di tanganmu, apa pun mediumnya.”

Coretan yang dipinjam dari penyair Latin itu, kutahu hasil goresan mata penaku yang hilang, nun di seberang. Biarlah, aku tak akan memintanya pulang. Aku sudah cukup senang membayangkannya sebagai pertapa di Hutan Danaka. Hening, tenang. Sesekali ia bertandang dengan jenaka, antara tidur dan jaga.[]

Baca Juga: Puisi-puisi Raudal Tanjung Banua I

Aku Mencari sesuatu, Seratus Tahun tak Ketemu

SUNGGUH mati aku, bertahun-tahun mencari sesuatu, tak ketemu. Soalnya apa yang kucari ini warisan turun-temurun leluhurku; mereka mungkin melebihi aku telah mencari ke mana-mana, ke laut ke hulu, ke dalam tambo dan kaba, tapi tak bersua. Aku lanjutkan pencarian mereka, melanjutkan kesia-siannya mencari sesuatu yang aku pun tak tahu entah apa!

            Berhari-hari, berminggu-minggu hingga bulan berpendar, berduyun-duyun menuju tahun, aku kian terbenam dalam harapan bakal bertemu. Kucari-cari di halaman kamus dan buku, kubolak-balik atlas dan peta dunia, sia-sia. Kembali aku ke gurindam dan pantun lama, ke bait pepatah dan umpama, siapa tahu leluhurku dulu luput menemukannya di sana.

            Tapi celaka, semakin balik ke sana semakin kutanggungkan sakit mereka, putus asa dan rasa sia-sia mereka. Aku pun keluar-masuk pustaka, sekolah, lembaga pemerintah bahkan museum purbakala, mana tahu sesuatu itu berupa tengkorak atau aksara asing yang tak terbaca. Namun sebagaimana lembaga, bangku sekolah dan cabang ilmu, tak satu pun memberiku sesuatu yang kucari itu, sehingga akhirnya kuputuskan pergi mengembara mengamalkan ajaran lama,”Alam terkembang jadi guru. Jauh melangkah banyak ketemu.”

TAPI alamku bisu, langkahku patah, padahal kuhasratkan membaca semua lembah, gunung dan samudera. Sudah jauh aku berjalan, kulewati rantau ke sekian, pulau-pulau, bertahun-tahun berlalu, belum juga kutemui sesuatu yang kucari. Maka aku terimalah kutukan ini sebagai Si Pencari Abadi, mengikuti garis edar bulan-bintang dan matahari.

Mungkin di antara remang terang dan gelap nanti, sesuatu melompat, ialah kijang kencana bertanduk emas, jinak dan hangat,”Akulah yang kau cari, kijang dari bukit, yang sigap membaca tanda-tanda alam. Tiap petaka akan tiba, aku turun hingga ke laut, membawa isyarat untuk berbenah. Tapi orang-orang tak percaya, dan mereka justru memburuku, sebagaimana engkau terus mencariku…”

Aku tertunduk. Apakah aku, bertahun-tahun, lebih layak sebagai pemburu penuh nafsu atau si pencari yang bijak-haru? Sudahkah aku membaca isyarat dari makhluk gesit penyanggah hutan sawah-ladang, sahabat burung-burung enggang? Aku tak tahu. Aku bagai si bisu bermimpi tengah hari: tangan menggapai-gapai matahari, tapi bibirku terbakar kelu. Betapa capai, o, betapa pilu![]

Baca Juga: Puisi-puisi Zainur Rahman

Tiga Prosa Liris Raudal
Dok.www.artpal.com

Yang Sakit Saat Kata Dilahirkan

SAAT terbaring sakit di ranjang, tak ada yang dapat kulakukan kecuali mengenang: masa kecil di samping ibu, tidur dalam dekapan, irama dendang. Bahkan lebih jauh kubayangkan ke belakang, saat kelahiranku, saat ibu tergolek lesu namun pias senyum di wajahnya.

42 tahun, kian jauh jarak itu, kian kelabu. Aku telah berganti ruang di seberang, meski cinta tetap putih, tetap benderang kenangan. Terasa sejuk, istri mengompres dada sambil ia cium keningku dengan mesra, membisikkan bahwa 42 tahun telah kuterima sebagai berkah. Benarkah? Hanya doa dan harapan semogalah demikian. Doa yang memanjang seperti huruf-huruf di halaman buku yang belum selesai dibaca. Semua berputar dalam kepala.

Berputar, seperti kenangan, menyerbu sepenuh ruang. Kepalaku megap menampung sekian banyak gagasan yang minta segera dituliskan. Tenanglah, jangan oleng dulu, akan kutulis nanti begitu sembuh dari sakit yang manis ini, bujukku seolah memadamkan api.

Ya, akan kutulis puisi dan cerita-cerita tentang sawah-ladang, ibu yang sabar menanti, nasi bungkus Ampera, dan pedati tua di jalan mendaki. Aku bergegas ingin cepat sembuh, bercakap dengan kawan seperti dulu, plesir ke toko buku. Tapi, kepalaku kembali berat, badan menggigil, pandangan gelap bagai sepotong malam yang datang mengendap.

MALAM kadang menakutkan. Terasa dunia lain datang merentangkan kain hitam, panjang bergulung, menutupi kemungkinan bertemu matahari esok pagi. Betapa panjangnya malam, betapa menakutkan kemungkinan-kemungkinan. Di loteng, sawang dari sarang laba-laba mencipta pemandangan aneka rupa dalam kepala: raksasa, adegan perburuan, orang-orang bongkok sarat beban dan wajah asing yang selalu berubah-ubah.

Siapakah mereka? Apa maksudnya mengggoda? Bunyi kran bocor di kamar mandi, gemertak jarum jam di ambang mati, serta sayup cakap para peronda, semuanya ikut menggoda dengan rasa yang sulit kuterjemah. Tak sanggup kujamah.

Kembali aku terkenang saat kelahiran. Menurut orang di kampung, ibuku sakit waktu malam begini menahan kandungan. Tapi derita itu terlalu lama, ketuban belum juga pecah, sementara ibuku dalam sakit sehunjam itu pastilah juga didera rindu dan cinta, tak sabar melihat benih ilham yang sembilan bulan ia pendam. Barulah Senin, malam berikutnya, 19 Januari 1975, benih ilham yang dikandungnya muncrat ke bumi; bayi merah itu bagai kata-kata berkilau dibasahi tinta, dan ibuku memang seperti penyair yang berjuang merenggutkan sakit dan derita. Ayahlah yang merawatnya bersama nenek yang tabah.

Kini, dalam sakit yang kuderita, aku dirawat istriku—ah, laki-perempuan ganti berjaga—meski puisi terbaikku belum juga lahir ke bumi, masih berupa imaji, benih ilham yang kekal, jauh ia berdiam dalam kenangan. Butuh kesakitan entah berapa panjang lagi untuk merenggut dan menjemputnya demi menyamai—dan tak akan pernah sama—deritamu, Ibu…[]

Tiga Prosa Liris Raudal Tiga Prosa Liris Raudal Tiga Prosa Liris Raudal

Raudal Tanjung Banua
Raudal Tanjung Banua 14 Articles
Raudal Tanjung Banua, lahir di Lansano, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Pernah menjadi koresponden Harian Semangat dan Haluan, Padang, kemudian merantau ke Denpasar, dan kini menetap di Yogyakarta. Buku puisinya Gugusan Mata Ibu dan Api Bawah Tanah. Sejumlah puisi di atas dipilih dari manuskrip buku puisinya yang sedang dalam persiapan terbit.

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*