Saat ini situs judi slot online deposit dana adalah salah satu permainan yang sangat di minati di Indonesia.

Pertama sekali bila anda ingin merasakan mudahkan memperoleh uang dari nwmedicaltraininggroup tentus aja anda sangat di sarankan untuk bermain pada permainan kakek ya gengs.

Trio Napal Putih dalam Lingkaran Elite Perti Renah Sekelawi (Bagian II)

Napal Putih dalam Lintas Sejarah PERTI Provinsi Bengkulu (Bagian I)
Rumah Bersejarah Markas Gubernur Militer Daerah Militer Istimewa Sumatera Bagian Selatan. Berada di Desa Napal Putih, ibukota Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Sumber Photo: Akun Youtube Romansyah Sabania.

Sebelumnya Baca Napal Putih dalam Lintas Sejarah PERTI Provinsi Bengkulu (Bagian I) – Tarbiyah Islamiyah

Oleh : D.M.S. Harby*

Napal Putih yang telah berperan sejak zaman Marga Ketahun dan penguasaan perusahaan pertambangan dan perdagangan emas Lebong Tandai oleh Belanda, semakin sentral dengan keberadaan Gubernur Gani. Sentralitas yang bermuatan perjuangan nasional dan perusahaan emas Lebong Tandai serta hubungan sejarah Rejang, Indrapura dan Minangkabau dengan kontaknya Napal Putih ini ternyata juga menyimpan hubungan kultural para tokohnya.

Terutama antara Gani sang Gubernur Militer Sumbagsel dengan Pangeran Ali, sang Pesirah Marga Ketahun yang kediamannya digunakan sebagai Kantor Gubernur Militer Sumbagsel. Ternyata, Gubernur Gani adalah paman dari Pangeran Ali. Keduanya sama berasal dari Palembaian, Agam, Sumatera Barat. Bedanya, sang paman besar dan banyak berjuang di karesidenan Palembang. Sementara sang kemenakan besar di Pesisir Selatan dan banyak berjuang di kemargaan Ketahun dan kewedanaan Mukomuko.

Jika sang paman muncul sebagai tokoh perjuangan di level nasional, maka sang kemenakan, Pangeran Ali, muncul sebagai tokoh perjuangan di Taneak Jang atau Tanah Rejang.  Mohammad Ali semula dari Painan (mungkin, lebih tepatnya dari Indrapura, Lunang). Datang ke Napal Putih dalam rangka perjuangan pendidikan. Niatnya mendirikan sekolah rakyat di Napal Putih sebagai pusat pemerintahan Marga Ketahun membuatnya harus menemui Kepala Marga Ketahun, Muning Deram yang dikenal sebagai Pesirah Ratu yang nama resminya Rajo Mangkuto.

Zuriat Bangsawan Rejang, Indrapura dan Pagaruyung

Pucuk dicinta ulam pun tiba, kedatangan Mohammad Ali untuk memohon izin mengajar anak-anak Napal Putih dan mendirikan sekolah di sana mendapatkan tanggapan serius Muning Deram. Apalagi selaku pemimpin Marga Ketahun yang merupakan bangsawan suku Rejang Petulai Bermani, Muning Deram kemudian tahu bahwa sosok yang bernama lengkap Mohammad Ali Firman Alamsyah adalah keturunan pasangan Puteri Serindang Bulan dan Sultan Abdul Rahim Firmansyah gelar Tuanku Setio Barat.

Puteri Serindang Bulan adalah anak dari Sutan Sarduni gelar Aria Mawang, Raja II Jang Tiang Pat, pemimpin di Renah Sekelawi (Taneak Jang, Bangkahulu, Bengkoelen, Bengkulu). Sutan Sarduni sendiri adalah anak dari Sultan Remendung gelar Dang Tuanku Syah Alam, pemimpin Kesultanan Indrapura (istananya terdapat di Lunang, Kabupaten Pesisir Selatan, daerah Sumatera Barat yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Mukomuko, Bengkulu). Sultan Remendung adalah anak dari Bundo Kanduang, Raja Pagaruyung. Ratu yang memimpin Ranah Minangkabau (Sumatera Barat) yang kemudian hijrah ke Lunang.

Ibu dari Puteri Serindang Bulan adalah Puteri Bungsu, anak dari pasangan Puteri Dayang Gilan dan Sultan Sakti Raja Muda gelar Aria Megat Raja Jonggor, Raja I Jang Tiang Pat. Puteri Dayang Gilan adalah keluarga bangsawan Renah Sekelawi. Sementara Sultan Sakti, dalam riwayatnya, adalah saudara Bundo Kanduang, pemimpin Pagaruyung. Jadi, Puteri Serindang Bulan adalah juga kontak elit bangsawan Rejang, Minang dan Indrapura. Cicit Raja I Jang Tiang Pat, Cicit Raja Pagaruyung, Cucu Raja Indrapura dan istri Raja II Jang Tiang Pat. Kakaknya pun, Sultan Abdullah gelar Ki Karang Nio, adalah Raja Jang Tiang Pat berikutnya.

Dari sinilah turun silsilah Pangeran Mohammad Ali Firman Alamsyah. Menikahi Siti Walimah, puteri Pesirah Marga Ketahun, Muning Deram, membuatnya diberi gelar Pangeran. Ia pun juga meneruskan tugas mertuanya dengan menjadi Pesirah Marga Ketahun sejak tahun 1925 hingga 1949. Ia juga mendapatkan gelar yang sama dengan gelar mertuanya, Rajo Mangkuto. Tugasnya sebagai pimpinan Marga Ketahun harus dilepas karena ia ditunjuk menjadi Wedana Mukomuko pada tahun 1949 hingga 1957. Purna bertugas di Mukomuko, Pangeran Ali tinggal bersama anak dan menantunya di Curup hingga akhir hayatnya.

Baca Juga: Sekolah-sekolah Tarbiyah Islamiyah

Keluarga Pemimpin Marga Ketahun

Sebagai Pesirah Marga Ketahun, Pangeran Ali tidak begitu saja menjadi penerus Muning Deram, ayah mertuanya itu. Sebagai seorang yang telah lama memimpin Marga Ketahun, Muning Deram menyerahkan kepemimpinan kepada Pangeran Ali dengan penuh ikhlas. Muning Deram sendiri sampai menjadi Pesirah Ketahun menjalani proses yang berjenjang. Waktu muda, Muning Deram merupakan Jenang atau penanggung jawab sabung ayam di gelanggang. Sebagai seorang ahli pencak silat hingga menjadi Guru Silat Harimau dengan murid dari berbagai penjuru daerah.

Kelebihannya sebagai ahli pencak silat itulah yang memungkinkan bagi Muning Deram untuk mengeksekusi gerombolan perampok Bugis yang dari laut masuk ke aliran sungai Ketahun hingga sampai ke Napal Putih. Inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat Napal Putih kemudian memilihnya yang sudah setengah baya saat itu untuk menjadi Depati Pembarap Agung. Jabatan ini semacam komandan Garnizun kalau di dalam organisasi militer. Barulah, pada tahun 1917 Muning Deram menjadi Pesirah Marga Ketahun sampai tahun 1925.

Muning Deram menikahi Muning Renet dari suku Rejang keturunan Desa Lubuk Pendam, Kerkap dan Pematang Tiga. Dari pernikahan kedua tokoh ini, yang hidup hanya seorang puteri yang bernama Siti Walimah yang kemudian dinikahkan oleh Muning Deram dengan Pangeran Ali. Ini mengingat aktifitas Pangeran Ali yang selain sibuk sebagai guru dan dipercaya sebagai Juru Tulis Marga Ketahun juga dimintanya tinggal di kediamannya. Inilah langkah awal yang kemudian memunculkan Pangeran Ali sebagai Pesirah Marga Ketahun berikutnya. Ketokohan Pangeran Ali dari sosok guru dan pemimpin sekolah rakyat di Napal Putih hingga menjadi Pesirah Marga Ketahun inilah yang kemudian memungkinkan berdirinya Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Napal Putih.

Kemunculan Pangeran Ali sebagai Pesirah Marga Ketahun punya tahapan yang mirip dengan proses yang dialami Muning Deram, pendahulunya yang juga ayah mertuanya. Berawal dari guru pejuang pendiri sekolah rakyat di Napal Putih, lalu menjadi Juru Tulis Pesirah Marga Ketahun dan kemudian menjadi Pesirah Ketahun.

Secara kultural, Marga Ketahun juga terpengaruh dengan dan berpengaruh pada adat istiadat dan budaya suku Pekal. Sebab, komunitas suku Pekal ini selain berbasis di Mukomuko, juga juga tersebar di kemargaan Ketahun, terutama di Napal Putih. Inilah yang juga membantu Pangeran Ali menjadi lebih mudah bergaul dengan masyarakat di kemargaan Ketahun.

Pada awalnya, Pangeran Ali sekedar diangkat sebagai pelaksana tugas Pesirah saja. Mengingat Muning Deram atau Pesirah Ratu mau berangkat menunaikan ibadah haji. Setelah itu, barulah diadakan pemilihan Pesirah dimana masyarakat justru meminta agar pemilihan secara aklamasi saja. Dan didaulatlah Pangeran Ali sebagai Pesirah selanjutnya yang memimpin Marga Ketahun dari 1925 hingga 1949.

Tokoh Sentral PERTI Bengkoelen di Napal Putih

Ketokohan Pangeran Ali sebagaimana di atas itu pula yang menjadi modal awal kemunculan Napal Putih sebagai salah satu sentral perjuangan PERTI di Provinsi Bengkulu. Modal sosial yang ada pada ketokohan Pangeran Ali ini ternyata menjadi pendukung utama bagi hadirnya Buya Awaludin kala memulai perjuangan pendidikan dan organisasi PERTI di Bengkulu Utara dan Provinsi Bengkulu dengan sentral Napal Putih. Latar belakang Buya Awaludin sebagai santri MTI dan kader PERTI dari Canduang dari tahun 1933 hingga 1940 murid langsung Inyiak Canduang, Maulana Syekh Sulaiman Arrasuli, yang kemudian aktif membantu perjuangannya mengurus pendidikan dan sekolah rakyat di Napal Putih menjadi alasan utama Pangeran Ali mendukungnya.

Di Napal Putih inilah, Buya Awaludin bertemu dan menikahi Ummi Sarpinam. Orang tua Ummi Sarpinam berasal dari Jawa yang bekerja di pertambangan emas Lebong Tandai. Buya Awaludin sendiri, sebelum ke Napal Putih, sempat pulang terlebih dahulu ke kampung halamannya di Mukomuko, tepatnya di Talang Rio. Jaringan Mukomuko ini tentu saja juga menjadi bagian penting dari ketokohan Pangeran Ali. Mengingat, Pangeran Ali juga dari Painan yang sangat terakses dengan Mukomuko. Dalam tradisi keilmuan PERTI, jaringan ini juga terakses ke Canduang dan daerah sekitarnya termasuk Palembayan dan Payakumbuh. Dimana Canduang, bagi Palembaian dan Payakumbuh berada di tengahnya.

Jaringan Mukomuko dengan basis budaya suku Pekal inilah yang tampaknya lebih membuat Napal Putih terakses dengan titik-titik sentral perjuangan pendidikan dan pergerakan PERTI di Minangkabau seperti Canduang, Palembaian dan Payakumbuh. Pertama, memungkinkan bagi Pangeran Ali yang dari Lunang, dekat Mukomuko, dalam mengarahkan kader PERTI dari Canduang seperti Buya Awaludin yang dari Talang Rio, Mukomuko, membantunya mengembangkan pendidikan di Napal Putih hingga mendirikan MTI dan organisasi PERTI di Napal Putih.

Kedua, memungkinkan bagi munculnya generasi muda dari Napal Putih yang melanjutkan studi ke basis pendidikan PERTI di Minangkabau. Alumni sekolah PERTI ini kemudian pulang ke kampung halamannya dan ikut mengurus pendidikan dan pergerakan PERTI di Napal Putih. Ini yang terjadi dengan Buya Mohammad Thaib bin Riak yang asli Marga Ketahun. Alumni Sekolah PERTI di Payakumbuh ini kembali ke Napal Putih pada tahun 1942. Buya Thaib mempersunting Ummi Hajjah Fidraini Nurma binti Pangeran Mohammad Ali Firman Alamsyah. Sang Pesirah Marga Ketahun.

Ketiga, memungkinkan tumbuh berkembangnya perjuangan PERTI di Bengkulu yang sama aktifnya dengan Sumatera Barat. Contohnya, sebagaimana tulisan Buya Nuzul Iskandar yang diterbitkan oleh media Kita tercinta ini, tarbiyahislamiyah.id pada awal Agustus 2020 lalu dengan judul “Majalah al-Mizan Edisi 17 April 1938 dan Bahan Perenungan bagi Warga Tarbiyah”. Majalah ini menyatakan bahwa dari beratus sekolah jaringan di seluruh kepulauan Indonesia belum diikat atas nama PERTI. Yang terdaftar sebatas 68 sekolah Tarbiyah Islamiyah.

Baca Juga: Basis Perjuangan Itu Masjid Jamik Curup (Surau Pendiri Madrasah Tarbiyah Islamiyah)

Baru, lanjut laporan majalah itu, sesudah Conferentie PERTI pada 11-16 Februari 1938, diputuskan dalam rapat H.B. PERTI, disahkan pula sekolah dengan nomor urut dari 69 hingga 90. Tertulis dalam daftar di Majalah itu No. 71 Tarbijah Islamijah Palembaian, No. 76 Tarbijah Islamijah Napal Poetih Bengkoelen dan No. 79 TIPP Semidang Goemai Bintoehan Bengkoelen. Terdaftar juga No. 81 Tarbijah Islamijah Padang Piliang Pajakoemboeh, No. 82 Tarbijah Islamijah Sampang Aboe Pajakoemboeh dan No. 83 Tarbijah Islamijah Sampang Kapoek Pajakoemboeh. (Bersambung ke Bagian III).

* Penulis adalah Ketua PC Tarbiyah-PERTI Kabupaten Rejang Lebong dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong (YTRL). Alumni MTI Curup, KKDI Masjid Jamik Curup, PP Arrahmah Curup, PP Nurul Huda Sukaraja, Khairani Study Centre (KSC) Bengkulu dan Harian Bengkulu Ekspress ini juga dipercaya sebagai Anggota Badan Pengawas Yayasan Khairani Bengkulu, Ketua Ikatan Keluarga Alumni Nurul Huda (IKANUHA), Ketua Bidang Pendidikan Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda (YPPNH) Sukaraja dan Ketua Dompet Alumni Peduli Arrahmah (DAPA) Curup.

D.M.S. Harby
Tulisan diolah dari berbagai sumber. Penulis adalah alumni Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyah Islamiyah (MITI) Pasar Baru Curup, MTs. Pondok Pesantren Arrahmah Air Meles Atas Curup, MAK Pondok Pesantren Nurul Huda Sukaraja OKU Timur dan Kepala Sekolah Dasar Tarbiyah Islamiyah (SDTI) Curup 2015-2017. Kini Ketua Ikatan Alumni PPNH Sukaraja, Ketua PC Tarbiyah-Perti RL dan Ketua Pembina Yayasan Tarbiyah Rejang Lebong (YTRL).